……. Bagaimana
Al..
…….. Masih demam
dan sakit tenggorokan, dok…
……. tes darahnya
sudah ada?....
……. Belum dok..
masih menunggu….
……. Baiklah….
Kamu istirahat ya… biar cepat sembuh…..
Alicia menekan
tombol off pada smartphone, ia tersenyum.. dr. Abimanyu sangat perhatian
kepadanya. Ia merasa sangat senang… namun entah mengapa perasaannya mengatakan
sesuatu telah terjadi terhadap dirinya.
*****
“Ya tuhan… Al…..
kamu yang sabar ya…..” Theresia memeluk Alicia.
“Makasih Re….
entahlahlah apa aku bisa menghadapi semua ini… doakan aku ya…” Alicia
tersenyum.
Vonis bahwa Alicia
menderita Stevens-Johnson
syndrome
benar-benar membuat ia terkejut. Alicia tidak pernah menyadari bahwa demam dan pusing mendadak yang sering ia derita
adalah gejala penyakit yang menakutkan itu. Theresia dengan setia menunggu
sahabatnya menjalani serentetan proses pemeriksaan di rumah sakit. Ia juga yang
memberi kekuatan kepada Alicia ketika dokter memberitahukan
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada diri Alicia.
Dr. Abimanyu
telah beberapa kali mengunjungi Alicia di rumah sakit. Ia banyak memberikan
semangat kepada Alicia. Theresia yang sore itu kebetulan menemukan dr. Abimanyu
berada di kamar Alicia tersenyum agak di paksakan. Namun Theresia tidak ingin
memperlihatkan kepada Alicia maupun dr. Abimanyu. Ia tetap ceria dan bercanda
membuat sahabatnya bahagia meski dalam hatinya merasa ada sesuatu diantara
Alicia dan dr. Abimanyu.
“Sayang, aku
pulang dulu ya…. Kalau besok kamu jadi
pulang, telpon aku ya….. “ Theresia berpamitan sambil memeluk Alicia. Ia
berpamitan kepada dr. Abimanyu dan tersenyum penuh arti. Alicia sebenarnya
merasakan ada sesuatu yang Theresia sembunyikan, namun ia tak mau menduga-duga
hal yang belum pasti.
“Al…….. mengapa
terdiam, apa yang kamu fikirkan?...” Alicia tersadar dan segera tersenyum.
“Ah.. maaf, baru
saja saya berfikir apakah sesuatu yang akan saya hadapi…. Tentang penyakit ini…”
“Stevens-Johnson
syndrome diperkirakan muncul dari gangguan
dari sistem kekebalan tubuh.
Reaksi kekebalan dapat
dipicu oleh infeksi, obat-obatan. Kemungkinan yang akan kamu
hadapi adalah Konjungtivitis pada mata secara bertahap, terhentinya kelenjar
tumbuh pada seluruh tubuhmu seperti rambut dan kuku, Ruam
lesi putaran sekitar
satu inci di seluruh wajah, lengan dan kaki, dan telapak kaki…..
tetapi itu semua tergantung dari kondisi masing-masing, Al… ada yang cepat dan
ada yang lambat…..” dr. Abimanyu memandang Alicia yang mendengarkan
penjelasannya seolah sedang membayangkan sesuatu.
“Jadi seperti
itukah yang akan saya hadapi, dok….” Alicia seperti bergumam pada dirinya
sendiri.
“Kok masih
memanggil saya dokter, Al…” dr. Abimanyu tersenyum mencairkan suasana yang
sedikit kaku.
“Oh… ya, Abi…
terimakasih ya, sudah menemani saya selama ini…
“Sama-sama Al….
saya senang kok menemanimu…” tiba-tiba dr. Abimanyu menggenggam tangan Alicia.
Gadis itu terlihat sedikit gugup dan berusaha bersikap biasa. Namun dari
getaran tangannya dr. Abimanyu tahu bahwa gadis itu juga merasakan apa yang ia
rasakan.
