Tuesday, October 23, 2012

Time...... (Part 2)


Mendung tebal bergelanyut menutupi sinar mentari di pagi yang dingin. Hujan rintik-rintik menyambut penghuni planet ini memulai hari.. tetap segar meskipun di akhir Oktober ini hujan sering membasahi bumi.

Dari balik jendela yang terbuka Erin memandang tetesan air hujan.. terlihat indah butir-butir air seperti ribuan berlian tumpah dari langit. Erin tersenyum membayangkan hari-hari yang telah dilaluinya bersama Dave. Mengapa semakin hari ia merasa semakin menemukan karakter Dew ada dalam diri Dave?... Mungkinkah ada sebentuk reinkarnasi jiwa di dunia modern seperti sekarang ini? Tetapi bukankah Dew masih hidup?... ahh… otak cerdas Erin menangkap sesuatu yang tidak wajar dengan Dave.

“ What are you thinking about, sweet…” Dave tiba-tiba sudah berada di belakangnya.. memeluk tubuh Erin dengan lembut… Membelai lengan Erin dan sesekali menciumnya…

“ Ahh… nothing…!! “ Erin sedikit terkejut menyadari Dave telah berada di dekatnya.

  Hmm..  are you sure?..” Dave memutar tubuh Erin dan makin mendekap erat…. Lalu menciumnya dengan penuh hasrat…… Erin segera membalas ciuman hangat kekasihnya…. hujan turun semakin deras di luar sana…

  Oh, Dave… I will prepare something for breakfast…” Erin segera  melepaskan pelukan Dave.. dan meninggalkan pria itu dengan senyum…..

Hari itu Erin menghabiskan waktu di Kampus. Ada beberapa jurnal yang harus  ia kerjakan. Erin telah menelpon Dave bahwa ia akan pulang agak larut malam. Dave berjanji akan menunggu Erin…

Setelah menyelesaikan makan malam yang dibelinya di sebuah fast food restaurant, Dave menyalakan computer.. ada sesuatu hal yang harus ia kerjakan dengan program mesin waktu yang akan segera habis… dan ia memutuskan akan menunda kembali ke masa depan… bahkan ia berfikir untuk tetap tinggal di masa lalu ini.

Ting..tong… bel berbunyi… Dave melihat jam dinding menunjukkan pukul 20:00…  mungkinkah Erin yang datang?... Dave segera membuka pintu.. dan…………

“ Selamat malam…. Maaf, betulkah ini aparteman Erin?.. ” Dew berdiri di hadapannya… muda, tampan dan penuh kharisma.

“ Ya… benar… Erin belum pulang… silahkan masuk..” Dave sedikit bergetar menatap dirinya di masa muda.

“ Anda……” Dew sengaja menghentikan kalimatnya.. entah mengapa memandang pria setengah baya ini hatinya seperti ada yang menarik-narik..

“ Ah, ya…. Kami tinggal bersama di apartemen ini…. ” Dave berusaha menahan getaran dalam dadanya. Mengapa tiba-tiba dirinya di masa muda muncul dihadapannya…  bukankah seharusnya dua tahun lagi ia baru kembali?

“ Maaf.. tolong sampaikan kepada Erin.. saya telah kembali dan mengharapkan bantuannya di kantor… oh ya… ini ada oleh-oleh buat Erin.. ” Dew segera berpamitan dan meninggalkan Dave dengan pandangan aneh dan sulit untuk diterjemahkan.

Dave termangu memandang kepergian Dew… Sebuah syal kotak-kotak berwarna merah dan biru berlogo ST.LAURENT… hmmm… syal ini selalu dipakai Erin saat berada di ruangan RESEARCH CENTER yang dingin karena pendingin ruangan. Erin memang agak rentan terhadap udara dingin dari pendingin ruangan.

Sepertinya saat kepulangannya tidak bisa di tunda. Setelah menemukan dirinya di masa lalu, ia tidak mungkin berada di masa lalu ini lebih lama lagi. Bagaimana mengatakan hal ini kepada Erin?...Dave berfikir sejenak….

Sebenarnya berat baginya untuk meninggalkan Erin. Ia telah benar-benar jatuh cinta kepada wanita itu. Bahkan kalau mungkin ia ingin menikahi Erin… namun Dave sadar bahwa ia harus kembali ke masa depan. Ia tidak ingin merusak masa lalunya dengan tetap tinggal bersama Erin.

