Tuesday, September 11, 2012

Bara cinta dari lantai 5… (part 2)



 “ Bara… Bara…. Bangun…. “ Ayah mengguncang-guncang tubuhnya…. Haaahhh… ternyata mimpi itu belum hilang dari tidurnya. Luna…. Ia kembali mendatanginya…

“ Ayah akan seminar keluar kota weekend ini…. Temani ibumu… jangan keluar terlalu malam ya…”

 “ Baik, yah… Bara libur kok….”

Hari itu Bara sengaja ke kampus dimana Luna pernah kuliah. Dari informasi beberapa teman Luna ia tahu bahwa Luna adalah mahasiswa cantik, populer di kalangan teman-temannya, dan tengah menjalani magang di sebuah perusahaan saat kejadian pembunuhan itu.. namun ia juga terkenal mau menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya termasuk sering menggoda dan mendekati para dosen untuk sekedar mendapatkan nilai bagus dan kemudahan–kemudahan lainnya.

“ Hmm… dia khan simpananya seorang guru besar… jadi meskipun baru semester 5 dia sudah menyelesaikan seluruh teori dan akan segera skripsi setelah magang nanti…. Mudah baginya.. tinggal senyum saja sudah ACC kok… “ begitulah cibiran teman-temannya yang sama sekali tidak merasa sedih dengan kematian Luna.. bahkan seolah mereka malah senang. Hmm… segitu burukkah reputasi Luna di kampus?.....

Bara sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa dengan mimpi-mimpinya. Ia tidak mungkin bercerita kepada siapa-siapa tentang Luna..  Malam itu ia sengaja memasuki ruang kerja ayahnya untuk mencari sebuah buku tentang pemrograman.. kebetulan ayahnya adalah seorang ilmuan bidang sain di sebuah universitas negeri ternama di kota ini.. beliau selalu sibuk dan menghadiri berbagai acara, sampai-sampai Bara sebagai anaknya sendiri tidak pernah tahu kegiatan ayahnya. Namun ayah dan ibunya adalah orang tua yang sangat sempurna baginya. Bara sangat mencintai mereka berdua.

Sebuah buku terbitan terbaru ia raih dari perpustakaan ayahnya. Ia segera membuka lembar demi lembar buku tentang  teknologi terbaru program computer.. tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari tengah halaman buku tersebut. Bara segera mengambil secarik kertas note berwarna kuning yang terjatuh dari buku ayahnya. Sekilas Bara membaca pengirim note tersebut… Luna Widya… haaaa…… benarkah apa yang dibacanya??

28/08/2012
TO : PAK ANDREAS
ADA YANG HARUS KITA BICARAKAN, PAK… INI PENTING..! MOHON BAPAK KE TEMPAT KITA BIASA BERTEMU HARI INI JAM 11.00 WIB. NOMOR SAYA YANG BARU 081997202345.
LUNA WIDYA____

Bara seperti tersengat listrik. Andreas adalah nama ayahnya… ada hubungan apa dengan Luna? Bara kembali teringat informasi teman Luna yang mengatakan bahwa Luna sering menjalin affair dengan dosen-dosen hanya sekedar mendapatkan nilai bagus… ah…. Apakah Luna juga menjalin affair dengan ayahnya… bisa jadi… karena memang ayahnya adalah dosen di beberapa universitas di kota ini.

Bara merasa semakin penasaran dengan kasus ini, apalagi terakhir ia menemukan keterlibatan ayahnya dengan gadis itu. Ia tak menampik Luna memang cantik.. bahkan dirinyapun sempat tergila-gila padanya.. sayang semua itu hanya sebatas halusinasi tak nyata… sebuah bayangan seseorang yang mati penasaran.. dan tanpa sengaja ia menemukannya di gedung tempat Luna magang.. di gedung yang sama tempat Bara bekerja.

