Thursday, March 8, 2012

Jade cafe' the art


Jeep yang dikendarai Jade itu melaju dengan kencang di sepanjang jalan bebas hambatan. Beberapa kali ia melampaui kendaraan yang berada di depannya. Alunan music Jon Bon Jovi dari MP3 semakin menambah semangat untuk menambah kecepatan kendaraannya. Tak berapa lama masih dengan kecepatan tinggi namun pasti kendaraannya menempati lajur kiri dan di sebuah tikungan ia mengarahkah jeep keluaran terbaru itu kekiri. Di papan petunjuk tertulis ‘keluar’ Jade tetap memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi meski sebentar lagi ia akan memasuki jalan regular. Namun ia tentu saja sudah mengetahui bahwa jalan ini pada pukul 02:00 dini hari begini kondisinya sangat lenggang.
Masih dengan kecepatan tinggi Jeep melaju menuju sebuah tempat. Setelah beberapa saat sampailah ia di tempat tujuan… Sebuah bukit di tepi laut… Jade segera keluar dari kendaraannya dan membiarkan mesinnya dalam keadaan hidup sehingga lampu mobil masih menyala. Ia menyalakan rokok dan berdiri di depan Jeep menghadap ke laut. Pandangannya lepas menembus kegelapan.. beberapa kali ia menarik nafas panjang.. seolah melepaskan beban berat di dadanya.
Tiba tiba ia membuang rokoknya dan melepas T-sirt yang dipakainya malam itu. Dengan bertelanjang dada ia melangkah maju menghampiri ujung bukit cadas yang menghadap ke laut. Di tubuh laki laki berbadan tegap itu terdapat beberapa tattoo dan bekas luka. Seperti tidak merasakan dinginnya angin laut malam itu Ia berdiri beberapa saat…
“ Aku datang lagi May….. tak kau lihatkah tubuhku semakin hari semakin bagus saja.. ya, ini adalah hasil dari program body builder yang kujalani selama beberapa bulan.. “
“ Aku rindu padamu, May… setelah kulampiaskan rinduku padamu kepada wanita wanita kaya yang menjamah.. merasakan keperkasaanku dan kehangatan tubuhku.. Dan semua wanita wanita itu sangat menikmati setiap jengkal tubuhku.. yang seharusnya hanya kamu yang boleh menjamahnya.. “
“ Aku telah memenuhi janjiku, May… telah kubeli rumah mewah itu meski uang untuk membelinya adalah uang haram hasil penjualan narkoba, ekstasi dan shabu shabu.. selain itu uang dari hasil menjual tubuhku…”
“ Apakah kau puas, May…. Telah kubunuh si Rudy, laki laki yang telah memperkosamu dengan sangat rapi sehingga polisi menyatakan kecelakaan murni..”
“ Apalagi yang kau inginkan, May…. Tak cukupkah semua itu membuatmu segera mengajakku bersamamu?… katakan May… katakan apa lagi yang harus kulakukan agar aku bisa ikut bersamamu….”
Jade tetap berdiri menatap laut di depannya. Tulang rahangnya mengeras seolah ia menahan emosi yang sangat tinggi…. Tangannya mengepal seolah ingin segera menghantam musuh di hadapannya.
“ Aku lelah menunggumu, May…. Hidupku hitam tiada arti tampamu… mengapa kamu harus mati di sini, May….. mengapa kau tega meninggalkanku…. Aku sangat mencintaimu, May… bagaimanapun keadaanmu… masih suci atau tidak.. mengapa kamu memilih mati sendiri…..
Triiiiiiiiiiiiiiiiiiiing… triiiiiiiiiiiiiiiiiiing… triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing nada panggil yang berasal dari selullar yang berada di saku celananya berbunyi. Dibiarkan saja suara itu sampai akhirnya berhenti sendiri. Namun sejenak kemudian nada panggil itu berbunyi lagi…. Triiiiiiiiiiiiiiiiiiing… triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing.. kali ini Jade itu mengangkat sellularnya…
“ Hmm……….. ada apa?..”
“ OK… gue segera ke sana…”
Ia menghela nafas lagi… kali ini sambil mengenakan T-shirt yang dari tadi di genggamnya… ia memandang laut sejenak dan berbalik menuju mobilnya. Sesaat kemudian Jeep itu meluncur meninggalkan debu di kegelapan malam.

—–

“ Jade…. Bagaimana ini… kita bisa rugi..” Roy kelihatan cemas sekali memikirkan bahwa ada seorang anak buahnya yang tertangkap tangan sedang melakukan transaksi penjualan ekstasi di sebuah club mewah.
“ Ah, berapa sih yang dia bawa…?” laki laki yang di panggil Jade itu duduk di sofa dengan mengangkat kakinya di atas meja. Wajahnya tetap tenang seakan tak terjadi apa apa.
“ Total nilainya 3 M… belum lagi kalau ia buka mulut dari mana ia dapatkan barang itu.. bisa hancur bisnis kita..” Roy memang selalu begitu.. gampang panik.
“ Roy, sebaiknya lu pulang ke kampung dulu untuk sementara waktu, biar masalah ini gue yang urus. Bawa duit secukupnya jangan ke Jakarta kalau belum gua suruh, OK… kalo lu kurang dana tinggal e-mail gue… langsung gue kirim.” Jade merasa ini adalah jalan terbaik daripada Roy yang tidak bisa tenang itu mengacaukan rencananya mengelak dari incaran polisi.
Roy, pria tampan berpakaian trendy itu mendekati Jade… dan dengan lembut menyentuh tangannya… mata mereka saling menatap.. lalu mereka berciuman mesra.. bibir mereka bertaut hangat dan saling melumat lembut….
“ lu serius…. “ Roy masih belum mau melepaskan ciumannya.
“ Hmmmm… “ Jade juga terlihat sangat menikmati sensasi ini.
Malam itu mereka menikmati bercinta seakan melampiaskan kerinduan dan kehangatan. Jade tak menampik Roy memang sangat penakut. Sebagai seorang pria ia lebih banyak menggunakan perasaannya sehingga agak sulit dalam menghadapi situasi yang membutuhkan kekuatan mental. Namun Roy sangat hangat membuai angannya. Dibalik penampilannya yang gagah, karna ia memang seorang instruktur fitness, ia seorang yang sangat lembut. Roy mampu meredakan karakternya yang sangat keras.

