Friday, March 23, 2012

Bidadari lupa diri......


 Hahaha… memangnya ada ya bidadari yang fly sampai lupa diri … Seperti slogan sebuah iklan parfum maskulin….. Harum yang menggoda.. membuat bidadari lupa diri..!!!....... dan… berjatuhanlah bidadari-bidadari cantik bersayap putih ke dunia ini… Namun bukan karna parfum, bidadari itu benar-benar datang… menemuiku.. memelukku dan mengucapkan cinta padaku…  tetapi karena membaca puisiku… benarkah???

Dea  membuka jendela kastil… pemandangan dari lantai dua kastil Krista sangat menawan hatinya. Hamparan rumput hijau mengelilingi sebuah danau di tengahnya. Beberapa ekor angsa putih berenang-renang dah kicauan burung-burung merpati  yang terbang kesana-kemari berbaur dengan indahnya kibasan sayap kupu-kupu berwarna-warni menghisap madu dari bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitar danau.

Hmmm… benar saja kata Ratu Balqis, sahabatnya.. kastil ini luar biasa. Bangunan berusia ratusan tahun yang tetap megah berdiri kokoh di atas sebuah bukit itu memikat hati dan jiwanya. Keindahan dan kemisteriusan kastil ini menghasilkan ribuan kata puja yang berjejal-jejal di dalam otaknya menunggu dituangkan dalam sebuah karya.

Sejak dibuka untuk tempat peristirahatan berkelas setahun yang lalu memang belum banyak yang mengetahui dan merasakan sensasi kehidupan abad yang lalu.  Dea memang baru mengetahui dari seorang sahabat yang telah berkunjung di tempat ini beberapa bulan yang lalu. Baru mendengar ceritanya saja hatinya sudah berdebar-debar.. jiwanya bergetar… sungguh ia begitu mendambakan tempat seperti itu, dimana ia bisa membayangkan bidadari kekasih hatinya berada di sana.

Ya.. bidadari itu mungkin berada di sana.. membuai angannya.. membelai kerinduannya..seperti yang sering terjadi dalam setiap mimpi-mimpinya… ah.. bidadariku… akan kujemput ragamu di Kastil Krista…

Dan…. Disinilah ia akhirnya.. jendela yang terbuka lebar seakan mengalirkan hembusan angin surga ke tubuhnya… Dea duduk di depan kanvas dan seperangkat alat di hadapannya segera ia mainkan kuas mengikuti irama heart and soul yang menggema memenuhi ruangan…  

Kata demi kata yang tertulis indah di atas kanvas berhias lukisan  beberapa ekor angsa dan danau mengalir deras. Dea  tampak menikmati rangkaian puisi yang ia tujukan buat sang bidadari…….

BIDADARI MUSTAJAB MIMPI

Kudengar sebisik suara
Di purata kesunyianku
Kulihat setitik cahaya
Di rongak kegelapanku

Nafasku; getar jantungnya
Dekapannya; kedamaianku
Membuihkan surga di kuil jiwa
Menengahi garis kematian pilu

Tuhanku; Kau Maha Tahu
Sujudku menjumpai mustajab-Mu
Jadikankah kami pewaris tahta!
Bak Sulaiman dan ratu Bilqisnya ,,,




[Dea Penyair....23032012]

***********************************************************************************

Dan sore menjelang… semburat jingga mewarnai angkasa menambah misteri mengelilingi kastil Krista… Dea  tetap berdiri di dekat jendela memandang hari berganti dan senja menenggelamkan keindahan… Angin malam yang berhembus seakan membisikkan buaian…suara burung gagak mengajak kawanan itu berjaga di sekitar hutan yang mengelilingi kastil menambah keangkerannya.

Malam semakin larut… Dea telah memejamkan matanya di peraduan. Sesosok bayangan hitam melayang menembus pintu mendekati kanvas.. dengan sekali kibasan tangannya terbukalah lukisan puisi itu…. Matanya yang bulat indah mengerjab menikmati kata demi kata dalam puisi.. senyum tersungging di bibirnya.. meletakkan sekuntum bunga ashley di atas kanvas..  sekejap kemudian bayangan hitam itu melayang menembus dinding dan flashhh…. Menghilang… seiring terbukanya mata Dea … huft.. mimpinya sangat aneh.. bidadari itu datang kemari.. tersenyum, membuka penutup kanvas .. membaca lukisan puisinya… dan meninggalkan sekuntum bunga… ahh…. Dea  melompat dari peraduannya… sejenak ia berdiri di depan kanvas yang telah terbuka dan sekuntum bunga Ashley di atasnya….. dia benar-benar datang…!!!

