Jendela itu
selalu terbuka lebar… Dea selalu berada di sana… memandang hamparan awan-awan
putih.. sesekali ia tersenyum.. lalu jari-jarinya dengan lincah menuliskan
sesuatu di buku yang selalu ia bawa sejak beberapa bulan terakhir ia tinggal di
pesanggrahan ini.
Ujung bukit yang
sejuk itu telah menenggelamkan jiwa dan cinta Raisa… Ia yang selalu menemani
Dea mengukir bait-bait puisi untuk sang bidadari akhirnya menyerah pasrah… Dea
tak mungkin memandang dirinya dengan tatapan penuh harapan… hanya beku dan
kosong yang selalu di jumpai di mata itu….
Langkah kakinya
begitu berat meninggalkan tempat itu… entah apa yang akan dilakukannya tanpa
Dea… ia tak tega meninggalkan kekasihnya dalam belenggu asmara imajinasi yang
tak kunjung usai…. Namun ia harus meninggalkannya… Dea akan menemuka dirinya
kembali setelah terapi yang dijalaninya… Dr. Pramesti berjanji akan selalu
memberikan informasi perkembangan jiwa Dea kepadanya.
Selamat tinggal
Dea…. Sebait puisi yang ia selipkan di buku catatan Dea… semoga kekasihnya itu
membacanya.. walau ia sadar puisinya tak seujung kuku ciptaan Dea, namun
biasanya Dea selalu menghargai setiap puisi yang di bacanya…..
Serahku pada
cinta……….
Temaram menepis
sinar rembulan di ujung dermaga hati..
Tak bertepi jiwa
ini menunggu datangnya embun pagi..
Terhampar sepi
dan sendiri dalam relung kalbu...
Tak mampu pergi
dari belenggu resah dan gelisah merindu..
Padamu wahai
pencipta cinta dan asmara…
Permata hati
telah tercampakkan tak kan kembali..
Palung jiwa
terhempas sampai ke nirwana..
Pantaskah aku
mengharap cinta itu menepi di hati…
Andai aku sanggup
terjemahkan makna tatapan mata…
Akan kujawab
dengan curahan cinta..
Andai aku mampu
membaca dalam diam seribu bahasa..
Akan kutuliskan
sebuah cerita..
Andai aku bisa
bertanya dimana hatimu berada..
Akan kuraih kasih
dan kusemai dalam dada…
[Al
31032012…………..]
-----
Pagi itu headline
koran setempat memberitakan penayangan perdana sebuah film buatan anak negeri
yang telah mendapatkan penghargaan di berbagai Negara yang sukses dengan ribuan penonton di berbagai
daerah . Foto-foto para pemeran utama dan sutradara terpampang dengan ukuran
besar, wawancara dengan berbagai mass media dan televisi menayangkan kesuksesan
mereka. Film berjudul ‘Negeri Bidadari’ itu sangat menyita perhatian publik.
Sebuah film yang
bertutur tentang negeri yang damai impian seorang anak manusia. Dengan usaha
yang bersusah payah akhirnya ia mampu mewujutkan impiannya tersebut menjadi
seorang ilmuan yang berguna bagi negaranya walau ia harus mengorbankan cinta
dan keluarganya. Kisah yang sangat menarik itu dihiasi dengan kualitas
gambar-gambar yang apik dari sebuah tempat di pegunungan yang dingin dan segar.
Selain penghargaan
best picture ada satu lagi yaitu best scenario, penghargaan yang di terima untuk penulis cerita
terbaik. Seorang penulis yang belum lama terjun di dunia tulis menulis bernama
GALUH RA di sebut-sebut sebagai penulis novel berbakat dan sejak debutnya di
film itu ia banyak menerima tawaran menulis skenario. Namun publik seakan
dibuat penasaran karena sang penulis sendiri tidak pernah menampakkan batang
hidungnya baik di berbagai promo tour film maupun wawancara dengan berbagai
media. Siapa sebenarnya Galuh Ra?.............
