Friday, December 14, 2012

Peterpan... [Dia terbang ke awan membawa mimpi dan angan]






“ Dalam minuman atau makanan?”

“ Minuman lebih baik, karena dalam cairan obat ini cenderung cepat bereaksi..”

“ Baik….  Terima kasih…”

Nessha tersenyum membayangkan kemenangan di depan matanya. Hmmmm…. Peter… sepertinya memang kamu harus dipaksa tunduk kepadaku. Aku tidak ingin kamu menjadi milik perempuan kampung bernama Rindang itu.. ia tidak berhak atas dirimu… Akulah yang lebih pantas bersanding denganmu… Aku telah banyak berkorban dengan berbagai cara halus untuk meraih hatimu, namun kamu sendiri yang memilih agar aku menempuh jalan ini.

Nessha akan memastikan bahwa malam ini sebuah perubahan besar akan dimulai. Ia akan merasakan kebahagiaan yang selalu ia impikan, bahkan jika setelah ini dia matipun rasanya ia tidak akan menyesal. Ia akan melihat gadis kampung itu menangis, meratapi nasib sialnya. Ia akan tersenyum bahagia melihat Peter berada dalam dekapannya.

“ Malam ini?.... mendadak sekali….”

“ Iya, kamu nggak sibuk khan, sayang...”

“ Sebenarnya aku ada beberapa pekerjaan, Apa tidak bisa di tunda sampai besok?...”

“ Ini penting, sayang…. Menyangkut masa depan organisasi yang sudah capek-capek kita bangun, bisa ya… please…..” Nessha memohon.

“ Baiklah, nanti malam setelah dari kantor aku mampir ke rumah…”

“ Ok, aku tunggu ya… “

Yess!.... Nessha tersenyum puas. Ia memang sangat mengharapkan Peter menjadi kekasihnya.Cintanya kepada pria itu sampai menembus akal sehat wanita cantik berpendidikan tinggi dan kaya itu. Ia berusaha dengan keras untuk mendapatkan perhatian dan berusaha agar selalu dekat dengan Peter. Ia rela terlibat baik secara fisik maupun finansial di setiap kegiatan sosial yang sering Peter lakukan.

Peter sendiri adalah ekspatriat cerdas yang selalu menginginkan kebebasan mutlak bagi dirinya. Dunia tulis menulis memang sangat di gemarinya. Dengan menulis ia bebas berekspresi sesukanya. Lulusan S2 study teknik Industri itu sama sekali tidak tertarik untuk bekerja di Instansi atau Perusahaan. Kebebasan ia tuangkan dalam berbagai proyek buku dan hasilnya sungguh luar biasa… Ia selalu meraih kesuksesan setiap kali menerbitkan buku-buku baru.

Peterpan nama pena pria 32 tahun itu sangat menginspirasi pembacanya dengan buku-buku yang di tulisnya. Pertemuannya dengan  Nessha terjadi saat ia meluncurkan buku ke lima sekaligus penggalangan dana bagi yayasan sosial yang ia dirikan untuk menampung anak yatim piatu dan anak-anak terlantar.

Dalam beberapa kali pertemuan saja Nessha langsung terpikat dengan kharisma dan kecerdasan Peter. Sejak saat itu mereka sering terlibat kerjasama karena Nessha adalah salah satu donatur tetap yayasan tersebut.

Peter bukannya tidak menyadari tujuan Nessha yang selalu bersemangat saat terlibat dalam setiap kegiatan bersamanya. Peter tidak menampik bahwa Nessha adalah sosok wanita yang sempurna. Ia cantik, cerdas dan sangat menarik. Dalam beberapa kesempatan Nessha memang selalu berusaha merayunya meski dengan cara yang sangat halus. Sebagai laki-laki normal terkadang Peter juga tak mampu menghindari daya pikat yang Nessha tebarkan. Tubuh harumnya terkadang membuat Peter terbuai… mereka duduk berdekatan, saling menyentuh, berpelukan bahkan berciuman pada malam-malam tertentu saat hasrat menjadi tak menentu.

Namun Peter tak pernah melakukan lebih dari sekedar berciuman…  setelah itu ia segera menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Nessha yang hangat dan bergairah. Ia segera ingat sebuah nama yang telah terpatri dalam hatinya… Rindang…..

