Jeep yang dikendarai Jade itu melaju dengan kencang di sepanjang jalan bebas hambatan. Beberapa kali ia melampaui kendaraan yang berada di depannya. Alunan music Jon Bon Jovi dari MP3 semakin menambah semangat untuk menambah kecepatan kendaraannya. Tak berapa lama masih dengan kecepatan tinggi namun pasti kendaraannya menempati lajur kiri dan di sebuah tikungan ia mengarahkah jeep keluaran terbaru itu kekiri. Di papan petunjuk tertulis ‘keluar’ Jade tetap memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi meski sebentar lagi ia akan memasuki jalan regular. Namun ia tentu saja sudah mengetahui bahwa jalan ini pada pukul 02:00 dini hari begini kondisinya sangat lenggang.
Masih dengan kecepatan tinggi Jeep melaju menuju sebuah tempat. Setelah beberapa saat sampailah ia di tempat tujuan… Sebuah bukit di tepi laut… Jade segera keluar dari kendaraannya dan membiarkan mesinnya dalam keadaan hidup sehingga lampu mobil masih menyala. Ia menyalakan rokok dan berdiri di depan Jeep menghadap ke laut. Pandangannya lepas menembus kegelapan.. beberapa kali ia menarik nafas panjang.. seolah melepaskan beban berat di dadanya.
Tiba tiba ia membuang rokoknya dan melepas T-sirt yang dipakainya malam itu. Dengan bertelanjang dada ia melangkah maju menghampiri ujung bukit cadas yang menghadap ke laut. Di tubuh laki laki berbadan tegap itu terdapat beberapa tattoo dan bekas luka. Seperti tidak merasakan dinginnya angin laut malam itu Ia berdiri beberapa saat…
“ Aku datang lagi May….. tak kau lihatkah tubuhku semakin hari semakin bagus saja.. ya, ini adalah hasil dari program body builder yang kujalani selama beberapa bulan.. “
“ Aku rindu padamu, May… setelah kulampiaskan rinduku padamu kepada wanita wanita kaya yang menjamah.. merasakan keperkasaanku dan kehangatan tubuhku.. Dan semua wanita wanita itu sangat menikmati setiap jengkal tubuhku.. yang seharusnya hanya kamu yang boleh menjamahnya.. “
“ Aku telah memenuhi janjiku, May… telah kubeli rumah mewah itu meski uang untuk membelinya adalah uang haram hasil penjualan narkoba, ekstasi dan shabu shabu.. selain itu uang dari hasil menjual tubuhku…”
“ Apakah kau puas, May…. Telah kubunuh si Rudy, laki laki yang telah memperkosamu dengan sangat rapi sehingga polisi menyatakan kecelakaan murni..”
“ Apalagi yang kau inginkan, May…. Tak cukupkah semua itu membuatmu segera mengajakku bersamamu?… katakan May… katakan apa lagi yang harus kulakukan agar aku bisa ikut bersamamu….”
Jade tetap berdiri menatap laut di depannya. Tulang rahangnya mengeras seolah ia menahan emosi yang sangat tinggi…. Tangannya mengepal seolah ingin segera menghantam musuh di hadapannya.
“ Aku lelah menunggumu, May…. Hidupku hitam tiada arti tampamu… mengapa kamu harus mati di sini, May….. mengapa kau tega meninggalkanku…. Aku sangat mencintaimu, May… bagaimanapun keadaanmu… masih suci atau tidak.. mengapa kamu memilih mati sendiri…..
Triiiiiiiiiiiiiiiiiiiing… triiiiiiiiiiiiiiiiiiing… triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing nada panggil yang berasal dari selullar yang berada di saku celananya berbunyi. Dibiarkan saja suara itu sampai akhirnya berhenti sendiri. Namun sejenak kemudian nada panggil itu berbunyi lagi…. Triiiiiiiiiiiiiiiiiiing… triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing.. kali ini Jade itu mengangkat sellularnya…
“ Hmm……….. ada apa?..”
“ OK… gue segera ke sana…”
Ia menghela nafas lagi… kali ini sambil mengenakan T-shirt yang dari tadi di genggamnya… ia memandang laut sejenak dan berbalik menuju mobilnya. Sesaat kemudian Jeep itu meluncur meninggalkan debu di kegelapan malam.
—–
“ Jade…. Bagaimana ini… kita bisa rugi..” Roy kelihatan cemas sekali memikirkan bahwa ada seorang anak buahnya yang tertangkap tangan sedang melakukan transaksi penjualan ekstasi di sebuah club mewah.
