Sunday, December 23, 2012

Between Alicia and Theresia...[Part 2]


…….  Bagaimana Al..

…….. Masih demam dan sakit tenggorokan, dok…

……. tes darahnya sudah ada?....

……. Belum dok.. masih menunggu….

……. Baiklah…. Kamu istirahat ya… biar cepat sembuh…..

Alicia menekan tombol off pada smartphone, ia tersenyum.. dr. Abimanyu sangat perhatian kepadanya. Ia merasa sangat senang… namun entah mengapa perasaannya mengatakan sesuatu telah terjadi terhadap dirinya.

*****

“Ya tuhan… Al….. kamu yang sabar ya…..” Theresia memeluk Alicia.

“Makasih Re…. entahlahlah apa aku bisa menghadapi semua ini… doakan aku ya…” Alicia tersenyum.

Vonis bahwa Alicia menderita Stevens-Johnson syndrome benar-benar membuat ia terkejut. Alicia tidak pernah menyadari bahwa demam  dan pusing mendadak yang sering ia derita adalah gejala penyakit yang menakutkan itu. Theresia dengan setia menunggu sahabatnya menjalani serentetan proses pemeriksaan di rumah sakit. Ia juga yang memberi kekuatan kepada Alicia ketika dokter memberitahukan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada diri Alicia.

Dr. Abimanyu telah beberapa kali mengunjungi Alicia di rumah sakit. Ia banyak memberikan semangat kepada Alicia. Theresia yang sore itu kebetulan menemukan dr. Abimanyu berada di kamar Alicia tersenyum agak di paksakan. Namun Theresia tidak ingin memperlihatkan kepada Alicia maupun dr. Abimanyu. Ia tetap ceria dan bercanda membuat sahabatnya bahagia meski dalam hatinya merasa ada sesuatu diantara Alicia dan dr. Abimanyu.

“Sayang, aku pulang dulu ya…. Kalau  besok kamu jadi pulang, telpon aku ya….. “ Theresia berpamitan sambil memeluk Alicia. Ia berpamitan kepada dr. Abimanyu dan tersenyum penuh arti. Alicia sebenarnya merasakan ada sesuatu yang Theresia sembunyikan, namun ia tak mau menduga-duga hal yang belum pasti.

“Al…….. mengapa terdiam, apa yang kamu fikirkan?...” Alicia tersadar dan segera tersenyum.

“Ah.. maaf, baru saja saya berfikir apakah sesuatu yang akan saya hadapi…. Tentang penyakit ini…”

Stevens-Johnson syndrome  diperkirakan muncul dari gangguan dari sistem kekebalan tubuh. Reaksi kekebalan dapat dipicu oleh infeksi, obat-obatan. Kemungkinan yang akan kamu hadapi adalah Konjungtivitis pada mata secara bertahap, terhentinya kelenjar tumbuh pada seluruh tubuhmu seperti rambut dan kuku, Ruam lesi putaran sekitar satu inci di seluruh  wajah, lengan dan kaki, dan telapak kaki….. tetapi itu semua tergantung dari kondisi masing-masing, Al… ada yang cepat dan ada yang lambat…..” dr. Abimanyu memandang Alicia yang mendengarkan penjelasannya seolah sedang membayangkan sesuatu.

“Jadi seperti itukah yang akan saya hadapi, dok….” Alicia seperti bergumam pada dirinya sendiri.

“Kok masih memanggil saya dokter, Al…” dr. Abimanyu tersenyum mencairkan suasana yang sedikit kaku.

“Oh… ya, Abi… terimakasih ya, sudah menemani saya selama ini…

“Sama-sama Al…. saya senang kok menemanimu…” tiba-tiba dr. Abimanyu menggenggam tangan Alicia. Gadis itu terlihat sedikit gugup dan berusaha bersikap biasa. Namun dari getaran tangannya dr. Abimanyu tahu bahwa gadis itu juga merasakan apa yang ia rasakan.