Seperti pepohonan yang berdaun lebat, Rindang sangat meneduhkan. Ia adalah sebuah tempat dimana Peter bisa bersandar dan meletakkan hati dan jiwa dari hiruk pikuk dunia kerja yang melelahkan. Gadis yang tinggal jauh dari keramaian dan berprofesi sebagai guru di sebuah SLB itu mempunyai sesuatu yang Peter harapkan. Kesederhanaan pemikiran dan penampilan gadis itu mampu membuat seorang Peter seolah mendapatkan hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat hati dan fikirannya damai dan tenang.

Meski mereka jarang bertemu, namun berdekatan dengan gadis itu selalu membuat Peter terpana. Setiap kali gadis itu berbicara dengan tersenyum mengeluarkan suara yang halus, bening dan manja… Ia selalu terpesona dengan wajah polos tanpa polesan make –up dan pakaian sederhana yang dikenakannya. Peterpan menangkap bagaimana Rindang mengurai cintanya dengan sangat natural,  sederhana dan bersahaja, dan Peter menyukai cara itu.

Peterpan memasuki gerbang rumah mewah milik Nessha.

“ Selamat malam, Ness…..”

“ Selamat malam, sayang… masuk yuk…”

Malam itu mereka berbicara mengenai beberapa hal tentang kegiatan sosial yang cukup penting. Ide Nessha untuk melaksanakan kegiatan sosial dalam rangka menyambut hari Ibu tahun ini sangat menarik. Peter berniat sekalian mengadakan peluncuran bukunya yang ke tigapuluh yang mengangkat tema kekuatan wanita di sebuah Negara.

“ Habiskan kopinya, sayang….” Nessha segara duduk di sebelahnya dengan posisi agak dekat dengan Peter, sehingga belahan dadanya tapak jelas di mata Peter yang sejenak  merasakan dadanya berdesir.

“ Hhhhh…… capek sekali aku hari ini…..” Peter berkata sambil menyandarkan kepalanya di sofa dan melonggarkan dasinya.

“ Mau kupijit?... “ Nessha tidak menunggu jawaban Peter.. jari-jari lentiknya segara meraih pundak pria itu dan mulai memijit-mijit dengan lembut. Ia tersenyum menyadari apa yang terjadi pada Peter dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Peter memejamkan matanya seolah menikmati pijatan Nessha, padahal ia merasakan sesuatu sedang terjadi pada dirinya… tiba-tiba saja ia merasakan gairahnya memuncak dan pijitan tangan Nessha yang lama kelamaan menjadi belaian dan remasan di sekitar bahu dan lehernya membuatnya melayang-layang. Nessha semakin berani menyadari Peter sudah mulai terbawa situasi.. Ia mulai mencium leher dan memainkan bibirnya di badan Peter yang hanya mengerang kecil menikmati sensasi yang tak disadarinya.

Peter tak menyadari bahwa secangkir kopi yang telah ia minum itu telah dicampur dengan sejenis obat-obatan yang mampu membuatnya melayang di awang-awang. Ia sudah tak mampu membedakan antara dunia nyata dan sensasi yang membangkitkan gairahya. Ia tak mampu menahan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya. Malam itu, Nessha dengan penuh gelora melampiaskan keinginannya yang telah ia pendam sekian lama terhadap Peter dan kebencian  serta kecemburuannya kepada Rindang, wanita yang diam-diam ia ketahui tanpa sepengetahuan Peter.

Nessha benar-benar melampiaskan dendam cintanya malam itu. Ia sudah tak memperdulikan kondisinya sendiri yang saat itu sedang tidak stabil. Nessha sudah bosan dengan tumor di otak yang di deritanya sejak lama. Ia benar-benar tidak mau meninggalkan kesempatan bersama Peter. Ia sudah mengimpikan malam ini melampaui keputus asaannya menghadapi penderitaannya.

Saat Peter membuka matanya, ia berusaha mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi. Di sebelahnya Nessha tengah tertidur dengan pulas dan tubuh polosnya sedikit tersingkap. Tiba-tiba ia merasa pusing dan mual yang hebat. Dengan berjalan terhuyung-huyung Ia menuju kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya. Ia memandang cermin di depannya…. Ahh… apa yang telah kamu lakukan, Peter???............... ia segera membasuh wajahnya namun hatinya tetap saja dihinggapi keresahan.

“ Uuhh… kamu sudah bangun, sayang….. “ Nessha duduk di ranjang berbalut selimut yang menutupi tubuh polosnya.

