Wednesday, January 16, 2013

Hall..........[part 1]





Sudah terbiasa dengan kehidupan malam yang hingar-bingar, gadis itu melangkah ke sebuah Club..  seperti sudah hafal tempat itu ia menyapa beberapa orang yang kebetulan melihat kedatanganya. Matanya yang indah mencari-cari seseorang diantara kerumunan manusia-manusia yang sedang menikmati dunia malam.

Tak berapa lama ia menemukannya… langkah kakinya membawa gadis yang hanya mengenakan tank top warna hitam dan rok mini senada… dan sepatu boot yang hampir menutupi  kaki jenjangnya.. sexy.. sebuah jaket kulit yang sengaja diikatkan di pinggangnya. Gadis itu menyapa seseorang yang sengaja ia temui di Club ini.

“Malam, sayang….” Seorang pria muda berpenampilan trendy memeluknya. Sejenak ia memperkenalkan gadis itu kepada peman-temannya yang semua pria dan bersiul melihat gadis cantik di depannya.

“Gue bawa lima… mau di ambil semuanya?....” Gadis itu langsung duduk di sebelah Vic, pria trendy tersebut sambil berbisik-bisik.

“Tenang Hall… gue khan langganan setia lu… kalau gue ambil semua dapet bonus nggak nih….” Ia melirik gadis itu sambil memeluknya.

“Ah… bereslah itu… apa sih yang enggak buat lu…” Hall, gadis sexy itu menyambut pelukan dan tanpa sungkan mereka  berciuman walaupun berada di keramaian. Tangan Hall menyelinap ke dalam jaket Vic meletakkan lima paket ekstasi dan segera menariknya kembali.

“Ok.. gw cabut dulu ya..” Hall segera berlalu setelah menerima  amplop tebal. Ia segera menuju bar dan memesan minuman.. sambil menikmati musik yang berdentum ia menggoyang-goyangkan badannya. Seorang pria yang duduk di sebelah tiba-tiba menyapanya…

“Sudah sering ke sini ya mbak…”

“Eh iya…. Lu baru ya… nggak pernah lihat…” Hall mengamati pria yang duduk di sebelahnya. Hmmm… keren juga…

“Nggak juga… sudah beberapa kali…. Tapi saya nggak pernah lihat mbak….”

“Gue Hall…..”

“Oh… saya Hans…” pria itu mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Hall…

Mereka segera akrab ngobrol di bar tersebut. Hall memang gadis yang supel dan menyenangkan. Ngobrol dengannya seperti tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Tiga puluh menit kemudian Hall bersiap-siap akan pamit…  Hans sebenarnya sudah mencegahnya, namun Hall tahu kondisi malam-malam jam segini rawan baginya untuk berkeliaran. Ia segera berlalu setelah Hans memberinya sebuah pinBB… Hmmm…

Baru saja ia hendak beranjak keluar dari pintu utama terdengar teriakan seseorang dan terdengar suara tembakan… “ Semua tetap diam di tempat dan jangan ada yang mencoba melarikan diri….”  Beberapa anggota polisi menyebar ke seluruh penjuru club tersebut… Hall yang memang selalu keluar lewat pintu samping beringsut mendekati pintu…  untung posisinya agak tersembunyi sehingga tidak ada satupun anggota polisi yang melihatnya. Namun sekilas ia melihat Hans.. berada di tengah-tengah ruangan mengacungkan pistol ke beberapa pengunjung yang hendak melarikan diri.. ah.. ternyata dia anggota polisi….  

Hall melewati gang sempit yang biasanya hanya dilewati karyawan club tersebut. Beberapa meter lagi ia sudah berada di jalan kecil yang menghubungkan bangunan ini dengan trotoar di jalan utama. Hall mempercepat langkah kakinya.. sebentar lagi ia sampai di tempat parkir mobilnya…   Tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan seseorang…. “ Berhenti…!!! “……… Dor!!!!!......... kejaaarrr……!!!

Dengan kecepatan tinggi gadis itu memacu mobil kearah luar kota. Beberapa mobil polisi yang mengejarnya tadi sudah tidak tampak. Huft… hampir saja….  Ia sengaja tidak melewati jalan raya utama sehingga polisi agak kesulitan mengikutinya… sepertinya ia harus bersembunyi untuk sementara waktu menunggu situasi aman. Ia khawatir para pelanggannya ada yang tertangkap dan membuka mulut keberadaannya sebagai mengedar heroin dan obat-obat psikotropika lainnya.

Ciiiiitttttttttttttt…… tiba-tiba ban mobil pecah dan mobil oleng ketika memasuki kota kecil di lereng gunung. Hall menginjak rem sambil menjaga keseimbangan mobilnya karena kalau tidak ia bisa terjun ke sawah yang berada di kanan jalan. Seseorang hampir saja tertabrak… Hall menghentikan mobilnya… ia keluar dan melihat kondisi orang tadi.

“Maaf kang… perlu ke rumah sakit?..” Hall menawarkan bantuan.

“Tidak usah neng…. Nggak apa-apa kok…. Saya cuma kaget.. Ban pecah ya…  mari saya bantu..“ Laki-laki yang disrempatnya tadi malah menawarkan bantuan mengganti ban mobil yang pecah. Ia melipat sarung yang dikenakan dan dengan cekatan ia mengganti ban. Hall membantu mengambilkan ban di bagasi dan meletakkannya kembali. Tak berapa lama beres sudah ban mobilnya.