“ Ah, berapa sih yang dia bawa…?” laki laki yang di panggil Jade itu duduk di sofa dengan mengangkat kakinya di atas meja. Wajahnya tetap tenang seakan tak terjadi apa apa.
“ Total nilainya 3 M… belum lagi kalau ia buka mulut dari mana ia dapatkan barang itu.. bisa hancur bisnis kita..” Roy memang selalu begitu.. gampang panik.
“ Roy, sebaiknya lu pulang ke kampung dulu untuk sementara waktu, biar masalah ini gue yang urus. Bawa duit secukupnya jangan ke Jakarta kalau belum gua suruh, OK… kalo lu kurang dana tinggal e-mail gue… langsung gue kirim.” Jade merasa ini adalah jalan terbaik daripada Roy yang tidak bisa tenang itu mengacaukan rencananya mengelak dari incaran polisi.
Roy, pria tampan berpakaian trendy itu mendekati Jade… dan dengan lembut menyentuh tangannya… mata mereka saling menatap.. lalu mereka berciuman mesra.. bibir mereka bertaut hangat dan saling melumat lembut….
“ lu serius…. “ Roy masih belum mau melepaskan ciumannya.
“ Hmmmm… “ Jade juga terlihat sangat menikmati sensasi ini.
Malam itu mereka menikmati bercinta seakan melampiaskan kerinduan dan kehangatan. Jade tak menampik Roy memang sangat penakut. Sebagai seorang pria ia lebih banyak menggunakan perasaannya sehingga agak sulit dalam menghadapi situasi yang membutuhkan kekuatan mental. Namun Roy sangat hangat membuai angannya. Dibalik penampilannya yang gagah, karna ia memang seorang instruktur fitness, ia seorang yang sangat lembut. Roy mampu meredakan karakternya yang sangat keras.
—–
“ Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?..” Dua petugas kepolisian yang pagi itu datang di sambut Meta, respsionist Jade café.
“ Kami ingin bertemu pemilik Café ini.. “ Seorang diantaranya adalah wanita meminta izin bertemu Jade.
“ Ditunggu sebentar, silahkan duduk…” Meta mempersilahkan kedua anggota polisi tersebut menunggu di sofa yang terdapat di ruang tunggu customer. Ia segera mengubungi Pemilik Café lalu tak lama kemudian mengantarkan kedua anggota polisi tersebut ke ruangan pemilik Café tersebut.
“ Silahkan pak, bu… bang Jade sudah menunggu di dalam..”
Mereka memasuki sebuah ruangan yang tertata rapi dan modern. Dari penataan ruangan terkesan bahwa pemiliknya mempunyai selera yang bagus.
“ Ada yang bisa saya bantu?..” Jade pemilik Café membuka pembicaraan.
“ Café anda sangat bagus.. sudah berapa tahun berdiri?..” polisi wanita itu tiba tiba bertanya.
“ Oh.. terima kasih… baru dua tahun… silahkan datang berkunjung.. setiap weekends kami ada concert…. “ Jade setengah berpromosi.
“ Kami ingin menanyakan beberapa pertanyaan berkenaan dengan seorang pengedar ekstasi yang tertangkap kemarin di Club Bozza.. bernama Shanty.. apakah anda mengenalnya?
“ ya.. ia adalah seorang penyanyi jazz… beberapa kali saya mengontraknya untuk concert di Café ini..” Jade tampak tenang menjawab pertanyaan polisi itu.
“ Anda mengenalnya secara pribadi barangkali?..” polisi wanita itu mentap mata jade seolah mencari kejujuran laki laki berbadan kekar itu.
“ Tidak… hubungan kami hanya bisnis…” Tidak tampak ketegangan di wajah Jade.
“ Ini kartu nama saya, jika ada informasi mengenai Shanty yang ingin anda sampaikan, silahkan menghubungi saya secara pribadi.. Ok..” Polisi wanita itu menyerahkan kartu namanya kepada Jade.
Jade memang sangat lihai kalau berurusan dengan pihak yang berwajib. Ia seperti telah memahami ke arah mana pertanyaan pertanyaan penuh selidik itu. Sampai setengah jam kemudian kedua anggota polisi tersebut meninggalkan Café Jade masih bersikap biasa biasa saja.
