Saturday, March 31, 2012

Bidadari lupa diri….. (session 2 )


Jendela itu selalu terbuka lebar… Dea selalu berada di sana… memandang hamparan awan-awan putih.. sesekali ia tersenyum.. lalu jari-jarinya dengan lincah menuliskan sesuatu di buku yang selalu ia bawa sejak beberapa bulan terakhir ia tinggal di pesanggrahan ini.

Ujung bukit yang sejuk itu telah menenggelamkan jiwa dan cinta Raisa… Ia yang selalu menemani Dea mengukir bait-bait puisi untuk sang bidadari akhirnya menyerah pasrah… Dea tak mungkin memandang dirinya dengan tatapan penuh harapan… hanya beku dan kosong yang selalu di jumpai di mata itu….

Langkah kakinya begitu berat meninggalkan tempat itu… entah apa yang akan dilakukannya tanpa Dea… ia tak tega meninggalkan kekasihnya dalam belenggu asmara imajinasi yang tak kunjung usai…. Namun ia harus meninggalkannya… Dea akan menemuka dirinya kembali setelah terapi yang dijalaninya… Dr. Pramesti berjanji akan selalu memberikan informasi perkembangan jiwa Dea kepadanya.

Selamat tinggal Dea…. Sebait puisi yang ia selipkan di buku catatan Dea… semoga kekasihnya itu membacanya.. walau ia sadar puisinya tak seujung kuku ciptaan Dea, namun biasanya Dea selalu menghargai setiap puisi yang di bacanya…..

Serahku pada cinta……….

Temaram menepis sinar rembulan di ujung dermaga hati..
Tak bertepi jiwa ini menunggu datangnya embun pagi..
Terhampar sepi dan sendiri dalam relung kalbu...
Tak mampu pergi dari belenggu resah dan gelisah merindu..

Padamu wahai pencipta cinta dan asmara…
Permata hati telah tercampakkan tak kan kembali..
Palung jiwa terhempas sampai ke nirwana..
Pantaskah aku mengharap cinta itu menepi di hati…

Andai aku sanggup terjemahkan makna tatapan mata…
Akan kujawab dengan curahan cinta..
Andai aku mampu membaca dalam diam seribu bahasa..
Akan kutuliskan sebuah cerita..
Andai aku bisa bertanya dimana hatimu berada..
Akan kuraih kasih dan kusemai dalam dada…

[Al 31032012…………..]

-----


Pagi itu headline koran setempat memberitakan penayangan perdana sebuah film buatan anak negeri yang telah mendapatkan penghargaan di berbagai Negara yang  sukses dengan ribuan penonton di berbagai daerah . Foto-foto para pemeran utama dan sutradara terpampang dengan ukuran besar, wawancara dengan berbagai mass media dan televisi menayangkan kesuksesan mereka. Film berjudul ‘Negeri Bidadari’ itu sangat menyita perhatian publik.

Sebuah film yang bertutur tentang negeri yang damai impian seorang anak manusia. Dengan usaha yang bersusah payah akhirnya ia mampu mewujutkan impiannya tersebut menjadi seorang ilmuan yang berguna bagi negaranya walau ia harus mengorbankan cinta dan keluarganya. Kisah yang sangat menarik itu dihiasi dengan kualitas gambar-gambar yang apik dari sebuah tempat di pegunungan yang dingin dan segar. 

Selain penghargaan best picture ada satu lagi yaitu best scenario,  penghargaan yang di terima untuk penulis cerita terbaik. Seorang penulis yang belum lama terjun di dunia tulis menulis bernama GALUH RA di sebut-sebut sebagai penulis novel berbakat dan sejak debutnya di film itu ia banyak menerima tawaran menulis skenario. Namun publik seakan dibuat penasaran karena sang penulis sendiri tidak pernah menampakkan batang hidungnya baik di berbagai promo tour film maupun wawancara dengan berbagai media. Siapa sebenarnya Galuh Ra?.............

