Thursday, December 6, 2012

Ezt in the Sky.....



Kehidupan masa kecil akan selalu membekas di hati setiap manusia. Berbahagialah bagi mereka yang mempunyai masa kecil yang membahagiakan.. cukup kasih sayang dan perhatian. Namun bagi sebagian orang yang kurang beruntung akan mendapatkan kedewasaan yang tidak sempurna. Mereka akan mendambakan cinta dan kasih sayang seutuhnya, sehingga mulailah kedewasaan mereka dipenuhi dengan pencarian cinta yang hilang di masa kecilnya. Kadang cinta yang datang tidak selalu seperti yang di dambakan…  (Al_)


Kehidupan masa kecil Ezt tidak seperti kehidupan masa kanak-kanak. Dia memiliki orang tua yang tidak melakukan apa-apa selain mengkritik segala sesuatu dan untuk menghardik semua orang disekitarnya termasuk Ezt. Tidak ada yang cukup baik bagi mereka untuk bekerja selain terus-menerus memukuli Ezt dan setelah itu ditinggalkan di luar. Beberapa kali Ezt berfikir untuk melarikan diri namun ia tahu bahwa ia tidak akan pernah pergi jauh. Ia masih meninggalkan seorang adik laki-laki, Stew, yang berusia 5 tahun dan harus dirawat karena sang adik menderita kebutaan.

Kehidupan sekolah juga sangat mengerikan baginya. Setiap orang selalu memiliki pengganggu dalam hidup mereka, tetapi juga memiliki seorang teman.
Namun Ezt tidak memiliki keduanya. . Tidak ada seorang pun mengenalinya, bahkan para guru. Mereka akan memanggil namanya tetapi tidak pernah benar-benar peduli bahkan untuk mendengar jawaban gadis kecil itu. Ezt seperti hantu di sekolah itu dan sayangnya ia tumbuh untuk menerima itu. Ini adalah kehidupan yang diberikan kepadanya. Dia bertekad untuk hidup melalui itu. Tidak peduli jika kesepian menderanya setiap hari.Hari-harinya dilalui dengan membaca buku.. belajar dan belajar…

Tahun-tahun sekolah berlalu Ezt mulai dewasa dan mekar. Dia cantik dan memiliki suara paling lembut. Sejak setahun lalu orangtuaya pergi entah kemana. Ezt yang berusia 14 tahun harus bekerja pada malam hari dan sekolah di siang hari. Sorenya ia pergunakan waktu untuk merawat adikknya dan membereskan urusan rumah sebelum ia berangkat bekerja di sebuah Bar mewah sebagai cleaning service.

Beasiswa itu sedikit meringankan beban biaya sampai adiknya menderita kejang dan menghembuskan nafas terakhir pada saat Ezt melaksanakan ujian akhir. Airmata tak mampu menghalau kesedihannya. Hidup sebatangkara tanpa saudara membuatnya melangkahkan kaki meninggalkan pekarangan kumuh rumah yang telah dihuni selama ini.

"
Aku butuh uang?" Suatu hari ia berkata pada dirinya sendiri setelah satu minggu tinggal di penampungan. Sebuah hotel menerimanya bekerja paruh waktu sehingga ia dapat meneruskan study di perguruan tinggi lewat jalur beasiswa yang dimilikinya. Ezt berjanji pada dirinya untuk melewati kesulitan ini segera. Ia akan menebus kemiskinan dan ketidak pedulian orangtua terhadap anak-anaknya.. terhadap dirinya dan adiknya.

Sky, kepala divisi kepegawaian yang cantik itu memang sering membantunya. Meringankan pekerjaannya dan dalam beberapa kesempatan mereka makan di sebuah café dengan menu kesukaan Ezt. Tatapan mata teduh Sky membuat Ezt terkadang sering merindukan wanita itu.

“ Ada yang ingin aku sampaikan…” Sore itu Sky menemui Ezt yang sedang membereskan peralatan kamar hotel ke dalam almari.

“ Ada apa, bu?” Ezt sudah biasa menerima pemberian dari Sky. Selama enam bulan bekerja di hotel ini Ezt dinilai sangat baik. Melalui referensi Sky ia dipromosikan menjadi kepala gudang penyimpanan. Namun ia baru akan melaksanakan awal bulan depan.