—–

“ Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?..” Dua petugas kepolisian yang pagi itu datang di sambut Meta, respsionist Jade café.
“ Kami ingin bertemu pemilik Café ini.. “ Seorang diantaranya adalah wanita meminta izin bertemu Jade.
“ Ditunggu sebentar, silahkan duduk…” Meta mempersilahkan kedua anggota polisi tersebut menunggu di sofa yang terdapat di ruang tunggu customer. Ia segera mengubungi Pemilik Café lalu tak lama kemudian mengantarkan kedua anggota polisi tersebut ke ruangan pemilik Café tersebut.
“ Silahkan pak, bu… bang Jade sudah menunggu di dalam..”
Mereka memasuki sebuah ruangan yang tertata rapi dan modern. Dari penataan ruangan terkesan bahwa pemiliknya mempunyai selera yang bagus.
“ Ada yang bisa saya bantu?..” Jade pemilik Café membuka pembicaraan.
“ Café anda sangat bagus.. sudah berapa tahun berdiri?..” polisi wanita itu tiba tiba bertanya.
“ Oh.. terima kasih… baru dua tahun… silahkan datang berkunjung.. setiap weekends kami ada concert…. “ Jade setengah berpromosi.
“ Kami ingin menanyakan beberapa pertanyaan berkenaan dengan seorang pengedar ekstasi yang tertangkap kemarin di Club Bozza.. bernama Shanty.. apakah anda mengenalnya?
“ ya.. ia adalah seorang penyanyi jazz… beberapa kali saya mengontraknya untuk concert di Café ini..” Jade tampak tenang menjawab pertanyaan polisi itu.
“ Anda mengenalnya secara pribadi barangkali?..” polisi wanita itu mentap mata jade seolah mencari kejujuran laki laki berbadan kekar itu.
“ Tidak… hubungan kami hanya bisnis…” Tidak tampak ketegangan di wajah Jade.
“ Ini kartu nama saya, jika ada informasi mengenai Shanty yang ingin anda sampaikan, silahkan menghubungi saya secara pribadi.. Ok..” Polisi wanita itu menyerahkan kartu namanya kepada Jade.
Jade memang sangat lihai kalau berurusan dengan pihak yang berwajib. Ia seperti telah memahami ke arah mana pertanyaan pertanyaan penuh selidik itu. Sampai setengah jam kemudian kedua anggota polisi tersebut meninggalkan Café Jade masih bersikap biasa biasa saja.
Bisnis haram yang telah dijalankan selama lima tahun itu memang menghasilkan rupiah yang luar biasa. Jade terlalu pintar untuk menutupi bisnis itu sehingga tidak ada seorangpun agennya yang bisa menyebutkan namanya sebagai Bandar narkoba kelas kakap, Karena tak satupun dari mereka kecuali Roy, kekasihnya, mengetahui bahwa Jade lah otak dari peredaran narkoba tersebut.1326258717105884910
Dari penghasilan penjualan narkoba terbukti ia bisa mendirikan Café eksklusif di kawasan elit dan sebuah Fitness center and Spa yang dikelola Roy tak jauh dari Café. Selain itu sebuah rumah mewah di perumahan elit dan sebuh villa di daerah perbukitan mahal yang merupakan tempat bersantainya dengan Roy dan beberapa wanita kaya yang ingin menikmati kehangatan tubuhnya dengan harga selangit…..
“ Bagaimana… kelihatannya tidak ada yang disembunyikan..” Pras meminta pendapat rekannya pada saat mereka keluar dari Café.
“ yap… sama persis dengan yang dikatakan Shanty… untuk sementara kita cari info di tempat lain…”
Kedua anggota polisi tersebut segera meninggalkan Jade Café de art yang terkenal itu.