Ini sudah terjadi beberapa kali… Dea seperti telah mengetahui dan merasakan kedatangan sang bidadari meski tak sekalipun bertatap mata dengannya.  Entah dari mana datangnya bayangan bidadari cantik yang menggelitik jiwa dan sanubarinya itu hadir saat ia merasa sendiri dan menghadirkan inspirasi menuliskan kerinduan dan kakagumannya dalam  bait-bait  puisi…… berhalusinasikah dirinya?.... entahlah….

------

Ini pertemuan dengan Dr. Pramesti yang kedua kalinya. Setelah mengajukan pertanyaan yang bersifat umum, seperti keluarga, kondisi lingkungan, masa lalu dan sejarah kejiwaan pada pertemuan pertama.
 
“ Sudah berapa lama hal ini terjadi?..”  Dr. Pramesti  bertanya sambil metanya menatap tajam pria yang duduk di hadapannya.

“ Sekitar satu tahun..”

“ Bagaimana perasaan anda pada saat bertemu.. emm.. di dalam mimpi atau di angan-angan anda?..”

“ Saya jatuh cinta padanya.. sama dengan orang lain.. saya merasakan getaran dalam dada.. tak ingin sedetikpun berpaling darinya..”

“ Anda pernah bercakap-cakap dengannya?..”

“ Tidak pernah..”

“ Anda pernah  ehm.. maaf..  bersentuhan dengannya.. berpelukan.. berciuman atau bahkan lebih dari itu….”

“  Entahlah, dok… saya masih belum meyakinkan diri saya.. apakah saya merasa melakukan atau saya hanya berangan-angan… tetapi yang jelas saya sangat menginginkan menyentuhnya.. memeluk, mencium bahkan saya sering bermimpi bercinta dengannya..”

“ OK… ini yang terakhir sebelum  saya menyimpulkan apa yang terjadi pada diri anda… tolong jelaskan gambaran gadis itu dalam imajinasi anda…”

“ Baik, akan saya coba………….. “ sejanak pria itu memandang jendela klinik Dr. Pramesti, lalu matanya menyapu seisi ruangan seolah mencari sesuatu.. dan ketika pandangannya tertuju ke dinding ruangan itu…. Sebuah foto wanita … bidadari itu.. berbingkai kayu… ” Dia begitu cantik… tubuhnya tinggi semampai… kulitnya putih.. rambutnya hitam panjang.. matanya bulat dan tajam… “

“ Cukup… maaf… mengapa anda menggambarkan gadis itu sambil memandang foto saya?... dan yang anda gambarkan itu tidak sama dengan yang anda lihat di foto..”

“ Oh… maaf…. Tetapi seperti itulah yang saya lihat setiap kali ia datang dalam halusinasi saya, dok…”  Dea.. pria itu memandang foto itu sekali lagi.. ah… ternyata tidak seperti yang ia lihat tadi. Kali ini foto itu sama persis dengan Dr. Pramesti, Phsikolog  yang  ia kunjungi malam ini.

“ Baiklah…  anda  berhalusinasi.. itu jelas.. karena yang anda hadapi adalah sesosok bayangan seorang wanita yang anda wujudkan dalam pikiran anda sendiri…melihat profesi anda adalah seorang seniman mungkin imajinasi anda terlalu kuat sehingga secara tak sadar terbawa kealam nyata… cobalah untuk menciptakan sesuatu berdasarkan kenyataan.. misalnya jika ada ingin menggambarkan sosok seorang wanita, ya carilah gambaran yang real.. ibu anda, teman wanita anda.. atau siapa saja yang penting nyata… bagaimana? Anda mau mencoba?... telpon saja kalau menemui kesulitan… okay..” Dr, Pramesti mengakhiri pertemuan ini.