Bisnis haram yang telah dijalankan selama lima tahun itu memang menghasilkan rupiah yang luar biasa. Jade terlalu pintar untuk menutupi bisnis itu sehingga tidak ada seorangpun agennya yang bisa menyebutkan namanya sebagai Bandar narkoba kelas kakap, Karena tak satupun dari mereka kecuali Roy, kekasihnya, mengetahui bahwa Jade lah otak dari peredaran narkoba tersebut.1326258717105884910
Dari penghasilan penjualan narkoba terbukti ia bisa mendirikan Café eksklusif di kawasan elit dan sebuah Fitness center and Spa yang dikelola Roy tak jauh dari Café. Selain itu sebuah rumah mewah di perumahan elit dan sebuh villa di daerah perbukitan mahal yang merupakan tempat bersantainya dengan Roy dan beberapa wanita kaya yang ingin menikmati kehangatan tubuhnya dengan harga selangit…..
“ Bagaimana… kelihatannya tidak ada yang disembunyikan..” Pras meminta pendapat rekannya pada saat mereka keluar dari Café.
“ yap… sama persis dengan yang dikatakan Shanty… untuk sementara kita cari info di tempat lain…”
Kedua anggota polisi tersebut segera meninggalkan Jade Café de art yang terkenal itu.
-----
Di bandara Roy mendorong troly perlahan lahan keluar ke pintu utama. Setelah di hubungi Jade bahwa keadaan telah aman Roy segera terbang menuju Ibu kota. Ia tak mampu membendung rasa rindunya kepada Jade. Entah karna memikirkan kekasihnya itu tanpa ia sadari trolynya menabrak seseorang.
“ oh, maaf mbak… saya tidak sengaja…. Mbak nggak apa apa khan.. biar saya bantu membawakan kopernya…” Roy yang merasa bersalah telah menabrak wanita cantik di depannya segera membantu membawakan koper wanita itu.
“ Ah, saya nggak apa apa kok.. biar kopernya saya bawa sendiri saja… “ wanita itu malah tersenyum.
“ baiklah kalau begitu.. sekali lagi saya minta maaf…” Roy menyerahkan koper kembali kepada wanita di depannya.
“ Kita di penerbangan yang sama ya… dari Bali juga?..” Roy berbasa basi
“ Iya… saya Xia.. “ ia mengulurkan tangannya.
“ Oh.. nama saya Roy..” Roy membalas uluran tangan wanita itu.
“ Kamu tinggal di Jakarta atau di Bali, Roy…..”
“ Saya aslinya Denpasar tetapi bekerja di Jakarta… sudah lima tahun..”
“ Oh… kalau saya dari Gianyar… kesini Cuma berlibur ke tempat kakak saya… nah itu dia di sebelah sana.. saya duluan ya…” Xia segera berlalu dari hadapan Roy.
Roy kembali meneruskan langkah menuju taxi stand.. tiba tiba kakinya menginjak sesuatu… diambilnya sebuah amplop yang ternyata sebuah ticket.. ah ternyata ticket Xia.. Roy membuka lembaran di dalamnya… wah ticket ini ternyata ticket PP… Roy mengangkat kepalanya mencari Xia yang belum lama pergi dari hadapannya, namun ia sudah tak menemukan gadis itu… ah biarlah kubawa saja.. di dalam ada nomor teleponnya.. nanti saja kalau sudah sampai di apartemennya ia menghubungi Xia… Roy segera memasuki taxi yang sudah ia pesan dan taxi segera meluncur menyusuri jalanan menuju apartement Roy.
—–
“ Apa khabar, Roy… wow… lu berubah… berapa jam berjemur di pantai sampai mateng gitu?…hahaha….” Jade yang menemui Roy di apartemannya menggoda kekasihnya yang baru keluar dari kamar mandi.
“ Hahahahah…. gue mikirin lu terus… jadi gue selancar seharian ngilangin stress… tapi keren khan…” Roy bergaya bak binaraga.. Jade mengakui Roy terlihat lebih macho dengan kulit agak gelap.
“ Ticket siapa nih… lu ke Jakarta bawa temen.. kok nggak bilang bilang?.. “ Jade meraih sebuah amplop setengah terbuka di meja. Ia membaca nama pada ticket tersebut… Xia…
“ Oh… tadi di bandara gue nabrak tuh cewek.. dan ternyata ticketnya jatuh.. pas gue cari orangnya sudah hilang… ya sudah gue bawa aja… tapi udah gue telepon kok… nomer registrasinya sudah di salin jadi tinggal konfirmasi ke ticket agent aja minta ticket baru……” Roy menjelaskan
“ Lho.. nggak lu suruh ambil aja Roy… cakep khan tuh cewek .. namanya aja Xia.. biasanya lu suka tuh kalo ada cewek yang namanya aneh aneh gitu.. hahaha…” Jade menggoda Roy lagi sambil matanya tak lepas memandang Roy yang bertelanjang dada sedang bercukur di depan washtafel…….
