“ What… a party
tonight?...” Aku terkejut saat Rilla
mengajakku menghadiri sebuah pesta Anniversary di Queen Palace.
“ Iya, sayang…. Mau
ya… nanti kujemput dari kantormu…”
“ Emm… bagaimana
ya…..”
“ Sudahlah, Hall
sayang….sampai nanti..” Rilla memutus percakapan kami via selular sore ini.
Sebenarnya aku
mau saja ke pesta itu, Peter kekasihku sedang sibuk dengan pekerjaannya, namun dengan kostum yang kupakai hari ini
sepertinya tidak mungkin.. jeans dan hem kotak-kotak sangat tidak tepat untuk
menghadiri sebuah pesta. Ah.. bagaimana ini…
Tepat jam 18:00 Rilla
memasuki ruanganku dengan penampilan yang wah… cantik.. elegan dan sedikit sexy
dengan belahan dada yang agak rendah…ehm… beberapa rekan pria yang masih berada
di kantor sampai bersiul demi melihat Rilla.
“ Bagaimana ini..
“ aku ragu-ragu dengan penampilanku
“ Beres… sudah
kusiapkan semua untukmu… c’mon.. don’t waste the time..!” Rilla tersenyum.
Satu jam kemudian
kami sudah melangkah di lobbi sebuah hotel. Hmm… tatanan rambut dan gaun warna dark brown yang kupakai sangat nyaman. Rilla
telah mempersiapkan segalanya untukku. Dari lobbi kami menuju lift ke lantai 7.
Suasana Queen Hall malam ini sangat megah. Tamu-tamu dengan pakaian indah dan
mahal berdatangan.
Aku sangat
menyukai dekorasi ruangan pesta ini… dominasi bunga mawar merah dan putih mewarnai
setiap sudut ruangan. Di samping kanan dan kiri terdapat meja-meja hidangan
lezat beraneka ragam. Harum aroma mawar merasuk dalam tubuhku. Melewati sebuah
cermin besar aku berhenti… memandang seseorang di seberang sana… Peter.. dengan
seorang wanita cantik. Dari cermin aku bisa melihat tatapan mata pria itu
memandangku.. jarak kami tidak terlalu jauh namun sepertinya Peter tidak
berniat menghampiriku.. atau karena ia bersama seorang wanita.
Aku terdiam
mengatur perasaanku.. Rilla.. dimana dia? Mataku mencari-cari wanita itu namun
aku tak menemukan bayangannya. Sampai acara dimulaipun aku masih dibiarkan
sendiri terpojok di dekat cermin besar. Tidak ada seorangpun kukenali di pesta
ini. Peter.. berada di tengah-tengah kerumunan tamu jauh dari pandangan mataku.
Berharap ia menghampiriku… semenit.. dua menit..bahkan hampir satu jam kubiarkan
tubuhku tetap berdiri di depan cermin ini tanpa hadirnya.
Musik mulai
mengalun syahdu… beberapa tamu mulai berdansa di tengah ruangan. Ini adalah
gelas kedua yang telah kuhabiskan. Kakiku melangkah menjauhi keramaian. Di
sudut ruangan terdapat sebuah balkon..hmm.. disini cukup nyaman… ada sebuah
kursi panjang menghadap ke pemandangan kota dimalam hari dengan cahayanya.
Sedikit terhibur dengan
pemandangan di depanku tanpa kusadari di belakangku telah berdiri beberapa pria
dengan pakaian perlente. Salah satu dari mereka mencoba menyapa…
“ Selamat malam,
apakah anda yang bernama nona Hall…… “ seorang pria setengah baya berbadan
sedikit gemuk, mengenakan jas hitam dan memakai parfum mahal berkata kepadaku.
Aku heran, darimana mereka tahu namaku?
“ Maaf… darimana
anda tahu nama saya?...” mataku mewaspadai sikap santai mereka. Ya Tuhan..
semoga tidak terjadi apa-apa denganku malam ini.
“ Great..!! mari
ikut dengan kami nona Hall… “ mereka
menarik tanganku melewati lorong yang agak tersembunyi dari pandangan tamu-tamu di ruang
utama.
Aku berniat
menghubungi Rilla..aahhh…. tas tanganku dimana?... terjatuh atau tertinggal di
balkon… dengan sedikit memaksa pria-pria itu membawaku ke sebuah ruangan mewah
yang cukup luas. Berderet botol minuman di rak yang memenuhi dinding dan furniture
mahal menghiasi ruangan itu.
“ Nah… nona…
mulailah dengan bisnis ini.. “ Sorang pria setengah baya lainnya berjalan
menuju meja di sudut ruangan dan menyalakan sesuatu.. beberapa saat kemudian
suara musik menghentak di seluruh ruangan… beberapa pria memasuki ruangan dan
mereka becanda.. tertawa… huh.. menertawakan ketololanku yang malam itu tidak
mampu berbuat apa-apa.
“ Ayolah sayang…
gerakkan tubuh indahmu… dan segera bukalah gaunmu… hahaha…” seorang pria yang
bertubuh paling tinggi mendekatiku dan mengajakku menari. Aku masih diam saja
tak bereaksi. Mereka semakin tak terkendali.. mungkin pengaruh minuman yang
mereka konsumsi…
Perlahan-lahan
aku mendekati pintu yang berada dibelakangku.. dan ketika mereka tidak
memperhatikanku segera kubuka pintu dan berlari menyusuri lorong-lorong sunyi
dan sepi… dimana ruangan pesta tadi.. mengapa ruangan-ruangan di sini sangat
sepi?...
Mataku
mencari-cari seseorang untuk minta tolong, namun tak kulihat seorangpun berada
di sana. Semakin jauh aku melangkah semakin sepi dan lampu penerangan semakin
meredup. Ada sedikit kekhawatiran dalam hatiku… dimana aku?...
Dalam kekalutanku…
tiba-tiba terlintas Peter, kekasihku… mengapa dia tidak menyapaku? Bukankah aku
kekasihnya? lalu mengapa aku diam saja… ah.. semua kejadian di pesta ini begitu
membingungkan. Masih jelas terlintas di kepalaku beberapa hari yang lalu saat
kukirimkan puisi untuknya…
I love you
Just like a water
Fresh and flow
I love you
Just like a wind
Fresh and blow
I love you
Just like the
morning
Fresh and bloom
I love you
Just like a day
Fresh and shadow
I love you
Just like who you
are
I love you
Just like what
you are
I love you
Just never end
Dan ia hanya
membalas tiga kata … I LOVE YOU… namun itu lebih dari segalanya bagiku…… malam ini
kulihat tatapan matanya dengan cinta itu, namun tak tertuju padaku..
Pintu terakhir yang
kubuka.. kali ini aku berharap menemukan ruang pesta itu… dan segera
meninggalkannya. Braaakkkk….. mataku berkaca-kaca…. Aku kembali ke ruangan
pria-pria yang sedang mabuk karena minuman keras dan pesta narkoba. Mereka
semakin ganas… meraih tubuhku… aku memberontak… sebuah botol minuman yang
kupecahkan mengeluarkan asap hijau beraroma menyengat, membuat kepalaku
berputar-putar. Aku mengacungkan ke wajah salah satu dari mereka…
“ Sudahlah…
biarkan dia pergi…..” seorang temannya membiarkan aku pergi. Pintu di depanku
terbuka… telingaku menangkap suara musik dan keramaian pesta.. hhhhh…. Rasa lega
menyelimuti dalam dada….dengan sekuat tenaga aku melangkah menjauhi pintu
menuju ruangan pesta.
“ Hubungi Rilla….
Minta ganti wanita lain…. Lebih mahalpun akan kita bayar… hahahahahahha…”
Langkahku berhenti.. Rilla… wanita yang di bayar?.... bangsaatt….. kurang ajar
kamu Rilla….
Langkah kakiku
mencari-cari Rilla di tengah keramaian pesta… musik masih mengalun.. tamu-tamu
masih menikmati jamuan makanan dan bercengkrama dengan tamu lainnya. Di sebuah
sudut ruangan pesta kutemukan Rilla sedang asik bercanda dengan seorang pria…
Plaaakkkk…..
tamparan di mukanya membuat Rilla terkejut memandangku dengan penuh tanda Tanya…
“ Hall… apa yang
terjadi?.....”
“ Kamu sungguh
keterlaluan, Rilla…. Tega sekali menjual sahabatmu sendiri….”
“ Maksud kamu
apa, Hall….” Rilla berpura-pura tidak mengerti… tanganku terangkat ingin sekali
aku menampar untuk yang kedua kali… tetapi tanganku terhenti… seseorang memegang
tangan yang hendak melayang menampar wajah Rilla, wanita kurang ajar itu… Peter…
dengan sekali tarikan pria itu membawaku menjauh dari keributan di tengah
pesta.
Kami melewati
cermin besar.. melihat bayangan diriku..aaahhhhh… wajah itu begitu lelah…
kepalaku begitu berputar-putar seolah semua orang menertawakanku.. lihatlah
dirimu Hall… begitu bodoh…. Aku ingin
segera pergi dari sini. Tak perduli dengan Peter yang terus membawaku menjauh
dari ruangan pesta… aku tetap memberontak…. Berusaha melepaskan cengkeraman
tangannya… namun tiba-tiba gelap.
Mataku sedikit
terbuka saat kusadari aku sudah berada di sebuah kamar bersama Peter… aaahhh…
apa yang ia lakukan terhadapku… dengan cepat ia membuka kancing bajuku..
melepaskan seluruh pakaianku.. aku
memberontak… namun tubuhku lemas tak bertenaga…
Ia membawaku ke
kamar mandi dan meletakkan tubuhku yang polos di bathtub… air hangat menyirami
sekujur tubuhku dari shower… membasahi hatiku yang sakit dengan perlakuan
orang-orang di sekitarku malam ini… Peter
meninggalkan kamar mandi.. meninggalkanku dengan hati yang terkoyak…
tercabik-cabik… tanpa kusadari siraman air mengembalikan kesadaranku… mengapa
aku berada di sini… perutku tiba-tiba mual… ternyata aku benar-benar mabok…. Aku
bangkit menuju wastafel, aku ingin muntah… aku ingin mengeluarkan segala kekesalan
dan kekecewaan dalam tubuhku, namun
tubuhku terasa berat…. aaahhhh…. Badanku limbung… aku terjatuh… tiba-tiba seseorang menangkapku…..
Aku membuka mata…
ternyata aku berada dalam dekapan Peter…
“ You are
dreaming…..” ia tersenyum lalu tangannya mengusap kepalaku dengan lembut.
“ Dream???….. “ Ya
Ampuuuuuunnn…. Ternyata aku hanya bermimpi. Pesta sialan itu hanya mimpi…. Hmmm…
syukurlah. Menyadari Peter berada di dekatku segera kupeluk tubuhnya… ah.. aku
tidak ingin kehilanganmu………………..
Frommydream_Hall&Peter

No comments:
Post a Comment