-----

Sudah seminggu ini Dea membersihkan ruangan kerjanya dari pengaruh bidadari sesuai saran Dr. Pramesti. Semua lukisan puisinya ia simpan di gudang. Ia sadar bahwa halusinasinya akan menghancurkan masa depannya. Keinginan untuk bertemu dengan bidadari pujaannya sangat mengganggu  pikirannya. Ia ingin hidup normal dan tak ingin dihantui bidadari fiktif yang ia ciptakan sendiri. Ia mulai sibuk bersosialisasi dengam teman-temannya baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Malam itu udara begitu dingin.. angin berdesir seakan meniupkan hembusan kemurkaan. Dea belum mampu memejamkan matanya namun udara dingin yang menerpa membuatnya melangkah ke dapur membuat secangkir kopi panas menghalau dinginnya malam ini. Melewati gudang tempat penyimpanan hasil karyanya ia berhenti sejenak. Ia mencium semerbak wangi yang sangat ia kenal… wangi bunga Ashley… hmmm…. Dibukanya pintu gudang dan dinyalakannya lampu… ia membelalakkan mata demi melihat pemandangan di depannya…. Bunga-bunga Ashley bertebaran di mana-mana… warna putih bersih bunga itu menghasilkan harum segar yang menggetarkan… perlahan-lahan Dea melangkah mendekati lukisan-lukisan puisi bidadari karyanya yang telah terbuka dan ah…. Siapa bayangan yang berdiri di dekat jendela?...

“ Siapa di sana…..” Dea mendekati bayangan itu…. Tiba-tiba lampu meredup dengan  sendirinya….. bayangan itu memancarkan sinar putih semakin lama-semakin jelas…. Dia…. Bidadari yang kucipta dalam imajinasiku…. Sesosok wanita cantik berambut panjang sepinggang… matanya bulat indah memacarkan sinar biru memandang Dea yang terpaku masih belum percaya akan apa yang dilihatnya.  Benarkah ini bidadari yang selalu hadir dalam mimpi dan imajinasiku?..........

Bidadari itu melangkah mendekati Dea… ah.. ternyata sinar biru tadi adalah air matanya… wajah cantik itu terlihat semakin jelas di hadapannya…. Memancarkan wajah sendu.. mengisyaratkan rindu..  tangan halus  itu meraihnya dalam pelukan… Dea masih belum mampu berpikir jernih… namun pelukan itu begitu hangatnya dan ketika tangannya membelai rambut gadis itu… sadarlah itu bukan mimpi… bukan imajinasi.. bukan…  harum ini bukan khayalan…  bidadari ini nyata adanya… tak mau banyak bertanya Dea hanya mampu menikmati setiap sentuhan lembut  tubuh wanita dalam dekapannya… menciumi harum setiap jengkal kulitnya yang halus dan lembut… hasratnya makin membara ketika bidadari itu semakin merasuk ke dalam relung jiwanya… keindahan.. kenikmatan berpadu menjadi satu… tiada kata-kata puisi tercipta namun pandangan mata mereka telah berbicara seribu kata menjabarka rasa cinta  dan gairah dalam dinginnya hembusan angin malam.

Sekali lagi kilau bola mata biru itu seolah berkata… mengapa kau berhenti membuat puisi cinta untukku? Tahukah aku sangat merindumu? Duniaku telah kutinggalkan karna aku telah terbuai dengan puisi itu…  bawalah aku dalam duniamu yang indah, Dea…..  Bidadari itu masih tetap memeluk erat tubuhnya yang perlahan  menghangat… mengucurkan keringat… harap malam tak segera merambat pagi…

-----

Sinar mentari  menembus jendela menyilaukan mata… Dea terjaga dari tidurnya…  dimana ini… sebuah ruangan yang sangat indah bernuansa putih… jendela-jendela terbuka lebar menerbangkan serpihan kelopak bunga Ashley yang memenuhi ruangan ini.. tiba-tiba pintu terbuka… Bidadari bermata indah itu tersenyum membawa sebuah nampan… secangkir kopi dan roti diserahkan pada Dea….

Dea masih merasa belum mempercayai apa yang telah terjadi padanya… dimanakah dirinya? Di surgakah ia? Mengapa bidadari itu begitu nyata di hadapannya? Tak sempat ia mencubit lengannya bidadari itu menyelinap  masuk ke dalam selimut di sebelahnya… tersenyum… dan berkata dengan matanya….


“ Ciptakanlah puisi indah untukku, Dea…. Dan setelah itu aku akan mengembalikanmu…” dan bidadari itu mulai memeluk pria di sampingnya.