-----
Tiga tahun telah
berlalu… Raisa telah lama meninggalkan bayang-bayang Dea dalam hatinya. Namun
kenangan bersama penyair itu selalu meluncurkan imajinasi setiap kali ia
memikirkannya. Pekerjaan baru yang digelutinya sangat menyita waktu dan
perhatiannya. Wanita dewasa yang bersahaja itu tak menyangka ide cerita yang
dulu sering ia bicarakan dengan Dea menjadi inspirasinya. Raisa mencintai
pekerjaannya sebagai penulis … karya-karyanya selalu ditunggu para pembacanya..
namun sebagai penulis Raisa tidak begitu saja mengobral karya hanya karna memenuhi
permintaan publisher. Ia lebih mengutamakan kualitas daripada hanya sekedar
uang semata. Ya… Raisa adalah penulis yang sering di bicarakan publik itu..
Galuh Ra….
Malam itu udara
sangat dingin… Raisa masih duduk di depan komputer menyelesaikan novelnya pada babak terakhir. Kali ini Raisa membuat
cerita yang berbeda dengan biasanya. Ia membuat sebuah kisah cinta yang membara antara dua
anak manusia, Ia jarang menuliskan kisah cinta… buku-buku fiksinya selalu
menggambarkan perjuangan hidup dan inspirasi menjalani kehidupan.. namun kali
ini entah mengapa tangan Raisa dengan lancar mengalirkan sebuah cerita.. apakah
itu karena ia sangat merindukan Dea?…
Sudah satu tahun
ini Dr. Pramesti tidak menginformasikan keadaan Dea… sudah sembuhkah atau
semakin parah?.... terakhir Dr. Pramesti menulis email kepadanya mengabarkan
bahwa Dea dalam keadaan baik.. perkembangan yang tampak bahwa ia sekarang sudah
meu berinteraksi dengan dunia maya… dari catatan Dr. Pramesti Dea telah
berhubungan dengan beberapa orang dan berdiskusi tentang karya sastra via
internet… huft.. thank’s God… Raisa hanya mampu mendo’akan Dea segera pulih
kembali dan berkarya seperti sedia kala.
Sudah dua minggu
ini bukunya di terbitkan… sejak penerbitan novel yang berjudul ‘ Sajak cinta Dea…’ ia banyak mendapatkan
email… banyak yang memuji kisah cinta yang sangat romantis itu. Namun yang
membuat Raisa tertarik ada sebuah email atas nama Dea82@.… dalam emailnya Dea
memberikan ulasan tentang novelnya… bahkan ia memberikan koreksi terhadap alur cerita pada novel
tersebut. Hmm… mungkinkah ia Dea kekasihnya? Bukankah 82 itu tahun kelahiranya?
“ Dear Galuh Ra….
Saya sudah membaca
novel anda yang berjudul ‘ Sajak cinta Dea ‘ .. secara keseluruhan saya suka
ceritanya, namun dari paparan tulisan anda sepertinya anda melupakan sesuatu…
tokoh utama yang bernama Dea [seperti nama saya ya.. hehehe..] sangat mencintai
kekasihnya… namun anda membuat cinta itu seperti biasa-biasa saja.. walau anda
membumbui kisah cinta mereka dengan beberapa ‘adegan panas’ yang menghanyutkan
pembaca, tetap saja anda tidak utuh menjabarkan perasaan cinta Dea yang
sebenarnya… padahal saya yakin anda mampu menceritakan bagaimana dalamnya cinta
Dea terhadap kekasihnya walau tanpa adegan mesra sekalipun. tetapi novel anda memang berkelas… selamat
ya..
Saya menunggu novel
berikutnya……
Salam,
Dea82@
Raisa termenung
setelah membaca email tersebut. Entah mengapa ia merasa berhadapan dengan Dea
kekasihnya… namun ia begitu jauh tak tersentuh… ah… ia segera menekan panel
reply di monitor dan menuliskan balasan email tersebut..
