Monday, September 10, 2012

Bara cinta di lantai 5… (part 1)


……. Aku datang  Bara… ijinkan aku menyentuhmu malam ini… Bara… Bara…mari bercinta seperti yang pernah kita lakukan di tangga gedung malam itu…………….

Keringat dingin mengucur deras di dahi laki-laki yang terdiam duduk di ranjang. Degub jantungnya terdengar hampir sama kerasnya dengan detik jarum jam di telinganya…. duk..duk..duk..duk..duk.. dia datang lagi… bagaimana ini…. Ya TUHAN….

Bara.. mencoba menahan nafas dan memejamkan tangannya. Ia benar-benar panik. Ia sama sekali tidak menyangka wanita itu mendatanginya.  

……………. Bara…. Bara…. Ijinkan aku memelukmu…. ………

Suara wanita itu semakin dekat saja…….. tiba-tiba desir angin menerpa wajah seiring terbukanya jendela… braaaaaakkkkkk………. Bara semakin  tegang… bayangan wanita yang hanya mengenakan selendang  tipis telah berada di hadapannya. Tubuh wanita  itu bergoyang mengundang detak jantung  Bara yang tengah ketakutan semakin kencang… ahhh… Bara semakin bimbang… benarkah apa yang kulihat ini…. ? Wanita setengah telajang itu perlahan-lahan mendekatinya… mengulurkan tangannya… seiring bau wangi melati menyengat  penciumannya.

Bara tak kuasa menahan kebimbangannya..  ketakutannya… dan ia memejamkan matanya… keringat mengucur deras dari pori-pori di seluruh tubuhnya. ………………Bara………. Suara lembut namun bernuansa mistis itu semakin dekat saja…… sedetik kemudian tangan bara menghempaskan bayangan wanita dari hadapannya….. aaaaagggghhhhhhhhhhhhh…………….. mata wanita itu membesar.. tak menyangka mendapat perlakuan kasar…. Mata memerah .. memancarkan sinar kemarahan dan kekecewaan… mencengkram lengan Bara dengan mata penuh dendam…………Bara tetap berteriak dengan mata terpejam……………

“ Bara.. Bara… bangun… bangun… kamu mimpi ya…..”    Ayah menggedor-gedor pintu kamarnya.  Bara segera membuka matanya… huft… mimpi? Ia merasakan nyata sekali… sama sekali tidak bermimpi… ia melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 05:00 pagi. Bara segera bangkit dan mencuci wajahnya.

Dalam cermin ia memandang dirinya… begitu lelah dan pucat… karena sudah dua hari ini bayangan wanita itu selalu mengganggunya.. mandatanginya dan mengodanya… ia bahkan tak sempat memejamkan matanya sekedar untuk melepas penat setelah seharian penuh bekerja.


*****

Dua minggu yang lalu………

Setelah beberapa program diperbaiki Bara, pemuda cerdas berusia 25 tahun itu segera membereskan peralatan dan meninggalkan ruangan yang saat ini kondisinya sudah sangat sepi. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 02:00 wib. Bara segera menuju lift yang letaknya di ujung lorong lantai delapan gedung bertingkat ini.

Di persimpangan lorong ke dua tiba-tiba ia melambatkan langkah kakinya. Tak jauh di depannya berjalan seorang wanita yang sangat menggoda. Mata bara berkedip-kedip memastikan bahwa apa yang ia lihat benar-benar nyata. Mereka memasuki lift yang sama.

“ Selamat malam… over time juga ya..” Mata bara tak henti-hentinya memandangi keindahan di depan matanya.

Wanita yang disapanya hanya tersenyum manis lalu menganggukan kepalanya dan melangkah keluar lift tepat di lantai 5. Pintu lift tertutup kembali.. sedetik kemudian bara menekan tombol open dan melangkah keluar. Ia melihat wanita itu memasuki sebuah ruangan yang sedang direnovasi. Bukan Bara kalau tidak penasaran dengan mahkluk ciptaan Tuhan yang berwujud wanita cantik. Bara mengikuti wanita tadi memasuki ruangan yang masih direnovasi. Suasana agak gelap di dalam ruangan itu.. mata tajam Bara mencari-cari bayangan wanita tadi. Hmmm… mengapa sepi sekali di sini? Ia memeriksa setiap sudut ruangan yang agak berantakan, namun tak menemukan wanita tadi..

“ Cari saya ya…” tiba-tiba  suara wanita itu terdengar dari arah anak tangga yang menuju lantai atas. Bara agak terkejut karena anak tangga tersebut cukup lebar sehingga siapapun yang naik turun akan terlihat dan terdengar dari lantai bawah ini, lalu mengapa wanita cantik ini tiba-tiba sudah berada di ujung paling bawah anak tangga? Bara menepis keheranannya dan tersenyum.