-----

 Setitik bias cahaya pada tetes air di permukaan kulitmu…
Segar menyentuh dinding sanubari  indahmu..
Semerbak keharuman desahan nafasmu..
Semburat merah keindahan anggunmu..
Sampaikan kepada bidadari penghuni nirwana…
Senandungkan pujian  akan kecantikannya..
Seandainya mampu kuraih cahayanya..
Selaraskan keinginan memeluknya..
Serenada kerinduanku padanya..

Bidadariku……… mungkinkah kau menjadi milikku?

Dea terdiam sejenak sebelum mengakhiri larik terakhir puisinya.. sang bidadari masih di sana.. duduk terdiam di jendela memandang dirinya…

“ Siapa namamu?...” entah mendapat kekuatan dari mana Dea tiba-tiba mampu bertanya. Bidadari terlihat sedikit terkejut.. sedetik kemudian ia tersenyum….

“ Ashley… mengapa namamu Dea…?” ia masih tersenyum masih tetap indah di mata Dea..

“ Dea berarti raja atau penguasa…..”

Ashley… bidadari itu mendekati lukisan puisi yang baru saja selesai…. Matanya yang indah itu terbelalak.. takjub.. bibirnya yang merah merekah senyum…. Ia menatap lukisan puisi di hadapannya……. Tangan halus dan lembut itu membelai wajah Dea… menuntun wajah sang penyair menyentuh lembut bibirnya… menikmati kelembutan sentuhan itu Dea hanya mempu memejamkan mata…………………………

-----

… tok… tok… tok… terdengar ketukan di pintu kamar….. Dea membuka matanya… langit-langit kamar biru itu ia kenal… ia berada di dalam kamarnya…. Ah.. sudah berapa lama kamar ini kutinggalkan?... dimana Ashley?.. dimana bidadariku itu?....

“ Bli Dea….  Apa bli baik-baik saja?...” suara Raisa manajernya terdengar sedikit cemas.

Dea segera bangkit dari tidurnya… sejenak ia terkejut ketika hendak beranjak.. bunga Ashley segar dan harum berjatuhan dari tubuhnya… hmmmm…. Ia berada disini bersamaku sebelumnya… Dea tersenyum mengenang tadi malam saat indah bercinta dengan sang bidadari pujaannya…  ia segera membuka pintu…

“ Bli sakit? Kok mengurung diri dalam kamar sejak dua hari yang lalu?…” Raisa berdiri di depan pintu.. wajahnya terlihat cemas..

“ Tidak… bli baik-baik saja…. Ada apa?....”  huft..  ternyata sudah dua hari ia mengurung diri bersama bidadari.

“ Bli ada janji dengan Dr. Pramesti sore ini jam lima..” Raisa meninggalkan Dea yang masih berdiri di depan pintu… ah ia hampir lupa janji itu…

-----

“ Dua hari?....”  Dr. Pramesti mengernyitkan dahi.. lalu tersenyum… “ Baiklah… lalu apa yang anda lakukan selama itu?..”

“ Kami bercinta…. ”

“ Apakah anda melakukan di kamar anda?....”

“ Entahlah…. Sepertinya iya….. saya menemuinya di gudang tempat penyimpanan lukisan-lukisan saya….”

“ Apakah anda menemukan.. maaf.. bekas-bekas percintaan kalian, misalnya parfum atau sperma atau pakaian dalam?...”

“ Saya tidak tahu… tapi saya masih mencium bau wangi tubuhnya sampai saat ini…” Dr. Pramesti memandang mata Dea tajam… ia mulai bisa menganalisa apa yang sebenarnya terjadi pada penyair terkenal ini.

“ Saya sarankan anda beristirahat… carilah suasana lain misalnya keluar kota atau anda mulai memikirkan memindahkan kamar atau jika memungkinkan anda pindah rumah.. karna sepertinya halusinasi telah menguasai pikiran anda… saya khawatir jika tidak anda akan terjebak dalam situasi antara realita dan imajinasi… dan itu sungguh sulit menghadapinya….”

“ Baiklah… saya akam mencobanya….”

“ Saya akan memberikan obat tetapi obat ini hanya dikonsumsi apabila anda merasa tidak tenang dan ingin sekali bertemu dengannya… Ok..”