-----

 Di bandara Roy mendorong troly perlahan lahan keluar ke pintu utama. Setelah di hubungi Jade bahwa keadaan telah aman Roy segera terbang menuju Ibu kota. Ia tak mampu membendung rasa rindunya kepada Jade. Entah karna memikirkan kekasihnya itu tanpa ia sadari trolynya menabrak seseorang.
“ oh, maaf mbak… saya tidak sengaja…. Mbak nggak apa apa khan.. biar saya bantu membawakan kopernya…” Roy yang merasa bersalah telah menabrak wanita cantik di depannya segera membantu membawakan koper wanita itu.
“ Ah, saya nggak apa apa kok.. biar kopernya saya bawa sendiri saja… “ wanita itu malah tersenyum.
“ baiklah kalau begitu.. sekali lagi saya minta maaf…” Roy menyerahkan koper kembali kepada wanita di depannya.
“ Kita di penerbangan yang sama ya… dari Bali juga?..” Roy berbasa basi
“ Iya… saya Xia.. “ ia mengulurkan tangannya.
“ Oh.. nama saya Roy..” Roy membalas uluran tangan wanita itu.
“ Kamu tinggal di Jakarta atau di Bali, Roy…..”
“ Saya aslinya Denpasar tetapi bekerja di Jakarta… sudah lima tahun..”
“ Oh… kalau saya dari Gianyar… kesini Cuma berlibur ke tempat kakak saya… nah itu dia di sebelah sana.. saya duluan ya…” Xia segera berlalu dari hadapan Roy.
Roy kembali meneruskan langkah menuju taxi stand.. tiba tiba kakinya menginjak sesuatu… diambilnya sebuah amplop yang ternyata sebuah ticket.. ah ternyata ticket Xia.. Roy membuka lembaran di dalamnya… wah ticket ini ternyata ticket PP… Roy mengangkat kepalanya mencari Xia yang belum lama pergi dari hadapannya, namun ia sudah tak menemukan gadis itu… ah biarlah kubawa saja.. di dalam ada nomor teleponnya.. nanti saja kalau sudah sampai di apartemennya ia menghubungi Xia… Roy segera memasuki taxi yang sudah ia pesan dan taxi segera meluncur menyusuri jalanan menuju apartement Roy.

—–

“ Apa khabar, Roy… wow… lu berubah… berapa jam berjemur di pantai sampai mateng gitu?…hahaha….” Jade yang menemui Roy di apartemannya menggoda kekasihnya yang baru keluar dari kamar mandi.
“ Hahahahah…. gue mikirin lu terus… jadi gue selancar seharian ngilangin stress… tapi keren khan…” Roy bergaya bak binaraga.. Jade mengakui Roy terlihat lebih macho dengan kulit agak gelap.
“ Ticket siapa nih… lu ke Jakarta bawa temen.. kok nggak bilang bilang?.. “ Jade meraih sebuah amplop setengah terbuka di meja. Ia membaca nama pada ticket tersebut… Xia…
“ Oh… tadi di bandara gue nabrak tuh cewek.. dan ternyata ticketnya jatuh.. pas gue cari orangnya sudah hilang… ya sudah gue bawa aja… tapi udah gue telepon kok… nomer registrasinya sudah di salin jadi tinggal konfirmasi ke ticket agent aja minta ticket baru……” Roy menjelaskan
“ Lho.. nggak lu suruh ambil aja Roy… cakep khan tuh cewek .. namanya aja Xia.. biasanya lu suka tuh kalo ada cewek yang namanya aneh aneh gitu.. hahaha…” Jade menggoda Roy lagi sambil matanya tak lepas memandang Roy yang bertelanjang dada sedang bercukur di depan washtafel…….
“ Sekali lagi godain.. gue lempar botol aftershave lu….. hahaha…“ Roy tertawa sambil meneruskan mencukur.
“ Lu kok kelihatan makin sexy aja, Roy… hmm… mau nyaingin gue ya…” tiba tiba Jade sudah berada di belakang Roy.
“ Gue intens fitness selama dua minggu ini di kampung.. gue khan udah bilang.. ngilangin stress… Roy yang sudah selesai bercukur mengoleska aftershave di wajahnya yang terlihat bersih.
Dan mereka tak mau menyia nyiaka waktu berlalu dengan melepas rindu. Kedua pasangan gay itu memang saling membutuhkan. Mereka saling menutupi kelemahan masing masing. Cinta… ah entahlah.. sudah lama tidak menyebutkan kata kata itu karna keduanya telah membeku akan hadirnya cinta dalam hati mereka.
Jade yang ditinggal bunuh diri kekasihnya May yang diperkosa oleh bos nya sendiri. Sementara Roy telah ditinggal kekasih wanitanya dengan pria lain yang lebih kaya darinya saat itu. Keduanya dipertemukan dalam kondisi hancur dan tidak memiliki apa apa… dari sana timbulah dendam dan akhirnya menghasilkan sebuah kekuatan yang mampu membuat mereka bangkit dari keterpurukan bahkan mereka mampu merajai dunia dalam genggaman walau cara yang di tempuh sangat beresiko.
—–
“ Roy… nggak nyangka bertemu di sini…. Sendirian aja” Xia berdiri menyalami Roy yang hari itu mendatangi Jade di kantornya untuk sebuah urusan bisnis.
“ Oh.. apa kabar, Xia… iya.. kebetulan ada perlu sama pemilik Café ini…”
“ Kenalkan, ini kakak Xia… Marsya…” Xia memperkenalkan kakaknya yang duduk membelakangi Roy.
“ Apa khabar… Roy..!!! ” Marsya terkejut memandang pria yang berada di depannya.. Marsya yang enam tahun lalu meninggalkan Roy karna memilih pria lain..
“ Oh.. apa khabar Marsya….” Roy terlihat sedikit gugup.
“ Ah… kalian sudah saling mengenal rupanya…. Roy gabung dengan kami saja…” Xia memecah ketegangan di antara keduannya.
“ Maaf, saya ada urusan jadi tidak bisa begabung dengan kalian… selamat bersenang senang ya… Xia.. Marsya… saya permisi dulu…” Roy segera melangkah meninggalkan mereka diiringi tatapan takjub Marsya dengan penampilan Roy saat ini.
Di dalam ruangan Jade sudah menunggu… dari ruangan Jade di lantai dua memang bisa memandang keseluruhan ruangan di Café tersebut namun tidak sebaliknya.
“ Lu kenal dengan cewek cewek itu, Roy….” Jade langsung menanyakan hal tersebut ketika Roy memasuki ruangannya.
“ Ya… itu Xia… yang gue ceritakan kemarin lusa… bersama kakaknya Marsya …”
“ Lu tau nggak, kakak Xia adalah seorang intel… tidak menutup kemungkinan Xia juga.. tapi gue belum dapet info tentang dia..”
“ Oh ya???… ia juga seseorang di masa lalu yang membuat gue jadi seperti sekarang ini…waktu kami berpisah dia masih kuliah. Gue nggak menyangka bertemu dia di sini… apalagi dia menjadi seorang polisi. ” Roy menghempaskan tubuhnya di sofa diikuti Jade yang duduk di sebelahnya.
“ hmmm… jadi ternyata wanita yang telah menyakitimu itu Marsya… kau tahu, Marsya menangani kasus Shanty ingat nggak lu.. sampai sekarang kasusnya buntu. Jadi kemungkinan mereka berdua ‘on duty’… gue cuma pesen sama lu… to be careful….“ Jade memandang Roy dengan serius.. tangannya meraih jemari Roy dan mengenggamnya dengan erat,
“ Ok….thanx Jade….” Roy mmembalas genggaman Jade.
“ Lu nggak ingin kembali padanya, bukan? “ Jade memeluk Roy dengan mesra.
“ Gila lu ya…. Gue malah nggak ingin bertemu lagi dengannya…. Sakit yang ia berikan ke gue sudah cukup….” Roy membiarkan Jade menciumi lehernya dengan penuh hasrat……..

