“ Dalam minuman
atau makanan?”
“ Minuman lebih
baik, karena dalam cairan obat ini cenderung cepat bereaksi..”
“ Baik…. Terima kasih…”
Nessha tersenyum
membayangkan kemenangan di depan matanya. Hmmmm…. Peter… sepertinya memang kamu
harus dipaksa tunduk kepadaku. Aku tidak ingin kamu menjadi milik perempuan
kampung bernama Rindang itu.. ia tidak berhak atas dirimu… Akulah yang lebih
pantas bersanding denganmu… Aku telah banyak berkorban dengan berbagai cara
halus untuk meraih hatimu, namun kamu sendiri yang memilih agar aku menempuh
jalan ini.
Nessha akan
memastikan bahwa malam ini sebuah perubahan besar akan dimulai. Ia akan
merasakan kebahagiaan yang selalu ia impikan, bahkan jika setelah ini dia
matipun rasanya ia tidak akan menyesal. Ia akan melihat gadis kampung itu
menangis, meratapi nasib sialnya. Ia akan tersenyum bahagia melihat Peter
berada dalam dekapannya.
“ Malam ini?....
mendadak sekali….”
“ Iya, kamu nggak
sibuk khan, sayang...”
“ Sebenarnya aku
ada beberapa pekerjaan, Apa tidak bisa di tunda sampai besok?...”
“ Ini penting,
sayang…. Menyangkut masa depan organisasi yang sudah capek-capek kita bangun,
bisa ya… please…..” Nessha memohon.
“ Baiklah, nanti
malam setelah dari kantor aku mampir ke rumah…”
“ Ok, aku tunggu
ya… “
Yess!.... Nessha
tersenyum puas. Ia memang sangat mengharapkan Peter menjadi kekasihnya.Cintanya
kepada pria itu sampai menembus akal sehat wanita cantik berpendidikan tinggi
dan kaya itu. Ia berusaha dengan keras untuk mendapatkan perhatian dan berusaha
agar selalu dekat dengan Peter. Ia rela terlibat baik secara fisik maupun
finansial di setiap kegiatan sosial yang sering Peter lakukan.
Peter sendiri
adalah ekspatriat cerdas yang selalu menginginkan kebebasan mutlak bagi
dirinya. Dunia tulis menulis memang sangat di gemarinya. Dengan menulis ia
bebas berekspresi sesukanya. Lulusan S2 study teknik Industri itu sama sekali
tidak tertarik untuk bekerja di Instansi atau Perusahaan. Kebebasan ia tuangkan
dalam berbagai proyek buku dan hasilnya sungguh luar biasa… Ia selalu meraih
kesuksesan setiap kali menerbitkan buku-buku baru.
Peterpan nama
pena pria 32 tahun itu sangat menginspirasi pembacanya dengan buku-buku yang di
tulisnya. Pertemuannya dengan Nessha
terjadi saat ia meluncurkan buku ke lima sekaligus penggalangan dana bagi
yayasan sosial yang ia dirikan untuk menampung anak yatim piatu dan anak-anak
terlantar.
Dalam beberapa
kali pertemuan saja Nessha langsung terpikat dengan kharisma dan kecerdasan
Peter. Sejak saat itu mereka sering terlibat kerjasama karena Nessha adalah
salah satu donatur tetap yayasan tersebut.
Peter bukannya
tidak menyadari tujuan Nessha yang selalu bersemangat saat terlibat dalam
setiap kegiatan bersamanya. Peter tidak menampik bahwa Nessha adalah sosok
wanita yang sempurna. Ia cantik, cerdas dan sangat menarik. Dalam beberapa
kesempatan Nessha memang selalu berusaha merayunya meski dengan cara yang
sangat halus. Sebagai laki-laki normal terkadang Peter juga tak mampu
menghindari daya pikat yang Nessha tebarkan. Tubuh harumnya terkadang membuat
Peter terbuai… mereka duduk berdekatan, saling menyentuh, berpelukan bahkan
berciuman pada malam-malam tertentu saat hasrat menjadi tak menentu.
Namun Peter tak
pernah melakukan lebih dari sekedar berciuman…
setelah itu ia segera menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Nessha yang
hangat dan bergairah. Ia segera ingat sebuah nama yang telah terpatri dalam
hatinya… Rindang…..