-----

Tiga tahun telah berlalu… Raisa telah lama meninggalkan bayang-bayang Dea dalam hatinya. Namun kenangan bersama penyair itu selalu meluncurkan imajinasi setiap kali ia memikirkannya. Pekerjaan baru yang digelutinya sangat menyita waktu dan perhatiannya. Wanita dewasa yang bersahaja itu tak menyangka ide cerita yang dulu sering ia bicarakan dengan Dea menjadi inspirasinya. Raisa mencintai pekerjaannya sebagai penulis … karya-karyanya selalu ditunggu para pembacanya.. namun sebagai penulis Raisa tidak begitu saja mengobral karya hanya karna memenuhi permintaan publisher. Ia lebih mengutamakan kualitas daripada hanya sekedar uang semata. Ya… Raisa adalah penulis yang sering di bicarakan publik itu.. Galuh Ra….

Malam itu udara sangat dingin… Raisa masih duduk di depan komputer menyelesaikan novelnya  pada babak terakhir. Kali ini Raisa membuat cerita yang berbeda dengan biasanya. Ia membuat  sebuah kisah cinta yang membara antara dua anak manusia, Ia jarang menuliskan kisah cinta… buku-buku fiksinya selalu menggambarkan perjuangan hidup dan inspirasi menjalani kehidupan.. namun kali ini entah mengapa tangan Raisa dengan lancar mengalirkan sebuah cerita.. apakah itu karena ia sangat merindukan Dea?…



Sudah satu tahun ini Dr. Pramesti tidak menginformasikan keadaan Dea… sudah sembuhkah atau semakin parah?.... terakhir Dr. Pramesti menulis email kepadanya mengabarkan bahwa Dea dalam keadaan baik.. perkembangan yang tampak bahwa ia sekarang sudah meu berinteraksi dengan dunia maya… dari catatan Dr. Pramesti Dea telah berhubungan dengan beberapa orang dan berdiskusi tentang karya sastra via internet… huft.. thank’s God… Raisa hanya mampu mendo’akan Dea segera pulih kembali dan berkarya seperti sedia kala.
   
Sudah dua minggu ini bukunya di terbitkan… sejak penerbitan novel yang berjudul  ‘ Sajak cinta Dea…’ ia banyak mendapatkan email… banyak yang memuji kisah cinta yang sangat romantis itu. Namun yang membuat Raisa tertarik ada sebuah email atas nama Dea82@.… dalam emailnya Dea memberikan ulasan tentang novelnya… bahkan ia memberikan  koreksi terhadap alur cerita pada novel tersebut. Hmm… mungkinkah ia Dea kekasihnya? Bukankah 82 itu tahun kelahiranya?

“ Dear Galuh Ra….
Saya sudah membaca novel anda yang berjudul ‘ Sajak cinta Dea ‘ .. secara keseluruhan saya suka ceritanya, namun dari paparan tulisan anda sepertinya anda melupakan sesuatu… tokoh utama yang bernama Dea [seperti nama saya ya.. hehehe..] sangat mencintai kekasihnya… namun anda membuat cinta itu seperti biasa-biasa saja.. walau anda membumbui kisah cinta mereka dengan beberapa ‘adegan panas’ yang menghanyutkan pembaca, tetap saja anda tidak utuh menjabarkan perasaan cinta Dea yang sebenarnya… padahal saya yakin anda mampu menceritakan bagaimana dalamnya cinta Dea terhadap kekasihnya walau tanpa adegan mesra sekalipun.  tetapi novel anda memang berkelas… selamat ya..
Saya menunggu novel berikutnya……

Salam,
Dea82@

Raisa termenung setelah membaca email tersebut. Entah mengapa ia merasa berhadapan dengan Dea kekasihnya… namun ia begitu jauh tak tersentuh… ah… ia segera menekan panel reply di monitor dan menuliskan balasan email tersebut..

