Hahaha… memangnya
ada ya bidadari yang fly sampai lupa diri … Seperti slogan sebuah iklan parfum
maskulin….. Harum yang menggoda.. membuat bidadari lupa diri..!!!....... dan…
berjatuhanlah bidadari-bidadari cantik bersayap putih ke dunia ini… Namun bukan
karna parfum, bidadari itu benar-benar datang… menemuiku.. memelukku dan
mengucapkan cinta padaku… tetapi karena
membaca puisiku… benarkah???
Dea membuka jendela kastil… pemandangan dari
lantai dua kastil Krista sangat menawan hatinya. Hamparan rumput hijau
mengelilingi sebuah danau di tengahnya. Beberapa ekor angsa putih
berenang-renang dah kicauan burung-burung merpati yang terbang kesana-kemari berbaur dengan
indahnya kibasan sayap kupu-kupu berwarna-warni menghisap madu dari bunga-bunga
liar yang tumbuh di sekitar danau.
Hmmm… benar saja
kata Ratu Balqis, sahabatnya.. kastil ini luar biasa. Bangunan berusia ratusan
tahun yang tetap megah berdiri kokoh di atas sebuah bukit itu memikat hati dan
jiwanya. Keindahan dan kemisteriusan kastil ini menghasilkan ribuan kata puja
yang berjejal-jejal di dalam otaknya menunggu dituangkan dalam sebuah karya.
Sejak dibuka
untuk tempat peristirahatan berkelas setahun yang lalu memang belum banyak yang
mengetahui dan merasakan sensasi kehidupan abad yang lalu. Dea memang baru mengetahui dari seorang
sahabat yang telah berkunjung di tempat ini beberapa bulan yang lalu. Baru
mendengar ceritanya saja hatinya sudah berdebar-debar.. jiwanya bergetar…
sungguh ia begitu mendambakan tempat seperti itu, dimana ia bisa membayangkan
bidadari kekasih hatinya berada di sana.
Ya.. bidadari itu
mungkin berada di sana.. membuai angannya.. membelai kerinduannya..seperti yang
sering terjadi dalam setiap mimpi-mimpinya… ah.. bidadariku… akan kujemput
ragamu di Kastil Krista…
Dan…. Disinilah
ia akhirnya.. jendela yang terbuka lebar seakan mengalirkan hembusan angin
surga ke tubuhnya… Dea duduk di depan kanvas dan seperangkat alat di hadapannya
segera ia mainkan kuas mengikuti irama heart and soul yang menggema memenuhi
ruangan…
Kata demi kata
yang tertulis indah di atas kanvas berhias lukisan beberapa ekor angsa dan danau mengalir deras.
Dea tampak menikmati rangkaian
puisi yang ia tujukan buat sang bidadari…….
BIDADARI MUSTAJAB MIMPI
Kudengar sebisik suara
Di purata kesunyianku
Kulihat setitik cahaya
Di rongak kegelapanku
Nafasku; getar jantungnya
Dekapannya; kedamaianku
Membuihkan surga di kuil jiwa
Menengahi garis kematian pilu
Tuhanku; Kau Maha Tahu
Sujudku menjumpai mustajab-Mu
Jadikankah kami pewaris tahta!
Bak Sulaiman dan ratu Bilqisnya ,,,
[Dea Penyair....23032012]
Kudengar sebisik suara
Di purata kesunyianku
Kulihat setitik cahaya
Di rongak kegelapanku
Nafasku; getar jantungnya
Dekapannya; kedamaianku
Membuihkan surga di kuil jiwa
Menengahi garis kematian pilu
Tuhanku; Kau Maha Tahu
Sujudku menjumpai mustajab-Mu
Jadikankah kami pewaris tahta!
Bak Sulaiman dan ratu Bilqisnya ,,,
[Dea Penyair....23032012]
***********************************************************************************
Dan sore
menjelang… semburat jingga mewarnai angkasa menambah misteri mengelilingi
kastil Krista… Dea tetap berdiri di
dekat jendela memandang hari berganti dan senja menenggelamkan keindahan… Angin
malam yang berhembus seakan membisikkan buaian…suara burung gagak mengajak
kawanan itu berjaga di sekitar hutan yang mengelilingi kastil menambah
keangkerannya.