-----
 
" Yess………….” Roy berjalan menuju hole yang jaraknya sekitar 12 meter dari teeing ground. Dibelakangnya seorang caddie mengikutinya. Dari pukulan driver1 tadi posisi bola masih sekitar 2 atau 3 meter dari hole yang ditandai oleh flag stick. Kali ini Roy berkonsentrasi mengarahkan bola kecil berwarna putih itu ke hole di depannya. Ia meminta caddie memberikan tongkat golf jenis putter 1 untuk pukulan lurus. Beberapa detik kemudian bola berwarna putih itu meluncur kencang dan hole..!! Roy berdiri menikmati permainan hari ini dengan perasaan puas. Roy memutuskan mengakhiri permainan golf dan pulang. Hari ini ia berjanji akan bertemu dengan Jade…katanya ada yang ingin dibicarakan… Hmmm… sudah satu minggu ia tidak bertemu dengan kekasihnya itu. Masing masing tengah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Hari Minggu pagi tadi Jade masih berada di Bandung mengurus pembukaan cabang Jade Café de Art yang baru akan launching bulan depan. Sementara dirinya juga tengah mempersiapkan pembangunan fasilitas baru untuk fitness center and spa miliknya berupa food court dan swimming pool. Konsep one stop health memang sedang dibuatnya sehingga costumer bisa menikmati fasilitas olahraga dalam satu atap dan tentu saja hal ini akan menambah pundi pundi kekayaannya. Roy tersenyum seiring dibelokan mobilnya menuju rumah jade.
“ Jam berapa pulang dari Bandung..? “ Roy melihat Jade sudah santai dengan celana pendek dan kaos oblong .
“ Tadi jam tiga……. “ Jade mnyodorkan rokok.
“ Gue melihat Marsya di Bandung… jelas.. kalau mereka mulai mengikuti gue..” Jade menyandarkan punggungnya di sofa sambil menikmati hisapan rokok yang baru saja dinyalakan.
“ Gue ada strategi baru… begini…………………………………………………..”
Jade seorang pria cerdas. Tidak mudah menundukan pria itu tak terkecuali polisi. Ia merasa mampu menghadapi polisi seorang diri, namun ia harus memikirkan Roy… mantan kekasih Roy yang seorang polisi itu mulai membayangi kegiatan haram mereka. Jade harus memutar otak agar Roy tidak terbawa suasana sehingga mengacaukan semuanya.
Hmmmm…… Marsya… gue tunggu permainan apa yang akan kamu berikan….
—–
“ Roy… kamu kelihatan berubah sekarang… kamu bekerja di sini?…” Marsya menjabat tangan Roy ketika suatu hari ia bertemu wanita itu di Spa miliknya.
“ Oh, ya…. Apa kabar Marsya?..” Seperti biasa Roy tak bisa menutupi rasa gugupnya.
“ Kamu sudah menikah atau belum?..” Marsya tersenyum masih terlihat manis meski ia hampir melupakan senyum itu selama hampir enam tahun.
“ Seperti yang kamu lihat.. aku masih sendiri…”
“ Kamu tidak menanyakan aku?.. kamu tidak ingin tahu ya, Roy?.. atau kamu masih marah padaku?… kamu tidak menghendaki pertemuan ini khan Roy?…” Marsya seakan tahu apa yang dirasakan Roy saat itu.
13271195081887563768“ Ah, maaf… kamu sudah menikah?..” Roy terpaksa melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak ia inginkan. Entah mengapa bertemu Marsya hatinya menjadi sedikit berdebar. Apakah ia masih menyimpan perasaan terhadap Marsya atau hanya pesona sesaat karna Marsya sekarang ini terlihat begitu cantik, matang dan dewasa.. tidak gadis manja dan kolokan seperti enam tahun yang lalu. Entahlah…. Roy hanya mampu menyimpan dalam dalam perasaan itu.
“ Hahahaha…. Aku tahu sebenarnya kamu tidak ingin bertanya tentang hal itu, Roy…” sekali lagi Roy terkejut, Marsya seolah mampu membaca pikirannya.
“ waduh… jadi aku harus bagaimana, Marsya….. jadi serba salah…” Kali ini Roy tersenyum menyadari kebodohannya.
“ Hahahaha… aku masih single Roy.. sama denganmu..” Marsya tertawa sekali lagi… ia sudah hafal, karakter Roy yang selalu salah tingkah di depan wanita dari dulu.
“ Boleh minta nomor pin BB nya?… “ Marsya melirik BB seri terbaru yang berada di genggaman Roy.
