Sunday, December 23, 2012

Between Alicia and Theresia... [part 1]



Suara Adzan Maghrib sayub-sayub terdengar syahdu di telinga. Alicia menekan tombol minimize di laptopnya dan segera beranjak dari tempat duduknya menuju mushalla kecil yang terletak di sisi barat rumahnya. Ibu sudah menunggunya di sana. Sholat Maghrib berjamaah selalu mereka kerjakan bersama-sama seluruh anggota keluarganya.

Beberapa saat mengaji selesai, Alicia berjalan menuju kamarnya. Ia mendengar nada dering dari smartphone miliknya. Hmm… email dari There… sahabatnya.

……. Al, besok ke Yayasan ya.. ada kunjungan dokter yang akan membantu memeriksa kesehatan anak-anak, bisa khan?.......................

Pagi itu suasana Yayasan Bumi Karya tampak tenang. Karena harus ke kampus dulu Alicia agak terlambat ke Yayasan sosial  yang menampung anak-anak cacat yang terlantar itu.

“Selamat siang…. Maaf aku terlambat Re….” Alicia mencium pipi Theresia yang hari itu terlihat cantik.

“Ah, nggak apa-apa kok…  Dokternya juga baru datang… yuk aku kenalin dokternya…” Gadis itu menarik tangan Alicia ke ruangan tamu. Theresia tampak sangat ceria, Alicia jadi heran....

“Nah, Al…. kenalkan ini dokter Abimanyu, selain seorang dokter ia juga seorang pendeta di gereja tempat aku melaksanakan Misa setiap hari Minggu..” Alicia mengulurkaan tangannya untuk berjabat tangan dengan dokter yang ternyata masih muda tersebut dan juga ehm… cukup tampan.

“Selamat datang, dok…. kami senang sekali mendapat bantuan kesehatan untuk anak-anak cacat yang sangat memerlukan perhatian…” Alicia mengerti mengapa Theresia, sahabatnya begitu bersemangat.. hmm… pasti ada sesuatu dengan dokter ini.

“Sama-sama, mbak Alicia, mbak Theresia…  Mulai hari ini saya akan membantu memeriksa kesehatan mereka secara berkala… dan jika ada yang sakit jangan sungkan-sungkan menghubungi saya…” dokter Abimanyu selain sangat ramah ternyata hatinya sangat baik. Kesibukannya sebagai Pendeta dan juga dokter sangat menyita waktu, namun beliau masih sempat memberikan bantuan kesehatan kepada anak-anak cacat di Yayasan ini.

Theresia dan Alicia adalah dua mahasiswa yang membantu  dengan sukarela pekerjaan pengurus Yayasan milik Pak Basuki dan Bu Maria yang telah berusia setengah baya. Di Yayasan ini ada sekitar 25 anak cacat yang terlantar karena berbagai sebab. Dua diantaranya masih balita. Ada sekitar 4 orang wanita pekerja sosial yang juga membantu full time di yayasan tersebut. Tugas mereka membantu anak-anak cacat tersebut mengurusi dirinya sendiri supaya mereka bisa mandiri dan tidak merepotkan orang lain. Sementara Theresia dan Alicia bertugas memberikan pendidikan sesuai dengan kemampuan mereka. Bagi yang tunanetra diberikan pengajaran khusus dengan menggunakan huruf Braille.

“Pak dokter baik ya…. “ Theresia berbisik setelah mengantarkan dokter Abimanyu pulang.

“Ehmmm…. Baik atau ganteng?....” Alicia melirik sahabatnya yang tersenyum salah tingkah.

“Ihh… kamu ngejek aku ya, Al…. iya dia ganteng… emang kenapa?” Theresia masih menyembunyikan senyumnya.

“Ya… aku naksir dong…. Hahahahahaha……” Alicia tertawa diikuti oleh Theresia…

“Dia itu masih single kok… “

“Nah.. tunggu apa lagi….. sikaaaatttt…..”

“Hush…. Emangnya sepatu ya di sikat?”

“Maksudnya…. deketin, There sayaaaaaang….” Alicia mencubit pipi sahabatnya  dengan gemas.

 “Aku?.... deketin dia?... aduh Al…. malu dong…. Jaim dikit ah…” Theresia tersenyum.

“Ya sudah…. Kalo begitu, aku saja yang deketin….. hahaha….” Alicia menggoda sahabatnya.

“Al……………. kamu godain aku terus… awas ya….” Theresia pura-pura cemberut namun Alicia tahu ia tidak marah.

*****

“Kamu siap?...” Theresia memegang pundak Alicia dan membenarkan kerudung yang sedikit tersingkap.

