……. Aku datang Bara… ijinkan aku menyentuhmu malam ini… Bara… Bara…mari bercinta seperti yang pernah kita lakukan di tangga gedung malam itu…………….
Keringat dingin
mengucur deras di dahi laki-laki yang terdiam duduk di ranjang. Degub
jantungnya terdengar hampir sama kerasnya dengan detik jarum jam di
telinganya…. duk..duk..duk..duk..duk.. dia datang lagi… bagaimana ini…. Ya
TUHAN….
Bara.. mencoba
menahan nafas dan memejamkan tangannya. Ia benar-benar panik. Ia sama sekali
tidak menyangka wanita itu mendatanginya.
……………. Bara….
Bara…. Ijinkan aku memelukmu…. ………
Suara wanita itu
semakin dekat saja…….. tiba-tiba desir angin menerpa wajah seiring terbukanya
jendela… braaaaaakkkkkk………. Bara semakin
tegang… bayangan wanita yang hanya mengenakan selendang tipis telah berada di hadapannya. Tubuh
wanita itu bergoyang mengundang detak
jantung Bara yang tengah ketakutan
semakin kencang… ahhh… Bara semakin bimbang… benarkah apa yang kulihat ini…. ?
Wanita setengah telajang itu perlahan-lahan mendekatinya… mengulurkan
tangannya… seiring bau wangi melati menyengat
penciumannya.
Bara tak kuasa
menahan kebimbangannya.. ketakutannya…
dan ia memejamkan matanya… keringat mengucur deras dari pori-pori di seluruh
tubuhnya. ………………Bara………. Suara lembut namun bernuansa mistis itu semakin dekat
saja…… sedetik kemudian tangan bara menghempaskan bayangan wanita dari
hadapannya….. aaaaagggghhhhhhhhhhhhh…………….. mata wanita itu membesar.. tak
menyangka mendapat perlakuan kasar…. Mata memerah .. memancarkan sinar
kemarahan dan kekecewaan… mencengkram lengan Bara dengan mata penuh dendam…………Bara
tetap berteriak dengan mata terpejam……………
“ Bara.. Bara…
bangun… bangun… kamu mimpi ya…..” Ayah menggedor-gedor pintu kamarnya. Bara segera membuka matanya… huft… mimpi? Ia merasakan
nyata sekali… sama sekali tidak bermimpi… ia melihat jam dinding yang telah
menunjukkan pukul 05:00 pagi. Bara segera bangkit dan mencuci wajahnya.
Dalam cermin ia
memandang dirinya… begitu lelah dan pucat… karena sudah dua hari ini bayangan
wanita itu selalu mengganggunya.. mandatanginya dan mengodanya… ia bahkan tak
sempat memejamkan matanya sekedar untuk melepas penat setelah seharian penuh bekerja.
*****
Dua minggu yang
lalu………
Setelah beberapa
program diperbaiki Bara, pemuda cerdas berusia 25 tahun itu segera membereskan
peralatan dan meninggalkan ruangan yang saat ini kondisinya sudah sangat sepi.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 02:00 wib. Bara segera menuju
lift yang letaknya di ujung lorong lantai delapan gedung bertingkat ini.
Di persimpangan
lorong ke dua tiba-tiba ia melambatkan langkah kakinya. Tak jauh di depannya
berjalan seorang wanita yang sangat menggoda. Mata bara berkedip-kedip
memastikan bahwa apa yang ia lihat benar-benar nyata. Mereka memasuki lift yang
sama.
“ Selamat malam…
over time juga ya..” Mata bara tak henti-hentinya memandangi keindahan di depan
matanya.
Wanita yang
disapanya hanya tersenyum manis lalu menganggukan kepalanya dan melangkah
keluar lift tepat di lantai 5. Pintu lift tertutup kembali.. sedetik kemudian
bara menekan tombol open dan melangkah keluar. Ia melihat wanita itu memasuki
sebuah ruangan yang sedang direnovasi. Bukan Bara kalau tidak penasaran dengan
mahkluk ciptaan Tuhan yang berwujud wanita cantik. Bara mengikuti wanita tadi
memasuki ruangan yang masih direnovasi. Suasana agak gelap di dalam ruangan
itu.. mata tajam Bara mencari-cari bayangan wanita tadi. Hmmm… mengapa sepi
sekali di sini? Ia memeriksa setiap sudut ruangan yang agak berantakan, namun
tak menemukan wanita tadi..
“ Cari saya ya…”
tiba-tiba suara wanita itu terdengar
dari arah anak tangga yang menuju lantai atas. Bara agak terkejut karena anak
tangga tersebut cukup lebar sehingga siapapun yang naik turun akan terlihat dan
terdengar dari lantai bawah ini, lalu mengapa wanita cantik ini tiba-tiba sudah
berada di ujung paling bawah anak tangga? Bara menepis keheranannya dan
tersenyum.
Mereka segera
terlibat percakapan akrab.. Bukan Bara kalau tidak bisa menarik perhatian
setiap wanita yang di temuinya. Dalam hitungan menit Bara sudah menggenggam
tangan dingin wanita yang ia kenal bernama Luna. Luna sangat manja dengan
suaranya yang renyah bagaikan krupuk udang menari-nari di telinga Bara yang
malam itu tak sedetikpun membiarkan Luna tersenyum tanpa mendengar rayuan
mautnya.
“ Apa yang kamu
pikirkan setelah kita berkenalan, Luna?..” Bara memainkan anak rambut Luna
yang duduk lebih tinggi satu anak tangga
di atas Bara. Luna diam saja namun tetap tersenyum dan memandang Bara penuh
arti. Tatapan mata yang beradu tanpa sepatah kata lebih bermakna dari
serentetan ucapan dari mulut yang bersuara.
Dan Bara sangat
pandai memainkan perasaan Luna, suasana hening di dalam ruangan yang agak gelap
itu membuat keduaya hanyut dalam hasrat yang mendesak untuk bercinta. Bara tak
melewatkan kesempatan ketika Luna hanya melenguh kecil kala Bara mendaratkan
ciuman di bibir Luna.. dingin dan bergetar… Bara merasa Luna juga memiliki
hasrat yang sama. Apalagi tangan Luna seketika meremas rambutnya.., seperti
biasanya ketika bertemu dengan setiap wanita yang menarik hatinya, Bara selalu
ingin menjamah tubuh wanita-wanita di hadapannya.. mencumbunya dan akhirnya
membawanya dalam sebuah keindahan dalam desah dan getaran surga dunia.
Malam itu anak
tangga di ruangan yang baru direnovasi di lantai lima menjadi saksi keindahan
hasrat cinta dua anak manusia yang sedang membara.
“ Luna… kamu
tidak hanya cantik, tapi kamu juga telah menjerat hatiku.. “ Mareka berpisah
setelah Bara berjanji akan menemui Luna esok pagi…
*****
Beberapa hari ini
Bara sudah tidak over time hingga larut
malam, namun ia selalu menunggu Luna yang selalu datang setelah jam 9 malam.
Jadwal kuliah yang padat di pagi hari membuat Luna harus rela bekerja shift malam
setiap hari sejak sebulan yang lalu di sebuah perusahaan desain interior.
Baru tiga hari
bertemu dan berkenalan dengan Luna, Bara merasa sangat mengenal gadis itu. Luna
begitu hangat dan mengerti keinginannya. Bara tak menampik keheranannya ketika
ia menyentuh tubuh Luna yang selalu dingin bergetar namun ia selalu melupakan
hal itu karena Luna dengan gairahnya sangat membuai dirinya.
Malam ini Bara
sangat merindukan Luna.. ketika jam menunjukkan pukul 7:30 wib ia tetap santai
duduk di ruangannya sambil menyapa teman-temannya di jejaring sosial. Ia sangat
merindukan Luna, sudah dua hari Luna tidak masuk kantor karena ada ujian. Luna
memberitahukan pada saat terakhir bertemu bahwa malam ini ia akan masuk
kembali. Bara sudah tidak sabar lagi rasanya ingin bertemu Luna.. ingin memeluk
tubuh ramping gadis itu.. ingin mencium lembut bibir seksinya dan ingin
mencumbu dengan hasrat yang menggebu.
Bara membaca chat
yang dikirim Dewa, salah seorang temannya pemilik sebuah perusahaan desain
interior di gedung yang sama tetapi kantornya berada di lantai yang berbeda.
Dewa : Udah
denger berita ada hantu gentayangan di kantor ini belum?
Bara : Heh… hantu gentayangan apaan?
Dewa :
Cewek…
kayaknya mati penasaran…
Bara : Belum….
Dewa :
yeaahh…
ketinggalan info…
kemana aja sih, lo?
Bara : Sibuk….
Ma cewek gue.. hehehe
Dewa :
Jiaaahahahaha…….
Mayatnya tadi pagi ketemu di
lantai 5…
Bara : Serius lu?
Gue kok nggak tau ya?....
Dewa : yee…
beneran….diperkosa.. Dicekik…
Lu dimana sekarang?
Masih di kantor?
Hati-hati lu kalo lewat lantai 5…
deket kantor yang baru di renovasi
lokasinya.
Bara : Haaa…..
Lu nggak bercanda khan…
Lantai 5 itu kantor cewek gue…
Dewa : Ngimpi lu
ya…
Sejak seminggu lalu lantai 5 khan
kosong…
Renovasi dari pagi sampai sore…
Gue yang ngerjain desainnya…
Ya udah….
Cabut dulu…
Mau pulang gue…
Bye…
Bara ; Ok, Wa…. See ya…
Duh, mampus…..
bagaimana ini… mengapa tiba-tiba dadaku berdebar-debar begini. Lantai 5…
bukankah itu kantornya Luna? Memang tiga hari yang lalu ia melihat kantor itu
masih berantakan namun ketika terakhir kali bertemu dengan Luna ia melihat
kantor itu sudah rapi dan ada beberapa karyawan yang mondar-mandir di sana.
Bara segera
membereskan mejanya, mematikan computer dan bergegas meninggalkan ruangan
kantor yang sudah mulai sepi. Di dalam lift menuju lantai dasar tiba-tiba ia
menekan tombol lantai 5. Pintu lift terbuka dan Bara segera melangkah keluar.
Ia mengamati ruangan demi ruangan di lantai 5 yang gelap dan sepi tertutup
kertas-kertas renovasi yang masih menempel di setiap kaca-kaca ruangan
tersebut. Hanya lampu lorong saja yang menyala.
Bara segera
menuju ruangan yang biasa mereka pakai untuk bertemu.. aahhh… ruangan ini
terkunci.. bahkan ada polisi line menempel di sisi dinding yang terbuat dari
kaca… Bara mengamati ruangan itu
beberapa saat….
“ Maaf… sebaiknya
anda tidak berada di sini….” Haah…. Bara terkejut mendengar suara seorang
laki-laki di belakangnya. Spontan ia membalikkan badannya. Seorang security
dan dua orang polisi mendekatinya.
“ Lantai ini
masih dalam pemeriksaan, sebaiknya anda tidak berada di sini untuk sementara…
silahkan meninggalkan lantai ini…” seorang polisi mempersilahkan Bara segera
meninggalkan mereka.
“ Maaf, pak…
boleh saya tahu apa yang telah terjadi?...” tiba-tiba dada Bara berdesir.
“ Seorang pekerja
renovasi menemukan mayat seorang wanita yang dibungkus dalam plastik di lantai
atas ruangan ini dan kondisinya sudah
membusuk…”
“ Kapan kira-kira
pembunuhan itu terjadi, pak?...” Bara semakin berdebar mendengar penjelasan
polisi tersebut.
“ kemungkinan
seminggu yang lalu… sebaiknya anda segera meninggalkan lantai 5 ini… silahkan…”
polisi yang lebih tua membimbing Bara setengah memaksa menuju lift yang
jaraknya sekitar 15 meter dari tempat mereka berdiri.
Dalam perjalanan
menuju lift Bara sempat menanyakan identitas mayat wanita tersebut.
“ Ia bernama Luna
Widya… mahasiswi magang di gedung ini yang hilang sejak seminggu yang lalu…”
Bara merasa tulang-tulangnya lumpuh dan tidak bisa bergerak. Dengan berpegangan
tangan pada besi yang ada di dalam lift Bara berusaha sampai ke lantai dasar.
Sesampai di tempat parkir ia segera memasuki mobil dan duduk terdiam beberapa
saat. Apa sebenarnya yang dihadapi??.... ia bertemu Luna lima hari yang lalu,
sementara informasi dari polisi tadi mengatakan Luna telah mati tujuh hari yang
lalu… berarti pada saat bertemu dengannya Luna sudah mati selama dua hari…
duh.. siaaaallll…….
*****
………….. Bara…….
Aku datang…. Mengapa kamu tidak menemuiku Bara…. Aku rindu padamu…………
Bara menatap
wanita yang telah berdiri di hadapannya…. Dikuat-kuatkan hatinya meski
sebenarnya ada rasa sedikit takut dengan bayangan hitam di bawah mata Luna,
wanita yang selalu membayanginya beberapa hari ini.
Setelah berfikir,
Bara memutuskan melawan ketakutannya… ia harus bisa melawan gangguan arwah Luna
yang penasaran.
“ Pergilah
Luna….. duniamu sudah berbeda… kamu harus kembali ke alammu….”
Luna… gadis
berambut panjang terurai itu sejenak diam.. wajahnya menunjukkan kesedihannya….
Dan ia menitikkan airmata…………… Aku tidak rela menerima kematianku, Bara…… aku
masih ingin hidup… aku masih muda… aku masih punya cita-cita membahagiakan
orang tuaku….. mengapa mereka begitu kejam memperkosaku… lalu membunuhku…. Apa
salahku?... apa dosaku?..... bukankah mereka selalu mendapatkan yang mereka
inginkan dariku? Waktuku… tubuhku…. Dasar laki-laki bejat… keparat…. Setelah
menikmati tubuhku dan aku mengandung.. sepertinya
ia tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya….. ia lebih memilih membayar
preman untuk melenyapkanku daripada mempertaruhkan nama baiknya….. keparaaaattt….
Aku belum puas jika belum membalaskan sakit hati ini…. Bara… mengertilah
aku… bantulah aku……. Mencari siapa dalang pembunuhanku…….” (continue to part 2)

No comments:
Post a Comment