“ Ness….. katakana padaku… apa yang telah kita lakukan?.... apakah kita……” Peter tak sanggup meneruskan kalimatnya.

“ Kamu seperti kerasukan jiwa Casanova, sayang…. Dan aku sungguh menikmatinya…” Nessha tersenyum penuh kemenangan.

“ Tidak mungkin…  aku tidak mabok… aku tidak mungkin melakukan……”

“ Ah… Tetapi kamu benar-benar melakukannya, Peter….apakah kamu mengingkarinya??.....” Nessha memegangi kepalanya seperti kesakitan.

“ Ness….. kamu kenapa?.....” peter melihat gelagat aneh dari wanita telanjang di depannya. Ia seperti benar-benar kesakitan. Tiba-tiba Nessha tergeletak tak sadarkan diri………………………………………..


*****



“ Maafkan aku, Rindang….. kamu boleh marah padaku…” Peter memandag wajah teduh itu.. namun ia tak menemukan kilatan marah di matanya.. bahkan senyum di bibir gadis itu mengembang dengan ketulusan terpacar di wajahnya. Ahh… Peter menjadi semakin merasa berdosa.

“ Pergilah, Peter…. Do’aku selalu untuk kebahagiaanmu….” Gadis itu masih tersenyum.

“ Kita tetap akan menjadi teman, bukan?....” Peter tak mampu menahan galau hatinya. Sungguh ia sangat mengharapkan bisa bersanding dengan gadis pujaannya ini, namun kehamilan Nessha yang sudah menginjak bulan ke tiga tidak bisa menunggu lebih lama lagi baginya untuk segera mengambil keputusan.

Meninggalkan cintanya pada sepotong hati yang teduh milik Rindang justru sangat berat. Senyumnya yang tulus bagaikan pisau tajam yang menyayat-nyayat jantungnya. Ia ingin berlari memeluk gadis itu, namun Rindang segera berlalu dari hadapannya setelah mengatakan selamat tinggal. Sekali lagi Peter memandang punggung Rindang yang semakin menjauh meninggalkan hatinya yang tengah hancur berkeping-keping.

Inilah hasil kecerobohannya.. kebodohannya… tidak kuat menahan godaan dan jerat asmara Nessha… sejenak ia merasa bahwa wanita itu sangat jahat padanya. Nessha seperti sengaja memisahkan cintanya dengan Rindang dengan kehamilannya. Ah… bagaimanapun itu adalah anaknya… darah dagingnya… ia tak ingin menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab.. apalagi Nessha saat ini sangat membutuhkannya. Mengandung dan menahan sakit akibat tumor otak yang sangat menyiksa. Peter tak mempunyai pilihan lain  meskipun harus mengorbankan cinta sejatinya. Maafkan aku Rindang………………………….



Dengan perasaan campur aduk Peter duduk di bangku putih di depan kamar operasi. Ini adalah operasi yang ketiga kali sejak pernikahannya dengan Nessha. Peter mengetahui bahwa Nessha menderita tumor otak yang sudah parah… Nessha mampu bertahan sampai anak mereka lahir. Namun operasi ketiga kali ini adalah yang paling berat baginya. Nessha sepertinya sudah tidak memiliki semangat hidup. Bahkan kehadiran Amalia, anak mereka tak membuatnya mampu bertahan.

Dokter hanya mampu memberi separuh harapan hidup kepadanya. Peter bergegas masuk ke dalam ruangan ketika dokter memberinya isyarat untuk menemui istrinya. Nessha terbaring lemah tanpa daya menghadapi maut yang senantiasa menghampirinya. Nafas dengan bantuan oksigen yang tinggal satu-satu tak dihiraukannya. Peter menggenggam tangannya.. Nessha terlihat berusaha tersenyum dengan wajah pucatnya… ia ingin mengatakan sesuatu kepada Peter…

“ Rindang….” Peter terkejut mendengar kata yang keluar dari bibir Nessha yang bergetar.

“ Lupakanlah… kamu akan segera sembuh dan merawat Amelia…”

“ Maafkan aku….”

“ Sudahlah, Ness…. Kuatkan hatimu, kita berdo’a bersama-sama. Ingat Amelia sudah hampir satu tahun… dan kamu belum pernah menggendongnya, bukan?...”

“ Kembalilah padanya…”

“ Ness…… “

“ Kamu masih mencintainya…”

“ Nessha…. Kamu bicara apa?....”