Dear Dea,
Terima kasih
ulasannya… saya menghargai pandangan
anda. Semoga novel saya selanjutnya lebih baik….
Salam,
Galuh Ra
-----
Tok.. tok.. tok..
Raisa membuka matanya ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya.. mbak Rahmi
asistennya memanggil namanya… mbak Ra…
" Masuk
aja.. nggak di kunci…” suara Raisa masih terdengar mengantuk.
“ Ada telepon
dari Komunikasi….. aduh apa ya tadi…. Jam 09:30 ditunggu di kampus..?”
“ Komunikasi
Sastra….” Tiba-tiba Raisa ingat ada janji hari ini akan hadir di Fakultas
Sastra. Ia memandang jam di dinding… huft.. jam 08:30 wib… masih ada waktu. Ia
segera bangkit dari tempat tidur.
Hall di Fakultas
Sastra sudah penuh dengan mahasiswa dan partisan pencinta sastra. Seorang
wanita yang ternyata dekan Fakultas Sastra bernama Made Saraswati menyambutnya.
Tak lama kemudian Raisa telah terlibat diskusi menarik dengan Forum di ruangan
itu. Dari sudut ruangan diam-diam seseorang memperhatikan sang penulis dalam
diam. Hmmm…. Semakin dewasa saja dirimu Ra….
Pria berkacamata
itu segera melangkah pergi sesaat sebelum diskusi selesai. Berkelebat diantara
kerumunan mahasiswa yang beramai-ramai meminta tanda tangan sang penulis.
“ Terima kasih…
saya tidak menyangka ternyata Galuh Ra seorang yang sangat menyenangkan…” Made
Saraswati menjabat erat tangan Galuh Ra dengan hangat.
“ Sama-sama… saya
juga senang berinteraksi dengan mahasiswa di sini… sayang saya bukan seorang
ahli sastra… hehehe…”
“ Ah.. jangan
merendah… buku-buku anda laris manis… itu tandanya karya anda banyak yang
menyukai….” Kali ini Made Saraswati mempersilahkan duduk di ruangannya.
“ Wah… tersanjung
saya.. hahaha…”
“ Saya juga punya
rekan dosen yang dulunya seorang penyair… kalau saya amat-amati kalian
mempunyai aliran yang hampir sama, baik dari segi bahasa maupun ide cerita…”
“ Oh ya… siapa
dia? Barangkali saya mengenalnya…”
“ Kira-kira lima
tahun yang lalu ada seorang sastrawan penulis puisi terkenal… namanya Dea
Penyair… anda mengenalnya? Setelah lima tahun menghilang, sekarang ia mengajar
di sini….
Jantung Galuh
mendadak berdebar kencang… Dea… mengajar di sini?....
“ Bolehkah saya
bertemu beliau?...” Galuh Ra sudah tidak sabar ingin bertemu Dea… seperti apa
Dea sekarang?
Made menghubungi
sebuah nomor di handphonenya… sepertinya ia bercakap-cakap dengan Dea… sejenak
kemudian ia meletakkan kembali handphonenya…
“ Maaf beliau
sudah pulang…. Tetapi nanti saya
sampaikan beliau jika anda ingin bertemu..
atau ini saya beri nomor telepon beliau…anda bisa menghubungi beliau
langsung…” Made Saraswati tersenyum sambil menyebutkan sebuah nomor dari
handponenya.
-----
Malam itu Raisa
mencoba menghubungi nomor Dea berkali-kali, namun tak ada tanda-tanda
pemiliknya menerima panggilan itu. Raisa segera membuka laptopnya.. ia langsung
membuka folder emailnya…. Hmmm ada beberapa yang masuk… salah satunya… Dea………..
Raisa segera membuka email dari Dea……
Dear Galuh Ra,……….
Saya kirimkan puisi
untuk anda… semoga bisa menjadi inspirasi novel berikutnya.. hehehe….
