Saturday, October 27, 2012

The Dream….




“ What… a party tonight?...” Aku terkejut saat  Rilla mengajakku menghadiri sebuah pesta Anniversary di Queen Palace.

“ Iya, sayang…. Mau ya… nanti kujemput dari kantormu…”

“ Emm… bagaimana ya…..”

“ Sudahlah, Hall sayang….sampai nanti..” Rilla memutus percakapan kami via selular sore ini.

Sebenarnya aku mau saja ke pesta itu, Peter kekasihku sedang sibuk dengan pekerjaannya,  namun dengan kostum yang kupakai hari ini sepertinya tidak mungkin.. jeans dan hem kotak-kotak sangat tidak tepat untuk menghadiri sebuah pesta. Ah.. bagaimana ini…

Tepat jam 18:00 Rilla memasuki ruanganku dengan penampilan yang wah… cantik.. elegan dan sedikit sexy dengan belahan dada yang agak rendah…ehm… beberapa rekan pria yang masih berada di kantor sampai bersiul demi melihat Rilla.

“ Bagaimana ini.. “ aku ragu-ragu dengan penampilanku

“ Beres… sudah kusiapkan semua untukmu… c’mon.. don’t waste the time..!” Rilla tersenyum.

Satu jam kemudian kami sudah melangkah di lobbi sebuah hotel. Hmm… tatanan rambut dan gaun  warna dark brown yang kupakai sangat nyaman. Rilla telah mempersiapkan segalanya untukku. Dari lobbi kami menuju lift ke lantai 7. Suasana Queen Hall malam ini sangat megah. Tamu-tamu dengan pakaian indah dan mahal berdatangan.

Aku sangat menyukai dekorasi ruangan pesta ini… dominasi bunga mawar merah dan putih mewarnai setiap sudut ruangan. Di samping kanan dan kiri terdapat meja-meja hidangan lezat beraneka ragam. Harum aroma mawar merasuk dalam tubuhku. Melewati sebuah cermin besar aku berhenti… memandang seseorang di seberang sana… Peter.. dengan seorang wanita cantik. Dari cermin aku bisa melihat tatapan mata pria itu memandangku.. jarak kami tidak terlalu jauh namun sepertinya Peter tidak berniat menghampiriku.. atau karena ia bersama seorang wanita.

Aku terdiam mengatur perasaanku.. Rilla.. dimana dia? Mataku mencari-cari wanita itu namun aku tak menemukan bayangannya. Sampai acara dimulaipun aku masih dibiarkan sendiri terpojok di dekat cermin besar. Tidak ada seorangpun kukenali di pesta ini. Peter.. berada di tengah-tengah kerumunan tamu jauh dari pandangan mataku. Berharap ia menghampiriku… semenit.. dua menit..bahkan hampir satu jam kubiarkan tubuhku tetap berdiri di depan cermin ini tanpa hadirnya.

Musik mulai mengalun syahdu… beberapa tamu mulai berdansa di tengah ruangan. Ini adalah gelas kedua yang telah kuhabiskan. Kakiku melangkah menjauhi keramaian. Di sudut ruangan terdapat sebuah balkon..hmm.. disini cukup nyaman… ada sebuah kursi panjang menghadap ke pemandangan kota dimalam hari dengan cahayanya.

Sedikit terhibur dengan pemandangan di depanku tanpa kusadari di belakangku telah berdiri beberapa pria dengan pakaian perlente. Salah satu dari mereka mencoba menyapa…

“ Selamat malam, apakah anda yang bernama nona Hall…… “ seorang pria setengah baya berbadan sedikit gemuk, mengenakan jas hitam dan memakai parfum mahal berkata kepadaku. Aku heran, darimana mereka tahu namaku?

“ Maaf… darimana anda tahu nama saya?...” mataku mewaspadai sikap santai mereka. Ya Tuhan.. semoga tidak terjadi apa-apa denganku malam ini.

“ Great..!! mari ikut dengan kami nona Hall… “  mereka menarik tanganku melewati lorong yang agak  tersembunyi dari pandangan tamu-tamu di ruang utama.  

Aku berniat menghubungi Rilla..aahhh…. tas tanganku dimana?... terjatuh atau tertinggal di balkon… dengan sedikit memaksa pria-pria itu membawaku ke sebuah ruangan mewah yang cukup luas. Berderet botol minuman di rak yang memenuhi dinding dan furniture mahal menghiasi ruangan itu.

“ Nah… nona… mulailah dengan bisnis ini.. “ Sorang pria setengah baya lainnya berjalan menuju meja di sudut ruangan dan menyalakan sesuatu.. beberapa saat kemudian suara musik menghentak di seluruh ruangan… beberapa pria memasuki ruangan dan mereka becanda.. tertawa… huh.. menertawakan ketololanku yang malam itu tidak mampu berbuat apa-apa.

“ Ayolah sayang… gerakkan tubuh indahmu… dan segera bukalah gaunmu… hahaha…” seorang pria yang bertubuh paling tinggi mendekatiku dan mengajakku menari. Aku masih diam saja tak bereaksi. Mereka semakin tak terkendali.. mungkin pengaruh minuman yang mereka konsumsi…

Perlahan-lahan aku mendekati pintu yang berada dibelakangku.. dan ketika mereka tidak memperhatikanku segera kubuka pintu dan berlari menyusuri lorong-lorong sunyi dan sepi… dimana ruangan pesta tadi.. mengapa ruangan-ruangan di sini sangat sepi?...

Mataku mencari-cari seseorang untuk minta tolong, namun tak kulihat seorangpun berada di sana. Semakin jauh aku melangkah semakin sepi dan lampu penerangan semakin meredup. Ada sedikit kekhawatiran dalam hatiku… dimana aku?...

Dalam kekalutanku… tiba-tiba terlintas Peter, kekasihku… mengapa dia tidak menyapaku? Bukankah aku kekasihnya? lalu mengapa aku diam saja… ah.. semua kejadian di pesta ini begitu membingungkan. Masih jelas terlintas di kepalaku beberapa hari yang lalu saat kukirimkan puisi untuknya…

I love you
Just like a water
Fresh and flow

I love you
Just like a wind
Fresh and blow

I love you
Just like the morning
Fresh and bloom

I love you
Just like a day
Fresh and shadow

I love you
Just like who you are

I love you
Just like what you are

I love you
Just never end

Dan ia hanya membalas tiga kata … I LOVE YOU… namun itu lebih dari segalanya bagiku…… malam ini kulihat tatapan matanya dengan cinta itu,  namun tak tertuju padaku..


Pintu terakhir yang kubuka.. kali ini aku berharap menemukan ruang pesta itu… dan segera meninggalkannya. Braaakkkk….. mataku berkaca-kaca…. Aku kembali ke ruangan pria-pria yang sedang mabuk karena minuman keras dan pesta narkoba. Mereka semakin ganas… meraih tubuhku… aku memberontak… sebuah botol minuman yang kupecahkan mengeluarkan asap hijau beraroma menyengat, membuat kepalaku berputar-putar. Aku mengacungkan ke wajah salah satu dari mereka…

“ Sudahlah… biarkan dia pergi…..” seorang temannya membiarkan aku pergi. Pintu di depanku terbuka… telingaku menangkap suara musik dan keramaian pesta.. hhhhh…. Rasa lega menyelimuti dalam dada….dengan sekuat tenaga aku melangkah menjauhi pintu menuju ruangan pesta.

“ Hubungi Rilla…. Minta ganti wanita lain…. Lebih mahalpun akan kita bayar… hahahahahahha…” Langkahku berhenti.. Rilla… wanita yang di bayar?.... bangsaatt….. kurang ajar kamu Rilla….

Langkah kakiku mencari-cari Rilla di tengah keramaian pesta… musik masih mengalun.. tamu-tamu masih menikmati jamuan makanan dan bercengkrama dengan tamu lainnya. Di sebuah sudut ruangan pesta kutemukan Rilla sedang asik bercanda dengan seorang pria…

Plaaakkkk….. tamparan di mukanya membuat Rilla terkejut memandangku dengan penuh tanda Tanya…

“ Hall… apa yang terjadi?.....”

“ Kamu sungguh keterlaluan, Rilla…. Tega sekali menjual sahabatmu sendiri….”

“ Maksud kamu apa, Hall….” Rilla berpura-pura tidak mengerti… tanganku terangkat ingin sekali aku menampar untuk yang kedua kali… tetapi tanganku terhenti… seseorang memegang tangan yang hendak melayang menampar wajah Rilla, wanita kurang ajar itu… Peter… dengan sekali tarikan pria itu membawaku menjauh dari keributan di tengah pesta.

Kami melewati cermin besar.. melihat bayangan diriku..aaahhhhh… wajah itu begitu lelah… kepalaku begitu berputar-putar seolah semua orang menertawakanku.. lihatlah dirimu Hall…  begitu bodoh…. Aku ingin segera pergi dari sini. Tak perduli dengan Peter yang terus membawaku menjauh dari ruangan pesta… aku tetap memberontak…. Berusaha melepaskan cengkeraman tangannya… namun tiba-tiba gelap.

Mataku sedikit terbuka saat kusadari aku sudah berada di sebuah kamar bersama Peter… aaahhh… apa yang ia lakukan terhadapku… dengan cepat ia membuka kancing bajuku.. melepaskan seluruh pakaianku..  aku memberontak… namun tubuhku lemas tak bertenaga…

Ia membawaku ke kamar mandi dan meletakkan tubuhku yang polos di bathtub… air hangat menyirami sekujur tubuhku dari shower… membasahi hatiku yang sakit dengan perlakuan orang-orang di sekitarku malam ini…  Peter meninggalkan kamar mandi.. meninggalkanku dengan hati yang terkoyak… tercabik-cabik… tanpa kusadari siraman air mengembalikan kesadaranku… mengapa aku berada di sini… perutku tiba-tiba mual… ternyata aku benar-benar mabok…. Aku bangkit menuju wastafel, aku ingin muntah… aku ingin mengeluarkan segala kekesalan dan kekecewaan  dalam tubuhku, namun tubuhku terasa berat…. aaahhhh…. Badanku limbung… aku terjatuh… tiba-tiba  seseorang menangkapku…..

Aku membuka mata… ternyata aku berada dalam dekapan Peter…

“ You are dreaming…..” ia tersenyum lalu tangannya mengusap kepalaku dengan lembut.

“ Dream???….. “ Ya Ampuuuuuunnn…. Ternyata aku hanya bermimpi. Pesta sialan itu hanya mimpi…. Hmmm… syukurlah. Menyadari Peter berada di dekatku segera kupeluk tubuhnya… ah.. aku tidak ingin kehilanganmu………………..


Frommydream_Hall&Peter



   

No comments:

Post a Comment