“Re…. aku……..”
tiba-tiba aku tidak mampu berfikir… semua terasa seperti melayang-layang. Aku
bahkan hampir melupakan Abi, aku tidak berani bermimpi meraih cintanya dalam
keadaan seperti ini, meski jujur.. sebenarnya aku mencintainya.
*****
Theresia mengusap
air matanya memandang kepergian Alicia dan Abi meninggalkan ruang tunggu
bandara ini. Hari ini mereka berangkat ke Sydney untuk melaksanakan pernikahan,
mengingat tidak mungkin menikah dengan perbedaan keyakinan di Negara ini.
Theresia menghela nafas panjang…. Semoga kalian berbahagia sahabatku.
Aku memang hanya
mencintai Abi, namun Alicia lebih dari itu, ia sangat membutuhkan Abi dan
sebagai sahabat ia akan merelakan apapun untuk kebahagiaan sahabatnya. Theresia
tidak menyesali bahwa dr. Abimnayu lebih memilih sahabatnya itu, ia bahkan
berharap Alicia segera sembuh dan ceria kembali.
Saat ini setahun
sudah Alicia dan Abi menikah, selama ini yang mereka lakukan adalah bertahan
dari virus Steven Johnson Syndrome yang menggerogoti tubuh Alicia. Wanita itu
sudah berusaha melawan keterpurukan.. ia sudah bertahan sekian lama dari virus
itu, apalagi ada Abi yang selalu menjaganya dan mencurahkan segenap cintanya.
Abi tak pernah sekalipun mengeluh bahkan ketika kondisi Alicia berada dalam
titik nol, saat detak jantungnya sudah semakin lemah.. dan nafasnya sudah mulai
tersengal-sengal.. hanya satu permintaan Alicia ketika saat itu Abi menjaganya
di ruangan intensive care unit, dan Abi hanya bisa mengiyakan permintaan
istrinya itu sebelum ia menciumnya dan melihat detik-detik waktu saat Alicia
terpejam untuk selama-lamanya.
*****
“Maafkan saya,
Abi…….. saya tidak bisa menerimanya… cintamu hanya untuk Al….…“ Theresia
tersenyum kepada dr. Abimanyu.
“Saya tidak
memaksamu, Re… ini permintaan Alicia….. bagaimanapun kamu harus tahu..”
“Sekali lagi saya
minta maaf….. saya sangat menyayangi Al, saya tidak mungkin menerimamu….
Lagipula saya akan segera ke luar negeri untuk melanjutkan study..”
“Baiklah, Re…..
saya bisa mengerti keputusanmu.. semoga sukses ya…” dr. Abimanyu meninggalkan
Theresia yang diam-diam menghapus air matanya.
Siapa bilang ia
tidak menginginkan Abi, ia bahkan mencintainya sampai tak mau membuka hatinya
untuk siapapun. Hatinya hanya untuk Abi… namun ia tidak ingin Abi datang
kepadanya karena permintaan Alicia. Ia tidak ingin Abi terpaksa menikahinya hanya
karena ingin mewujutkan permintaan almarhum Alicia yang meninggal setahun yang
lalu.
Theresia memang
harus pergi, paling tidak pergi dari kehancuran cintanya yang ia buat sendiri.
Namun Theresia adalah wanita yang sangat menjunjung tinggi arti sebuah kesetiaan.
Ia akan tetap setia untuk mencintai Abi… tetapi tidak untuk memilikinya. Cinta
dan hidup pria itu adalah milik Alicia, sahabatnya yang telah tiada.
*****
Kebaktian kali
ini membuat Theresia bahagia. Sejak seminggu yang lalu kepulangannya ke tanah
air tercinta ini ia bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lamanya. Ia
menikmati udara tropis setelah hampir dua puluh tahun ia menetap di Negara yang
berudara dingin sepanjang masa. Theresia telah berkunjung ke rumah keluarga
sahabatnya Alicia dan berziarah ke makamnya.
Kota ini telah
berubah.. banyak sekali gedung dan bangunan baru berdiri semenjak
ditinggalkannya. Beberapa keponakan yang dulunya masih balita kini sudah mulai
remaja bahkan ada yang sudah bekerja. Ah… sudah berapa lama aku terpisah dari
mereka? Teman-teman yang dulu masih muda, sekarang sebagian dari mereka sudah
mulai memutih rambutnya..
“Delapan belas
tahun adalah waktu yang cukup lama ya, Re…..” Sebuah suara yang dulu sangat ia
rindukan tiba-tiba terdengar dekat di telinganya. Abi…….
“Apa khabar,
Abi…… “ Theresia tersenyum mengulurkan tangannya.
“Baik, Re….. kamu
masih terlihat cantik seperti masih gadis dulu….”
Mereka berdua
bercerita lalu terkejut dan akhirnya tertawa menyadari bahwa status mereka
sama… single… dan mereka juga saling membela diri bahwa kesendirian mereka
karena belum menemukan seseorang yang mereka cari selama ini.
“Jadi…. Ternyata
kamu itu sungguh-sungguh wanita setia ya, Re….”
“Maksudnya?....”
“Ya… kamu setia
dengan kesendirianmu…. Seandainya saya tahu siapa sebenarnya cinta sejatimu,
pasti saya akan berusaha mempertemukan kalian…” Abi sedikit bercada memecah
kebekuan.
“Ha..ha..ha..
darimana kamu bisa menyimpulkan bahwa saya punya cinta sejati?...”