NERACA KASIH SANG BIDADARI
Kegelapan memikat mentari
Menyelimuti bumi
Batinku menyepi
Mendalami bias murni imajinasi
Berdiri; berganti memainkan otak kiri
Menatap ribuan kenari mengepak sayap pagi
Namun tubuhku tetap jua terlelap bualan mimpi
Berharap hadirnya sang bidadari di tengah hari
Kakiku terus bergerak menyelusuri sunyi
Dalam kehilangan yang tak bertepi
Hingga sore pun tak santun lagi
Dan rembulan tak berulang menerangi
Pantaskah aku mencari?
Cinta ini terlampau misteri!
Lalu kucoba tuk membersihkan hati
Menapaki kembali tepi nyata dunia ini
Namun tetap jua terkotori syair mati
Buah pikiran tak sanggup menyadari ,,,
[Dea]
Salam,
Dea82@
Raisa menatap
rangkaian kata dalam puisi yang dikirimkan Dea agak lama. Ia tersenyum memahami
kata demi kata yang tertulis di sana…. Dea… kau sudah kembali…. Raisa segera
me-reply email tersebut….
Hi, Dea……….
Terima kasih ya….. puisinya indah…. Emmm anda ingin dibuatkan
prosa dari puisi itu? Jangan sungkan-sungkan ya……..
Salam,
Galuh Ra
Galuh menghela
nafas….. ia merasa hatinya disiram embun menyegarkan…. Tiba-tiba ada
pemberitahuan email masuk…. Hmmmm… email dari Dea…. Raisa segera membukanya….
Dear Galuh Ra..
Raisa…..
Kucurahkan isi hati
di sini… alangkah menyejukkan menemuimu berhias mutiara keindahan…..
IMAJI TAK BERSYARAT
Kesendirian masih menggeliat
Rindu lebur dalam malam pekat
Sembari kudekap erat kepingan hasrat
Menabuh harap dalam imaji tak bersyarat
Hilang,
Hanya bahasa tinta yang terpandang
Titik koma menyongsong tiap bayang
Menjadi isyarat kasih tetap berkembang
Malang,
Mungkin kau hanya bayang petang
Syairku mungkin jua sumbang
Terbinkai dimensi berhalang rintang
Oh, Bidadari penyelamat
Jiwaku kian tersesat
Bawalah ragaku mendekat!
Dan menghirup kembali aroma tubuhmu yang hangat ,,,
[Dea]
Akan kutemui dirimu
esok hari…. Jam 10:00 wib di lobby Jaya University…
Salam kekasihmu,
Dea82@ sang Penyair
Raisa tersenyum
membaca email Dea yang kedua…. Ternyata ia telah mengetahui keberadaannya. Aku
akan kesana Dea… tunggu aku kekasihku…..
-----
Pagi yang indah
sebelum Raisa berangkat ke tempat kerjanya… Sarapan hari ini dinikmatinya
sambil membayangkan pertemuan dengan Dea nanti…. Ia tersenyum dan meraih surat
kabar hari ini…. Tiba-tiba matanya terbelalak membaca headline.. jantungnya
seakan berhenti berdetak…..
SEORANG PENYAIR
DITEMUKAN MATI TERBAKAR DENGAN KONDISI MENGENASKAN
DI RUMAHNYA……..
Kepala Raisa
seakan berputar-putar… tak sanggup ia meneruskan membaca berita tersebut…… Mungkinkah Dea
kekasihnya?????.....................................................

Asik, Rek, alurnya mengalir apik ... *Dua jempol Dedek acungkan tuk Mbakyuku yang cerdas.
ReplyDeleteSyair Dea dan Prosa Alia terkombinasi sempurna bak kopi dengan gula ... :D
Dedek tunggu cerita selanjutnya, Mbak ,,, [*]
... hehehehe... uhuiyyyy... thanx dedek....
DeleteGood!
ReplyDeleteYo're the best ... ;)
...uyeaaahhh......... hehehe...thanx syairnya Dea.....
Delete