Saat
ini adalah awal bulan Oktober yang mulai berangin dingin. Hujan lebat belum mulai turun namun gerimis beberapa kali membasahi tanah dan
menimbulkan keharuman tanah basah dengan wangi alami.
Dew
baru saja membuka matanya ketika dilihatnya jam yang terletak di meja samping
ranjangnya menunjukkan pukul 06:00. Ia melirik Erin yang tertidur dengan nyaman
seperti bidadari dalam ranjang berbulu lembut. Wajahnya yang merah jambu tanpa
polesan make up tampak sangat alami. Dew tersenyum memandang wajah manis yang
semalam menjelma menjadi ratu cinta bagi dirinya. Selimut yang sedikit
tersingkap memperlihatkan pinggul Erin yang melengkung indah. Dew mengusap
pinggul itu dan membetulkan letak selimut agar tubuh Erin yang polos tetap
terasa hangat.
Dew
berusia 47 tahun dan Erin baru memasuki usia 25 tahun ini. Dew telah mengenal Erin sejak lama, bahkan
keberadaannya di apartemen ini sebenarnya hanya untuk menemukan cinta Erin yang
sempat tertunda. Dew adalah pria yang mencintai Erin dari masa depan.
Dew
bertemu Erin ketika mereka bekerja sama dalam sebuah proyek sains yang dipimpin
oleh Profesor Donny. Sebuah proyek pembuatan mesin waktu yang melibatkan
beberapa ahli. Dew adalah salah seorang Doktor dibidang ilmu Fisika yang masih
belia. Kecerdasan dan daya tarik pria itu membuatnya cukup populer di kalangan
mahasiswi dan rekan kerjanya sendiri. Sedangkan Erin adalah asistennya, seorang
mahasiswa S3 yang magang namun Professor Donny mengetahui bahwa di masa depan
Erin mampu menjadi seorang yang menguasai sain dengan cemerlang.
Sukses
proyek mesin waktu di tandai dengan ditangkapnya seorang gembong mafia
berbahaya atas kerjasama dengan pihak aparat. Mesin waktu menjadi primadona dan
merupakan sebuah fenomena yang mampu menarik perhatian publik. Seiring waktu
karier Dew semakin bersinar.. ia semakin meninggalkan sebuah hati yang
diam-diam mengagumi dan mengharapkan cintanya, Erin….
Namun
Erin sadar bahwa dirinya hanya sebuah bayangan yang tak tampak bagi seorang
Dewangga. Ia hanya mampu memendam rasa dan memandang kilau cahaya Dew dari
kejauhan. Erin tidaklah terlalu buruk namun Dew tidak pernah menyadari
diam-diam Erin menemukan fakta bahwa kelainan jantung Dew tak kan bertahan lama
karena faktor kelelahan dan kesibukan yang sangat menyita waktu pria itu.
Hari
itu segalanya tampak sempurna dalam sebuah wawancara dengan media televisi
swasta. Dew sangat sempurna mengurai setiap pertanyaan sampai beberapa detik
setelah acara berakhir Dew terjungkal dari tempat duduknya. Tubuh kaku dan
membiru tak bisa menunggu sampai mereka membawanya ke ruang ICU…
Erin
yang masih berada di kampus mendengar berita itu segera berlari menuju rumah
sakit. Sebelum berangkat ia sudah memperingatkan Dew dengan keringat dingin
yang ada di sekitar wajahnya..
“
Sebaiknya kamu cek kesehatan setelah ini.. kulihat wajahmu sedikit pucat..”
Erin berharap Dew mendengarkannya.
“
It’s OK…. Aku hanya sedikit lelah… setelah ini Shania akan mengajakku
beristirahat di villanya… see you..” Dew melangkah keluar ruangan, meninggalkan
pandangan pedih Erin..
Beberapa
tahun terakhir Erin hanya mampu menghitung waktu, mendengar berita gembira
pernikahan Dew.. mendengar cerita sedih perceraian Dew.. menyaksikan dengan
pedih wanita-wanita yang berkencan dengan Dew… ah.. usiaku sudah 40 tahun,
sudah lima belas tahun aku menunggu hati yang tak pernah menemuiku. Erin ingin
berpaling dan meninggalkan semua penantian yang sia-sia, namun sulit sekali
meninggalkan nama Dew di dalam hatinya. Sampai kapan ia akan selalu menghindari
setiap pria yang mendekatinya?
Erin
terus saja berdo’a dan mengkhawatirkan keadaan Dew.. tak bisa menghindari mobil
yang berhenti mendadak di depannya dan diarahkannya ke kanan, namun malang
sebuah truck kontainer melaju dengan kecepatan penuh dan tak mampu menghindari
mobilnya………
*****
Tak
puas membuka file-file milik Erin, Dew mencoba masuk situs pribadi Erin dan
membaca semua yang gadis itu tuliskan. Huft… mengapa selama ini dirinya tidak
pernah memperhatikan deretan kalimat-kalimat itu?... Sangat mudah bagi Dew
memahami apa yang Erin tuliskan di sana… gadis itu mencintainya. Dan Dew hanya
mampu menyesali sikapnya yang tidak pernah perduli terhadap Erin yang selalu
memperhatikannya bukan karena Erin adalah rekan kerjanya namun karena Erin
mencintainya.
Dew
melangkah meninggalkan ruangan. Malam itu ia memutuskan berkunjung ke
pemakaman. Tak sulit menemukan makam Erin.. Dew terdiam membayangkan mata sendu
Erin setiap kali memandangnya. Ia tak sanggup membayangkan betapa Erin dengan
sukarela menyerahkan jantung untuknya sesaat sebelum ia menghembuskan nafas
terakhirnya setelah kecelakaan itu… tanpa sepengetahuannya karena ia sendiri
tengah berjuang dengan kondisi jantungnya yang sangat parah. Dew mengusap
dadanya sejenak membayangkan gadis dengan wajah polos itu. Akan kusimpan
jantung ini dengan segenap cintaku, Erin….
“
Aku tidak akan tinggal diam, Erin…. Akan ada sebuah balasan untuk semua yang
telah kamu lakukan…” Dewangga melangkah menjauhi makam Erin.
Mobilnya
melaju memasuki sebuah kawasan RESEARCH CENTER di sekitar Universitas. Sebuah
patung berbentuk kepala Professor Donny terpajang di depan pintu utama. Beliau
memang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Dew melangkah melalui
lorong-lorong panjang dan berujung pada sebuah ruangan bundar. Ia masuk dengan
akses sidik jari tangan dan kornea mata. Dew menyalakan komputer sentral dan
berkutat dengan data beberapa saat sebelum ia membuka sebuah alat berbentuk
tabung.. mesin waktu….
*****
Pertemuan
mereka terjadi ketika Erin tanpa sengaja bertabrakan dengannya di sebuah
toserba. Erin terbelalak memandang sosok Dew yang sudah di akhir 40 tahunnya seolah
dikenalnya. Dew baru menyadari gadis itu sangat manis di usianya. Dengan mudah
Dew menarik hati Erin karena ia sudah mengetahui apa yang ada dalam fikiran
Erin saat itu.
Erin
sudah lulus dan mengajar di sebuah Universitas sementara dirinya meneruskan
study di luar negeri saat itu. Dew sudah memilih waktu yang tepat untuk menemui
Erin di masa lalu sehingga ia tidak mungkin bertemu dengan sosok muda dirinya
saat itu.
Erin
dan Dew, yang merubah namanya menjadi Dave memiliki kesenangan yang sama.
Mereka menyukai kebebasan. Erin adalah wanita muda dengan pandangan yang sangat
fleksibel apalagi tentang masalah hubungan pria dan wanita. Dave adalah pria
berpengalaman, sebagai ilmuwan tak menunjukkan bahwa ia sudah mulai
meninggalkan masa-masa jayanya. Penampilannya tetap elegan tetapi santai. Erin
hanya mengetahui bahwa Dave adalah seorang duda yang juga pekerja sosial di
sebuah Departemen Pemerintah.
Mereka
memutuskan tinggal di sebuah apartemen di lantai lima pada akhirnya. Ruangan
yang luas dan nyaman menyimpan dua karakter Dave dan Erin menjalani hubungan
yang hangat walau perbedaan usia mereka cukup jauh. Erin tak pernah berfikir
jatuh cinta denga pria yang jauh lebih tua darinya, namun kemiripan dengan
sosok pria pujaannya, Dewangga, ada dalam diri Dave. Erin merasa Dave selalu
tahu apa yang ia fikirkan dan yang ia inginkan. Sungguh… Erin merasa berada di
surga dan selalu merindukan saat-saat bersama Dave… sejenak bayangan Dew
menghilang dari ingatannya.
Mereka
mengisi tiga perempat hari mereka di tempat kerja dan menghabiskan sisa waktu
di apartemen itu. Memasak adalah moment yang paling menyenangkan bagi Erin dan
makan adalah sebuah kegembiraan bagi Dew. Ia bisa menghabiskan seluruh makanan
yang Erin buat dalam sekejap, dan Erin menyukai itu. Selanjutnya tentu saja
sisa waktu mereka gunakan untuk bercanda, nonton film erotis dan bercinta.
“
Sayang.. bagaimana kalau kita nonton
malam ini?” Dave melambaikan sebuah CD dan Erin tersenyum. Saatnya mengenakan
lingerie sexy berwarna burgundy yang sangat halus malam ini. Erin menggigit
bibir bawahnya sambil menyelesaikan lesson plan untuk quiz besok dan tak lama
kemudian ia menutupnya.
Dua
cangkir coffee latte telah dibuat untuknya dan Dave. Duduk di sofa sambil
melihat video striptease. Beberapa saat sensasi striptease telah menyatu dalam
keremangan ruangan dan mendesak dalam jiwa keduanya. Dan malam itu kembali Dave
dan Erin menikmati irama asmara terjalin di sofa. Video berakhir tanpa dua
pasang mata memandang. Klik!... otomatis shut down mengakhiri program
komputer……. (bersambung)

Siip, udah saya baca. Mana sambungannya? (dangdit)
ReplyDeletepoor Erin :(
ReplyDelete