“Sepertinya
setiap manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan bukan?... dan saya belum
pernah melihat pasangan kamu setelah kamu berbicara tentang perasaanmu padaku sekitar
duapuluh tahun yang lalu…. Sewaktu aku memintamu membujuk Alicia agar mau menjadi
istriku…..” Theresia terdiam… tersenyum dan menghela nafas panjang.
“Ya, Abi… aku
memang menyimpan cinta hanya untukmu…. “ mata Theresia terlihat lelah. Abi
sudah mengetahui sejak dulu… namun hatinya telah terpikat oleh Alicia. Dan
sampai saat inipun Abi tetap menyimpan cintanya pada Alicia.
Dr. Abimanyu
memang belajar banyak dari Theresia. Wanita yang telah memberikan pelajaran
tentang kesetiaan. Abi harus memulai dari awal untuk membangun kembali sebuah
kepercayaan kepada Theresia . Ia telah bertekat bulat akan membahagiakan
Theresia apapun bentuknya. Selain itu, jika memungkinkan Ia akan meminta
kesediaan Theresia sekali lagi mewujudkan pesan terakhir istrinya, Alicia yang
memintanya menikah dengannya, sahabat
yang disayanginya.
*****
Theresia
sepertinya sudah lelah dengan hatinya. Perhatian dan kunjungan-kunjungan Abi
semakin membuat subur saja cinta dalam hatinya. Theresia tidak mampu lagi
menutupi perasaannya. Dalam mimpi-mimpinya sahabat tercintanya Alicia tersenyum
dan memberikan rangkaian bunga pengantin itu padanya.
Malam Natal ini
sungguh merupakan malam Natal terindah dalam hidup Theresia. Ia memandang baju
pengantin yang akan dikenakannya pada pernikahannya besok setelah Misa Natal di
gereja. Ia tersenyum memikirkan calon pengantin pria yang saat ini masih sibuk
dengan padatnya acara di Gereja. Hmm…. Seharusnya Abi beristirahat setelah serangkaian
kegiatan menjelang Natal diadakan semenjak seminggu yang lalu. Ia
mengkhawatirkan kesehatan pria yang sangat di cintainya itu. Tiba-tiba telepon
genggamnya bergetar…………………
“Benar saya
Theresia…. Ada apa?” ada sedikit nada cemas dalam suara di seberang sana.
“dr. Abimanyu
terjatuh…………….
Tak membuang
waktu lama Theresia segera meluncur ke jalan menuju Rumah Sakit tempat Abi di
rawat. Ruang ICU terlihat sepi hanya ada beberapa perawat keluar masuk ruangan.
Abi………………..
“Maaf. Bu…. dr.
Abimanyu sedang dalam penanganan medis, silahkan ibu menunggu…” seorang perawat
menahannya masuk.
Theresia diam
menahan debaran dalam dadanya. Abi sudah mengeluh dengan jantungnya yang
akhir-akhir ini agak mengganggunya. Ya Tuhan…. Jika memang engkau persatukan
kami, kembalikan kekasihku… Theresia berdo’a dalam hatinya.
“Bagaimana jika
ia pergi meninggalkanmu. Theresia….” Wanita berkerudung itu tersenyum
kepadanya.
“Aku akan tetap
merelakannya….. cintaku kepadanya akan abadi selamanya….” Theresia menitikkan
air mata.
“Bukankah kalian
besok akan melangsungkan pernikahan?” wanita itu tetap tersenyum.
“Pernikahan kami
adalah symbol yang menyatukan kami dalam ikatan yang absah, namun cinta kami
akan tetap bersatu walau jasat kami terpisah… aku akan menerimanya dengan
lapang dada…. Anda siapa?” There baru menyadari bahwa ia tak mengenali wanita
yang sejak tadi berbicara dengannya. Saudara-saudara Abi belum datang ke kota
ini.
“Bu Theresia…… maaf
saya mengganggu tidur anda..” seorang perawat membangunkannya dari mimpi
bertemu wanita misterius tadi.
Theresia segera
memasuki ruang ICU tempat Abi berbaring.. kedua matanya tertutup.. ia masih
tertidur.. suara mesin deteksi jantung terdengar di telinganya. Theresia duduk
di samping tempat tidur, mengusap lembut tangan Abi dan menciumnya.
Masa kritis
memang sudah lewat, namun Abi merasa ia tengah berada di dua dunia. Pandangan
matanya terbagi dalam dimensi yang berbeda.. ia merasa tubuhnya sangat ringan
da melayang-layang. Ia melihat Theresia dengan tetesan air matanya menggenggam
erat tangannya. Ia dapat merasakan bahwa wanita itu begitu mencintainya..
Theresia adalah wanita yang paling bisa menjaga hatinya. Ia melihat kerelaan di
mata wanita itu…. Di sisi lain ia
melihat Alicia tersenyum lembut kepadanya.. senyum yang selalu dirindukannya..
kelembutan yang selalu didambakannya.. ah…. Inikah rasanya berada dalam
persimpangan?........teng..teng..teng…
tepat pukul 12:00 Abi mendengar suara pujian nan syahdu di telinganya…
Natal telah tiba…. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Theresia.
Detik-etik berlalu begitu cepat, akhirnya dr. Abimanyu
memang menemukan cintanya. Sebuah hati yang telah menyita seluruh sisa
waktu hidupnya… Alicia… Ia merasa bahagia bersamanya……………………………end

No comments:
Post a Comment