“Abi…….” Alicia
mempertajam pandangannya kearah sang dokter
“Al… apakah
mungkin bagi saya untuk memiliki hatimu?...” Pertanyaan Abi sangat mengejutkan
meski dari sinyal-sinyal perhatiannya selama ini Alicia sudah menduga, namun ia
tidak berani berharap lebih.
“Saya tidak tahu,
apakah orang seperti saya ini masih berhak menerima sebuah hati… hidup saya
seperti daun kering yang jatuh melayang-layang ditiup angin. Pada waktunya saya
akan jatuh ke tanah dan lenyap…”
“Kamu nggak boleh
berkata begitu, Al…. jika saya akan
menyiram pohonmu dan menjadikan daun itu tetap segar sehingga tidak akan jatuh,
bagaimana?...”
Alicia tidak
mampu menjawab pertanyaan Abi seketika itu. Tak dipungkiri memang dalam hatinya
selalu ada getar-getar lembut setiap pertemuannya dengan Abi. Ia tak menampik
bahwa ia sangat nyaman bersama Abi. Namun ada sebuah pemikiran yang sangat
mengganggu Alicia yang menyadari bahwa mereka berbeda keyakinan. Abi adalah
seorang Pendeta sementara dirinya adalah seorang muslim. Ia bahkan tak berani
berharap mengurai rasa rindu kepada abi karena keadaan ini. Selain itu ia
memikirkan Theresia sahabatnya yang begitu mengharapkan Abi membalas cintanya.
“Maafkan saya,
Abi….. saya tidak bisa…” Alicia segera menarik tangannya dari genggaman Abi.
Namun tangan Abi menahannya…..
“Apakah karena
perbedaan keyakinan kita?.... atau karena Theresia?.... jujurlah terhadap
hatimu, Al…. saya melihatnya….” Alicia tak mampu berkata-kata. Abi benar.. ia
tak sanggup menjawab pertanyaan itu… Alicia hanya memandang Abi dengan wajah
penuh kebimbangan.
Sejak percakapan
di rumah sakit itu, Alicia semakin memendam rasa cintanya kepada Abi. Pria itu
semakin sering berkunjung dan tak jarang mengantarkan Alicia check up ke rumah
sakit. Alicia begitu bimbang dengan perasaannya sehingga ia menyimpan rapat
cintanya, apalagi penyakitnya dari hari ke hari semakin membuatnya putus asa.
Penglihatannya semakin tak jelas.. seperti ada kabut yang menutupi matanya.
Alicia juga merasakan seluruh folikel rambutnya rusak dan berguguran.. kuku
tangan dan kakinya mulai menghitam.. ia
merasa sel jaringan apa saja yang tumbuh di tubuhnya mengalami gangguan.
Malam itu
Theresia datang mengujunginya.. Alicia biasanya sangat senang jika sahabatnya
itu datang, namun kali ini ada semacam perasaan enggan menemui Theresia yang
malam itu terlihat semakin cantik saja. Sementara dirinya semakin mengerikan.
Alicia hanya tersenyum tipis kepada There yang mengatakan ingin menyampaikan
sesuatu kepadanya.
“Ada apa, Re…..”
“Al….. aku sangat
sayang kepadamu… aku akan sangat bahagia jika melihatmu juga bahagia….”
“Apa maksudmu,
Re?.... lihatlah diriku… apakah aku terlihat bahagia dengan kedaanku?”
“Jangan berfikir
hal buruk dulu, sayang….. dengarkan aku dulu…..” There tersenyum…. Huh… aku
semakin kesal saja melihatnya. Bisa-bisanya ia tersenyum manis begitu….
“Maksud kamu apa,
Re…. aku nggak ngerti…. “ aku ingin segera mengakhiri pertemuan ini. There
terlihat begitu tidak menyenangkan di mataku malam ini.
“Al….. menikahlah
dengan Abi…….. ia sangat mencintaimu… orang tuamu juga sudah menyetujui..
tinggal keputusan ada di tanganmu…. ” ada binar bahagia di mata There kali ini.

No comments:
Post a Comment