Bara bukan seorang yang percaya dengan hantu, namun ia mengakui ada sebuah fenomena pasca kematian yang tidak semua sempurna. Ia percaya arwah penasaran bisa saja datang berwujud bayangan gentayangan dan mengganggu siapa saja yang menyebabkan arwahnya tidak bisa tenang. Menganggu…. Tapi ia merasa tidak mengenal Luna sebelumya… mengapa justru Luna menganggu dirinya? Bara semakin bingung dengan analisanya sendiri…


*****

“ Baiklah… ayah mendengarkan… ada apa sebenarnya kamu mengajak ayah kemari?..”

“ Ada hubungan apa ayah dengan Luna Widya?..” Bara melihat sekilas ayahnya terkejut dan gelisah demi mendengar nama itu.

“ Dia mahasiswi ayah, tapi sudah meninggal beberapa minggu yang lalu… memangnya ada apa?..”

“ Dalam note ini menjelaskan ayah ada masalah denganya..” Bara menyodorkan note kuning yang ia temukan beberapa hari yang lalu. Ayah terlihat benar-benar terkejut. Ia meraih kertas itu dan membacanya….. setelah membaca note itu Bara melihat ayahnya mengeluarkan tablet.. ia mencari-cari sesuatu di sana…

“ Jadi benar ini nomor HP Luna.. Bara dimana kamu menemukan note itu?..”

“ Di dalam buku program computer milik ayah… jadi benar ayah ada hubungan dengan Luna?..”

“ hmmmm… iya…. Ayah memang jatuh cinta padanya… ayah kira kami saling mencintai.. kami  bertemu sesekali dalam seminggu… ” Ayah yang tahun ini genap berusia 50 tahun itu memang masih terlihat gagah dan enerjik. Ayah memang  terkenal ramah, supel dan digandrungi para mahasiswinya. Karisma ayah memang sangat kuat.. Bara menyadari karakter ayah yang sedikit diturunkan kepadanya mampu membuat Luna yang masih belia itu mau berhubungan dengannya.

“ Ayah tidur dengannya?..” Ayah memandang Bara dengan tajam.. kemudian ia mengangguk. Kali ini Bara melihat semburat penyesalan dan kesedihan di wajah pria setengah baya itu.

“ Note tertanggal 28 berarti tiga hari setelah kami bertemu untuk yang terakhir kali… dan sejak saat itu ayah tidak bisa menemuinya lagi…. Note itu tidak pernah ayah baca…. Memang Luna sering menyelipkan note sekedar mengucapkan kata-kata manis lalu di selipkan di buku yang ia kembalikan setelah meminjamnya.. seingat ayah Luna meminjam buku tentang sain bukan program komputer yang kamu sebutkan tadi, dan ia mengembalikannya pada saat kami bertemu… tepatnya tanggal 25…. Bukankah seharusnya note itu berada dalam buku Sain? …”

“ Lalu mengapa note itu ada di  buku program komputer di almari perpustakaan ayah?.. siapa yang meletakkan di sana?...  “ Bara seperti melihat ada kejanggalan dalam note itu.

“ Hmm… penggemar buku tentang program komputer hanya ada kamu……. dan Melia, ibumu….” Ayah bergumam seolah memikirkan sesuatu…. Haaahhh… ibu? Bara baru sadar bahwa ibunya yang seorang arsitek itu sangat mahir dalam menggunakan  program-program komputer dan selalu mengikuti perkembangan program terbaru. Ahhhhh…………. Semoga ini tidak seperti yang Bara fikirkan.

“ Lalu bagaimana?...... Luna mengandung anak ayah… ” Bara memandang ayahnya…..

“ Ahh… tidak mungkin…  dari mana kamu tahu, nak?...” Ayah masih terlihat menyesali kematian Luna.

“ Luna mendatangi saya… dalam alam bawah sadar saya… dalam mimpi-mimpi saya….”

“ Apa yang ia cari?...”

“ Dalang pembunuhnya…”

“ Bukankah dua orang preman yang diberitakan telah tertembak mati polisi itu yang memperkosa lalu membunuhnya?..” ayah kembali memandang Bara denga penuh tanda Tanya.

“ Bukan… mereka di suruh seseorang…”

“ Kejam sekali…..”

“ Jadi bukan ayah yang melakukannya?..”

“ Bara….. ayah menyayanginya… dan mencintainya… tidak mungkin….” Mata ayah terlihat terluka.

“ Jadi siapa?.... note itu kuncinya…..”

“ Kita akan menemukannya…” Ayah berdiri dan meninggalkan Bara yang masih memikirkan sesuatu.. tentang note itu… tentang buku itu….


*****

Jadi inilah café dimana ayah dan Luna sering bertemu. Sebuah café modern artistik dengan desain yang futuristik di kawasan agak jauh dari pusat bisnis dan keramaian. Tempat ini cukup nyaman untuk melepas penat dan sekedar melepaskan beban dari segala bentuk kesibukan. Bara yakin ayahnya yang memilih tempat tersebut.

“ Oh… iya, mas… kira-kira dua minggu yang lalu…. Benar… seorang wanita muda dan cantik dan seorang wanita setengah baya… kasihan wanita itu mas……. Benar ini orangnya……..”

Sudah cukup pencarian Bara… perjalanan hari ini seakan menjadi perjalanan paling panjang dan melelahkan. Di kantor ia tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Pikirannya terfokus kepada apa yang ia temukan tadi pagi di café itu. Tetapi ia bertekat akan menyelesaikannya hari ini.. malam ini…………

*****

“ Bu………..”

“ Ibu agak sibuk, sayang…….. ada apa?...” Melia memang kelihatan sibuk dengan komputernya, namun ia tetap menjawab panggilan Bara.. anak laki-laki satu-satunya.

“ Ibu ada waktu sebentar…” Melia terlihat menghentikan aktivitasnya  dan memutar kursi menghadap Bara yang duduk di belakangnya.

“ Hmmm… apa kamu berubah pikiran… mau meneruskan kuliah lagi? “ wanita setengah baya yang terlihat masih cantik itu tersenyum. Ah… tak tega rasanya melihat senyum penuh cinta itu dari bibirnya. Bara sangat mencintai ibunya. Walau ibu selalu sibuk namun ia tak pernah meninggalkan Bara dalam kesendirian hingga ia dewasa.

“ Ah, nggak… saya mau bertanya… “

“ Ada apa, sayang?….”

“ Ibu mengenal Luna Widya bukan?...” tiba-tiba senyum Melia berubah. “ Ibu menemukan note Luna untuk ayah dan diam-diam menemui gadis itu di Café…” sampai di sini Bara tak melihat perubahan ekspresi ibunya.. tetap diam tak bergeming. “ ibu tidak keberatan bercerita?....” Bara menunggu reaksi ibunya.

“ Akhirnya kamu tahu juga….. ibu sangat terpukul mengetahui hubungan ayah dengan gadis belia itu…. ibu memang menemukan note itu di sela-sela buku ayah, ibu sengaja meletakkan note itu ke dalam buku yang tengah ibu baca, ibu memang menemuinya dan  memintanya menjauhi ayah.. namun gadis itu malah mentertawakan ibu dengan mengatakan bahwa ibu sudah tua dan tidak semenarik dirinya. Ibu pantas di tinggalkan ayah karena tempat ibu akan segera digantikannya. Gadis itu sangat licik… ia mengatakan bahwa ia telah mengandung anak ayah, hal yang tidak mungkin terjadi setelah kamu berusia 5 tahun, ayah telah melakukan operasi vasektomi karena ada gangguan urology..  kalaupun ia memang benar hamil pasti bukan dengan ayahmu, dan ibu melihat sendiri minuman yang ia konsumsi saat itu …. wine berkelas yang sangat tinggi kadar alcohol dan sangat berbahaya buat kesehatan janinnya.. ibu memang menamparnya karena ibu melarangnya minum minuman itu… ”

“ Lalu apa yang ibu lakukan setelah itu?..” Bara melihat ibunya mash saja tenang. Ia sungguh berharap ini tidak terjadi di keluarganya. Ia tak melihat ibunya adalah wanita yang tega…………………………..triiiiiiiiiiing…. triiiiiiiiiing………… Tiba-tiba handphonenya berbunyi… dari ayah……

“ Halo, ayah…  ada apa?..”

“ Oh ya?...”

“ Dimana?......”

“ Media online?.... sebentar..”  Bara mendekati komputer ibunya dan mencari sebuah media online..  matanya mencari-cari berita yang  ayah maksudkan, dan….. ini dia… aaahhhhhhhhh….. ya Tuhan……!!!!!


*****

……………………… Bara…. Aku datang….. terima kasih……………….. selamat tinggal…………….

Huft…. Dia datang lagi…! Kali ini mungkin yang terakhir kali……… dia telah mengucapkan selamat tinggal.  Jam dinding menunjukkan waktu pukul 11:30 wib… Bara duduk terdiam merenungi kejadian yang akhir-akhir ini menimpa dirinya dan keluarganya.

Ia beranjak dari pembaringan sejenak meraih gelas di meja.. ah.. kosong… kakinya agak malas melangkah ke ruang tengah untuk mengambil air. Melewati ruang keluarga matanya sejenak terpaku melihat pemandangan di depannya. Ayah dan ibu berpelukan sambil nonton film.. hmmmm…. Bara tersenyum inilah akhir episode terror kematian Luna dalam keluarganya.

Ia telah salah menilai kedewasaan kedua orang tuanya. Keluarga kecil yang disibukkan dengan aktivitas penghuninya yang padat tidak menjadikan mereka  kehilangan komunikasi dan keterbukaan. Ilmu memang menjadikan manusia itu pandai dan menguasai dunia namun karakter manusia tidak bisa di ubah dengan mudah oleh ilmu… naluri manusia untuk meraih kebahagiaan  tidak bisa di ukur dengan ilmu.. Dan kebahagiaan di keluarga ini hadir dengan adanya cinta……………………………………………………………………….end



 Bara…. Pemuda cerdas berusia 25 tahun.. bekerja sebagai tim ahli informatika di sebuah perusahaan publisher..  menarik dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dari setiap wanita yang di dekatinya. Menemukan arwah Luna yang penasaran dan selalu dibayang-bayangi ketakutan bahwa salah satu orang tuanya adalah pembunuh Luna.

Andreas…. Seorang guru besar sebuah universitas negeri.. cerdas.. enerjik.. wealthy… dan karismatik. Menjalin cinta dengan seorang mahasiswinya bernama Luna yang ternyata hanya menginginkan materi saja.

Melia…. Wanita cerdas, arsitek yang sangat menyayangi keluarganya terutama anak semata wayangnya, Bara. Berusaha menerima perselingkuhan suaminya namun tetap berprinsip bahwa keluarga adalah segalanya.

Luna Widya….. Mahasiswi cantik, dan menarik.  Menyadari keindahan fisiknya ia selalu menjerat mangsa-mangsa cintanya untuk memenuhi segala keinginan duniawinya. Terlibat beberapa skandal asmara dengan siapa saja yang bisa memberi kemudahan baginya. Meminta tolong Bara yang begitu sempurna di matanya…. Untuk menemukan pembunuh dirinya….

Dewa…. Sahabat Bara yang memiliki sebuah perusahaan desain interior yang mengerjakan desain gedung di lantai 5. Diam-diam menjalin cinta dengan Luna, mahasiswi yang magang di perusahaannya sampai Luna hamil. Khawatir Luna menghancurkan keluarga kecilnya dengan istri dan dua orang anak ia meminta tolong dua orang preman untuk menyingkirkan Luna. Namun belum sempat memindahkan mayat Luna dari gedung di lantai 5 kedua preman yang sempat memperkosa Luna lalu membunuh wanita  itu tertembak polisi dalam pengejaran, seorang tewas dan seorang lagi sempat  memberikan keterangan sebelum menghembuskan nafas terakhir..  akhirnya polisi mampu mengungkap pembunuhan Luna Widya yang di dalangi oleh Dewa…..



thrillerfiction_Al10092012

No comments:

Post a Comment