“ Oh, boleh….” Roy tak mampu mengelak ketika akhirnya Marsya juga memberikan nomor pin BB nya.
“ Sampai ketemu lagi, Roy…. Bye…….” Marsya berlalu dari hadapannya.. meninggalkan Roy yang masih menata hatinya dari getar-getar yang ia sendiri tak mampu mengartikan.
—–
Hmmm…. Itu dia… Jade melangkah di sebuah meja yang menghadap ke taman. Seorang wanita tengah menunggunya… Ia memang sengaja mengundang Marsya ke sebuah Cafe. Setelah pertemuan mereka pada saat Marsya melakukan investigasi beberapa minggu yang lalu, Jade masih menyimpan nomor ponsel Marsya.. jadi tidak sulit menghubungi polisi cantik ini.
“ Selamat sore … maaf sudah menunggu…” Jade mengambil tempat duduk tepat di hadapan wanita itu.
“ Ah… nggak masalah… anda pasti sangat sibuk, ya….” Wanita itu tersenyum
“ Untuk wanita secantik anda, saya bersedia kapan saja…. Tapi lebih baik memanggil Jade saja… lebih santai. Anda mau minum apa? ..” Jade mengakui wanita di depannya itu memang cantik. Dengan tubuh semampai, celana jeans dan blouse putihnya ia terlihat sangat elegant.
“ Kopi saja… thank’s….. dan memanggil Marsya saja juga OK..” senyum manisnya menghiasi wajahnya yang cantik.
Jade segera memanggil pelayan dan memesan secangkir Coffee cream dan Black coffe.
“ Jadi benar kamu yang menangani kasus pengedaran narkoba setelah tertangkapnya penyanyi jazz Shanty?… “ Jade membuka topik pembicaraan sore ini.
“ Ya… mengapa ? apa saya nggak pantes menangani kasus itu? ..” Jade tahu, Marsya bercanda.
“ Hahahaha…. Wanita secantik kamu lebih cocok berada di Spa atau Catwalk… bukan ke tempat tempat berbahaya sarang Bandar narkoba…” Jade mengimbangi candaan Marsya.
Sore itu Jade dan Marsya menikmati waktu mereka. Jade seolah ingin menunjukkan bahwa ia sangat terpesona dengan keindahan sosok wanita di hadapannya. Marsya yang matang sangat pintar bercanda dan memutar-mutar fakta sehingga obrolan serius menjadi santai penuh canda tawa.
Marsya seorang anggota reserse yang saat ini menangani kasus Narkoba itu lulusan dari AKPOL empat tahun yang lalu. Sarjana Phisikologi yang lulus dengan predikat cumlaud itu telah berhasil mengungkap berbagai kasus pengedaran Narkoba di berbagai daerah. Kesuksesan yang di raihnya membawanya dipindah tugaskan ke ibukota yang merupakan endemic penyebaran Narkoba di seluruh pelosok negri.
Hmmm… Jade menghela nafas panjang… baginya tidaklah sulit menundukkan wanita, namun ia menyadari Marsya sangat mengerti seluk- beluk phsikologi.. ia harus berhati-hati.. pengalaman wanita itu dalam menundukkan kelinci pelaku kejahatan pengedar Narkoba memang handal namun bagaimana jika ia harus berhadapan dengan cinta?…. Jade tak pernah melepaskan merpati dalam genggamannya sebelum ia menikmati keindahan kepak sayap burung itu. Kita akan lihat siapa yang bertahan kelinci atau merpati ……………………..

Pertemuan berlanjut di hari hari selanjutnya. Keduannya saling mengagumi dan menyatu dalam segala hal. Jade sangat sempurna di mata Marsya sehingga ia tak mampu membendung kekagumannya pada pria bebadan tegap itu. Tak terlalu lama Marsyapun jatuh cinta pada Jade. Dah inilah yang diinginkan Jade. Mereka menjalin hubungan indah ini tanpa sepengetahuan Roy. Jade sangat pintar menyembunyikan fakta sehingga sampai detik ini Roy tidak pernah mengetahui hubugannya dengan Marsya dan Marsyapun tak mengetahui kedekatan Roy dengan pria yang telah mengisi hari-harinya akhir akhir ini.
-----
 
 “ Gue kangen lu Roy….” Jade meraih Roy dalam pelukan dan keduanya tenggelam dalam pergumulan yang menggetarkan. Malam itu setelah berkencan dengan Marsya Jade sengaja mampir ke apartemen Roy.
“ Sialan lu Jade…. Lama nggak ada beritanya… “ Roy masih dalam dekapan Jade.. mereka berciuman mesra dan hangat.

“ Masih dalam planning yang sudah kita rancang , honey….. sementara begini khan tidak apa apa… daripada polisi semakin menteror kita….. lu bisa bersabar khan..?…” Jade menikmati setiap ciuman Roy.


Sudah hampir satu bulan mereka menjaga jarak dan berusaha tidak berkomunikasi karna Jade mencium gelagat aparat yang mencurigai aktifitas mereka. Namun sejak ia berhubungan dengan Marsya sedikit demi sedikit ia bisa mengalihkan perhatian aparat tentu saja lewat gadis itu. Jade memang pintar….. disamping keindahan tubuh Marsya memang tak mungkin ia sia siakan…

—–


Sial…Apa yang terjadi denganku?… Benarkah apa yang kurasakan? Aku menikmati sekali belaian lembut tangan Jade.. Brengseeekkk….. ini seharusnya tak boleh terjadi… aku harus berusaha kuat… c’mon… dimana Marsya yang tegas dan kuat selama ini?… Dimana janji Marsya yang tak akan jatuh cinta setelah ia disakiti kekasih yang di cintainya?.. dimana kecurigaan terhadap Jade bahwa laki laki itu terlibat dalam rangkaian penjualan Narkoba di ibukota?… mengapa ia begitu bodohnya terjatuh dalam pelukan Jade?.. Mengapa ia tak mampu menepis pesona pria dengan harum yang sangat menggoa hasratnya.

Huft…Marsya menarik nafas panjang… bagaimana ini…. Minimal sekali informasi yang mampu ia dapatkan dari kebersamaannya dengan Jade selama ini… malah justru sebaliknya… Jade begitu sabar menjadi pendengar setia setiap curhatnya…. Polisi apa aku ini… shit…!!!!!


—–


Dalam resahnya Marsya keluar rumah.. ia ingin mencari udara segar. Beberapa langkah dari rumahnya ia merasa ada seseorang yang mengawasinya. Dengan langkah tenang dan tetap siaga ia kembali masuk rumah sambil menekan nomor kode polisi… dengan suara pelan pelan ia menginstruksikan pengepungan di sekitar rumahnya sesegera mungkin.

Marsya tetap berjaga di balik pintu ketika tiba tiba sekitar lima orang bertopeng berbadan tinggi besar dan bersenjata menyerang masuk.. Marsya mengadakan perlawanan namun kelima laki laki bertopeng itu terlalu tangguh untuknya. Pada tembakan terakhirpun sebelum pelurunya habis Marsya belum bisa lolos dari kepungan kelimanya. Pada saat mengganti peluru pada pistolnya tiba tiba dari arah belakangya seseorang menerjang.. Marsya masih mampu melakukan perlawanan… laki laki itu jatuh terhuyung huyung tekena tendangan dante Marsya.. namun keributan di ruang belakang mengundang rekan rekannya yang lain. Marsya sebenarnya bukan wanita yang lemah.. sabuk hitam yang di milikinya mampu mempertahankan diri dari kepungan sepuluh orang sekalipun. Namun tiba tiba …Dor..!!! sebutir peluru menusuk perut kanannya sehingga gerakannya menjadi tidak seimbang antara bertahan serangan kelima laki laki tersebut dan kehilangan banyak darah karna tembakan peluru di perutnya… Marsya terhuyung seiring terdengarnya suara sirine polisi mendekati lokasi rumah Marsya dan suara sepatu melangkah ke dalam rumah.… suara perintah untuk menyerah tak dihiraukan karna kelima pria tersebut dengan senjata api melakukan perlawanan dan segara melarikan diri dengan mobil dari arah gang yang berada di belakang rumah Marsya…. Mobil patroli dengan sigap mengejar mobil pelaku penyerangan di rumah Marsya….Sementara beberapa rekan polisi menemukan Marsya tak sadarkan diri bersimbah darah di ruangan belakang. Gadis itu segera dilarikan ke rumah sakit.


—–

“ Gue ingin menjenguknya, Jade…. Kasihan dia….” Roy yang kelihatan cemas setelah membaca berita di surat kabar tentang penembakan seorang anggota piolisi. Ia memang telah mendapat berita dari Xia bahwa benar yang tertembak itu adalah kakaknya, Marsya.

“ Sebaiknya sabar dulu Roy… kita lihat perkembangannya…. Kalo kira kira sudah aman, lu boleh menjenguknya…” Jade memberi saran

“ Bukan lu khan yang memerintahkan penyerangan itu?…” Roy terlihat sedikit emosi ketika mengetahui bahwa kelima penyerang Marsya yang telah tertangkap adalah gerombolan yang dibayar untuk membunuh Marsya karna polisi wanita itu mencurigai dan memata matai kegiatan seseorang yang telah membayar mereka.

Jade memandang Roy dengan tajam… kali ini ada kilatan kemarahan di mata Jade…

“ Roy… lu masih mencintai Marsya..? “ Jade melontarkan pertanyaan dengan tiba tiba.

Roy hanya terdiam dan memandang jendela seolah mencari jawaban….

“ Jawablah Roy…. “ Jade meraih bangku dan duduk di hadapan Roy…

“ Aahh….. entahlah… gue nggak tau… tapi benar bukan lu khan yang membayar orang untuk membunuh Marsya? “ Roy malah bertanya. Jade menggelengkan kepala dan meraih tangan Roy yang dingin. Ia tahu Roy sedang dalam dilema…….