  Malam ini jangan pulang dulu ya, Ezt….. tunggu aku..OK” Sky berbalik menjauhinya. Sky..lajang berusia sekitar 30 tahun. Wanita dewasa itu sangat menjaga penampilannya. Tubuhnya yang proporsional selalu berbalut pakaian yang trendi dan elegan dan..  hmmm… parfumnya sangat segar.. diam-diam Ezt sering menikmati kesegaran dan keharuman wangi parfum Sky jika berada di dekatnya. 

Malam itu Ezt menunggu Sky di dekat pintu gerbang yang menghubungkan dengan tempat parkir mobil karyawan. Honda Jazz berwarna merah milik Sky masih berada di sana. Ezt membuka tas dan meraih sebuah diktat tentang Microbiology, mata kuliah yang sedang ia ambil. Matanya segera tenggelam dalam deretan kalimat dalam diktat sampai sebuah tangan membelai pundaknya…

“ Maaf ya Ezt… agak lama menunggu. Meeting dengan direktur…”

“ Sambil membaca, bu… menunggu jadi tidak terasa…” Ezt tersenyum… sambil menghirup aroma parfum Sky yang masih segar saja walau telah seharian di kantor.

“ Kita makan dulu ya… aku dengar ada café dengan menu hotplate yang enak…” Sky tidak membutuhkan jawaban Ezt… karena ia yakin gadis itu pasti tidak akan menolak.

Café modern dengan interior yang menarik.. Ezt mengagumi penataan lampu yang sangat indah. Tidak terlalu terang namun cukup nyaman, sehingga  Ezt menangkap ada yang aneh dalam tatapan mata Sky malam ini.

“ Mulai hari ini aku tidak mau dipanggil, bu….” Tiba-tiba Sky berkata lembut  membuat Ezt mengentikan suapannya.

“ Lalu saya harus memanggil apa?..”

“ Sky saja….”

“ Ah… saya tidak terbiasa…”


“ Kamu akan terbiasa… segera…” Sky tersenyum penuh arti. Jadi hanya ini yang akan disampaikan malam ini... Ezt bergumam dalam hati.

Mobil mereka tidak berbelok kearah kos-kosan dimana Ezt tinggal. Namun melaju kearah jalur utama dan berbelok memasuki sebuah kawasan apartement. Ezt memahami… mungkin Sky akan mampir ke tempat teman atau saudaranya. Sky memang sering mengajak Ezt mengunjungi teman-temannya…

Mereka memasuki gedung bertingkat itu. Ezt menunggu Sky berbicara dengan karyawan yang berada di front desk sambil mengamati kemewahan ruangan basement apartement ini. Kemudian Sky memberi kode supaya Ezt mengikutinya. Mereka naik ke lantai 8. Sky mengeluarkan kunci dan melangkah keluar lift, melewati lorong pendek dan berhenti di depan pintu.

Mereka memasuki sebuah apartemen mewah dengn furniture berkelas. Ezt masih belum mengerti mengapa apartemen itu begitu sepi. Kemana pemiliknya?

“ Haahhh… saya?.... tinggal di sini?...tapi… ini terlalu besar buat saya…” Ezt terkejut mendengar Sky memintanya tinggal di apartemen ini.

“ Tenang, Ezt… kita akan tinggal bersama…” tangan halus Sky melingkar di pinggang Ezt… menatap tajam mata indah gadis itu. Ezt sedikit gugup menyadari keduanya begitu dekat… sekali lagi Ezt menikmati wangi ini… Sky menariknya dalam pelukannya.. membelai wajah Ezt yang masih belum bisa menduga debar di dadanya.. namun sebenarnya dalam hati Ezt merasakan kedamaian dalam pelukannya.

Ezt berusaha menikmati pelukan lembut Sky, sebuah kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.. entah apa arti semua ini… Ezt hanya mampu memejamkan matanya ketika Sky mencium keningnya… membelai dengan jari-jari lentik di wajahnya.. hidung dan bibirnya…  mencium lembut bibirnya.. ahhh.. Ezt merasakan sesuatu yang menggelora dalam dadanya....(bersambung)

No comments:

Post a Comment