“ Maafkan aku…………………” Peter mengusap air mata yang menetes di wajah istrinya.

Kalimat itu adalah kalimat  terakhir yang di ucapkan Nessha sebelum keesokan harinya Peter tak mampu membuka mata Nessha karna ia telah pergi meninggalkan seluruh jiwa raga dan cintanya kepada Peter.


*****

Setahun setelah kematian Nessha, Peter berdiri memandang sebuah bangunan di depannya. Lebih dari dua tahun yang lalu ia sering berdiri di sini menunggu sang pemilik mata teduh itu keluar dari gedung. Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana, halaman gedung SLB itu sudah sepi namun yang di tunggunya tak kunjung datang. Sampai security gedung itu menutup pintu gerbang, Rindang tak juga menampakkan dirinya.

“ Sudah pindah? Kemana?...”

“ Saya kurang tahu, pak… katanya sih ke luar kota.”

“ Baiklah terima kasih..” Dengan langkah gontai Peter melangkah pergi meninggalkan sebagian hatinya terbang entah kemana.

Peter tidak tahu harus mencari Rindang di mana. Ia telah bertanya kesana kemari mencari keberadaan gadis itu. Ia lelah dengan pencariannya selama ini.. meski hatinya senantiasa mengharapkan bertemu dengan Rindang, setidaknya mengetahui keberadaannya.

Beberapa tahun berlalu Peter tetap sibuk dengan buku-bukunya. Ia sama sekali tak memberi ruang di hatinya untuk cinta. Cintanya hanya tercurahkan untuk Amelia, satu-satunya anak yang dicintainya. Amelia sudah berusia lima tahun.. dia cantik seperti ibunya. Ia cerdas secerdas ayahnya, namun sayang selama hidupnya Peter tidak pernah mendengar tangisan dan teriakan Amelia memanggil namanya. Terkadang ia rindu jeritan seorang anak dan celoteh anaknya bercerita, Ia harus menerima titipan Tuhan meski kondisi Amelia yang bisu dan tuna rungu. Amelia tetap buah hatinya… Peter sangat menyayanginya.



Sore itu Peter sedang membaca Koran di teras, tiba-tiba Amelia menyentuh tangannya. Dengan bahasa isyarat yang telah ia pelajari dengan baik, Peter melipat korannya dan mengangkat Amelia diatas pangkuannya.

“ Ada apa, sayang?”

“ Papa.. Besok di sekolah ada pameran .. papa datang ya?..”

“ Oh ya…. Pameran apa?”

“ Pameran lukisan… Amelia ikut juga, papa….” Gadis kecil itu menyerahkan sebuah amplop undangan dari SLB tempat ia menuntut ilmu sejak setahun yang lalu.

“ Wah, hebat anak papa…” Peter memeluk Amelia dengan penuh kasih sayang.

Karena kesibukannya Peter memang belum pernah berkunjung di sekolah Amelia. Selama ini ibunyalah yang mengurusi segala keperluan Amelia. Ia bersyukur ibunya sangat sayang dan perhatian kepada cucunya.

Pagi itu tepat pukul 09:00 wib Peter memasuki pekarangan sekolah. Amelia segera  berlari memasuki kelas. Ah, anak itu memang sangat lincah. Peter bertemu dengan beberapa orang tua siswa dan bercakap-cakap sebentar sambil menunggu acara di mulai.

Di dinding sekitar Aula penuh dengan lukisan dan kerajinan tangan hasil karya siswa-siswa dari tingkat dasar sampai lanjutan. Di bagian kiri dinding Aula tertera tulisan TINGKAT DASAR, dan Peter menemukan tiga buah lukisan milik Amelia. Lukisan pemandangan, bunga dan… lukisan dirinya. Peter tidak menyangka anaknya itu pandai melukis. Ia merasa heran di usia yang baru lima tahun Amelia mampu melukis  menggunakan crayon  dengan  tata warna yang sangat menarik.

“ Acara akan segera dimulai, silahkan masuk ke dalam aula……” sebuah suara halus dan lembut yang sangat ia kenal tertangkap di telingnya. Ya tuhan…. Ternyata ia ada di sini.

Peter membalikkan badannya dan menghadap tepat di depan Rindang. Sang pemilik mata teduh yang selalu ia rindukan. Wanita itu tampak sedikit terkejut namun sedetik kemudian ia tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya.