Seperti pepohonan
yang berdaun lebat, Rindang sangat meneduhkan. Ia adalah sebuah tempat dimana
Peter bisa bersandar dan meletakkan hati dan jiwa dari hiruk pikuk dunia kerja
yang melelahkan. Gadis yang tinggal jauh dari keramaian dan berprofesi sebagai
guru di sebuah SLB itu mempunyai sesuatu yang Peter harapkan. Kesederhanaan
pemikiran dan penampilan gadis itu mampu membuat seorang Peter seolah
mendapatkan hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat hati dan fikirannya damai
dan tenang.
Meski mereka
jarang bertemu, namun berdekatan dengan gadis itu selalu membuat Peter terpana.
Setiap kali gadis itu berbicara dengan tersenyum mengeluarkan suara yang halus,
bening dan manja… Ia selalu terpesona dengan wajah polos tanpa polesan make –up
dan pakaian sederhana yang dikenakannya. Peterpan menangkap bagaimana Rindang
mengurai cintanya dengan sangat natural,
sederhana dan bersahaja, dan Peter menyukai cara itu.
Peterpan memasuki
gerbang rumah mewah milik Nessha.
“ Selamat malam,
Ness…..”
“ Selamat malam,
sayang… masuk yuk…”
Malam itu mereka
berbicara mengenai beberapa hal tentang kegiatan sosial yang cukup penting. Ide
Nessha untuk melaksanakan kegiatan sosial dalam rangka menyambut hari Ibu tahun
ini sangat menarik. Peter berniat sekalian mengadakan peluncuran bukunya yang
ke tigapuluh yang mengangkat tema kekuatan wanita di sebuah Negara.
“ Habiskan
kopinya, sayang….” Nessha segara duduk di sebelahnya dengan posisi agak dekat
dengan Peter, sehingga belahan dadanya tapak jelas di mata Peter yang
sejenak merasakan dadanya berdesir.
“ Hhhhh…… capek
sekali aku hari ini…..” Peter berkata sambil menyandarkan kepalanya di sofa dan
melonggarkan dasinya.
“ Mau kupijit?...
“ Nessha tidak menunggu jawaban Peter.. jari-jari lentiknya segara meraih
pundak pria itu dan mulai memijit-mijit dengan lembut. Ia tersenyum menyadari
apa yang terjadi pada Peter dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Peter memejamkan
matanya seolah menikmati pijatan Nessha, padahal ia merasakan sesuatu sedang
terjadi pada dirinya… tiba-tiba saja ia merasakan gairahnya memuncak dan
pijitan tangan Nessha yang lama kelamaan menjadi belaian dan remasan di sekitar
bahu dan lehernya membuatnya melayang-layang. Nessha semakin berani menyadari
Peter sudah mulai terbawa situasi.. Ia mulai mencium leher dan memainkan
bibirnya di badan Peter yang hanya mengerang kecil menikmati sensasi yang tak
disadarinya.
Peter tak
menyadari bahwa secangkir kopi yang telah ia minum itu telah dicampur dengan
sejenis obat-obatan yang mampu membuatnya melayang di awang-awang. Ia sudah tak
mampu membedakan antara dunia nyata dan sensasi yang membangkitkan gairahya. Ia
tak mampu menahan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya. Malam itu, Nessha
dengan penuh gelora melampiaskan keinginannya yang telah ia pendam sekian lama
terhadap Peter dan kebencian serta
kecemburuannya kepada Rindang, wanita yang diam-diam ia ketahui tanpa
sepengetahuan Peter.
Nessha
benar-benar melampiaskan dendam cintanya malam itu. Ia sudah tak memperdulikan
kondisinya sendiri yang saat itu sedang tidak stabil. Nessha sudah bosan dengan
tumor di otak yang di deritanya sejak lama. Ia benar-benar tidak mau
meninggalkan kesempatan bersama Peter. Ia sudah mengimpikan malam ini melampaui
keputus asaannya menghadapi penderitaannya.
Saat Peter
membuka matanya, ia berusaha mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi. Di
sebelahnya Nessha tengah tertidur dengan pulas dan tubuh polosnya sedikit
tersingkap. Tiba-tiba ia merasa pusing dan mual yang hebat. Dengan berjalan
terhuyung-huyung Ia menuju kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya. Ia
memandang cermin di depannya…. Ahh… apa yang telah kamu lakukan,
Peter???............... ia segera membasuh wajahnya namun hatinya tetap saja
dihinggapi keresahan.
“ Uuhh… kamu
sudah bangun, sayang….. “ Nessha duduk di ranjang berbalut selimut yang
menutupi tubuh polosnya.
“ Ness…..
katakana padaku… apa yang telah kita lakukan?.... apakah kita……” Peter tak
sanggup meneruskan kalimatnya.