Triiiiiiiiiiiiiing… telepon genggamnya berbunyi… Erin…

“ Sayang… satu jam lagi aku selesai… kamu mau menjemputku?..” Suara manja gadis itu terdengar merdu di telinga Dave. Seharian tak bertemu ia sangat merindukan gadis itu.

“ OK.. kamu tunggu ya… aku akan berada di sana dalam 30 menit…”

“ Baiklah, aku tunggu yaaaa…. Daaahhh….” Erin segera mematikan sambungan telepon

Dave mengendarai mobil dengan hati-hati. Jalanan yang basah karena hujan seharian tak berhenti mengguyur bumi bahkan ia harus berhati-hati dengan beberapa ruas jalan yang sedikit tergenang.

“ I’m so tired…” Erin menyandarkan tubuhnya di kursi yang di stel agak kebelakang… tak lama kemudian ia memejamkan matanya. Dave melirik kekasihnya dan menggenggam tangannya lembut.

“ Sleep well, sweet…..”

“ Emmm….  Honey.. I wanna tell you something….” Tiba-tiba Erin berkata namun matanya tetap terpejam.

“ What…” Dave masih tetap menatap kearah jalan….

“ I’m pregnant…. 3 weeks….” Erin tersenyum…..

Ciiitttttt….. Dave menghentikan mobil dan memandang Erin yang terbangun akibat rem yang diinjak mendadak.

“ What..!! are you serious?..... “ Dave tidak bisa menyembunyikan rasa… entahlah… berbagai macan rasa tiba-tiba hadir di hatinya…. Ah.. seorang anak?... sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.

“ Why, honey……………… are you OK?...” Erin membuka matanya dan menegakkan posisi duduknya.

  Sure… if you happy… and I am too…..” mereka berciuman dengan mesra.

  Don’t worry, honey… I won’t ask you to marry me…. But I love this baby… and I want to give her or him with your name…. emm Dave Jr or Davina….” Erin tersenyum sambil memegang perutnya.

Dave ikut tersenyum.. namun sebenarnya kepalanya dipenuhi rencana besar yang akan ia laksanakan sebelum ia meninggalkan Erin dan calon anaknya itu.


*****

Malam itu dengan password dan akses kornea mata yang ia miliki, Dave memasuki ruangan di area yang agak tersembunyi di gedung RESEARCH CENTER Universitas. Sebuah Lab yang dipakai untuk penelitian oleh beberapa ahli dari berbagai bidang dengan proyek sebuah mesin waktu.

Ruangan yang sepi dan agak gelap segera menjadi terang ketika Dave telah masuk di dalam Lab tersebut. Dengan cekatan ia menuju sebuah computer sentral dan menghidupkannya.

“ Selamat malam…. Saya tidak terlambat, khan….” Sesosok pria muda datang… Dewangga.

“ Baiklah… begini ceritanya……………… “ Dew mendengarkan semua yang disampaikan Dave dengan seksama. Tidak ada satu kalimatpun luput dari bibir Dave. Kedua pria yang sama tetapi  berbeda dimensi.

“ Jadi benar… apa yang saya rasakan di apartemen Erin saat itu…. bahwa hati saya begitu tertuju kepada anda…. Karna ternyata kita adalah orang yang sama….”

“ Bagaimana menurutmu… rencana ini….” Dave memandang tajam kearah Dewangga.

“ Deal… You got it…!”  Dew tersenyum…. Membayangkan transfer teknologi yang segera ia dapatkan dari dirinya sendiri di masa depan…. Dan Erin…..ah… tiba-tiba ia memikirkan gadis itu.

*****

Sudah Dua minggu semenjak kepergian Dave ke luar kota Erin merasa sedikit gelisah. Ia merasa kesepian di apartemennya sendiri. Dave biasanya selalu menghangatkan suasana dengan canda dan belaiannya. Erin merasakan rindu yang teramat dalam karena selama ini Dave selalu menemaninya dan memanjakannya dengan perhatian dan kasih sayang. Ah.. pria itu begitu mengerti aku… mudah-mudahan anak yang dikandungnya memiliki semua kebaikan yang ada dalam diri Dave….

Ting..tong…   Dave.. ah dia datang….. Erin segera membuka pintu….

“ Selamat malam Erin….” Dewangga dengan senyum manisnya berdiri di depan pintu.

“ Dew…. “ Erin sedikit terkejut mendapat tamu tak terduga malam ini.

Mereka duduk berhadapan di sebuah café di tepi pantai. Dew terlihat sedikit ramah malam ini… ah entahlah… Erin merasa telah lama meninggalkan kekagumannya pada pria ini semenjak bertemu Dave. Ah… senyum mereka ternyata sama…. Dan tatapan mata itu sedikit membuat Erin bingung…. Dengan siapa sebenarnya ia berhadapan… Dewangga atau kekasihnya Dave… mengapa tatapan mata mereka begitu membuat dadanya berdebar…..

“ Jadi kalian sudah satu tahun tinggal di apartemen itu?... “ Dew meletakkan tangan di dagunya… hmmm… kebiasaan merekapun sama…

Sejak saat itu Dew secara rutin mengantarkan Erin pulang karena perut Erin semakin besar.. Dew juga berkunjung ke apartemen Erin… kadang-kadang mereka makan malam di luar… hmmm… café di tepi pantai ini selalu menjadi pilihan mereka…

Hari-hari berlalu dengan sebuah misteri bagi Erin…. Otak cerdas gadis itu segera mencari-cari kejanggalan dalam diri Dew yang secara tiba-tiba begitu perhatian kepadanya.. bahkan ia dengan sukarela mengantarkan Erin memeriksakan kandungannya.. menungguinya melakukan senam kehamilan dan memenuhi segala keinginan Erin…. Padahal setahunya Dew adalah pria yang tidak pernah suka dengan sebentuk ikatan… namun seminggu yang lalu ia mendengar seseorang ibu di ruangan tunggu bertanya kepada Dewangga….

“ Mengantar istri ya mas…”

“ Iya….”

“ Anak keberapa?..”

“ Anak pertama…”

“ Wah… pasti bahagia ya…”

“ Terimakasih…”

Ah… mengapa Dewangga mau mengakui bahwa ini adalah anaknya? Padahal ia tahu kalau ini adalah anak Dave…..kekasihnya yang tak kunjung pulang setelah tiga bulan pergi dengan alasan keluar kota…. Handphonenya selalu tak pernah di angkat… sementara bodohnya Erin tidak pernah tahu keberadaan keluarga Dave… huh…  dimana kamu Dave….

“ Selamat, Dew…. Penghargaan atas penemuan formula mesin waktu itu sangat membanggakan..” Pagi itu Erin menjabat tangan Dew erat…

“ Thank’s Erin… kita harus merayakannya…. Bagaimana kalau malam ini….” Dew tersenyum.

“ Hmm… malam ini saya harus menyelesaikan jurnal untuk seminar dua hari lagi… “ Erin memandang Dew agak aneh… bagaimana dew begitu cepat menemukan formula yang sudah bertahun-tahun dikerjakan oleh Prof. Donny dan team.

“ Jangan khawatir… aku akan membantumu… please… mau ya… “

“ Baiklah… sampai nanti malam…”  Erin tak mungkin menolak ajakan pria yang dikaguminya itu.

Erin memasuki ruangan… ia kembali meneruskan pekerjaannya. Setelah beberapa saat ia segera menuju ruangan kuliah… hari ini ada mata kuliah yang harus ia ajarkan… menjelang makan siang ia sengaja tidak kembali ke kantor, namun menuju RESEARCH CENTER… Erin memasuki gedung dengan akses yang telah ia miliki. Ada beberapa orang bekerja di ruangan tersebut namun Erin tidak begitu mengenal mereka. Ia memasuki ruangan Dew… Dilihatnya di layar monitor yang berada di ruangan tersebut masih menyala… namun semua program sudah terkunci dengan password yang hanya diketahui oleh Dew sendiri. Dew masih mengajar di kampus barat hingga sore nanti… agak jauh dari gedung ini, jadi Erin bisa leluasa memeriksa file umum milik Dew.