Mereka segera terlibat percakapan akrab.. Bukan Bara kalau tidak bisa menarik perhatian setiap wanita yang di temuinya. Dalam hitungan menit Bara sudah menggenggam tangan dingin wanita yang ia kenal bernama Luna. Luna sangat manja dengan suaranya yang renyah bagaikan krupuk udang menari-nari di telinga Bara yang malam itu tak sedetikpun membiarkan Luna tersenyum tanpa mendengar rayuan mautnya.

“ Apa yang kamu pikirkan setelah kita berkenalan, Luna?..” Bara memainkan anak rambut Luna yang  duduk lebih tinggi satu anak tangga di atas Bara. Luna diam saja namun tetap tersenyum dan memandang Bara penuh arti. Tatapan mata yang beradu tanpa sepatah kata lebih bermakna dari serentetan ucapan dari mulut yang bersuara.

Dan Bara sangat pandai memainkan perasaan Luna, suasana hening di dalam ruangan yang agak gelap itu membuat keduaya hanyut dalam hasrat yang mendesak untuk bercinta. Bara tak melewatkan kesempatan ketika Luna hanya melenguh kecil kala Bara mendaratkan ciuman di bibir Luna.. dingin dan bergetar… Bara merasa Luna juga memiliki hasrat yang sama. Apalagi tangan Luna seketika meremas rambutnya.., seperti biasanya ketika bertemu dengan setiap wanita yang menarik hatinya, Bara selalu ingin menjamah tubuh wanita-wanita di hadapannya.. mencumbunya dan akhirnya membawanya dalam sebuah keindahan dalam desah dan getaran surga dunia.

Malam itu anak tangga di ruangan yang baru direnovasi di lantai lima menjadi saksi keindahan hasrat cinta dua anak manusia yang sedang membara.

“ Luna… kamu tidak hanya cantik, tapi kamu juga telah menjerat hatiku.. “ Mareka berpisah setelah Bara berjanji akan menemui Luna esok pagi…


*****

Beberapa hari ini Bara sudah tidak  over time hingga larut malam, namun ia selalu menunggu Luna yang selalu datang setelah jam 9 malam. Jadwal kuliah yang padat di pagi hari membuat Luna harus rela bekerja shift malam setiap hari sejak sebulan yang lalu di sebuah perusahaan desain interior.

Baru tiga hari bertemu dan berkenalan dengan Luna, Bara merasa sangat mengenal gadis itu. Luna begitu hangat dan mengerti keinginannya. Bara tak menampik keheranannya ketika ia menyentuh tubuh Luna yang selalu dingin bergetar namun ia selalu melupakan hal itu karena Luna dengan gairahnya sangat membuai dirinya.

Malam ini Bara sangat merindukan Luna.. ketika jam menunjukkan pukul 7:30 wib ia tetap santai duduk di ruangannya sambil menyapa teman-temannya di jejaring sosial. Ia sangat merindukan Luna, sudah dua hari Luna tidak masuk kantor karena ada ujian. Luna memberitahukan pada saat terakhir bertemu bahwa malam ini ia akan masuk kembali. Bara sudah tidak sabar lagi rasanya ingin bertemu Luna.. ingin memeluk tubuh ramping gadis itu.. ingin mencium lembut bibir seksinya dan ingin mencumbu dengan hasrat yang menggebu.

Bara membaca chat yang dikirim Dewa, salah seorang temannya pemilik sebuah perusahaan desain interior di gedung yang sama tetapi kantornya berada di lantai yang berbeda.

Dewa : Udah denger berita ada hantu gentayangan di kantor ini belum?

Bara   : Heh… hantu gentayangan apaan?

Dewa : Cewek… 
             kayaknya mati penasaran…

Bara   : Belum….
   
Dewa  :  yeaahh…
               ketinggalan info…
               kemana aja sih, lo?

Bara   : Sibuk….
             Ma cewek gue.. hehehe

Dewa : Jiaaahahahaha…….
              Mayatnya tadi pagi ketemu di lantai 5…

Bara   : Serius lu?
             Gue kok nggak tau ya?....

Dewa : yee… beneran….diperkosa.. Dicekik…
              Lu dimana sekarang?
              Masih di kantor?
              Hati-hati lu kalo lewat lantai 5…
              deket kantor yang baru di renovasi lokasinya.
 

Bara   : Haaa…..
             Lu nggak bercanda khan…
             Lantai 5 itu kantor cewek gue…

Dewa : Ngimpi lu ya…
              Sejak seminggu lalu lantai 5 khan kosong…
              Renovasi dari pagi sampai sore…
              Gue yang ngerjain desainnya…
              Ya udah….
              Cabut dulu…
              Mau pulang gue…
              Bye…

Bara  ; Ok, Wa…. See ya…

Duh, mampus….. bagaimana ini… mengapa tiba-tiba dadaku berdebar-debar begini. Lantai 5… bukankah itu kantornya Luna? Memang tiga hari yang lalu ia melihat kantor itu masih berantakan namun ketika terakhir kali bertemu dengan Luna ia melihat kantor itu sudah rapi dan ada beberapa karyawan yang mondar-mandir di sana.

