Suara Adzan
Maghrib sayub-sayub terdengar syahdu di telinga. Alicia menekan tombol minimize
di laptopnya dan segera beranjak dari tempat duduknya menuju mushalla kecil
yang terletak di sisi barat rumahnya. Ibu sudah menunggunya di sana. Sholat
Maghrib berjamaah selalu mereka kerjakan bersama-sama seluruh anggota
keluarganya.
Beberapa saat
mengaji selesai, Alicia berjalan menuju kamarnya. Ia mendengar nada dering dari
smartphone miliknya. Hmm… email dari There… sahabatnya.
……. Al, besok ke
Yayasan ya.. ada kunjungan dokter yang akan membantu memeriksa kesehatan
anak-anak, bisa khan?.......................
Pagi itu suasana
Yayasan Bumi Karya tampak tenang. Karena harus ke kampus dulu Alicia agak
terlambat ke Yayasan sosial yang
menampung anak-anak cacat yang terlantar itu.
“Selamat siang….
Maaf aku terlambat Re….” Alicia mencium pipi Theresia yang hari itu terlihat
cantik.
“Ah, nggak
apa-apa kok… Dokternya juga baru datang…
yuk aku kenalin dokternya…” Gadis itu menarik tangan Alicia ke ruangan tamu.
Theresia tampak sangat ceria, Alicia jadi heran....
“Nah, Al….
kenalkan ini dokter Abimanyu, selain seorang dokter ia juga seorang pendeta di gereja
tempat aku melaksanakan Misa setiap hari Minggu..” Alicia mengulurkaan tangannya
untuk berjabat tangan dengan dokter yang ternyata masih muda tersebut dan juga
ehm… cukup tampan.
“Selamat datang,
dok…. kami senang sekali mendapat bantuan kesehatan untuk anak-anak cacat yang
sangat memerlukan perhatian…” Alicia mengerti mengapa Theresia, sahabatnya
begitu bersemangat.. hmm… pasti ada sesuatu dengan dokter ini.
“Sama-sama, mbak
Alicia, mbak Theresia… Mulai hari ini
saya akan membantu memeriksa kesehatan mereka secara berkala… dan jika ada yang
sakit jangan sungkan-sungkan menghubungi saya…” dokter Abimanyu selain sangat
ramah ternyata hatinya sangat baik. Kesibukannya sebagai Pendeta dan juga
dokter sangat menyita waktu, namun beliau masih sempat memberikan bantuan
kesehatan kepada anak-anak cacat di Yayasan ini.
Theresia dan
Alicia adalah dua mahasiswa yang membantu dengan sukarela pekerjaan pengurus Yayasan
milik Pak Basuki dan Bu Maria yang telah berusia setengah baya. Di Yayasan ini
ada sekitar 25 anak cacat yang terlantar karena berbagai sebab. Dua diantaranya
masih balita. Ada sekitar 4 orang wanita pekerja sosial yang juga membantu full
time di yayasan tersebut. Tugas mereka membantu anak-anak cacat tersebut
mengurusi dirinya sendiri supaya mereka bisa mandiri dan tidak merepotkan orang
lain. Sementara Theresia dan Alicia bertugas memberikan pendidikan sesuai
dengan kemampuan mereka. Bagi yang tunanetra diberikan pengajaran khusus dengan
menggunakan huruf Braille.
“Pak dokter baik
ya…. “ Theresia berbisik setelah mengantarkan dokter Abimanyu pulang.
“Ehmmm…. Baik
atau ganteng?....” Alicia melirik sahabatnya yang tersenyum salah tingkah.
“Ihh… kamu ngejek
aku ya, Al…. iya dia ganteng… emang kenapa?” Theresia masih menyembunyikan
senyumnya.
“Ya… aku naksir
dong…. Hahahahahaha……” Alicia tertawa diikuti oleh Theresia…
“Dia itu masih
single kok… “
“Nah.. tunggu apa
lagi….. sikaaaatttt…..”
“Hush…. Emangnya
sepatu ya di sikat?”
“Maksudnya….
deketin, There sayaaaaaang….” Alicia mencubit pipi sahabatnya dengan gemas.
“Aku?.... deketin dia?... aduh Al…. malu
dong…. Jaim dikit ah…” Theresia tersenyum.
“Ya sudah…. Kalo
begitu, aku saja yang deketin….. hahaha….” Alicia menggoda sahabatnya.
“Al……………. kamu
godain aku terus… awas ya….” Theresia pura-pura cemberut namun Alicia tahu ia
tidak marah.
*****
“Kamu siap?...” Theresia
memegang pundak Alicia dan membenarkan kerudung yang sedikit tersingkap.