“Sipp… doakan aku ya….” Alicia yang pagi itu akan melaksanakan ujian skripsinya tampak percaya diri. Alicia adalah mahasiswa paling pintar di kampusnya. Gelar mahasiswa dengan berbagai prestasi sudah sering ia dapatkan. Bahkan kali ini Alicia telah merampungkan S1 nya hanya dalam tempo 5 semester saja. Theresia yang saat itu masih merampungkan teori semester 6 ikut bangga dengan prestasi sahabatnya.

Benar saja.. predikat cumlaude dengan mudah diraih Alicia. Ia mendapatkan beasiswa meneruskan study di jenjang pasca sarjana dengan mudah. Namun Alicia tetaplah seorang gadis yang bersahaja. Kesederhanaannya terpancar dari penampilannya yang selalu berkerudug dan tutur kata yang selalu sopan dan menyenangkan. 

Persahabatannya dengan Theresia yang telah berlangsung sejak mereka masuk di Universitas ini melebihi segalanya. Dengan sabar dan telaten ia membantu sahabatnya itu merampungkan skripsi sampai akhirnya Theresia juga menyelesaikannya 6 bulan berikutnya.

Hubungan mereka dengan dokter Abimanyu juga masih terjalin dengan baik. Theresia yang lincah, manja dan ceria selalu menceritakan pertemuannya dengan Pdt. dr.  Abimanyu, S.Th  di gereja dengan mata berbinar-binar. Alicia tahu benar bahwa Theresia sahabatnya itu telah jatuh cinta kepada dokter itu.

Theresia telah bekerja di sebuah Perusahaan swasta. Ia hanya bisa sekali-sekali saja datang ke Yayasan, sementara Alicia yang memasuki tahun kedua program pasca sarjananya lebih sering berada di sana.

Suatu hari, seorang anak mengalami kejang-kejang dan pingsan. Alicia segera menghubungi dokter Abimanyu. Setelah pemeriksaan dokter menyarankan anak tersebut di bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter Abimanyu dan Alicia mengantarkan anak yang menderita tunanetra tersebut ke rumah sakit. Alicia menunggui anak yang ternyata menderita gangguan jantung tersebut dengan sabar.

“Terima kasih dok… untung ada dokter yang segera menolong… “

“Itu sudah tanggung jawab saya, mbak Alicia belum makan dari tadi… bagaimana kalau kita cari makan.. “

“Maaf, dok… saya tidak bisa meninggalkan anak saya…  dan jangan panggil mbak…. Alicia saja…”

“Oh.. ya… baiklah Alicia… saya bawakan ke sini saja ya….” Dokter Abimanyu tertawa kecil.  

Setelah menyerahkan makanan, siang itu juga dokter Abimanyu pamit pulang, ia mengatakan ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.  Jam 5 sore seorang pekerja sosial datang menggantikan Alicia menjaga anak yang sakit. Alicia segara pamit pulang… tak dipungkiri seharian ini badannya sangat lelah. Di beranda rumah sakit Alicia di kejutkan oleh kedatangan dokter Abimanyu yang tersenyum menyapanya.

“Al… kamu mau pulang khan?... mari saya antar…”

Alicia tak bisa menolak karena memang rumah mereka satu arah. Dalam mobil yang dikendarai dengan tenang mereka berbincang seputar kondisi anak yang terkena serangan jantung tersebut. Tiba-tiba dokter Abimanyu bertanya sebuah pertanyaan yang membuat Alicia sedikit terkejut.

“Apakah Theresia sering membicarakan saya?....”

“Eh… pernah sih tetapi tidak sering. Kenapa dok?....” Alicia merasa sesuatu di mata dokter itu. Sebenarnya Theresia tidak pernah absen memuji dan menyanjung dokter Abimanyu di setiap email, sms atau telepon kepadanya, namun rasa sayang  pada sahabatnya itu membuat Alicia menutupi keadaan yang sebenarnya.

“Ah, nggak apa-apa…. Saya hanya tidak ingin Theresia salah mengartikan pertemanan kami…”

Alicia terdiam tanpa ekpresi… ia telah menemukan jawaban atas apa yang terjadi terhadap sahabatnya selama ini. Kasihan There….

“Apa pendapatmu tentang saya, Al….. “ ini pertanyaan kedua dan lebih mengejutkan Alicia. Ia terdiam sejenak dan menarik nafas panjang.

“Bukankah seorang pendeta itu harus melayani jemaatnya di gereja?.... bagaimana dengan profesi dokter ini?... apa tidak menimbulkan polemik dengan dua profesi yang sama-sama penting, dok?....” Alicia adalah wanita yang cerdas.. sebenarnya ia tidak bisa memberi penilaian yang obyektif terhadap dokter Abimanyu, namun ia berusaha tidak menyinggung dengan mengalihkan pembicaraan saja.