Hall melihat jam… hmmm… jam 04:30 wib… ternyata ia sudah tiga jam meninggalkan ibukota.

“Terima kasih ya kang… maaf mengganggu..”

“Nggak apa-apa… kebetulan saya mau ke mesjid… neng mau kemana?”

“Ke desa Arum Asih, kang…”

Beberapa saat kemudian Hall memasuki halaman sebuah rumah. Seorang wanita tua menyambut kedatangannya. Nenek Sarmini adalah seseorang yang menunggu rumah terebut. Terletak di balik lereng sebuah bukit, terpisah dari rumah-rumah pendududuk, dengan pemandangan alam yang menakjubkan dan hawa sejuk pegunungan menjadikan rumah tersebut sebuah tempat yang cukup aman untuk menyendiri.

Pagi itu Hall membaca surat kabar, matanya tertuju pada lembar pertama halaman Koran tersebut….DUA ORANG BANDAR NARKOBA TERTANGKAP DAN SEORANG MELOLOSKAN DIRI DALAM PENGGREBEKAN DI SEBUAH CLUB MEWAH….. Hall tidak meneruskan membaca berita tersebut. Dihabiskanya segelas milk chocolate dan beberapa potong roti di hadapannya.

Sudah beberapa minggu Hall mengurung diri di kamarnya. Ia ingin segera keluar rumah menghirup udara segar dan berbelanja membeli beberapa barang yang ia perlukan.

“Neng…. Ketemu lagi…” laki-laki yang membantunya mengganti ban mobil yang pecah itu menyapaya di depan sebuah toko.

“Oh.. iya kang…. “ di siang hari Hall seperti mengenali wajah laki-laki dihadapannya itu  namun ia lupa entah dimana.

“Saya Kris.. “ laki-laki itu mengulurkan tangannya.

“Hall…. Maaf saya harus segera pulang, permisi..” Hall sengaja tidak terlalu lama berbicara dengan Kris.

“Kalau ada waktu main-mainlah ke balai desa besok malam.. ada kegiatan kesenian pemuda…”

“Baiklah.. mudah-mudahan saya bisa….”

Malam itu Hall berubah pikiran. Sudah hampir satu bulan ia berada di desa ini, namun belum sekalipun ia mengenal masyarakat desa, jadi malam ini ia memutuskan memenuhi undangan Kris.

Balai desa tampak ramai malam itu. Ada pertunjukan kesenian oleh remaja desa. Kris menyambut hangat kedatangannya. Dengan senang hati ia yang ternyata ketua pemuda dan seorang guru SMP memperkenalkan Hall kepada beberapa rekannya, diantaranya seorang gadis manis bernama Asih, seorang penari, yang terlihat memandang Hall dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

Hall yang lulus dari fakultas ekonomi itu akhirnya sering terlibat dalam kegiatan karang taruna dengan konsep-konsep berwira usaha yang sangat bagus. Keberhasilan program usaha karang taruna dengan wira usahanya mendapat perhatian khusus dari Camat setempat. Berbagai kegiatan yang harus melibatkan Kris dan Hall bersama membawa mereka dalam keakraban dan tentu saja menimbulkan kecemburuan yang tampak jelas di wajah Asih.

“Saya dua bersaudara, kakak saya bekerja di Jakarta… kebetulan besok dia akan pulang…”

“Bagaimana dengan Asih?... “Hall bertanya sambil tersenyum menggoda.

“Ah… Asih itu baik sekali, namun kita hanya berteman biasa saja”

“Tapi sepertinya Asih menganggap akang luar biasa…”

“Wah… kamu memojokkan saya…”

“Saya melihat sinar matanya sangat berharap…”

“Entahlah… kalau jodoh mungkin tidak kemana.”

“Maksudnya?”

“Keluarga saya yang sangat taat beragama agak kurang setuju dengan profesinya sebagai penari.. ia sering menari di berbagai tempat hingga pagi… “ Kris terlihat sedikit mengeluh.

“Tapi akang mencintainya bukan?”

“Tapi keluarga saya tetap saya nomor satukan..”

“Tapi cinta harus diperjuangkan…”

“Ah, biarlah waktu yang akan menentukan… oh ya, saya akan perkenalkan kamu  dengan kakak saya besok.. boleh saya kerumahmu?”

“Baiklah..”

Pagi itu cerah, baru saja ia hendak melangkah ke teras menikmati sejuknya udara pagi ….

“Angkat tangan… anda kami tangkap……………..” Hall melihat ada tiga orang polisi berpakaian preman dan seorang yang berada di depan melangkah mendekatinya… Ah.. dia laki-laki yang memberikan nomor pinBB…Hans……..beberapa orang petugas kepolisian segera meringkus Hall yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan Malam itu Kris membatalkan menemui Hall karena kakaknya, Hans harus segera kembali ke Jakarta. Selanjutnya Kris mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya kembali........ [bersambung]

2 comments:

  1. Asih with hall... hahahaha... tumben neh maen detektif2an

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.... iya.. pengen maen ci luk baaa.....

      Delete