“Sipp… doakan aku
ya….” Alicia yang pagi itu akan melaksanakan ujian skripsinya tampak percaya
diri. Alicia adalah mahasiswa paling pintar di kampusnya. Gelar mahasiswa dengan
berbagai prestasi sudah sering ia dapatkan. Bahkan kali ini Alicia telah
merampungkan S1 nya hanya dalam tempo 5 semester saja. Theresia yang saat itu
masih merampungkan teori semester 6 ikut bangga dengan prestasi sahabatnya.
Benar saja..
predikat cumlaude dengan mudah diraih Alicia. Ia mendapatkan beasiswa
meneruskan study di jenjang pasca sarjana dengan mudah. Namun Alicia tetaplah
seorang gadis yang bersahaja. Kesederhanaannya terpancar dari penampilannya
yang selalu berkerudug dan tutur kata yang selalu sopan dan menyenangkan.
Persahabatannya
dengan Theresia yang telah berlangsung sejak mereka masuk di Universitas ini
melebihi segalanya. Dengan sabar dan telaten ia membantu sahabatnya itu
merampungkan skripsi sampai akhirnya Theresia juga menyelesaikannya 6 bulan
berikutnya.
Hubungan mereka
dengan dokter Abimanyu juga masih terjalin dengan baik. Theresia yang lincah,
manja dan ceria selalu menceritakan pertemuannya dengan Pdt. dr. Abimanyu, S.Th di gereja dengan mata berbinar-binar. Alicia
tahu benar bahwa Theresia sahabatnya itu telah jatuh cinta kepada dokter itu.
Theresia telah
bekerja di sebuah Perusahaan swasta. Ia hanya bisa sekali-sekali saja datang ke
Yayasan, sementara Alicia yang memasuki tahun kedua program pasca sarjananya
lebih sering berada di sana.
Suatu hari,
seorang anak mengalami kejang-kejang dan pingsan. Alicia segera menghubungi
dokter Abimanyu. Setelah pemeriksaan dokter menyarankan anak tersebut di bawa
ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter Abimanyu dan Alicia
mengantarkan anak yang menderita tunanetra tersebut ke rumah sakit. Alicia
menunggui anak yang ternyata menderita gangguan jantung tersebut dengan sabar.
“Terima kasih
dok… untung ada dokter yang segera menolong… “
“Itu sudah
tanggung jawab saya, mbak Alicia belum makan dari tadi… bagaimana kalau kita
cari makan.. “
“Maaf, dok… saya
tidak bisa meninggalkan anak saya… dan
jangan panggil mbak…. Alicia saja…”
“Oh.. ya… baiklah
Alicia… saya bawakan ke sini saja ya….” Dokter Abimanyu tertawa kecil.
Setelah
menyerahkan makanan, siang itu juga dokter Abimanyu pamit pulang, ia mengatakan
ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Jam 5 sore seorang pekerja sosial datang menggantikan Alicia menjaga
anak yang sakit. Alicia segara pamit pulang… tak dipungkiri seharian ini
badannya sangat lelah. Di beranda rumah sakit Alicia di kejutkan oleh
kedatangan dokter Abimanyu yang tersenyum menyapanya.
“Al… kamu mau
pulang khan?... mari saya antar…”
Alicia tak bisa
menolak karena memang rumah mereka satu arah. Dalam mobil yang dikendarai
dengan tenang mereka berbincang seputar kondisi anak yang terkena serangan
jantung tersebut. Tiba-tiba dokter Abimanyu bertanya sebuah pertanyaan yang
membuat Alicia sedikit terkejut.
“Apakah Theresia
sering membicarakan saya?....”
“Eh… pernah sih
tetapi tidak sering. Kenapa dok?....” Alicia merasa sesuatu di mata dokter itu.
Sebenarnya Theresia tidak pernah absen memuji dan menyanjung dokter Abimanyu di
setiap email, sms atau telepon kepadanya, namun rasa sayang pada sahabatnya itu membuat Alicia menutupi
keadaan yang sebenarnya.
“Ah, nggak
apa-apa…. Saya hanya tidak ingin Theresia salah mengartikan pertemanan kami…”
Alicia terdiam
tanpa ekpresi… ia telah menemukan jawaban atas apa yang terjadi terhadap
sahabatnya selama ini. Kasihan There….
“Apa pendapatmu
tentang saya, Al….. “ ini pertanyaan kedua dan lebih mengejutkan Alicia. Ia
terdiam sejenak dan menarik nafas panjang.
“Bukankah seorang
pendeta itu harus melayani jemaatnya di gereja?.... bagaimana dengan profesi
dokter ini?... apa tidak menimbulkan polemik dengan dua profesi yang sama-sama
penting, dok?....” Alicia adalah wanita yang cerdas.. sebenarnya ia tidak bisa
memberi penilaian yang obyektif terhadap dokter Abimanyu, namun ia berusaha
tidak menyinggung dengan mengalihkan pembicaraan saja.