“ Apa khabar?.....”

“ Baik…. “ Peter menjadi seperti lima tahun yang lalu selalu saja terpana dan terpesona dengan kesederhanaan dalam setiap kata dan gerakan Rindang.

“ Jadi Amelia itu anakmu….. ah… ia anak yang cerdas dan berbakat. Lukisannya terpilih dan  akan dipamerkan dalam Ekspo Anak Nasional bulan depan …” Rindang sangat bersemangat menceritakan bakat yang dimiliki Amelia.

………….. mamaaaaaa…………. Seorang anak laki-laki kira-kira berusia tiga tahun berlari  ke arahnya. Ridang tersenyum dan segera menggendong anak laki-laki itu.

“ Ini Sean… anakku..” Peter tersenyum. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak mungkin kembali dari masa lalunya.

Peter mengenal suami Rindang ketika membaca sebuah surat kabar. Di halaman belakang Koran tersebut memberitakan perselingkuhan seorang pejabat daerah dengan seorang pengusaha. Ah… kasihan kamu Rindang…. Mengapa nasibmu begitu malang dengan cintamu. Setelah kutinggalkan menikah dengan Nessha karena kecerobohanku, kini suamimu yang melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Peter seperti ikut merasakan tercabik-cabik saat membaca berita tersebut.

Rindang seperti yang ia kenal, selalu pintar menyembunyikan perasaannya. Ia tidak pernah menceritakan perihal rumah tangganya kepada siapapun termasuk kepada Peter. Rindang selalu menutupi luka hatinya dengan senyum.

Peter sebenarnya mengikuti perkembangan kasus perselingkuhan itu secara diam-diam. Wanita itu memang sangat pintar berkelit. Ia sangat pintar menguasai hati suami Rindang sehingga dalam waktu dekat ia akan mengajukan gugatan bercerai dengan Rindang. Peter tahu, sepintar-pintarnya Rindang menutupi galau hatinya ia tetap seorang wanita yang terkadang butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Dan ia selalu siap mendengarkannya.

*****

Expo Anak Nasional diadakan setiap akhir tahun selama musim liburan. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Ekspo ini memamerkan berbagai hasil karya anak-anak bangsa dari seluruh Daerah. Mulai dari pameran Ilmu pengetahuan sampai Pentas seni dan kreativitas. Semua menampilkan yang terbaik dari daerah masing-masing.

Amelia adalah salah satu anak yang terpilih dari kelompok anak-anak yang memiliki kekurangan fisik. Duapuluh lukisan gadis kecil itu di pajang dengan bingkai cantik berjejer di sisi kiri dan kanan. Peter yang menangani semua display lukisan Amelia dengan sangat baik. Ia ingin terlibat secara langsung setelah mengetahui bakat putrinya.

Setiap pengunjung memuji dan sebagian mengabadikan lukisan beserta pemiliknya. Sayang Amelia hanya mampu tersenyum tanpa pernah mendengar pujian para pengunjung. Untunglah ada Peter yang membantu menterjemahkan komentar para pengunjung dengan bahasa isyarat kepada Amelia. Gadis kecil itu sangat bahagia.

Beberapa jam berada di sana Peter tak menemukan bayangan Rindang. Ia seharusnya berada di sini sebagai guru pendamping dari sekolahnya, namun sudah hampir jam 11:00 wib Rindang tak juga terlihat. Kemana dia? Berbagai prasangka datang di benaknya. Apakah Rindang sengaja tidak datang karna tidak ingin bertemu denganya?

Peter menekan tombol yes  dari BBnya ketika pak Iskandar kepala sekolah SLB  menelponnya.

“ …. Ibu Rindang mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke stadion tempat ekspo diselenggarakan….…”

“ Bagaimana kondisinya?”

“ Parah…. masih  di ICU…”

“ Sekarang di rawat di rumah sakit mana, pak………………..”

Ya tuhan….. mengapa tiba-tiba Peter merasa lemas di sekujur tubuhnya. Amelia yang melihat perubahan raut muka papanya memandang dengan heran… ia memang sangat peka terhadap segala sesuatu… dengan bahasa isyarat Peter berkata kepada anaknya….