Dear Dea,
Terima kasih ulasannya…  saya menghargai pandangan anda. Semoga novel saya selanjutnya lebih baik….

Salam,
Galuh Ra


-----

Tok.. tok.. tok.. Raisa membuka matanya ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya.. mbak Rahmi asistennya memanggil namanya… mbak Ra…

" Masuk aja.. nggak di kunci…” suara Raisa masih terdengar mengantuk.

“ Ada telepon dari Komunikasi….. aduh apa ya tadi…. Jam 09:30 ditunggu di kampus..?”

“ Komunikasi Sastra….” Tiba-tiba Raisa ingat ada janji hari ini akan hadir di Fakultas Sastra. Ia memandang jam di dinding… huft.. jam 08:30 wib… masih ada waktu. Ia segera bangkit dari tempat tidur.

Hall di Fakultas Sastra sudah penuh dengan mahasiswa dan partisan pencinta sastra. Seorang wanita yang ternyata dekan Fakultas Sastra bernama Made Saraswati menyambutnya. Tak lama kemudian Raisa telah terlibat diskusi menarik dengan Forum di ruangan itu. Dari sudut ruangan diam-diam seseorang memperhatikan sang penulis dalam diam. Hmmm…. Semakin dewasa saja dirimu Ra….

Pria berkacamata itu segera melangkah pergi sesaat sebelum diskusi selesai. Berkelebat diantara kerumunan mahasiswa yang beramai-ramai meminta tanda tangan sang penulis.

“ Terima kasih… saya tidak menyangka ternyata Galuh Ra seorang yang sangat menyenangkan…” Made Saraswati menjabat erat tangan Galuh Ra dengan hangat.

“ Sama-sama… saya juga senang berinteraksi dengan mahasiswa di sini… sayang saya bukan seorang ahli sastra… hehehe…”

“ Ah.. jangan merendah… buku-buku anda laris manis… itu tandanya karya anda banyak yang menyukai….” Kali ini Made Saraswati mempersilahkan duduk di ruangannya.

“ Wah… tersanjung saya.. hahaha…”

“ Saya juga punya rekan dosen yang dulunya seorang penyair… kalau saya amat-amati kalian mempunyai aliran yang hampir sama, baik dari segi bahasa maupun ide cerita…”

“ Oh ya… siapa dia? Barangkali saya mengenalnya…”

“ Kira-kira lima tahun yang lalu ada seorang sastrawan penulis puisi terkenal… namanya Dea Penyair… anda mengenalnya? Setelah lima tahun menghilang, sekarang ia mengajar di sini….

Jantung Galuh mendadak berdebar kencang… Dea… mengajar di sini?....

“ Bolehkah saya bertemu beliau?...” Galuh Ra sudah tidak sabar ingin bertemu Dea… seperti apa Dea sekarang?

Made menghubungi sebuah nomor di handphonenya… sepertinya ia bercakap-cakap dengan Dea… sejenak kemudian ia meletakkan kembali handphonenya…

“ Maaf beliau sudah pulang….  Tetapi nanti saya sampaikan beliau jika anda ingin bertemu..  atau ini saya beri nomor telepon beliau…anda bisa menghubungi beliau langsung…” Made Saraswati tersenyum sambil menyebutkan sebuah nomor dari handponenya.

-----

Malam itu Raisa mencoba menghubungi nomor Dea berkali-kali, namun tak ada tanda-tanda pemiliknya menerima panggilan itu. Raisa segera membuka laptopnya.. ia langsung membuka folder emailnya…. Hmmm ada beberapa yang masuk… salah satunya… Dea……….. Raisa segera membuka email dari Dea……

Dear Galuh Ra,……….
Saya kirimkan puisi untuk anda… semoga bisa menjadi inspirasi novel berikutnya.. hehehe….