“ Kamu seperti
kerasukan jiwa Casanova, sayang…. Dan aku sungguh menikmatinya…” Nessha
tersenyum penuh kemenangan.
“ Tidak
mungkin… aku tidak mabok… aku tidak
mungkin melakukan……”
“ Ah… Tetapi kamu
benar-benar melakukannya, Peter….apakah kamu mengingkarinya??.....” Nessha
memegangi kepalanya seperti kesakitan.
“ Ness….. kamu
kenapa?.....” peter melihat gelagat aneh dari wanita telanjang di depannya. Ia
seperti benar-benar kesakitan. Tiba-tiba Nessha tergeletak tak sadarkan
diri………………………………………..
*****
“ Maafkan aku,
Rindang….. kamu boleh marah padaku…” Peter memandag wajah teduh itu.. namun ia
tak menemukan kilatan marah di matanya.. bahkan senyum di bibir gadis itu
mengembang dengan ketulusan terpacar di wajahnya. Ahh… Peter menjadi semakin
merasa berdosa.
“ Pergilah,
Peter…. Do’aku selalu untuk kebahagiaanmu….” Gadis itu masih tersenyum.
“ Kita tetap akan
menjadi teman, bukan?....” Peter tak mampu menahan galau hatinya. Sungguh ia
sangat mengharapkan bisa bersanding dengan gadis pujaannya ini, namun kehamilan
Nessha yang sudah menginjak bulan ke tiga tidak bisa menunggu lebih lama lagi
baginya untuk segera mengambil keputusan.
Meninggalkan
cintanya pada sepotong hati yang teduh milik Rindang justru sangat berat.
Senyumnya yang tulus bagaikan pisau tajam yang menyayat-nyayat jantungnya. Ia
ingin berlari memeluk gadis itu, namun Rindang segera berlalu dari hadapannya
setelah mengatakan selamat tinggal. Sekali lagi Peter memandang punggung
Rindang yang semakin menjauh meninggalkan hatinya yang tengah hancur
berkeping-keping.
Inilah hasil
kecerobohannya.. kebodohannya… tidak kuat menahan godaan dan jerat asmara
Nessha… sejenak ia merasa bahwa wanita itu sangat jahat padanya. Nessha seperti
sengaja memisahkan cintanya dengan Rindang dengan kehamilannya. Ah…
bagaimanapun itu adalah anaknya… darah dagingnya… ia tak ingin menjadi
laki-laki yang tidak bertanggung jawab.. apalagi Nessha saat ini sangat
membutuhkannya. Mengandung dan menahan sakit akibat tumor otak yang sangat
menyiksa. Peter tak mempunyai pilihan lain
meskipun harus mengorbankan cinta sejatinya. Maafkan aku
Rindang………………………….
Dengan perasaan
campur aduk Peter duduk di bangku putih di depan kamar operasi. Ini adalah
operasi yang ketiga kali sejak pernikahannya dengan Nessha. Peter mengetahui
bahwa Nessha menderita tumor otak yang sudah parah… Nessha mampu bertahan
sampai anak mereka lahir. Namun operasi ketiga kali ini adalah yang paling
berat baginya. Nessha sepertinya sudah tidak memiliki semangat hidup. Bahkan
kehadiran Amalia, anak mereka tak membuatnya mampu bertahan.
Dokter hanya
mampu memberi separuh harapan hidup kepadanya. Peter bergegas masuk ke dalam
ruangan ketika dokter memberinya isyarat untuk menemui istrinya. Nessha
terbaring lemah tanpa daya menghadapi maut yang senantiasa menghampirinya.
Nafas dengan bantuan oksigen yang tinggal satu-satu tak dihiraukannya. Peter
menggenggam tangannya.. Nessha terlihat berusaha tersenyum dengan wajah
pucatnya… ia ingin mengatakan sesuatu kepada Peter…
“ Rindang….”
Peter terkejut mendengar kata yang keluar dari bibir Nessha yang bergetar.
“ Lupakanlah…
kamu akan segera sembuh dan merawat Amelia…”
“ Maafkan aku….”
“ Sudahlah,
Ness…. Kuatkan hatimu, kita berdo’a bersama-sama. Ingat Amelia sudah hampir
satu tahun… dan kamu belum pernah menggendongnya, bukan?...”
“ Kembalilah
padanya…”
“ Ness…… “
“ Kamu masih
mencintainya…”
“ Nessha…. Kamu
bicara apa?....”