-----

Villa di atas bukit itu sangat nyaman… Dea telah menghabiskan hari-harinya disana.. Raisa dengan setia menemaninya…  Dea seperti baru membuka matanya ternyata Raisa yang selama ini setia mengurus segala keperluannya mulai dari pekerjaan dan urusan pribadi.. tidak hanya sangat serius dengan pekerjaannya… tetapi juga dengan perasaan cinta padanya….. ah… gadis yang sudah dua tahun bersamanya itu mencintainya dengan sangat bersahaja… Dea merasa telah menyia-nyiakan waktu dan begitu asyik dengan sang bidadari dalam imajinasinya… sementara perhatian dan cinta Raisa begitu nyata….

Seminggu adalah waktu yang sangat cukup untuk menyadari  cinta itu…. Kesejukan udara di bukit itu telah menyejukkan hati keduanya... janji cinta telah terjalin… Dea telah memilih Raisha sebagai kekasih hatinya…. Dan bidadari itu.. entahlah… sejak ia meninggalkan rumah bayang wangi Ashley bidadari itu seperti menghilang………….

-----

Malam itu Dea memasuki peraduan… tiba-tiba jendela kamarnya terbuka… hembusan angin malam dingin segar berhembus menerpa tubuhnya…. Entah kekuatan apa yang menuntunnya berjalan menuju jendela memandang bulan purnama bersinar dengan terangnya.

Setitik cahaya biru terbang melayang mendekati jendela kamarnya yang terbuka…. Semakin lama semakin jelas cahaya biru itu menembus kegelapan..... semerbak wangi bunga Ashley memenuhi ruangan… Dea sadar dengan siapa ia berhadapan….

Mata biru sendu itu menatap tajam menghujam…. Melepaskan buraian selendang yang berterbangan di tiup angin malam…. Dea merasa ikut terbang bersama selendang putih… semakin jauh meninggalkan jendela kamarnya.. menuju nirwana… bersama bidadari Ashley…. Sungguh Dea tak mampu menolak keindahan…

Tok.. tok.. tok…. “ Bli….. “ Raisha yang malam itu merasa tidak enak segera mengetuk pintu kamar Dea…..  ternyata tidak di kunci…. Raisha menemukan Dea berdiri mematung di dekat jendela…
“ Bli……….. ada apa?” Raisa merasa sesuatu telah terjadi dengan kekasihnya…

-----

“ Sudah tiga hari dok… ada apa sebenarnya?” Raisa memandang Dr. Pramesti dengan serius. Ia telah mengetahui Dea mempunyai masalah dan sering berkonsultasi dengan Dr. Pramesti, namun sampai detik ini ia tidak tahu ada apa sebenarnya yang terjadi dengan kekasihnya itu.

“ Apakah ia sedang melukis atau melakukan kegiatan seninya pada saat anda menemukan dalam kondisi ini…”

“ Tidak…  ia baru saja memasuki kamarnya..”

Dr. Pramesti terpaksa mengirimkan Dea ke Rumah sakit untuk terapi khusus.. mengingat gangguan kejiwaan yang dialaminya membutuhkan penanganan secara intensive… Dea hanya bisa terdiam dan membisu…. Tak seorangpun mampu membuatnya berbicara…. Tak terkecuali Raisa kekasihnya yang dengan setia menemaninya………………

-----

Dea tersenyum menggenggam erat tangan Ashley sang bidadari pujaannya…. Tak ingin lagi berpisah dan menjauh darinya… jerat cinta yang membara telah terpatri dalam hatinya.. ribuan kata puisi keindahan asmara dharma terukir dalam kanvas hatinya. Surga cinta ini sangat membuatnya nyaman dan tak ingin kembali ke alam sadarnya…………  



[ Walau terdampar dalam situasi yang sangat membingungkan….. Dea Penyair… tetaplah menuliskan syair indah dalam hatiku…… Raisa ]















  

3 comments:

  1. Oh ... Bidadariku, kau dimana? Daku ingin kau hadir kembali dalam wujud kebahagiaan seperti saat terakhir aku menatap cermin keindahan di raut wajahmu.

    Ya ... Tuhanku, sampai kapan kegalauan mimpi ini menjelma menjadi kebahagiaan yang hakiki? [Dea Penyair]

    ReplyDelete
  2. jd pgn punya bidadara.. Huft capek nunggu beliau yg berwujud nyata

    ReplyDelete
  3. beruntung banget bisa baca ini :)
    suka sangad dng puisinya
    nice post Al, ga sia-sia nunggu karena koneksi internetnya lambat

    ReplyDelete