“Abi…….” Alicia mempertajam pandangannya kearah sang dokter

“Al… apakah mungkin bagi saya untuk memiliki hatimu?...” Pertanyaan Abi sangat mengejutkan meski dari sinyal-sinyal perhatiannya selama ini Alicia sudah menduga, namun ia tidak berani berharap lebih.

“Saya tidak tahu, apakah orang seperti saya ini masih berhak menerima sebuah hati… hidup saya seperti daun kering yang jatuh melayang-layang ditiup angin. Pada waktunya saya akan jatuh ke tanah dan lenyap…”

“Kamu nggak boleh berkata begitu, Al…. jika  saya akan menyiram pohonmu dan menjadikan daun itu tetap segar sehingga tidak akan jatuh, bagaimana?...”

Alicia tidak mampu menjawab pertanyaan Abi seketika itu. Tak dipungkiri memang dalam hatinya selalu ada getar-getar lembut setiap pertemuannya dengan Abi. Ia tak menampik bahwa ia sangat nyaman bersama Abi. Namun ada sebuah pemikiran yang sangat mengganggu Alicia yang menyadari bahwa mereka berbeda keyakinan. Abi adalah seorang Pendeta sementara dirinya adalah seorang muslim. Ia bahkan tak berani berharap mengurai rasa rindu kepada abi karena keadaan ini. Selain itu ia memikirkan Theresia sahabatnya yang begitu mengharapkan Abi membalas cintanya.

“Maafkan saya, Abi….. saya tidak bisa…” Alicia segera menarik tangannya dari genggaman Abi. Namun tangan Abi menahannya…..

“Apakah karena perbedaan keyakinan kita?.... atau karena Theresia?.... jujurlah terhadap hatimu, Al…. saya melihatnya….” Alicia tak mampu berkata-kata. Abi benar.. ia tak sanggup menjawab pertanyaan itu… Alicia hanya memandang Abi dengan wajah penuh kebimbangan.

Sejak percakapan di rumah sakit itu, Alicia semakin memendam rasa cintanya kepada Abi. Pria itu semakin sering berkunjung dan tak jarang mengantarkan Alicia check up ke rumah sakit. Alicia begitu bimbang dengan perasaannya sehingga ia menyimpan rapat cintanya, apalagi penyakitnya dari hari ke hari semakin membuatnya putus asa. Penglihatannya semakin tak jelas.. seperti ada kabut yang menutupi matanya. Alicia juga merasakan seluruh folikel rambutnya rusak dan berguguran.. kuku tangan dan kakinya mulai menghitam..  ia merasa sel jaringan apa saja yang tumbuh di tubuhnya mengalami gangguan.

Malam itu Theresia datang mengujunginya.. Alicia biasanya sangat senang jika sahabatnya itu datang, namun kali ini ada semacam perasaan enggan menemui Theresia yang malam itu terlihat semakin cantik saja. Sementara dirinya semakin mengerikan. Alicia hanya tersenyum tipis kepada There yang mengatakan ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.

“Ada apa, Re…..”

“Al….. aku sangat sayang kepadamu… aku akan sangat bahagia jika melihatmu juga bahagia….”

“Apa maksudmu, Re?.... lihatlah diriku… apakah aku terlihat bahagia dengan kedaanku?”

“Jangan berfikir hal buruk dulu, sayang….. dengarkan aku dulu…..” There tersenyum…. Huh… aku semakin kesal saja melihatnya. Bisa-bisanya ia tersenyum manis begitu….

“Maksud kamu apa, Re…. aku nggak ngerti…. “ aku ingin segera mengakhiri pertemuan ini. There terlihat begitu tidak menyenangkan di mataku malam ini.

“Al….. menikahlah dengan Abi…….. ia sangat mencintaimu… orang tuamu juga sudah menyetujui.. tinggal keputusan ada di tanganmu…. ” ada binar bahagia di mata There kali ini.

No comments:

Post a Comment