“ Maafkan
aku…………………” Peter mengusap air mata yang menetes di wajah istrinya.
Kalimat itu
adalah kalimat terakhir yang di ucapkan
Nessha sebelum keesokan harinya Peter tak mampu membuka mata Nessha karna ia
telah pergi meninggalkan seluruh jiwa raga dan cintanya kepada Peter.
*****
Setahun setelah kematian Nessha, Peter berdiri
memandang sebuah bangunan di depannya. Lebih dari dua tahun yang lalu ia sering
berdiri di sini menunggu sang pemilik mata teduh itu keluar dari gedung. Sudah
hampir satu jam ia berdiri di sana, halaman gedung SLB itu sudah sepi namun
yang di tunggunya tak kunjung datang. Sampai security gedung itu menutup pintu
gerbang, Rindang tak juga menampakkan dirinya.
“ Sudah pindah?
Kemana?...”
“ Saya kurang
tahu, pak… katanya sih ke luar kota.”
“ Baiklah terima
kasih..” Dengan langkah gontai Peter melangkah pergi meninggalkan sebagian
hatinya terbang entah kemana.
Peter tidak tahu
harus mencari Rindang di mana. Ia telah bertanya kesana kemari mencari keberadaan
gadis itu. Ia lelah dengan pencariannya selama ini.. meski hatinya senantiasa
mengharapkan bertemu dengan Rindang, setidaknya mengetahui keberadaannya.
Beberapa tahun
berlalu Peter tetap sibuk dengan buku-bukunya. Ia sama sekali tak memberi ruang
di hatinya untuk cinta. Cintanya hanya tercurahkan untuk Amelia, satu-satunya anak
yang dicintainya. Amelia sudah berusia lima tahun.. dia cantik seperti ibunya.
Ia cerdas secerdas ayahnya, namun sayang selama hidupnya Peter tidak pernah
mendengar tangisan dan teriakan Amelia memanggil namanya. Terkadang ia rindu
jeritan seorang anak dan celoteh anaknya bercerita, Ia harus menerima titipan
Tuhan meski kondisi Amelia yang bisu dan tuna rungu. Amelia tetap buah hatinya…
Peter sangat menyayanginya.
Sore itu Peter sedang membaca Koran di teras,
tiba-tiba Amelia menyentuh tangannya. Dengan bahasa isyarat yang telah ia
pelajari dengan baik, Peter melipat korannya dan mengangkat Amelia diatas
pangkuannya.
“ Ada apa,
sayang?”
“ Papa.. Besok di
sekolah ada pameran .. papa datang ya?..”
“ Oh ya…. Pameran
apa?”
“ Pameran
lukisan… Amelia ikut juga, papa….” Gadis kecil itu menyerahkan sebuah amplop
undangan dari SLB tempat ia menuntut ilmu sejak setahun yang lalu.
“ Wah, hebat anak
papa…” Peter memeluk Amelia dengan penuh kasih sayang.
Karena
kesibukannya Peter memang belum pernah berkunjung di sekolah Amelia. Selama ini
ibunyalah yang mengurusi segala keperluan Amelia. Ia bersyukur ibunya sangat
sayang dan perhatian kepada cucunya.
Pagi itu tepat
pukul 09:00 wib Peter memasuki pekarangan sekolah. Amelia segera berlari memasuki kelas. Ah, anak itu memang
sangat lincah. Peter bertemu dengan beberapa orang tua siswa dan bercakap-cakap
sebentar sambil menunggu acara di mulai.
Di dinding
sekitar Aula penuh dengan lukisan dan kerajinan tangan hasil karya siswa-siswa
dari tingkat dasar sampai lanjutan. Di bagian kiri dinding Aula tertera tulisan
TINGKAT DASAR, dan Peter menemukan tiga buah lukisan milik Amelia. Lukisan
pemandangan, bunga dan… lukisan dirinya. Peter tidak menyangka anaknya itu
pandai melukis. Ia merasa heran di usia yang baru lima tahun Amelia mampu melukis
menggunakan crayon dengan
tata warna yang sangat menarik.
“ Acara akan
segera dimulai, silahkan masuk ke dalam aula……” sebuah suara halus dan lembut
yang sangat ia kenal tertangkap di telingnya. Ya tuhan…. Ternyata ia ada di
sini.
Peter membalikkan
badannya dan menghadap tepat di depan Rindang. Sang pemilik mata teduh yang
selalu ia rindukan. Wanita itu tampak sedikit terkejut namun sedetik kemudian
ia tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya.