“Memang, Al….. Dengan mengutip teladan Paulus yang juga seorang pembuat tenda  dan Yesus yang bekerja sebagai tukang kayu , maka beberapa pemuka agama melegalkan pendeta boleh berprofesi ganda. Bahkan mereka menambahkan ada beberapa keuntungan pendeta yang  berprofesi ganda, di antaranya: dapat bertemu dengan orang-orang  sambil memberitakan  kebenaran ajaran kami dan juga si pendeta berprofesi ganda tersebut bisa hidup “nyata” di dunia dengan mengerti kesusahan orang lain yang hidup di dunia ini (tidak terkungkung di dunia gereja saja). 

“Owh…. Jadi menurut dokter profesi ganda tersebut banyak keuntungannya ya…”


“Ya Al, saya menyetujui beberapa poin, namun sayangnya  banyak yang hanya melihat keuntungan alias sisi positif dari pendeta yang berprofesi ganda tanpa melihat kelemahannya. Padahal bi-vocational pastors itu juga ada sisi negatifnya… dimana terkadang saya harus memilih mana yang lebih penting ketika kedua profesi saya menuntut perhatian, misalnya jika ada pasien gawat yang harus segera saya operasi sementara di gereja ada kebaktian, namun saya sebagai manusia tetap berusaha memenuhi kebutuhan jemaat saya…. dan  tentu saja ini akan bertambah kelak ketika saya memutuskan untuk menikah dan mempunyai keluarga.

“Oh… jadi seorang pendeta juga boleh menikah?.. maaf saya tidak tahu… “ Alicia tersenyum, entah apa makna senyumannya namun ada setitik air segar di hatinya yang membuat dirinya tiba-tiba seperti mendapat kebahagiaan. Ah… perasaan apa ini? Alicia tidak bisa mendefinisikan perasaannya sendiri.

“Hahaha…. memangnya kamu baru tahu ya?.....” dr. Abimanyu tertawa sudut matanya menangkap senyum Alicia yang terlihat sangat indah di matanya.

“Iya… saya khan muslim.. jadi tidak tahu soal ini…”

Keesokan harinya Alicia kembali bertemu dr. Abimanyu di rumah sakit. Mereka berbincang sambil menunggu Ananda, anak cacat yang terkena serangan jantung kemarin. Kondisi anak itu sudah mulai membaik. Siangnya dr. Abimanyu pamit pulang meninggalkan Aicia yang hari itu merasa lebih dekat dengan dokter muda tersebut. Sekitar jam lima Theresia datang ke rumah sakit. Mereka pulang bersama-sama ketika seorang pekerja dari yayasan datang menggantikan Alicia. Di pintu gerbang mereka bertemu dr. Abimanyu yang sengaja datang untuk menjemput Alicia. Theresia terlihat sumringah demi melihat kedatangan dr. Abimanyu.

Akhirnya malam itu mereka bertiga makan malam di sebuah café. Baru saja memasuki ruangan café yang nyaman tiba-tiba tubuh Alicia limbung.. untung saja dr. Abimanyu dengan sigap memegang tubuh Alicia yang hendak jatuh.

“Kamu kecapean, Al… sebaiknya istirahat saja… besok tidak usah ke rumah sakit…” Dr Abimanyu memberikan nasehat setelah memeriksa keadaan Alicia.

“Sebaiknya kita pulang saja ya, Al….” Theresia juga terlihat cemas melihat kondisi sahabatnya.

“Biar saya antarkan Alicia pulang, rumah kami searah…. Kamu bisa langsung pulang There….” Dr. Abimanyu segera membantu Alicia berjalan menuju mobilnya, meninggalkan Theresia yang merasa sesuatu telah terjadi di dalam hatinya.. entahlah perasaan apa ini… hanya saja ia merasa sedikit sakit melihat betapa dr. Abimanyu begitu memperhatikan Alicia.

“Besok sebaiknya kamu cek up ke dokter, Al…. periksa darah dan melakukan pemeriksaat dalam untuk memastikan kondisi tubuhmu… “

“Ada apa dengan tubuh saya, dok……”

“Sepertinya ada gangguan dalam tubuhmu.. saya belum bisa mendeteksi karena hanya melihat gejalanya saja. Tes darah akan lebih memastikan apa yang terjadi sebenarnya..”

“Baiklah dok…. besok saya akan ke rumah sakit..”

*****

No comments:

Post a Comment