“Memang, Al….. Dengan
mengutip teladan Paulus yang juga seorang pembuat tenda dan Yesus yang bekerja sebagai tukang kayu ,
maka beberapa pemuka agama melegalkan pendeta boleh berprofesi ganda. Bahkan
mereka menambahkan ada beberapa keuntungan pendeta yang berprofesi ganda, di antaranya: dapat bertemu
dengan orang-orang sambil memberitakan kebenaran ajaran kami dan juga si pendeta
berprofesi ganda tersebut bisa hidup “nyata” di dunia dengan mengerti kesusahan
orang lain yang hidup di dunia ini (tidak terkungkung di dunia gereja saja).
“Owh…. Jadi
menurut dokter profesi ganda tersebut banyak keuntungannya ya…”
“Ya Al, saya
menyetujui beberapa poin, namun sayangnya
banyak yang hanya melihat keuntungan alias sisi positif dari pendeta
yang berprofesi ganda tanpa melihat kelemahannya. Padahal bi-vocational pastors
itu juga ada sisi negatifnya… dimana terkadang saya harus memilih mana yang
lebih penting ketika kedua profesi saya menuntut perhatian, misalnya jika ada
pasien gawat yang harus segera saya operasi sementara di gereja ada kebaktian, namun
saya sebagai manusia tetap berusaha memenuhi kebutuhan jemaat saya…. dan tentu saja ini akan bertambah kelak ketika
saya memutuskan untuk menikah dan mempunyai keluarga.
“Oh… jadi seorang
pendeta juga boleh menikah?.. maaf saya tidak tahu… “ Alicia tersenyum, entah
apa makna senyumannya namun ada setitik air segar di hatinya yang membuat
dirinya tiba-tiba seperti mendapat kebahagiaan. Ah… perasaan apa ini? Alicia
tidak bisa mendefinisikan perasaannya sendiri.
“Hahaha….
memangnya kamu baru tahu ya?.....” dr. Abimanyu tertawa sudut matanya menangkap
senyum Alicia yang terlihat sangat indah di matanya.
“Iya… saya khan
muslim.. jadi tidak tahu soal ini…”
Keesokan harinya
Alicia kembali bertemu dr. Abimanyu di rumah sakit. Mereka berbincang sambil
menunggu Ananda, anak cacat yang terkena serangan jantung kemarin. Kondisi anak
itu sudah mulai membaik. Siangnya dr. Abimanyu pamit pulang meninggalkan Aicia
yang hari itu merasa lebih dekat dengan dokter muda tersebut. Sekitar jam lima
Theresia datang ke rumah sakit. Mereka pulang bersama-sama ketika seorang
pekerja dari yayasan datang menggantikan Alicia. Di pintu gerbang mereka
bertemu dr. Abimanyu yang sengaja datang untuk menjemput Alicia. Theresia
terlihat sumringah demi melihat kedatangan dr. Abimanyu.
Akhirnya malam
itu mereka bertiga makan malam di sebuah café. Baru saja memasuki ruangan café
yang nyaman tiba-tiba tubuh Alicia limbung.. untung saja dr. Abimanyu dengan
sigap memegang tubuh Alicia yang hendak jatuh.
“Kamu kecapean,
Al… sebaiknya istirahat saja… besok tidak usah ke rumah sakit…” Dr Abimanyu
memberikan nasehat setelah memeriksa keadaan Alicia.
“Sebaiknya kita
pulang saja ya, Al….” Theresia juga terlihat cemas melihat kondisi sahabatnya.
“Biar saya
antarkan Alicia pulang, rumah kami searah…. Kamu bisa langsung pulang There….”
Dr. Abimanyu segera membantu Alicia berjalan menuju mobilnya, meninggalkan
Theresia yang merasa sesuatu telah terjadi di dalam hatinya.. entahlah perasaan
apa ini… hanya saja ia merasa sedikit sakit melihat betapa dr. Abimanyu begitu
memperhatikan Alicia.
“Besok sebaiknya
kamu cek up ke dokter, Al…. periksa darah dan melakukan pemeriksaat dalam untuk
memastikan kondisi tubuhmu… “
“Ada apa dengan
tubuh saya, dok……”
“Sepertinya ada
gangguan dalam tubuhmu.. saya belum bisa mendeteksi karena hanya melihat
gejalanya saja. Tes darah akan lebih memastikan apa yang terjadi sebenarnya..”
“Baiklah dok….
besok saya akan ke rumah sakit..”
*****

No comments:
Post a Comment