“ Apa khabar?.....”
“ Baik…. “ Peter
menjadi seperti lima tahun yang lalu selalu saja terpana dan terpesona dengan
kesederhanaan dalam setiap kata dan gerakan Rindang.
“ Jadi Amelia itu
anakmu….. ah… ia anak yang cerdas dan berbakat. Lukisannya terpilih dan akan dipamerkan dalam Ekspo Anak Nasional
bulan depan …” Rindang sangat bersemangat menceritakan bakat yang dimiliki
Amelia.
…………..
mamaaaaaa…………. Seorang anak laki-laki kira-kira berusia tiga tahun berlari ke arahnya. Ridang tersenyum dan segera
menggendong anak laki-laki itu.
“ Ini Sean…
anakku..” Peter tersenyum. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak mungkin kembali
dari masa lalunya.
Peter mengenal
suami Rindang ketika membaca sebuah surat kabar. Di halaman belakang Koran
tersebut memberitakan perselingkuhan seorang pejabat daerah dengan seorang
pengusaha. Ah… kasihan kamu Rindang…. Mengapa nasibmu begitu malang dengan
cintamu. Setelah kutinggalkan menikah dengan Nessha karena kecerobohanku, kini
suamimu yang melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Peter seperti ikut
merasakan tercabik-cabik saat membaca berita tersebut.
Rindang seperti
yang ia kenal, selalu pintar menyembunyikan perasaannya. Ia tidak pernah
menceritakan perihal rumah tangganya kepada siapapun termasuk kepada Peter.
Rindang selalu menutupi luka hatinya dengan senyum.
Peter sebenarnya
mengikuti perkembangan kasus perselingkuhan itu secara diam-diam. Wanita itu
memang sangat pintar berkelit. Ia sangat pintar menguasai hati suami Rindang
sehingga dalam waktu dekat ia akan mengajukan gugatan bercerai dengan Rindang.
Peter tahu, sepintar-pintarnya Rindang menutupi galau hatinya ia tetap seorang
wanita yang terkadang butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Dan ia selalu
siap mendengarkannya.
*****
Expo Anak
Nasional diadakan setiap akhir tahun selama musim liburan. Banyak pihak yang
terlibat di dalamnya. Ekspo ini memamerkan berbagai hasil karya anak-anak
bangsa dari seluruh Daerah. Mulai dari pameran Ilmu pengetahuan sampai Pentas
seni dan kreativitas. Semua menampilkan yang terbaik dari daerah masing-masing.
Amelia adalah
salah satu anak yang terpilih dari kelompok anak-anak yang memiliki kekurangan
fisik. Duapuluh lukisan gadis kecil itu di pajang dengan bingkai cantik
berjejer di sisi kiri dan kanan. Peter yang menangani semua display lukisan
Amelia dengan sangat baik. Ia ingin terlibat secara langsung setelah mengetahui
bakat putrinya.
Setiap pengunjung
memuji dan sebagian mengabadikan lukisan beserta pemiliknya. Sayang Amelia
hanya mampu tersenyum tanpa pernah mendengar pujian para pengunjung. Untunglah
ada Peter yang membantu menterjemahkan komentar para pengunjung dengan bahasa
isyarat kepada Amelia. Gadis kecil itu sangat bahagia.
Beberapa jam
berada di sana Peter tak menemukan bayangan Rindang. Ia seharusnya berada di
sini sebagai guru pendamping dari sekolahnya, namun sudah hampir jam 11:00 wib
Rindang tak juga terlihat. Kemana dia? Berbagai prasangka datang di benaknya.
Apakah Rindang sengaja tidak datang karna tidak ingin bertemu denganya?
Peter menekan
tombol yes dari BBnya ketika pak
Iskandar kepala sekolah SLB menelponnya.
“ …. Ibu Rindang
mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke stadion tempat ekspo diselenggarakan….…”
“ Bagaimana
kondisinya?”
“ Parah…. masih di ICU…”
“ Sekarang di
rawat di rumah sakit mana, pak………………..”
Ya tuhan…..
mengapa tiba-tiba Peter merasa lemas di sekujur tubuhnya. Amelia yang melihat
perubahan raut muka papanya memandang dengan heran… ia memang sangat peka
terhadap segala sesuatu… dengan bahasa isyarat Peter berkata kepada anaknya….
“ Amel di sini
dengan nenek ya…. Papa ada urusan di luar, nanti papa kembali lagi kalau sudah
selesai..ok”
“ Baik papa….