Bara segera membereskan mejanya, mematikan computer dan bergegas meninggalkan ruangan kantor yang sudah mulai sepi. Di dalam lift menuju lantai dasar tiba-tiba ia menekan tombol lantai 5. Pintu lift terbuka dan Bara segera melangkah keluar. Ia mengamati ruangan demi ruangan di lantai 5 yang gelap dan sepi tertutup kertas-kertas renovasi yang masih menempel di setiap kaca-kaca ruangan tersebut. Hanya lampu lorong saja yang menyala.

Bara segera menuju ruangan yang biasa mereka pakai untuk bertemu.. aahhh… ruangan ini terkunci.. bahkan ada polisi line menempel di sisi dinding yang terbuat dari kaca…  Bara mengamati ruangan itu beberapa saat….

“ Maaf… sebaiknya anda tidak berada di sini….” Haah…. Bara terkejut mendengar suara seorang laki-laki di belakangnya. Spontan ia membalikkan badannya. Seorang security dan  dua orang polisi mendekatinya.

“ Lantai ini masih dalam pemeriksaan, sebaiknya anda tidak berada di sini untuk sementara… silahkan meninggalkan lantai ini…” seorang polisi mempersilahkan Bara segera meninggalkan mereka.

“ Maaf, pak… boleh saya tahu apa yang telah terjadi?...” tiba-tiba dada Bara berdesir.

“ Seorang pekerja renovasi menemukan mayat seorang wanita yang dibungkus dalam plastik di lantai atas  ruangan ini dan kondisinya sudah membusuk…”

“ Kapan kira-kira pembunuhan itu terjadi, pak?...” Bara semakin berdebar mendengar penjelasan polisi tersebut.

“ kemungkinan seminggu yang lalu… sebaiknya anda segera meninggalkan lantai 5 ini… silahkan…” polisi yang lebih tua membimbing Bara setengah memaksa menuju lift yang jaraknya sekitar 15 meter dari tempat mereka berdiri.

Dalam perjalanan menuju lift Bara sempat menanyakan identitas mayat wanita tersebut.

“ Ia bernama Luna Widya… mahasiswi magang di gedung ini yang hilang sejak seminggu yang lalu…” Bara merasa tulang-tulangnya lumpuh dan tidak bisa bergerak. Dengan berpegangan tangan pada besi yang ada di dalam lift Bara berusaha sampai ke lantai dasar. Sesampai di tempat parkir ia segera memasuki mobil dan duduk terdiam beberapa saat. Apa sebenarnya yang dihadapi??.... ia bertemu Luna lima hari yang lalu, sementara informasi dari polisi tadi mengatakan Luna telah mati tujuh hari yang lalu… berarti pada saat bertemu dengannya Luna sudah mati selama dua hari… duh.. siaaaallll…….


*****

………….. Bara……. Aku datang…. Mengapa kamu tidak menemuiku Bara…. Aku rindu padamu…………

Bara menatap wanita yang telah berdiri di hadapannya…. Dikuat-kuatkan hatinya meski sebenarnya ada rasa sedikit takut dengan bayangan hitam di bawah mata Luna, wanita yang selalu membayanginya beberapa hari ini.

Setelah berfikir, Bara memutuskan melawan ketakutannya… ia harus bisa melawan gangguan arwah Luna yang penasaran.

“ Pergilah Luna….. duniamu sudah berbeda… kamu harus kembali ke alammu….”

Luna… gadis berambut panjang terurai itu sejenak diam.. wajahnya menunjukkan kesedihannya…. Dan ia menitikkan airmata…………… Aku tidak rela menerima kematianku, Bara…… aku masih ingin hidup… aku masih muda… aku masih punya cita-cita membahagiakan orang tuaku….. mengapa mereka begitu kejam memperkosaku… lalu membunuhku…. Apa salahku?... apa dosaku?..... bukankah mereka selalu mendapatkan yang mereka inginkan dariku? Waktuku… tubuhku…. Dasar laki-laki bejat… keparat…. Setelah menikmati tubuhku dan aku mengandung..  sepertinya ia tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya….. ia lebih memilih membayar preman untuk melenyapkanku daripada mempertaruhkan nama baiknya…..   keparaaaattt….  Aku belum puas jika belum membalaskan sakit hati ini…. Bara… mengertilah aku… bantulah aku……. Mencari siapa dalang pembunuhanku…….” (continue to part 2)

No comments:

Post a Comment