Malam semakin
larut… Dea telah memejamkan matanya di peraduan. Sesosok bayangan hitam
melayang menembus pintu mendekati kanvas.. dengan sekali kibasan tangannya
terbukalah lukisan puisi itu…. Matanya yang bulat indah mengerjab menikmati
kata demi kata dalam puisi.. senyum tersungging di bibirnya.. meletakkan
sekuntum bunga ashley di atas kanvas..
sekejap kemudian bayangan hitam itu melayang menembus dinding dan
flashhh…. Menghilang… seiring terbukanya mata Dea … huft.. mimpinya sangat
aneh.. bidadari itu datang kemari.. tersenyum, membuka penutup kanvas ..
membaca lukisan puisinya… dan meninggalkan sekuntum bunga… ahh…. Dea melompat dari peraduannya… sejenak ia berdiri
di depan kanvas yang telah terbuka dan sekuntum bunga Ashley di atasnya….. dia
benar-benar datang…!!!
Ini sudah terjadi
beberapa kali… Dea seperti telah mengetahui dan merasakan kedatangan sang
bidadari meski tak sekalipun bertatap mata dengannya. Entah dari mana datangnya bayangan bidadari
cantik yang menggelitik jiwa dan sanubarinya itu hadir saat ia merasa sendiri
dan menghadirkan inspirasi menuliskan kerinduan dan kakagumannya dalam bait-bait
puisi…… berhalusinasikah dirinya?.... entahlah….
------
Ini pertemuan
dengan Dr. Pramesti yang kedua kalinya. Setelah mengajukan pertanyaan yang
bersifat umum, seperti keluarga, kondisi lingkungan, masa lalu dan sejarah
kejiwaan pada pertemuan pertama.
“ Sudah berapa
lama hal ini terjadi?..” Dr. Pramesti bertanya sambil metanya menatap tajam pria
yang duduk di hadapannya.
“ Sekitar satu
tahun..”
“ Bagaimana
perasaan anda pada saat bertemu.. emm.. di dalam mimpi atau di angan-angan
anda?..”
“ Saya jatuh
cinta padanya.. sama dengan orang lain.. saya merasakan getaran dalam dada..
tak ingin sedetikpun berpaling darinya..”
“ Anda pernah
bercakap-cakap dengannya?..”
“ Tidak pernah..”
“ Anda
pernah ehm.. maaf.. bersentuhan dengannya.. berpelukan.. berciuman
atau bahkan lebih dari itu….”
“ Entahlah, dok… saya masih belum meyakinkan
diri saya.. apakah saya merasa melakukan atau saya hanya berangan-angan… tetapi
yang jelas saya sangat menginginkan menyentuhnya.. memeluk, mencium bahkan saya
sering bermimpi bercinta dengannya..”
“ OK… ini yang
terakhir sebelum saya menyimpulkan apa
yang terjadi pada diri anda… tolong jelaskan gambaran gadis itu dalam imajinasi
anda…”
“ Baik, akan saya
coba………….. “ sejanak pria itu memandang jendela klinik Dr. Pramesti, lalu matanya
menyapu seisi ruangan seolah mencari sesuatu.. dan ketika pandangannya tertuju
ke dinding ruangan itu…. Sebuah foto wanita … bidadari itu.. berbingkai kayu… ”
Dia begitu cantik… tubuhnya tinggi semampai… kulitnya putih.. rambutnya hitam
panjang.. matanya bulat dan tajam… “
“ Cukup… maaf…
mengapa anda menggambarkan gadis itu sambil memandang foto saya?... dan yang
anda gambarkan itu tidak sama dengan yang anda lihat di foto..”
“ Oh… maaf….
Tetapi seperti itulah yang saya lihat setiap kali ia datang dalam halusinasi
saya, dok…” Dea.. pria itu memandang
foto itu sekali lagi.. ah… ternyata tidak seperti yang ia lihat tadi. Kali ini
foto itu sama persis dengan Dr. Pramesti, Phsikolog yang
ia kunjungi malam ini.
“ Baiklah… anda
berhalusinasi.. itu jelas.. karena yang anda hadapi adalah sesosok
bayangan seorang wanita yang anda wujudkan dalam pikiran anda sendiri…melihat
profesi anda adalah seorang seniman mungkin imajinasi anda terlalu kuat
sehingga secara tak sadar terbawa kealam nyata… cobalah untuk menciptakan
sesuatu berdasarkan kenyataan.. misalnya jika ada ingin menggambarkan sosok
seorang wanita, ya carilah gambaran yang real.. ibu anda, teman wanita anda..
atau siapa saja yang penting nyata… bagaimana? Anda mau mencoba?... telpon saja
kalau menemui kesulitan… okay..” Dr, Pramesti mengakhiri pertemuan ini.