“ Sudahlah, Roy…. Lu nggak perlu khawatir…. Bukan gue yang melakukan… I swear!!…” Jade meraih kepala Roy dan membawanya dalam dekapan… mereka berpelukan erat…


—–

“ Ayo Roy… “ Xia menarik tangan Roy yang terlihat ragu ragu melangkah. Ia telah berjanji kepada Jade untuk tidak menjenguk Marsya sebelum keadaan aman dan menunggu berita dari Jade. Namun Xia mengajaknya menjenguk kakaknya saat ini juga….

“ Iya, Xia… sebentar .. saya telpon teman dulu ya… sebab saya janji hari ini… kasihan nanti dia menunggu….” Roy berusaha mencari alasan menghubungi Jade. Namun nomor Jade tidak aktif.. huft… ya sudahlah… mudah mudahan tidak terjadi apa apa.. lagipula ia menjenguk bersama Xia, adiknya.

Ruangan tempat Marsya di rawat sangat bersih… tidak ada pasien dan paramedis berlalu lalang karna ruangan di sekitar kamar Marsya sengaja di kosongkan dan beberapa polisi berjaga jaga di berbagai sudut.
“ Maaf, di dalam masih ada tamu… mbak bisa menunggu di luar sebentar. Seorang petugas polisi wanita mencegat mereka di pintu masuk.

“ Bagaimana keadaannya, mbak… saya adiknya… “ Xia setengah memaksa ingin segera masuk.

“ Oh, ia sudah baikan.. hanya perlu istirahat… kalau begitu silahkan masuk…” polisi wanita yang bernam Endah itu mempersilahkan Xia dan Roy masuk.

Pintu terbuka …. Xia dan Roy berdiri terpada melihat pemandangan di depan mereka…. Marsya dan Jade tengah berciuman mesra sambil berpelukan…..

“ Ehm….. maaf kak… kita menganggu nich…” Xia melangkah mendekati tempat tidur Marsya.

Roy masih belum mempercayai apa yang di lihatnya. Jade berciuman dengan Marsya !!!…. Jadi diam-diam Jade menjalin hubungan dengan Marsya. Entah apa yang Roy rasakan saat ini. Dalam dadanya bergemuruh tak menentu… ia merasa seolah ada jarum yang menusuk dadanya menyaksikan keduanya berciuman dan berpelukan mesra.. cemburu..? ah… siapa yang ia cemburui? Marsya atau Jade..?  

-----

Malam itu akhirnya Jade dan Roy memutuskan meninggalkan rumah sakit ketika Xia ingin tetap tinggal menemani kakaknya. Roy langsung memasuki Jeep yang dikendarai Jade tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Roy masih diam.. bahkan ketika jeep yang mereka kendarai memasuki kawasan pantai… Jade memarkir mobilnya tak jauh dari pantai. Keduanya segera keluar dan Roy berjalan kearah laut… Jade telah memahami bahwa Roy sedang memendam rasa kesal terhadapnya. Ia tak menyangka bertemu Roy di rumah sakit tadi.

“ Roy… ada yang ingin lu sampaikan ke gue khan… “ tiba tiba Jade bertanya kepada Roy yang masih berjalan sambil memainkan ombak yang mengguyur kakinya.

“ Jade… selama ini gue selalu percaya setiap kita buat kesepakatan.. tapi mengapa kali ini gue merasa lu sudah bohongin gue habis-habisan..” Roy masih memandang kearah laut. Ia tak memperdulikan celana jeansnya basah dihantam deburan ombak.

“ Maksud lu… gue berhubungan dengan Marsya di belakang lu, sementara lu sebenarnya masih mencintai Marsya, begitu?…lu salah Roy… gue hanya berusaha meyakinkan polisi itu supaya kita bisa tetap aman… gue nggak mencintainya… selain itu lu sudah tahu sepak terjang gue dengan wanita-wanita selama ini… dan terbukti lu nggak pernah cemburu dengan wanita-wanita yang bercinta dengan gue….” bukan Jade kalau tidak mengetahui apa yang ada di benak Roy.

Roy masih terdiam.. ia terus berjalan.. dalam hatinya ia membenarkan apa yang disampaikan Jade barusan. Aahh… apa benar gue masih mencintai Marsya… gue merasa tidak rela melihat mereka berciuman mesra di rumah sakit tadi?..apakah karna dulu gue pernah mencintai Marsya?.. tapi, bukankah gue sangat menikmati bermesraan dengan Jade?… tiba tiba Roy merasa bimbang dengan perasaannya sendiri. Ia menampik bahwa hubungannya dengan Jade hanya sebuah platonik pengisi hari-harinya yang kosong dan butuh kehangatan cinta. Tidaakkk…. Ia benar-benar sangat menyukai Jade… hidupnya sangat tergantung dengan laki-laki itu.

Roy memutar badannya, dilihatnya Jade berdiri bersandar di mobil sambil menghisap rokok.

“ Gue ingin ke Villa… “ Roy langsung masuk mobil dan memutar MP3… Pemujamu… lagu favorit mereka berdua mengalun menghentak memenuhi seluruh mobil… Roy menyandarkan badannya menikmati setiap irama dan syai lagunya….

Jade tersenyum lega… ia tahu Roy telah menyadari kekeliruan ini… ia masih berdiri menghisap rokoknya ketika terdengar dentuman musik dari dalam mobil… tak berapa lama Jade pun memasuki mobil dan segera memacu dengan kecepatan tinggi menuju kawasan perbukitan sekitar 20km dari pantai itu. Jade tahu Roy sangat suka berada di villa dan bercinta dengannya.

