Sudah terbiasa
dengan kehidupan malam yang hingar-bingar, gadis itu melangkah ke sebuah Club.. seperti sudah hafal tempat itu ia menyapa
beberapa orang yang kebetulan melihat kedatanganya. Matanya yang indah
mencari-cari seseorang diantara kerumunan manusia-manusia yang sedang menikmati
dunia malam.
Tak berapa lama
ia menemukannya… langkah kakinya membawa gadis yang hanya mengenakan tank top
warna hitam dan rok mini senada… dan sepatu boot yang hampir menutupi kaki jenjangnya.. sexy.. sebuah jaket kulit yang
sengaja diikatkan di pinggangnya. Gadis itu menyapa seseorang yang sengaja ia
temui di Club ini.
“Malam, sayang….”
Seorang pria muda berpenampilan trendy memeluknya. Sejenak ia memperkenalkan
gadis itu kepada peman-temannya yang semua pria dan bersiul melihat gadis
cantik di depannya.
“Gue bawa lima…
mau di ambil semuanya?....” Gadis itu langsung duduk di sebelah Vic, pria
trendy tersebut sambil berbisik-bisik.
“Tenang Hall… gue
khan langganan setia lu… kalau gue ambil semua dapet bonus nggak nih….” Ia
melirik gadis itu sambil memeluknya.
“Ah… bereslah
itu… apa sih yang enggak buat lu…” Hall, gadis sexy itu menyambut pelukan dan
tanpa sungkan mereka berciuman walaupun
berada di keramaian. Tangan Hall menyelinap ke dalam jaket Vic meletakkan lima
paket ekstasi dan segera menariknya kembali.
“Ok.. gw cabut
dulu ya..” Hall segera berlalu setelah menerima amplop tebal. Ia segera menuju bar dan memesan
minuman.. sambil menikmati musik yang berdentum ia menggoyang-goyangkan
badannya. Seorang pria yang duduk di sebelah tiba-tiba menyapanya…
“Sudah sering ke
sini ya mbak…”
“Eh iya…. Lu baru
ya… nggak pernah lihat…” Hall mengamati pria yang duduk di sebelahnya. Hmmm…
keren juga…
“Nggak juga…
sudah beberapa kali…. Tapi saya nggak pernah lihat mbak….”
“Gue Hall…..”
“Oh… saya Hans…”
pria itu mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Hall…
Mereka segera akrab
ngobrol di bar tersebut. Hall memang gadis yang supel dan menyenangkan. Ngobrol
dengannya seperti tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Tiga puluh menit
kemudian Hall bersiap-siap akan pamit… Hans
sebenarnya sudah mencegahnya, namun Hall tahu kondisi malam-malam jam segini
rawan baginya untuk berkeliaran. Ia segera berlalu setelah Hans memberinya
sebuah pinBB… Hmmm…
Baru saja ia hendak
beranjak keluar dari pintu utama terdengar teriakan seseorang dan terdengar
suara tembakan… “ Semua tetap diam di tempat dan jangan ada yang mencoba
melarikan diri….” Beberapa anggota
polisi menyebar ke seluruh penjuru club tersebut… Hall yang memang selalu
keluar lewat pintu samping beringsut mendekati pintu… untung posisinya agak tersembunyi sehingga
tidak ada satupun anggota polisi yang melihatnya. Namun sekilas ia melihat Hans..
berada di tengah-tengah ruangan mengacungkan pistol ke beberapa pengunjung yang
hendak melarikan diri.. ah.. ternyata dia anggota polisi….
Hall melewati
gang sempit yang biasanya hanya dilewati karyawan club tersebut. Beberapa meter
lagi ia sudah berada di jalan kecil yang menghubungkan bangunan ini dengan
trotoar di jalan utama. Hall mempercepat langkah kakinya.. sebentar lagi ia
sampai di tempat parkir mobilnya… Tiba-tiba dari arah belakang terdengar
teriakan seseorang…. “ Berhenti…!!! “……… Dor!!!!!......... kejaaarrr……!!!
Dengan kecepatan
tinggi gadis itu memacu mobil kearah luar kota. Beberapa mobil polisi yang
mengejarnya tadi sudah tidak tampak. Huft… hampir saja…. Ia sengaja tidak melewati jalan raya utama
sehingga polisi agak kesulitan mengikutinya… sepertinya ia harus bersembunyi
untuk sementara waktu menunggu situasi aman. Ia khawatir para pelanggannya ada
yang tertangkap dan membuka mulut keberadaannya sebagai mengedar heroin dan
obat-obat psikotropika lainnya.
Ciiiiitttttttttttttt……
tiba-tiba ban mobil pecah dan mobil oleng ketika memasuki kota kecil di lereng
gunung. Hall menginjak rem sambil menjaga keseimbangan mobilnya karena kalau
tidak ia bisa terjun ke sawah yang berada di kanan jalan. Seseorang hampir saja
tertabrak… Hall menghentikan mobilnya… ia keluar dan melihat kondisi orang
tadi.
“Maaf kang… perlu
ke rumah sakit?..” Hall menawarkan bantuan.
“Tidak usah
neng…. Nggak apa-apa kok…. Saya cuma kaget.. Ban pecah ya… mari saya bantu..“ Laki-laki yang
disrempatnya tadi malah menawarkan bantuan mengganti ban mobil yang pecah. Ia
melipat sarung yang dikenakan dan dengan cekatan ia mengganti ban. Hall
membantu mengambilkan ban di bagasi dan meletakkannya kembali. Tak berapa lama
beres sudah ban mobilnya.
Hall melihat jam…
hmmm… jam 04:30 wib… ternyata ia sudah tiga jam meninggalkan ibukota.
“Terima kasih ya
kang… maaf mengganggu..”
“Nggak apa-apa…
kebetulan saya mau ke mesjid… neng mau kemana?”
“Ke desa Arum
Asih, kang…”
Beberapa saat
kemudian Hall memasuki halaman sebuah rumah. Seorang wanita tua menyambut
kedatangannya. Nenek Sarmini adalah seseorang yang menunggu rumah terebut.
Terletak di balik lereng sebuah bukit, terpisah dari rumah-rumah pendududuk,
dengan pemandangan alam yang menakjubkan dan hawa sejuk pegunungan menjadikan
rumah tersebut sebuah tempat yang cukup aman untuk menyendiri.
Pagi itu Hall
membaca surat kabar, matanya tertuju pada lembar pertama halaman Koran tersebut….DUA
ORANG BANDAR NARKOBA TERTANGKAP DAN SEORANG MELOLOSKAN DIRI DALAM PENGGREBEKAN
DI SEBUAH CLUB MEWAH….. Hall tidak meneruskan membaca berita tersebut.
Dihabiskanya segelas milk chocolate dan beberapa potong roti di hadapannya.
Sudah beberapa
minggu Hall mengurung diri di kamarnya. Ia ingin segera keluar rumah menghirup
udara segar dan berbelanja membeli beberapa barang yang ia perlukan.
“Neng…. Ketemu lagi…”
laki-laki yang membantunya mengganti ban mobil yang pecah itu menyapaya di
depan sebuah toko.
“Oh.. iya kang…. “
di siang hari Hall seperti mengenali wajah laki-laki dihadapannya itu namun ia lupa entah dimana.
“Saya Kris.. “
laki-laki itu mengulurkan tangannya.
“Hall…. Maaf saya
harus segera pulang, permisi..” Hall sengaja tidak terlalu lama berbicara
dengan Kris.
“Kalau ada waktu
main-mainlah ke balai desa besok malam.. ada kegiatan kesenian pemuda…”
“Baiklah..
mudah-mudahan saya bisa….”
Malam itu Hall
berubah pikiran. Sudah hampir satu bulan ia berada di desa ini, namun belum
sekalipun ia mengenal masyarakat desa, jadi malam ini ia memutuskan memenuhi
undangan Kris.
Balai desa tampak
ramai malam itu. Ada pertunjukan kesenian oleh remaja desa. Kris menyambut
hangat kedatangannya. Dengan senang hati ia yang ternyata ketua pemuda dan seorang
guru SMP memperkenalkan Hall kepada beberapa rekannya, diantaranya seorang
gadis manis bernama Asih, seorang penari, yang terlihat memandang Hall dengan
tatapan mata yang sulit diartikan.
Hall yang lulus dari
fakultas ekonomi itu akhirnya sering terlibat dalam kegiatan karang taruna
dengan konsep-konsep berwira usaha yang sangat bagus. Keberhasilan program
usaha karang taruna dengan wira usahanya mendapat perhatian khusus dari Camat
setempat. Berbagai kegiatan yang harus melibatkan Kris dan Hall bersama membawa
mereka dalam keakraban dan tentu saja menimbulkan kecemburuan yang tampak jelas
di wajah Asih.
“Saya dua
bersaudara, kakak saya bekerja di Jakarta… kebetulan besok dia akan pulang…”
“Bagaimana dengan
Asih?... “Hall bertanya sambil tersenyum menggoda.
“Ah… Asih itu
baik sekali, namun kita hanya berteman biasa saja”
“Tapi sepertinya
Asih menganggap akang luar biasa…”
“Wah… kamu
memojokkan saya…”
“Saya melihat sinar
matanya sangat berharap…”
“Entahlah… kalau
jodoh mungkin tidak kemana.”
“Maksudnya?”
“Keluarga saya yang
sangat taat beragama agak kurang setuju dengan profesinya sebagai penari.. ia
sering menari di berbagai tempat hingga pagi… “ Kris terlihat sedikit mengeluh.
“Tapi akang
mencintainya bukan?”
“Tapi keluarga
saya tetap saya nomor satukan..”
“Tapi cinta harus
diperjuangkan…”
“Ah, biarlah
waktu yang akan menentukan… oh ya, saya akan perkenalkan kamu dengan kakak saya besok.. boleh saya
kerumahmu?”
“Baiklah..”
Pagi itu cerah, baru
saja ia hendak melangkah ke teras menikmati sejuknya udara pagi ….
“Angkat tangan… anda
kami tangkap……………..” Hall melihat ada tiga orang polisi berpakaian preman dan
seorang yang berada di depan melangkah mendekatinya… Ah.. dia laki-laki yang
memberikan nomor pinBB…Hans……..beberapa orang petugas kepolisian segera
meringkus Hall yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Dan Malam itu
Kris membatalkan menemui Hall karena kakaknya, Hans harus segera kembali ke
Jakarta. Selanjutnya Kris mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya kembali........ [bersambung]

Asih with hall... hahahaha... tumben neh maen detektif2an
ReplyDeletehehehe.... iya.. pengen maen ci luk baaa.....
Delete