-----
Sudah seminggu
ini Dea membersihkan ruangan kerjanya dari pengaruh bidadari sesuai saran Dr.
Pramesti. Semua lukisan puisinya ia simpan di gudang. Ia sadar bahwa
halusinasinya akan menghancurkan masa depannya. Keinginan untuk bertemu dengan
bidadari pujaannya sangat mengganggu
pikirannya. Ia ingin hidup normal dan tak ingin dihantui bidadari fiktif
yang ia ciptakan sendiri. Ia mulai sibuk bersosialisasi dengam teman-temannya
baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Malam itu udara
begitu dingin.. angin berdesir seakan meniupkan hembusan kemurkaan. Dea belum
mampu memejamkan matanya namun udara dingin yang menerpa membuatnya melangkah
ke dapur membuat secangkir kopi panas menghalau dinginnya malam ini. Melewati
gudang tempat penyimpanan hasil karyanya ia berhenti sejenak. Ia mencium
semerbak wangi yang sangat ia kenal… wangi bunga Ashley… hmmm…. Dibukanya pintu
gudang dan dinyalakannya lampu… ia membelalakkan mata demi melihat pemandangan
di depannya…. Bunga-bunga Ashley bertebaran di mana-mana… warna putih bersih
bunga itu menghasilkan harum segar yang menggetarkan… perlahan-lahan Dea
melangkah mendekati lukisan-lukisan puisi bidadari karyanya yang telah terbuka
dan ah…. Siapa bayangan yang berdiri di dekat jendela?...
“ Siapa di
sana…..” Dea mendekati bayangan itu…. Tiba-tiba lampu meredup dengan sendirinya….. bayangan itu memancarkan sinar
putih semakin lama-semakin jelas…. Dia…. Bidadari yang kucipta dalam
imajinasiku…. Sesosok wanita cantik berambut panjang sepinggang… matanya bulat
indah memacarkan sinar biru memandang Dea yang terpaku masih belum percaya akan
apa yang dilihatnya. Benarkah ini
bidadari yang selalu hadir dalam mimpi dan imajinasiku?..........
Bidadari itu
melangkah mendekati Dea… ah.. ternyata sinar biru tadi adalah air matanya…
wajah cantik itu terlihat semakin jelas di hadapannya…. Memancarkan wajah
sendu.. mengisyaratkan rindu.. tangan
halus itu meraihnya dalam pelukan… Dea
masih belum mampu berpikir jernih… namun pelukan itu begitu hangatnya dan
ketika tangannya membelai rambut gadis itu… sadarlah itu bukan mimpi… bukan
imajinasi.. bukan… harum ini bukan
khayalan… bidadari ini nyata adanya… tak
mau banyak bertanya Dea hanya mampu menikmati setiap sentuhan lembut tubuh wanita dalam dekapannya… menciumi harum
setiap jengkal kulitnya yang halus dan lembut… hasratnya makin membara ketika
bidadari itu semakin merasuk ke dalam relung jiwanya… keindahan.. kenikmatan
berpadu menjadi satu… tiada kata-kata puisi tercipta namun pandangan mata
mereka telah berbicara seribu kata menjabarka rasa cinta dan gairah dalam dinginnya hembusan angin
malam.
Sekali lagi kilau
bola mata biru itu seolah berkata… mengapa kau berhenti membuat puisi cinta
untukku? Tahukah aku sangat merindumu? Duniaku telah kutinggalkan karna aku
telah terbuai dengan puisi itu… bawalah
aku dalam duniamu yang indah, Dea…..
Bidadari itu masih tetap memeluk erat tubuhnya yang perlahan menghangat… mengucurkan keringat… harap malam
tak segera merambat pagi…
-----
Sinar
mentari menembus jendela menyilaukan
mata… Dea terjaga dari tidurnya… dimana
ini… sebuah ruangan yang sangat indah bernuansa putih… jendela-jendela terbuka
lebar menerbangkan serpihan kelopak bunga Ashley yang memenuhi ruangan ini..
tiba-tiba pintu terbuka… Bidadari bermata indah itu tersenyum membawa sebuah
nampan… secangkir kopi dan roti diserahkan pada Dea….
Dea masih merasa
belum mempercayai apa yang telah terjadi padanya… dimanakah dirinya? Di
surgakah ia? Mengapa bidadari itu begitu nyata di hadapannya? Tak sempat ia
mencubit lengannya bidadari itu menyelinap masuk ke dalam selimut di sebelahnya…
tersenyum… dan berkata dengan matanya….
“ Ciptakanlah
puisi indah untukku, Dea…. Dan setelah itu aku akan mengembalikanmu…” dan
bidadari itu mulai memeluk pria di sampingnya.
-----
Setitik bias cahaya pada tetes air di permukaan kulitmu…
Segar
menyentuh dinding sanubari indahmu..
Semerbak
keharuman desahan nafasmu..
Semburat
merah keindahan anggunmu..
Sampaikan
kepada bidadari penghuni nirwana…
Senandungkan
pujian akan kecantikannya..
Seandainya
mampu kuraih cahayanya..
Selaraskan
keinginan memeluknya..
Serenada
kerinduanku padanya..
Bidadariku………
mungkinkah kau menjadi milikku?
Dea terdiam
sejenak sebelum mengakhiri larik terakhir puisinya.. sang bidadari masih di
sana.. duduk terdiam di jendela memandang dirinya…
“ Siapa namamu?...”
entah mendapat kekuatan dari mana Dea tiba-tiba mampu bertanya. Bidadari
terlihat sedikit terkejut.. sedetik kemudian ia tersenyum….
“ Ashley… mengapa
namamu Dea…?” ia masih tersenyum masih tetap indah di mata Dea..
“ Dea berarti
raja atau penguasa…..”
Ashley… bidadari
itu mendekati lukisan puisi yang baru saja selesai…. Matanya yang indah itu
terbelalak.. takjub.. bibirnya yang merah merekah senyum…. Ia menatap lukisan
puisi di hadapannya……. Tangan halus dan lembut itu membelai wajah Dea… menuntun
wajah sang penyair menyentuh lembut bibirnya… menikmati kelembutan sentuhan itu
Dea hanya mempu memejamkan mata…………………………
-----
… tok… tok… tok…
terdengar ketukan di pintu kamar….. Dea membuka matanya… langit-langit kamar
biru itu ia kenal… ia berada di dalam kamarnya…. Ah.. sudah berapa lama kamar
ini kutinggalkan?... dimana Ashley?.. dimana bidadariku itu?....
“ Bli Dea…. Apa bli baik-baik saja?...” suara Raisa
manajernya terdengar sedikit cemas.
Dea segera
bangkit dari tidurnya… sejenak ia terkejut ketika hendak beranjak.. bunga
Ashley segar dan harum berjatuhan dari tubuhnya… hmmmm…. Ia berada disini
bersamaku sebelumnya… Dea tersenyum mengenang tadi malam saat indah bercinta
dengan sang bidadari pujaannya… ia
segera membuka pintu…
“ Bli sakit? Kok
mengurung diri dalam kamar sejak dua hari yang lalu?…” Raisa berdiri di depan
pintu.. wajahnya terlihat cemas..
“ Tidak… bli
baik-baik saja…. Ada apa?....” huft.. ternyata sudah dua hari ia mengurung diri
bersama bidadari.
“ Bli ada janji
dengan Dr. Pramesti sore ini jam lima..” Raisa meninggalkan Dea yang masih
berdiri di depan pintu… ah ia hampir lupa janji itu…
-----
“ Dua
hari?....” Dr. Pramesti mengernyitkan
dahi.. lalu tersenyum… “ Baiklah… lalu apa yang anda lakukan selama itu?..”
“ Kami bercinta….
”
“ Apakah anda
melakukan di kamar anda?....”
“ Entahlah…. Sepertinya
iya….. saya menemuinya di gudang tempat penyimpanan lukisan-lukisan saya….”
“ Apakah anda menemukan..
maaf.. bekas-bekas percintaan kalian, misalnya parfum atau sperma atau pakaian
dalam?...”
“ Saya tidak tahu…
tapi saya masih mencium bau wangi tubuhnya sampai saat ini…” Dr. Pramesti
memandang mata Dea tajam… ia mulai bisa menganalisa apa yang sebenarnya terjadi
pada penyair terkenal ini.
“ Saya sarankan
anda beristirahat… carilah suasana lain misalnya keluar kota atau anda mulai
memikirkan memindahkan kamar atau jika memungkinkan anda pindah rumah.. karna
sepertinya halusinasi telah menguasai pikiran anda… saya khawatir jika tidak
anda akan terjebak dalam situasi antara realita dan imajinasi… dan itu sungguh
sulit menghadapinya….”
“ Baiklah… saya
akam mencobanya….”
“ Saya akan
memberikan obat tetapi obat ini hanya dikonsumsi apabila anda merasa tidak
tenang dan ingin sekali bertemu dengannya… Ok..”