“ Woooiii…. Jangan gila lu Jade…. Gue masih ingin menikmati malam ini bersama lu…. Jangan ngebut seperti setan lu….” Roy menghantam lengan Jade pelan dengan kepalan tangannya.

“ Hahahahaha………… gue suka lihat wajah panik lu, Roy…. Bikin bergairaaaah…. Hahahaha” Jade tertawa terbahak-bahak di ikuti oleh Roy…..

“ brengseeeekkkkkk……nantang gue lu….” Roy selalu terjatuh dalam rayuan Jade, dan ia sangat menikmatinya……………


—–


“ Good news…. “ Roy menerima surat kabar dari tangan Jade. Di headline tertulis dengan huruf besar bahwa pihak berwajib telah menangkap Bandar narkoba kelas kakap berinsial RF di daerah Bandung.

“ Rafli memang bodoh… seharusnya jangan berktifitas dulu saat ini….. bagus juga ia tertangkap. Saingan kita berkurang.. itu artinya costumer kita lebih banyak… hahahaha….” Roy duduk di kursi di depan meja kerja Jade sambil membolak-balik surat kabar.

“ Jangan seneng dulu, lu… lihat halaman berikutnya… look… POLISI MASIH MENCURIGAI ADANYA AKTIFITAS PENJUALAN EKSTASI SETELAH RF TERTANGKAP… itu tandanya penyelidikan akan terus dilakukan. Kita harus tetap waspada, Roy..” Jade melangkah mendekat dan menarik tangan Roy… diletakkannya di telapak tangan Roy sebuah kotak berwarna biru tua terbungkus kain beludru berukuran kira-kira 10X10cm.

“ What’s this!!!…..” Roy tersenyum bingung…

“ Dari pemujamu….” Jade mengucapkan kalimat itu sambil melangkah kembali ke tempatnya semula. Namun Roy yang masih penasaran dengan isi kotak itu menahan langkahnya….

“ Wow… suka main teka-teki lu sekarang….please, jelaskan dulu, ini apa… “ Roy begitu dekat dengan wajah Jade.. mereka saling berpandangan dalam tatapan tajam menghujam… entah siapa yang memulai bibir mereka bertaut lembut……………………

……Klek…. Pintu yang seharusnya terkunci itu terbuka… entahlah… mungkin mereka lupa menguncinya dan tidak menyangka seseorang berdiri di depan pintu memandang mereka berciuman mesra… Marsya……

“ Sudahlah.. kalian tidak perlu sungkan dengan saya… saya sudah menduga sebelumnya..” Marsya segera menutup pintu lalu melangkah mendekati kedua pria yang telah mengisi hatinya.

“ Marsya… seharusnya kamu tidak berada di sini… “ Jade telah menguasai diri dan segera duduk di balik meja kerjanya, sementara Roy masih berdiri di tempat mereka berciuman tadi.

“ Saya sudah mengetahui hubungan kalian… Jade.. Roy…tadinya saya curiga dengan kegiatan kalian yang berhubungan dengan perdagangan narkoba, tetapi beberapa waktu lalu setelah saya sembuh dan dinas kembali, apa yang saya temukan sama persis dengan apa yang saya lihat di ruangan ini… kesimpulan saya…………” Marsya seperti menelanjangi kedua pria tersebut.

“ Apa kesimpulan kamu, Marsya….” Roy merasa harus tahu apa yang difikirkan wanita ini tentang dirinya.

“ Kalian pria dewasa yang berhak menentukan jalan hidup kalian sendiri… saya tidak mengatakan ini salah atau benar… tetapi ketahuilah… ciuman kalian berdua sama nikmatnya di bibir saya… hahahaha….OK, guys.. saya tidak akan menganggu hubungan kalian…saya hanya akan pamit, tugas sudah selesai dan mulai minggu depan saya pindah tugas di kota lain…” Marsya tersenyum diikuti senyuman Jade dan Roy yang merasa kagum dengan ketegaran wanita itu. Marsya mengulurkan tangan kepada Roy dan Jade dan segera meninggalkan ruangan itu.

Marsya berjalan keluar ruangan dengan nafas agak tersengal, seolah menahan tangis. Tidak.. jangan.. aku tidak boleh menangis di depan mereka.. aku harus bisa….inilah karmaku… selalu mencintai pria yang salah…. Aku sudah mengalaminya beberapa kali…. Ah… aku ingin segera sampai di kantor dan mengajukan permohonan pindah itu secepatnya……..


—–

“ Jade…. Sebenarnya apa isi kotak ini?…. “ Roy kembali bertanya kepada Jade.

“ Buka saja sendiri…. Nanti lu juga tahu…” Jade hanya tersenyum tipis.

Roy segera membuka kotak dan ia tersenyum… hmmm… terlihat tampan sekali Roy jika tersenyum begitu, bathin Jade.

“ Hahahahahahaha…….. lu tau aja apa yang gue inginkan, Jade… ini keren….” Roy memutar-mutar sebuah kunci mobil Jaguar keluaran terbaru yang sangat ia inginkan.

“ Siippp…. Bisa buat hang out sama cewek-cewek di club yang menuja-muja lu….” Jade tertawa.

“ Hahahahahaha……………… sialan, lu….”






[love is about truthful, love is about honesty and love is about understanding]

The story written by Alia widya.. it’s just for fun…
 

No comments:

Post a Comment