Hmmm… Erin tidak menemukan apa-apa di sana… tiba-tiba ia terkejut menemukan sebuah paket data terkirim dari alamat yang tidak jelas… Erin tidak bisa melihat isi  kiriman data tersebut, namun ia seperti mengenal Icon pengirim yang ada dalam komputer. Ah….. itu Iconnya Dave…. Apa hubungan Dew dengan Dave?....  Erin memutar otak sejenak… ia membuka file dalam PDA miliknya… membuka file kiriman dari Dave  sebelum ia pergi… hahhh… benar… ini Icon yang sama…. Disana tertera angka yang sama  2020***** …..

Erin meninggalkan gedung dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Dave dan Dewangga adalah sosok yang ia temukan dalam kehidupannya. Mereka berdua berbeda usia namun dalam berbagai hal mereka begitu sama… Erin menghela nafas panjang…… rasa lelah membuatnya ingin segera pulang.

Malam itu Dew mengajaknya ke sebuah tempat yang berbeda. Sebuah restaurant romantis….

“ Ada yang ingin saya sampaikan, Erin….” Dew memandang gadis itu dengan tatapan yang membuat Erin kembali berdebar…

“ Ada apa?.. sepertinya penting..” Erin menutupi debaran hatinya dengan tersenyum.

“ Saya ingin menikahimu…. Saya mencintaimu…” Erin terkejut memandang Dew… namun pria itu sepertinya tidak sedang bercanda.

“ Ah… kamu tidak perlu mengasihaniku, Dew…. I’m just fine… aku hanya  menginginkan bayi ini… “  Erin masih belum percaya dengan apa yang keluar dari mulut Dew malam ini. Mengajaknya menikah? Ia sangat sadar…. Selama ini Dew tidak pernah menyukainya… apalagi mencintainya… ia berfikir mungkin Dew hanya kasihan kepadanya.. 

“ Saya tidak mengasihanimu, Erin….. saya mencintaimu…. Saya ingin menjadi ayah dari anak-anakmu….”

  Maaf, Dew…. Aku.....” Erin masih menunggu Dave…

“ Dave tidak akan kembali……” Erin mengangkat kepalanya…. Dew seperti tahu yang ia fikirkan.

“ Sudah kuduga... apa hubungan kalian?...”

“ Kami adalah……. Orang yang sama…. Dave datang dari masa depan…. Lima belas tahun yang akan datang….” Erin merasa kepalanya berputar-putar…. Dan gelap………………………


*****


Dave memasuki halaman rumahnya…. Malam ini suasana begitu sepi..  ada yang berbeda dengan rumahnya semenjak ia tinggalkan… suasananya lebih bersih dan asri. Bunga-bunga mawar dan tanaman hias lainnya berjajar dalam pot  yang ditata dengan rapi.  Ah… berapa lama aku meninggalkan masa depan ini?... setahun?... atau…………..

“ Ayah……..  Davina menunggu sejak sore tadi.. “ Gadis remaja berusia sekitar 14 tahun memeluknya. Wajah Erin melekat erat terutama senyum dan matanya.

“ Da vi na..   “ Dave mengeja nama itu…….

“ Ya ampun ayah….. besok malam ada peringatan 100 hari meninggalnya Ibu…  aku pikir ayah tidak pulang malam ini….Dave mencari ayah tuh di kamarnya… ia menunggu ayah sejak tadi sore…“ Seorang anak laki-laki berlari menyambut kedatangannya. Lalu anak laki-laki tersebut melompat memeluknya… Dave balas memeluk anak laki-laki tersebut yang memberikan senyum Erin jelas di wajahnya.

“ Ibu….  100 hari..?” Dave masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.

Davina segera masuk kamarnya. Dave masih belum mempercayai apa yang dilihatnya… merubah segala sesuatu dalam hidupnya…..  ia memandang foto-foto pernikahan dirinya dengan Erin… dan foto keluarganya dengan dua orang anak… Davina yang berusia 14 tahun dan Dave yang erusia 10 tahun…

Jadi Dew akhirnya menikahi Erin….. Dave tersenyum menyadari bahwa ia telah merubah sejarah hidupnya. Namun sayang… ia tak mampu merubah takdir kematian Erin…. Dave meraba dadanya…. Masih berdetak… jantung Erin berada disana dengan segenap cintanya………………………………………………………………end

2 comments: