Monday, October 1, 2012

Time......(part 1)


Saat ini adalah awal bulan Oktober yang mulai berangin dingin.  Hujan lebat belum mulai turun namun  gerimis beberapa kali membasahi tanah dan menimbulkan keharuman tanah basah dengan wangi alami.

Dew baru saja membuka matanya ketika dilihatnya jam yang terletak di meja samping ranjangnya menunjukkan pukul 06:00. Ia melirik Erin yang tertidur dengan nyaman seperti bidadari dalam ranjang berbulu lembut. Wajahnya yang merah jambu tanpa polesan make up tampak sangat alami. Dew tersenyum memandang wajah manis yang semalam menjelma menjadi ratu cinta bagi dirinya. Selimut yang sedikit tersingkap memperlihatkan pinggul Erin yang melengkung indah. Dew mengusap pinggul itu dan membetulkan letak selimut agar tubuh Erin yang polos tetap terasa hangat.

Dew berusia 47 tahun dan Erin baru memasuki usia 25 tahun ini.  Dew telah mengenal Erin sejak lama, bahkan keberadaannya di apartemen ini sebenarnya hanya untuk menemukan cinta Erin yang sempat tertunda. Dew adalah pria yang mencintai Erin dari masa depan.

Dew bertemu Erin ketika mereka bekerja sama dalam sebuah proyek sains yang dipimpin oleh Profesor Donny. Sebuah proyek pembuatan mesin waktu yang melibatkan beberapa ahli. Dew adalah salah seorang Doktor dibidang ilmu Fisika yang masih belia. Kecerdasan dan daya tarik pria itu membuatnya cukup populer di kalangan mahasiswi dan rekan kerjanya sendiri. Sedangkan Erin adalah asistennya, seorang mahasiswa S3 yang magang namun Professor Donny mengetahui bahwa di masa depan Erin mampu menjadi seorang yang menguasai sain dengan cemerlang.

Sukses proyek mesin waktu di tandai dengan ditangkapnya seorang gembong mafia berbahaya atas kerjasama dengan pihak aparat. Mesin waktu menjadi primadona dan merupakan sebuah fenomena yang mampu menarik perhatian publik. Seiring waktu karier Dew semakin bersinar.. ia semakin meninggalkan sebuah hati yang diam-diam mengagumi dan mengharapkan cintanya, Erin….

Namun Erin sadar bahwa dirinya hanya sebuah bayangan yang tak tampak bagi seorang Dewangga. Ia hanya mampu memendam rasa dan memandang kilau cahaya Dew dari kejauhan. Erin tidaklah terlalu buruk namun Dew tidak pernah menyadari diam-diam Erin menemukan fakta bahwa kelainan jantung Dew tak kan bertahan lama karena faktor kelelahan dan kesibukan yang sangat menyita waktu pria itu.

Hari itu segalanya tampak sempurna dalam sebuah wawancara dengan media televisi swasta. Dew sangat sempurna mengurai setiap pertanyaan sampai beberapa detik setelah acara berakhir Dew terjungkal dari tempat duduknya. Tubuh kaku dan membiru tak bisa menunggu sampai mereka membawanya ke ruang ICU…

Erin yang masih berada di kampus mendengar berita itu segera berlari menuju rumah sakit. Sebelum berangkat ia sudah memperingatkan Dew dengan keringat dingin yang ada di sekitar wajahnya..

“ Sebaiknya kamu cek kesehatan setelah ini.. kulihat wajahmu sedikit pucat..” Erin berharap Dew mendengarkannya.

“ It’s OK…. Aku hanya sedikit lelah… setelah ini Shania akan mengajakku beristirahat di villanya… see you..” Dew melangkah keluar ruangan, meninggalkan pandangan pedih Erin..

Beberapa tahun terakhir Erin hanya mampu menghitung waktu, mendengar berita gembira pernikahan Dew.. mendengar cerita sedih perceraian Dew.. menyaksikan dengan pedih wanita-wanita yang berkencan dengan Dew… ah.. usiaku sudah 40 tahun, sudah lima belas tahun aku menunggu hati yang tak pernah menemuiku. Erin ingin berpaling dan meninggalkan semua penantian yang sia-sia, namun sulit sekali meninggalkan nama Dew di dalam hatinya. Sampai kapan ia akan selalu menghindari setiap pria yang mendekatinya?

Erin terus saja berdo’a dan mengkhawatirkan keadaan Dew.. tak bisa menghindari mobil yang berhenti mendadak di depannya dan diarahkannya ke kanan, namun malang sebuah truck kontainer melaju dengan kecepatan penuh dan tak mampu menghindari mobilnya………


*****


Tak puas membuka file-file milik Erin, Dew mencoba masuk situs pribadi Erin dan membaca semua yang gadis itu tuliskan. Huft… mengapa selama ini dirinya tidak pernah memperhatikan deretan kalimat-kalimat itu?... Sangat mudah bagi Dew memahami apa yang Erin tuliskan di sana… gadis itu mencintainya. Dan Dew hanya mampu menyesali sikapnya yang tidak pernah perduli terhadap Erin yang selalu memperhatikannya bukan karena Erin adalah rekan kerjanya namun karena Erin mencintainya.