-----
Villa di atas
bukit itu sangat nyaman… Dea telah menghabiskan hari-harinya disana.. Raisa
dengan setia menemaninya… Dea seperti
baru membuka matanya ternyata Raisa yang selama ini setia mengurus segala
keperluannya mulai dari pekerjaan dan urusan pribadi.. tidak hanya sangat
serius dengan pekerjaannya… tetapi juga dengan perasaan cinta padanya….. ah…
gadis yang sudah dua tahun bersamanya itu mencintainya dengan sangat bersahaja…
Dea merasa telah menyia-nyiakan waktu dan begitu asyik dengan sang bidadari
dalam imajinasinya… sementara perhatian dan cinta Raisa begitu nyata….
Seminggu adalah
waktu yang sangat cukup untuk menyadari
cinta itu…. Kesejukan udara di bukit itu telah menyejukkan hati
keduanya... janji cinta telah terjalin… Dea telah memilih Raisha sebagai
kekasih hatinya…. Dan bidadari itu.. entahlah… sejak ia meninggalkan rumah
bayang wangi Ashley bidadari itu seperti menghilang………….
-----
Malam itu Dea
memasuki peraduan… tiba-tiba jendela kamarnya terbuka… hembusan angin malam
dingin segar berhembus menerpa tubuhnya…. Entah kekuatan apa yang menuntunnya
berjalan menuju jendela memandang bulan purnama bersinar dengan terangnya.
Setitik cahaya
biru terbang melayang mendekati jendela kamarnya yang terbuka…. Semakin lama
semakin jelas cahaya biru itu menembus kegelapan..... semerbak wangi bunga
Ashley memenuhi ruangan… Dea sadar dengan siapa ia berhadapan….
Mata biru sendu
itu menatap tajam menghujam…. Melepaskan buraian selendang yang berterbangan di
tiup angin malam…. Dea merasa ikut terbang bersama selendang putih… semakin
jauh meninggalkan jendela kamarnya.. menuju nirwana… bersama bidadari Ashley…. Sungguh
Dea tak mampu menolak keindahan…
Tok.. tok.. tok….
“ Bli….. “ Raisha yang malam itu merasa tidak enak segera mengetuk pintu kamar
Dea….. ternyata tidak di kunci…. Raisha
menemukan Dea berdiri mematung di dekat jendela…
“ Bli……….. ada
apa?” Raisa merasa sesuatu telah terjadi dengan kekasihnya…
-----
“ Sudah tiga hari
dok… ada apa sebenarnya?” Raisa memandang Dr. Pramesti dengan serius. Ia telah
mengetahui Dea mempunyai masalah dan sering berkonsultasi dengan Dr. Pramesti,
namun sampai detik ini ia tidak tahu ada apa sebenarnya yang terjadi dengan
kekasihnya itu.
“ Apakah ia sedang
melukis atau melakukan kegiatan seninya pada saat anda menemukan dalam kondisi
ini…”
“ Tidak… ia baru saja memasuki kamarnya..”
Dr. Pramesti
terpaksa mengirimkan Dea ke Rumah sakit untuk terapi khusus.. mengingat
gangguan kejiwaan yang dialaminya membutuhkan penanganan secara intensive… Dea
hanya bisa terdiam dan membisu…. Tak seorangpun mampu membuatnya berbicara…. Tak
terkecuali Raisa kekasihnya yang dengan setia menemaninya………………
-----
Dea tersenyum
menggenggam erat tangan Ashley sang bidadari pujaannya…. Tak ingin lagi
berpisah dan menjauh darinya… jerat cinta yang membara telah terpatri dalam
hatinya.. ribuan kata puisi keindahan asmara dharma terukir dalam kanvas
hatinya. Surga cinta ini sangat membuatnya nyaman dan tak ingin kembali ke alam
sadarnya…………
[ Walau terdampar
dalam situasi yang sangat membingungkan….. Dea Penyair… tetaplah menuliskan
syair indah dalam hatiku…… Raisa ]

Oh ... Bidadariku, kau dimana? Daku ingin kau hadir kembali dalam wujud kebahagiaan seperti saat terakhir aku menatap cermin keindahan di raut wajahmu.
ReplyDeleteYa ... Tuhanku, sampai kapan kegalauan mimpi ini menjelma menjadi kebahagiaan yang hakiki? [Dea Penyair]
jd pgn punya bidadara.. Huft capek nunggu beliau yg berwujud nyata
ReplyDeleteberuntung banget bisa baca ini :)
ReplyDeletesuka sangad dng puisinya
nice post Al, ga sia-sia nunggu karena koneksi internetnya lambat