NERACA KASIH SANG BIDADARI



Kegelapan memikat mentari
Menyelimuti bumi
Batinku menyepi
Mendalami bias murni imajinasi

Berdiri; berganti memainkan otak kiri
Menatap ribuan kenari mengepak sayap pagi
Namun tubuhku tetap jua terlelap bualan mimpi
Berharap hadirnya sang bidadari di tengah hari

Kakiku terus bergerak menyelusuri sunyi
Dalam kehilangan yang tak bertepi
Hingga sore pun tak santun lagi
Dan rembulan tak berulang menerangi

Pantaskah aku mencari?
Cinta ini terlampau misteri!

Lalu kucoba tuk membersihkan hati
Menapaki kembali tepi nyata dunia ini
Namun tetap jua terkotori syair mati
Buah pikiran tak sanggup menyadari ,,,
[Dea]


Salam,
Dea82@

Raisa menatap rangkaian kata dalam puisi yang dikirimkan Dea agak lama. Ia tersenyum memahami kata demi kata yang tertulis di sana…. Dea… kau sudah kembali…. Raisa segera me-reply email tersebut….

Hi, Dea……….
Terima kasih ya…..  puisinya indah…. Emmm anda ingin dibuatkan prosa dari puisi itu? Jangan sungkan-sungkan ya……..

Salam,
Galuh Ra

Galuh menghela nafas….. ia merasa hatinya disiram embun menyegarkan…. Tiba-tiba ada pemberitahuan email masuk…. Hmmmm… email dari Dea…. Raisa segera membukanya….

Dear Galuh Ra.. Raisa…..
Kucurahkan isi hati di sini… alangkah menyejukkan menemuimu berhias mutiara keindahan….. 

IMAJI TAK BERSYARAT


Kesendirian masih menggeliat
Rindu lebur dalam malam pekat
Sembari kudekap erat kepingan hasrat
Menabuh harap dalam imaji tak bersyarat

Hilang,
Hanya bahasa tinta yang terpandang
Titik koma menyongsong tiap bayang
Menjadi isyarat kasih tetap berkembang

Malang,
Mungkin kau hanya bayang petang
Syairku mungkin jua sumbang
Terbinkai dimensi berhalang rintang

Oh, Bidadari penyelamat
Jiwaku kian tersesat
Bawalah ragaku mendekat!
Dan menghirup kembali aroma tubuhmu yang hangat ,,,
 [Dea]

Akan kutemui dirimu esok hari…. Jam 10:00 wib di lobby Jaya University…

Salam kekasihmu,
Dea82@ sang Penyair

Raisa tersenyum membaca email Dea yang kedua…. Ternyata ia telah mengetahui keberadaannya. Aku akan kesana Dea… tunggu aku kekasihku…..

-----

Pagi yang indah sebelum Raisa berangkat ke tempat kerjanya… Sarapan hari ini dinikmatinya sambil membayangkan pertemuan dengan Dea nanti…. Ia tersenyum dan meraih surat kabar hari ini…. Tiba-tiba matanya terbelalak membaca headline.. jantungnya seakan berhenti berdetak….. 

SEORANG PENYAIR DITEMUKAN MATI TERBAKAR DENGAN KONDISI MENGENASKAN DI RUMAHNYA……..

Kepala Raisa seakan berputar-putar… tak sanggup ia meneruskan membaca berita tersebut……  Mungkinkah Dea kekasihnya?????.....................................................

4 comments:

  1. Asik, Rek, alurnya mengalir apik ... *Dua jempol Dedek acungkan tuk Mbakyuku yang cerdas.
    Syair Dea dan Prosa Alia terkombinasi sempurna bak kopi dengan gula ... :D

    Dedek tunggu cerita selanjutnya, Mbak ,,, [*]

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... hehehehe... uhuiyyyy... thanx dedek....

      Delete
  2. Replies
    1. ...uyeaaahhh......... hehehe...thanx syairnya Dea.....

      Delete