Dew melangkah meninggalkan ruangan. Malam itu ia memutuskan berkunjung ke pemakaman. Tak sulit menemukan makam Erin.. Dew terdiam membayangkan mata sendu Erin setiap kali memandangnya. Ia tak sanggup membayangkan betapa Erin dengan sukarela menyerahkan jantung untuknya sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah kecelakaan itu… tanpa sepengetahuannya karena ia sendiri tengah berjuang dengan kondisi jantungnya yang sangat parah. Dew mengusap dadanya sejenak membayangkan gadis dengan wajah polos itu. Akan kusimpan jantung ini dengan segenap cintaku, Erin….

“ Aku tidak akan tinggal diam, Erin…. Akan ada sebuah balasan untuk semua yang telah kamu lakukan…” Dewangga melangkah menjauhi makam Erin.

Mobilnya melaju memasuki sebuah kawasan RESEARCH CENTER di sekitar Universitas. Sebuah patung berbentuk kepala Professor Donny terpajang di depan pintu utama. Beliau memang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Dew melangkah melalui lorong-lorong panjang dan berujung pada sebuah ruangan bundar. Ia masuk dengan akses sidik jari tangan dan kornea mata. Dew menyalakan komputer sentral dan berkutat dengan data beberapa saat sebelum ia membuka sebuah alat berbentuk tabung.. mesin waktu….


*****


Pertemuan mereka terjadi ketika Erin tanpa sengaja bertabrakan dengannya di sebuah toserba. Erin terbelalak memandang sosok Dew yang sudah di akhir 40 tahunnya seolah dikenalnya. Dew baru menyadari gadis itu sangat manis di usianya. Dengan mudah Dew menarik hati Erin karena ia sudah mengetahui apa yang ada dalam fikiran Erin saat itu.

Erin sudah lulus dan mengajar di sebuah Universitas sementara dirinya meneruskan study di luar negeri saat itu. Dew sudah memilih waktu yang tepat untuk menemui Erin di masa lalu sehingga ia tidak mungkin bertemu dengan sosok muda dirinya saat itu.

Erin dan Dew, yang merubah namanya menjadi Dave memiliki kesenangan yang sama. Mereka menyukai kebebasan. Erin adalah wanita muda dengan pandangan yang sangat fleksibel apalagi tentang masalah hubungan pria dan wanita. Dave adalah pria berpengalaman, sebagai ilmuwan tak menunjukkan bahwa ia sudah mulai meninggalkan masa-masa jayanya. Penampilannya tetap elegan tetapi santai. Erin hanya mengetahui bahwa Dave adalah seorang duda yang juga pekerja sosial di sebuah Departemen Pemerintah.

Mereka memutuskan tinggal di sebuah apartemen di lantai lima pada akhirnya. Ruangan yang luas dan nyaman menyimpan dua karakter Dave dan Erin menjalani hubungan yang hangat walau perbedaan usia mereka cukup jauh. Erin tak pernah berfikir jatuh cinta denga pria yang jauh lebih tua darinya, namun kemiripan dengan sosok pria pujaannya, Dewangga, ada dalam diri Dave. Erin merasa Dave selalu tahu apa yang ia fikirkan dan yang ia inginkan. Sungguh… Erin merasa berada di surga dan selalu merindukan saat-saat bersama Dave… sejenak bayangan Dew menghilang dari ingatannya.

Mereka mengisi tiga perempat hari mereka di tempat kerja dan menghabiskan sisa waktu di apartemen itu. Memasak adalah moment yang paling menyenangkan bagi Erin dan makan adalah sebuah kegembiraan bagi Dew. Ia bisa menghabiskan seluruh makanan yang Erin buat dalam sekejap, dan Erin menyukai itu. Selanjutnya tentu saja sisa waktu mereka gunakan untuk bercanda, nonton film erotis dan bercinta.

“ Sayang..  bagaimana kalau kita nonton malam ini?” Dave melambaikan sebuah CD dan Erin tersenyum. Saatnya mengenakan lingerie sexy berwarna burgundy yang sangat halus malam ini. Erin menggigit bibir bawahnya sambil menyelesaikan lesson plan untuk quiz besok dan tak lama kemudian ia menutupnya.

Dua cangkir coffee latte telah dibuat untuknya dan Dave. Duduk di sofa sambil melihat video striptease. Beberapa saat sensasi striptease telah menyatu dalam keremangan ruangan dan mendesak dalam jiwa keduanya. Dan malam itu kembali Dave dan Erin menikmati irama asmara terjalin di sofa. Video berakhir tanpa dua pasang mata memandang. Klik!... otomatis shut down mengakhiri program komputer……. (bersambung)

2 comments: