“ Bara… Bara….
Bangun…. “ Ayah mengguncang-guncang tubuhnya…. Haaahhh… ternyata mimpi itu
belum hilang dari tidurnya. Luna…. Ia kembali mendatanginya…
“ Ayah akan
seminar keluar kota weekend ini…. Temani ibumu… jangan keluar terlalu malam
ya…”
“ Baik, yah… Bara libur kok….”
Hari itu Bara
sengaja ke kampus dimana Luna pernah kuliah. Dari informasi beberapa teman Luna
ia tahu bahwa Luna adalah mahasiswa cantik, populer di kalangan teman-temannya,
dan tengah menjalani magang di sebuah perusahaan saat kejadian pembunuhan itu..
namun ia juga terkenal mau menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya
termasuk sering menggoda dan mendekati para dosen untuk sekedar mendapatkan
nilai bagus dan kemudahan–kemudahan lainnya.
“ Hmm… dia khan
simpananya seorang guru besar… jadi meskipun baru semester 5 dia sudah
menyelesaikan seluruh teori dan akan segera skripsi setelah magang nanti….
Mudah baginya.. tinggal senyum saja sudah ACC kok… “ begitulah cibiran
teman-temannya yang sama sekali tidak merasa sedih dengan kematian Luna..
bahkan seolah mereka malah senang. Hmm… segitu burukkah reputasi Luna di
kampus?.....
Bara sebenarnya
tidak tahu harus berbuat apa dengan mimpi-mimpinya. Ia tidak mungkin bercerita
kepada siapa-siapa tentang Luna.. Malam
itu ia sengaja memasuki ruang kerja ayahnya untuk mencari sebuah buku tentang
pemrograman.. kebetulan ayahnya adalah seorang ilmuan bidang sain di sebuah universitas
negeri ternama di kota ini.. beliau selalu sibuk dan menghadiri berbagai acara,
sampai-sampai Bara sebagai anaknya sendiri tidak pernah tahu kegiatan ayahnya.
Namun ayah dan ibunya adalah orang tua yang sangat sempurna baginya. Bara
sangat mencintai mereka berdua.
Sebuah buku
terbitan terbaru ia raih dari perpustakaan ayahnya. Ia segera membuka lembar
demi lembar buku tentang teknologi
terbaru program computer.. tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari tengah halaman
buku tersebut. Bara segera mengambil secarik kertas note berwarna kuning yang
terjatuh dari buku ayahnya. Sekilas Bara membaca pengirim note tersebut… Luna
Widya… haaaa…… benarkah apa yang dibacanya??
28/08/2012
TO : PAK ANDREAS
ADA YANG HARUS
KITA BICARAKAN, PAK… INI PENTING..! MOHON BAPAK KE TEMPAT KITA BIASA BERTEMU
HARI INI JAM 11.00 WIB. NOMOR SAYA YANG BARU 081997202345.
LUNA WIDYA____
Bara seperti
tersengat listrik. Andreas adalah nama ayahnya… ada hubungan apa dengan Luna?
Bara kembali teringat informasi teman Luna yang mengatakan bahwa Luna sering
menjalin affair dengan dosen-dosen hanya sekedar mendapatkan nilai bagus… ah….
Apakah Luna juga menjalin affair dengan ayahnya… bisa jadi… karena memang
ayahnya adalah dosen di beberapa universitas di kota ini.
Bara merasa
semakin penasaran dengan kasus ini, apalagi terakhir ia menemukan keterlibatan
ayahnya dengan gadis itu. Ia tak menampik Luna memang cantik.. bahkan
dirinyapun sempat tergila-gila padanya.. sayang semua itu hanya sebatas
halusinasi tak nyata… sebuah bayangan seseorang yang mati penasaran.. dan tanpa
sengaja ia menemukannya di gedung tempat Luna magang.. di gedung yang sama
tempat Bara bekerja.
Bara bukan
seorang yang percaya dengan hantu, namun ia mengakui ada sebuah fenomena pasca
kematian yang tidak semua sempurna. Ia percaya arwah penasaran bisa saja datang
berwujud bayangan gentayangan dan mengganggu siapa saja yang menyebabkan
arwahnya tidak bisa tenang. Menganggu…. Tapi ia merasa tidak mengenal Luna
sebelumya… mengapa justru Luna menganggu dirinya? Bara semakin bingung dengan
analisanya sendiri…
*****
“ Baiklah… ayah
mendengarkan… ada apa sebenarnya kamu mengajak ayah kemari?..”
“ Ada hubungan
apa ayah dengan Luna Widya?..” Bara melihat sekilas ayahnya terkejut dan
gelisah demi mendengar nama itu.
“ Dia mahasiswi ayah,
tapi sudah meninggal beberapa minggu yang lalu… memangnya ada apa?..”
“ Dalam note ini
menjelaskan ayah ada masalah denganya..” Bara menyodorkan note kuning yang ia
temukan beberapa hari yang lalu. Ayah terlihat benar-benar terkejut. Ia meraih
kertas itu dan membacanya….. setelah membaca note itu Bara melihat ayahnya
mengeluarkan tablet.. ia mencari-cari sesuatu di sana…
“ Jadi benar ini
nomor HP Luna.. Bara dimana kamu menemukan note itu?..”
“ Di dalam buku program
computer milik ayah… jadi benar ayah ada hubungan dengan Luna?..”
“ hmmmm… iya….
Ayah memang jatuh cinta padanya… ayah kira kami saling mencintai.. kami bertemu sesekali dalam seminggu… ” Ayah yang
tahun ini genap berusia 50 tahun itu memang masih terlihat gagah dan enerjik.
Ayah memang terkenal ramah, supel dan
digandrungi para mahasiswinya. Karisma ayah memang sangat kuat.. Bara menyadari
karakter ayah yang sedikit diturunkan kepadanya mampu membuat Luna yang masih
belia itu mau berhubungan dengannya.
“ Ayah tidur
dengannya?..” Ayah memandang Bara dengan tajam.. kemudian ia mengangguk. Kali
ini Bara melihat semburat penyesalan dan kesedihan di wajah pria setengah baya
itu.
“ Note tertanggal
28 berarti tiga hari setelah kami bertemu untuk yang terakhir kali… dan sejak
saat itu ayah tidak bisa menemuinya lagi…. Note itu tidak pernah ayah baca…. Memang
Luna sering menyelipkan note sekedar mengucapkan kata-kata manis lalu di
selipkan di buku yang ia kembalikan setelah meminjamnya.. seingat ayah Luna
meminjam buku tentang sain bukan program komputer yang kamu sebutkan tadi, dan
ia mengembalikannya pada saat kami bertemu… tepatnya tanggal 25…. Bukankah
seharusnya note itu berada dalam buku Sain? …”
“ Lalu mengapa
note itu ada di buku program komputer di
almari perpustakaan ayah?.. siapa yang meletakkan di sana?... “ Bara seperti melihat ada kejanggalan dalam
note itu.
“ Hmm… penggemar
buku tentang program komputer hanya ada kamu……. dan Melia, ibumu….” Ayah
bergumam seolah memikirkan sesuatu…. Haaahhh… ibu? Bara baru sadar bahwa ibunya
yang seorang arsitek itu sangat mahir dalam menggunakan program-program komputer dan selalu mengikuti
perkembangan program terbaru. Ahhhhh…………. Semoga ini tidak seperti yang Bara
fikirkan.
“ Lalu
bagaimana?...... Luna mengandung anak ayah… ” Bara memandang ayahnya…..
“ Ahh… tidak
mungkin… dari mana kamu tahu, nak?...”
Ayah masih terlihat menyesali kematian Luna.
“ Luna mendatangi
saya… dalam alam bawah sadar saya… dalam mimpi-mimpi saya….”
“ Apa yang ia
cari?...”
“ Dalang
pembunuhnya…”
“ Bukankah dua orang
preman yang diberitakan telah tertembak mati polisi itu yang memperkosa lalu
membunuhnya?..” ayah kembali memandang Bara denga penuh tanda Tanya.
“ Bukan… mereka
di suruh seseorang…”
“ Kejam
sekali…..”
“ Jadi bukan ayah
yang melakukannya?..”
“ Bara….. ayah
menyayanginya… dan mencintainya… tidak mungkin….” Mata ayah terlihat terluka.
“ Jadi siapa?....
note itu kuncinya…..”
“ Kita akan
menemukannya…” Ayah berdiri dan meninggalkan Bara yang masih memikirkan
sesuatu.. tentang note itu… tentang buku itu….
*****
Jadi inilah café
dimana ayah dan Luna sering bertemu. Sebuah café modern artistik dengan desain
yang futuristik di kawasan agak jauh dari pusat bisnis dan keramaian. Tempat
ini cukup nyaman untuk melepas penat dan sekedar melepaskan beban dari segala
bentuk kesibukan. Bara yakin ayahnya yang memilih tempat tersebut.
“ Oh… iya, mas…
kira-kira dua minggu yang lalu…. Benar… seorang wanita muda dan cantik dan
seorang wanita setengah baya… kasihan wanita itu mas……. Benar ini orangnya……..”
Sudah cukup
pencarian Bara… perjalanan hari ini seakan menjadi perjalanan paling panjang
dan melelahkan. Di kantor ia tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya.
Pikirannya terfokus kepada apa yang ia temukan tadi pagi di café itu. Tetapi ia
bertekat akan menyelesaikannya hari ini.. malam ini…………
*****
“ Bu………..”
“ Ibu agak sibuk,
sayang…….. ada apa?...” Melia memang kelihatan sibuk dengan komputernya, namun
ia tetap menjawab panggilan Bara.. anak laki-laki satu-satunya.
“ Ibu ada waktu
sebentar…” Melia terlihat menghentikan aktivitasnya dan memutar kursi menghadap Bara yang duduk
di belakangnya.
“ Hmmm… apa kamu
berubah pikiran… mau meneruskan kuliah lagi? “ wanita setengah baya yang
terlihat masih cantik itu tersenyum. Ah… tak tega rasanya melihat senyum penuh
cinta itu dari bibirnya. Bara sangat mencintai ibunya. Walau ibu selalu sibuk
namun ia tak pernah meninggalkan Bara dalam kesendirian hingga ia dewasa.
“ Ah, nggak… saya
mau bertanya… “
“ Ada apa,
sayang?….”
“ Ibu mengenal
Luna Widya bukan?...” tiba-tiba senyum Melia berubah. “ Ibu menemukan note Luna
untuk ayah dan diam-diam menemui gadis itu di Café…” sampai di sini Bara tak
melihat perubahan ekspresi ibunya.. tetap diam tak bergeming. “ ibu tidak
keberatan bercerita?....” Bara menunggu reaksi ibunya.
“ Akhirnya kamu
tahu juga….. ibu sangat terpukul mengetahui hubungan ayah dengan gadis belia
itu…. ibu memang menemukan note itu di sela-sela buku ayah, ibu sengaja
meletakkan note itu ke dalam buku yang tengah ibu baca, ibu memang menemuinya
dan memintanya menjauhi ayah.. namun gadis
itu malah mentertawakan ibu dengan mengatakan bahwa ibu sudah tua dan tidak
semenarik dirinya. Ibu pantas di tinggalkan ayah karena tempat ibu akan segera
digantikannya. Gadis itu sangat licik… ia mengatakan bahwa ia telah mengandung
anak ayah, hal yang tidak mungkin terjadi setelah kamu berusia 5 tahun, ayah
telah melakukan operasi vasektomi karena ada gangguan urology.. kalaupun ia memang benar hamil pasti bukan
dengan ayahmu, dan ibu melihat sendiri minuman yang ia konsumsi saat itu ….
wine berkelas yang sangat tinggi kadar alcohol dan sangat berbahaya buat
kesehatan janinnya.. ibu memang menamparnya karena ibu melarangnya minum
minuman itu… ”
“ Lalu apa yang
ibu lakukan setelah itu?..” Bara melihat ibunya mash saja tenang. Ia sungguh
berharap ini tidak terjadi di keluarganya. Ia tak melihat ibunya adalah wanita
yang tega…………………………..triiiiiiiiiiing…. triiiiiiiiiing………… Tiba-tiba
handphonenya berbunyi… dari ayah……
“ Halo,
ayah… ada apa?..”
“ Oh ya?...”
“ Dimana?......”
“ Media online?....
sebentar..” Bara mendekati komputer
ibunya dan mencari sebuah media online..
matanya mencari-cari berita yang
ayah maksudkan, dan….. ini dia… aaahhhhhhhhh….. ya Tuhan……!!!!!
*****
……………………… Bara….
Aku datang….. terima kasih……………….. selamat tinggal…………….
Huft…. Dia datang
lagi…! Kali ini mungkin yang terakhir kali……… dia telah mengucapkan selamat
tinggal. Jam dinding menunjukkan waktu
pukul 11:30 wib… Bara duduk terdiam merenungi kejadian yang akhir-akhir ini
menimpa dirinya dan keluarganya.
Ia beranjak dari
pembaringan sejenak meraih gelas di meja.. ah.. kosong… kakinya agak malas
melangkah ke ruang tengah untuk mengambil air. Melewati ruang keluarga matanya
sejenak terpaku melihat pemandangan di depannya. Ayah dan ibu berpelukan sambil
nonton film.. hmmmm…. Bara tersenyum inilah akhir episode terror kematian Luna
dalam keluarganya.
Ia telah salah
menilai kedewasaan kedua orang tuanya. Keluarga kecil yang disibukkan dengan aktivitas
penghuninya yang padat tidak menjadikan mereka
kehilangan komunikasi dan keterbukaan. Ilmu memang menjadikan manusia
itu pandai dan menguasai dunia namun karakter manusia tidak bisa di ubah dengan
mudah oleh ilmu… naluri manusia untuk meraih kebahagiaan tidak bisa di ukur dengan ilmu.. Dan kebahagiaan
di keluarga ini hadir dengan adanya cinta……………………………………………………………………….end
Bara…. Pemuda cerdas berusia 25
tahun.. bekerja sebagai tim ahli informatika di sebuah perusahaan
publisher.. menarik dan selalu
mendapatkan apa yang diinginkannya dari setiap wanita yang di dekatinya.
Menemukan arwah Luna yang penasaran dan selalu dibayang-bayangi ketakutan bahwa
salah satu orang tuanya adalah pembunuh Luna.
Andreas….
Seorang guru besar sebuah universitas negeri.. cerdas.. enerjik.. wealthy… dan
karismatik. Menjalin cinta dengan seorang mahasiswinya bernama Luna yang
ternyata hanya menginginkan materi saja.
Melia….
Wanita cerdas, arsitek yang sangat menyayangi keluarganya terutama anak semata
wayangnya, Bara. Berusaha menerima perselingkuhan suaminya namun tetap
berprinsip bahwa keluarga adalah segalanya.
Luna Widya…..
Mahasiswi cantik, dan menarik. Menyadari
keindahan fisiknya ia selalu menjerat mangsa-mangsa cintanya untuk memenuhi
segala keinginan duniawinya. Terlibat beberapa skandal asmara dengan siapa saja
yang bisa memberi kemudahan baginya. Meminta tolong Bara yang begitu sempurna
di matanya…. Untuk menemukan pembunuh dirinya….
Dewa….
Sahabat Bara yang memiliki sebuah perusahaan desain interior yang mengerjakan
desain gedung di lantai 5. Diam-diam menjalin cinta dengan Luna, mahasiswi yang
magang di perusahaannya sampai Luna hamil. Khawatir Luna menghancurkan keluarga
kecilnya dengan istri dan dua orang anak ia meminta tolong dua orang preman untuk
menyingkirkan Luna. Namun belum sempat memindahkan mayat Luna dari gedung di
lantai 5 kedua preman yang sempat memperkosa Luna lalu membunuh wanita itu tertembak polisi dalam pengejaran,
seorang tewas dan seorang lagi sempat memberikan keterangan sebelum menghembuskan
nafas terakhir.. akhirnya polisi mampu
mengungkap pembunuhan Luna Widya yang di dalangi oleh Dewa…..
thrillerfiction_Al10092012

No comments:
Post a Comment