“ Amel di sini dengan nenek ya…. Papa ada urusan di luar, nanti papa kembali lagi kalau sudah selesai..ok”

“ Baik papa…. Amel sayang papa….” Mata gadis kecil itu seolah mengandung Tanya, namun seperti biasa meski usianya baru lima tahun Amelia sudah bisa memahami sikap ayahnya. Peter memeluk Amelia dan segera keluar gedung menuju sebuah rumah sakit yang diebutkan oleh pak Iskandar dalam telepon tadi.

Suasana agak hiruk-pikuk di ruang ICU…. Mata Peter menangkap seorang wanita berkerudung biru tua di atas kursi roda… Syukurlah… itu Rindang…. Kepalanya yang tertunduk terbalut  perband, ada sedikit darah tercecer di dahinya. Seorang perawat yang mendorong kursi rodanya  bengelus-elus pundaknya sambil mengatakan sesuatu. Semua berjalan dengan cepat dan tergesa-gesa sehingga Peter mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Rindang. Mereka memasuki sebuah ruangan perawatan. Setelah perawat itu meninggalkan ruangan Peter segera memasuki ruang rawat inap tersebut.

“ Maafkan aku… seharusnya aku menjemputmu….”

“ Bukan salahmu…. Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi mengendarai mobil… hari ini suamiku menikah dengan perempuan itu……padahal kami belum berpisah… ia bahkan tidak memperdulikan nasib Sean…..”

“ Bersabarlah....... semua pasti ada hikmahnya…” Peter ingin sekali memeluk wanita tersakiti ini, namun akhirnya ia hanya menggenggam tangannya……

*****

“ Apa kabar….. bagaimana keadaanmu?” sore ini Rindang terlihat cantik di mata Peter.

“ Baik…. Sudah mulai berlatih berjalan… ” Rindang tersenyum

“ Semoga segera pulih… Amelia sangat merindukanmu…..”

Ini kunjungan Peter yang kedua sejak  kecelakaan empat bulan yang lalu. Rindang bukanlah seseorang yang mudah putus asa dan menyerah. Ia tahu  Rindang masih membutuhkan beberapa waktu untuk menata hatinya. Ia tahu bahwa Rindang tidak akan segera berjalan lagi seperti semula, karena syaraf-syaraf  kakinya telah rusak.. dan butuh waktu yang lama untuk memperbaikinya.    

Peter dan Amelia sering berkunjung ke rumah Rindang beberapa  bulan belakangan ini. Sean sangat senang bermain dengan Amelia. Saat mereka duduk di beranda berdua Peter hanya berbicara tentang anak-anak mereka… Entah apa yang mereka rasakan di setiap pertemuan dalam diri masing-masing. Hubungan mereka sudah seperti keluarga. Peter tidak pernah mengusik rasa cintanya pada rindang sementara Rindangpun meski tak pernah merasa terusik dengan kehadiran Peter, ia seperti tak ingin menjadikan hubungan dua keluarga ini berubah. Entahlah…. Begitu rumit situasinya saat Peter menyampaikan pemikirannya kepada sang pemilik mata teduh yang masih di cintainya. Kehidupan yang keras dan terkadang kejam membuatnya sedikit apatis terhadap cinta…

“ Peter, maafkan aku….. setelah melalui semua ini… aku harus membersihkan kembali hatiku… dan itu tidak mudah… “

“ Aku mengerti, aku akan menunggumu….”

“ Tidak usah menungguku, bisa menjadi sangat lama….”

“ Tidak masalah….. aku akan setia menanti….”

“ Ah, Peter…. Kamu akan bosan…..”

“ Tidak akan….. aku sudah menunggu sekian lama…..”

“ Benarkah, Peter?.... Maafkan aku membuatmu menunggu……”

“ Aku akan  selalu setia menunggumu….”

“ Peter…… terimakasih……..”

Mereka hanya saling memandang, seolah sudah tidak ada kata-kata lagi yang mampu terucapkan. Beberapa saat kemudian Sean datang dan berputar-putar mengelilingi Peter diikuti oleh Amelia yang memakai topeng singa…… Sean menjerit-jerit ketakutan namun senang… karena Peter segera menggendongnya sehingga Amelia tidak bisa menerkamnya……......... end

4 comments:

  1. Replies
    1. thanx sayyyy...... fiksimu jg keyeeennnn......

      Delete
  2. dua insan yg terluka, disatukan dengan cinta.... penuh haru... nice dear.....

    ReplyDelete
  3. eaaaahhhh.... love sometimes really hurts,doesn't it? thanx dear ........

    ReplyDelete