Amel sayang papa….” Mata gadis kecil itu seolah mengandung Tanya, namun seperti
biasa meski usianya baru lima tahun Amelia sudah bisa memahami sikap ayahnya.
Peter memeluk Amelia dan segera keluar gedung menuju sebuah rumah sakit yang
diebutkan oleh pak Iskandar dalam telepon tadi.
Suasana agak
hiruk-pikuk di ruang ICU…. Mata Peter menangkap seorang wanita berkerudung biru
tua di atas kursi roda… Syukurlah… itu Rindang…. Kepalanya yang tertunduk
terbalut perband, ada sedikit darah
tercecer di dahinya. Seorang perawat yang mendorong kursi rodanya bengelus-elus pundaknya sambil mengatakan
sesuatu. Semua berjalan dengan cepat dan tergesa-gesa sehingga Peter
mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Rindang. Mereka memasuki sebuah ruangan
perawatan. Setelah perawat itu meninggalkan ruangan Peter segera memasuki ruang
rawat inap tersebut.
“ Maafkan aku…
seharusnya aku menjemputmu….”
“ Bukan salahmu….
Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi mengendarai mobil… hari ini suamiku
menikah dengan perempuan itu……padahal kami belum berpisah… ia bahkan tidak
memperdulikan nasib Sean…..”
“ Bersabarlah.......
semua pasti ada hikmahnya…” Peter ingin sekali memeluk wanita tersakiti ini,
namun akhirnya ia hanya menggenggam tangannya……
*****
“ Apa kabar…..
bagaimana keadaanmu?” sore ini Rindang terlihat cantik di mata Peter.
“ Baik…. Sudah
mulai berlatih berjalan… ” Rindang tersenyum
“ Semoga segera
pulih… Amelia sangat merindukanmu…..”
Ini kunjungan
Peter yang kedua sejak kecelakaan empat
bulan yang lalu. Rindang bukanlah seseorang yang mudah putus asa dan menyerah.
Ia tahu Rindang masih membutuhkan
beberapa waktu untuk menata hatinya. Ia tahu bahwa Rindang tidak akan segera
berjalan lagi seperti semula, karena syaraf-syaraf kakinya telah rusak.. dan butuh waktu yang
lama untuk memperbaikinya.
Peter dan Amelia
sering berkunjung ke rumah Rindang beberapa
bulan belakangan ini. Sean sangat senang bermain dengan Amelia. Saat
mereka duduk di beranda berdua Peter hanya berbicara tentang anak-anak mereka… Entah
apa yang mereka rasakan di setiap pertemuan dalam diri masing-masing. Hubungan
mereka sudah seperti keluarga. Peter tidak pernah mengusik rasa cintanya pada
rindang sementara Rindangpun meski tak pernah merasa terusik dengan kehadiran
Peter, ia seperti tak ingin menjadikan hubungan dua keluarga ini berubah.
Entahlah…. Begitu rumit situasinya saat Peter menyampaikan pemikirannya kepada
sang pemilik mata teduh yang masih di cintainya. Kehidupan yang keras dan
terkadang kejam membuatnya sedikit apatis terhadap cinta…
“ Peter, maafkan
aku….. setelah melalui semua ini… aku harus membersihkan kembali hatiku… dan
itu tidak mudah… “
“ Aku mengerti,
aku akan menunggumu….”
“ Tidak usah
menungguku, bisa menjadi sangat lama….”
“ Tidak
masalah….. aku akan setia menanti….”
“ Ah, Peter….
Kamu akan bosan…..”
“ Tidak akan…..
aku sudah menunggu sekian lama…..”
“ Benarkah,
Peter?.... Maafkan aku membuatmu menunggu……”
“ Aku akan selalu setia menunggumu….”
“ Peter……
terimakasih……..”
Mereka hanya
saling memandang, seolah sudah tidak ada kata-kata lagi yang mampu terucapkan.
Beberapa saat kemudian Sean datang dan berputar-putar mengelilingi Peter
diikuti oleh Amelia yang memakai topeng singa…… Sean menjerit-jerit ketakutan
namun senang… karena Peter segera menggendongnya sehingga Amelia tidak bisa
menerkamnya……......... end


:)
ReplyDeletekisah yang menarik dan indah.
thanx sayyyy...... fiksimu jg keyeeennnn......
Deletedua insan yg terluka, disatukan dengan cinta.... penuh haru... nice dear.....
ReplyDeleteeaaaahhhh.... love sometimes really hurts,doesn't it? thanx dear ........
ReplyDelete