“ Sekali lagi godain.. gue lempar botol aftershave lu….. hahaha…“ Roy tertawa sambil meneruskan mencukur.
“ Lu kok kelihatan makin sexy aja, Roy… hmm… mau nyaingin gue ya…” tiba tiba Jade sudah berada di belakang Roy.
“ Gue intens fitness selama dua minggu ini di kampung.. gue khan udah bilang.. ngilangin stress… Roy yang sudah selesai bercukur mengoleska aftershave di wajahnya yang terlihat bersih.
Dan mereka tak mau menyia nyiaka waktu berlalu dengan melepas rindu. Kedua pasangan gay itu memang saling membutuhkan. Mereka saling menutupi kelemahan masing masing. Cinta… ah entahlah.. sudah lama tidak menyebutkan kata kata itu karna keduanya telah membeku akan hadirnya cinta dalam hati mereka.
Jade yang ditinggal bunuh diri kekasihnya May yang diperkosa oleh bos nya sendiri. Sementara Roy telah ditinggal kekasih wanitanya dengan pria lain yang lebih kaya darinya saat itu. Keduanya dipertemukan dalam kondisi hancur dan tidak memiliki apa apa… dari sana timbulah dendam dan akhirnya menghasilkan sebuah kekuatan yang mampu membuat mereka bangkit dari keterpurukan bahkan mereka mampu merajai dunia dalam genggaman walau cara yang di tempuh sangat beresiko.
—–
“ Roy… nggak nyangka bertemu di sini…. Sendirian aja” Xia berdiri menyalami Roy yang hari itu mendatangi Jade di kantornya untuk sebuah urusan bisnis.
“ Oh.. apa kabar, Xia… iya.. kebetulan ada perlu sama pemilik Café ini…”
“ Kenalkan, ini kakak Xia… Marsya…” Xia memperkenalkan kakaknya yang duduk membelakangi Roy.
“ Apa khabar… Roy..!!! ” Marsya terkejut memandang pria yang berada di depannya.. Marsya yang enam tahun lalu meninggalkan Roy karna memilih pria lain..
“ Oh.. apa khabar Marsya….” Roy terlihat sedikit gugup.
“ Ah… kalian sudah saling mengenal rupanya…. Roy gabung dengan kami saja…” Xia memecah ketegangan di antara keduannya.
“ Maaf, saya ada urusan jadi tidak bisa begabung dengan kalian… selamat bersenang senang ya… Xia.. Marsya… saya permisi dulu…” Roy segera melangkah meninggalkan mereka diiringi tatapan takjub Marsya dengan penampilan Roy saat ini.
Di dalam ruangan Jade sudah menunggu… dari ruangan Jade di lantai dua memang bisa memandang keseluruhan ruangan di Café tersebut namun tidak sebaliknya.
“ Lu kenal dengan cewek cewek itu, Roy….” Jade langsung menanyakan hal tersebut ketika Roy memasuki ruangannya.
“ Ya… itu Xia… yang gue ceritakan kemarin lusa… bersama kakaknya Marsya …”
“ Lu tau nggak, kakak Xia adalah seorang intel… tidak menutup kemungkinan Xia juga.. tapi gue belum dapet info tentang dia..”
“ Oh ya???… ia juga seseorang di masa lalu yang membuat gue jadi seperti sekarang ini…waktu kami berpisah dia masih kuliah. Gue nggak menyangka bertemu dia di sini… apalagi dia menjadi seorang polisi. ” Roy menghempaskan tubuhnya di sofa diikuti Jade yang duduk di sebelahnya.
“ hmmm… jadi ternyata wanita yang telah menyakitimu itu Marsya… kau tahu, Marsya menangani kasus Shanty ingat nggak lu.. sampai sekarang kasusnya buntu. Jadi kemungkinan mereka berdua ‘on duty’… gue cuma pesen sama lu… to be careful….“ Jade memandang Roy dengan serius.. tangannya meraih jemari Roy dan mengenggamnya dengan erat,
“ Ok….thanx Jade….” Roy mmembalas genggaman Jade.
“ Lu nggak ingin kembali padanya, bukan? “ Jade memeluk Roy dengan mesra.
“ Gila lu ya…. Gue malah nggak ingin bertemu lagi dengannya…. Sakit yang ia berikan ke gue sudah cukup….” Roy membiarkan Jade menciumi lehernya dengan penuh hasrat……..
-----

No comments:
Post a Comment