Friday, June 29, 2012

The Novel : Selir [chapter 6 ]


Bumi ayu telah tampak di depan mata… memasuki kadipaten yang berada di tepi pantai ini harmoni kehidupan sempurna kembali terhampar. Desa-desa yang dilewati merupakan desa yang subur-makmur.. rumah-rumah kayu tertata rapi, di sana-sini banyak terdapat aktivitas perdagangan..

Memasuki kota kadipaten tampak perdagangan beras dan hasil kebun,   mendekati pusat kota dimana-mana terlihat pengolahan hasil laut seperti ikan asin dan olahan lainnya. Bau amis agak menyengat ketika melewati tempat-tempat pengolahan hasil laut terebut. Ketika sampai di pusat kota yang cukup ramai, Raja dan Bestari langsung menuju sisi kota sebelah barat.. sebuah bangunan megah di tepi pantai dengan pagar kayu berukir. Mereka memasuki gerbang rumah megah tersebut….

“ Masyaallah… anakku… bunda rindu sekali…” Bestari memeluk wanita setengah baya yang mengenakan kerudung menutup rambutnya.

“ Tari juga rindu, bunda……….”

Subari Wiratmo yang sekarang tampak lain dengan jubah putih dan  sorban tampak lebih tua namun entah mengapa Bestari melihat tubuh ayahnya dikelilingi sinar kesejukan. Meremang seluruh tubuhnya saat mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut ayahnya..  sungguh sangat menenangkan jiwanya… ah ayah… suatu saat pasti aku akan mengikuti jejakmu, entah kapan….

Malam itu Bestari heran, bundanya menyiapkan hidangan lezat yang cukup banyak… ia semakin heran ketika beberapa wanita menghias dirinya..  ada apa ini?.. apakah orang tuanya akan mengadakan pesta?.. mengapa Maharaja Danendra juga berpakaian serba putih?

“ Ayahmu berkenan menikahkanmu dengan Gusti Raja secara Islam.. sebagai orang tua yang beragama islam kami harus menjalankan kewajiban menikahkan anak perempuan… kalau tidak sama saja kami membiarkan anak kami berzina… dan zina itu dosa anakku…..” bunda menjelaskan panjang lebar atas pertanyaan Bestari sambil membenahi kerudung sutra yang menutupi sebagian rambut Bestari yang telah ditata rapi..

“ Bagaimana dengan Gusti Raja, bunda…. Apakah sudah diberi tahu?.. apakah beliau berkenan?..”

“ Beliau menyanggupinya anakku… jadi tersenyumlah malam ini.. karena kalian akan menjadi suami istri yang sah secara Islam….” Bunda tersenyum mengagumi kecantikan anak semata wayang di hadapannya. Kau tampak lebih dewasa dan bersahaja anakku.. dan bunda melihat binar cinta itu di mata beningmu… bathinnya dalam hati.

Di pendopo utama yang megah malam itu telah berkumpul beberapa tamu ayah yang semuanya menggunaka pakaian yang sama.. setelah beberapa saat ayah segera duduk berhadapan dengan Gusti Raja berbatasan dengan sebuah meja… tangan ayah menggenggam erat tangan Gusti Raja.. dalam keadaan bersalaman ayah mengucapkan beberapa do’a  dan setelah itu beliau mengucapkan kalimat pendek atau Ijab Qabul yang ditujukan kepada Gusti Raja …

“ Saya nikahkan putri saya Bestari binti Subari Wiratmo dengan Gusti Raja Danendra Mahardika bin Gusti Maharaja Saptaprasetya dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai…”

“ Saya terima nikahnya Bestari binti Subari Wiratmo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..” Gusti Raja mengucapkan kalimat tersebut dengan sangat tenang… bahkan siapa saja yang mendengarkan prosesi ini ikut berdebar-debar… tak terkecuali Bestari. Entah mengapa setelah ayahnya mengucapkan kata ‘sah’…. Hatinya seperti bergetar… ada sesuatu yang terlepas yang selama ini menyesakkan dalam dadanya. 

Apakah rasa itu berarti sebuah kelegaan?... sebuah keyakinan bahwa ikatan bathin antara Gusti Raja dan dirinya menyatu?....dalam benaknya terbersit rasa bahagia itu… kali ini senyumnya benar-benar tertahan dan sedikit kaget ketika di hadapan tamu-tamu Sang Raja menyampaikan keinginannya menjadikan Bestari sebagai Permaisurinya diiringi ucapan.. Alhamdulillah.. dari seluruh tamu yang hadir…..

“ Kenapa diajeng?.... mengapa wajah diajeng seperti menyembunyikan sesuatu?...” Gusti Raja menggenggam tangan Bestari ketika keduanya berada di peraduan.

“ Maafkan saya, Gusti…  apakah keputusan Gusti sudah matang memilih saya sebagai permaisuri..”

“ Apa diajeng meragukan keputusan saya?...” kali ini Raja melihat mata itu memancarkan sinar aneh.. tak seperti kerlip bintang yang selalu ia kagumi. Ia merasa Bestari menyimpan sesuatu di sana…

“ Bolehkan saya sekali ini saja memohon sebuah permintaan, Gusti?... saya sudah memutuskan untuk menjadi muslim..  dan apabila Gusti tidak berkenan dengan keputusan ini.. saya bersedia dihukum apa saja…  ” Raja melihat bibir Bestari bergetar mengucapkan kalimat itu.

Sebuah keputusan yang sulit bagi Raja.. ia sungguh tulus mencintai Bestari, Namun menjadikan Bestari sebagai permaisuri dalam kondisi berbeda keyakinan sungguh berat… sementara, walaupun hatinya mengakui kebenaran dalam Islam ia masih harus berfikir panjang untuk memasukkan ajaran itu ke dalam Istana.

Kerajaan bukanlah miliknya sendiri. Disana ada rakyat yang harus dipersatukan supaya tidak terjadi keraguan dan kekhawatiran dengan rajanya. Apa yang akan terjadi ketika seorang Raja tiba-tiba berganti keyakinan.. apakah rakyat tidak menjadi bingung… mana yang harus dipercayai.. jika seorang Raja tidak punya pendirian?...

Raja mengusap air mata di pipi Bestari.. malam itu meski kehangatan terjalin namun dalan bilik hati masing-masing menyimpan persoalan. Ketika membuka matanya Bestari tak menemukan Raja di sampingnya… ia tahu.. pasti beliau sedang bersemedi.. itu yang selalu dilakukan ketika Raja mempunyai sebuah pemikiran. Bestari tidak mampu memejamkan mata lagi, ia bangkit dan meraih sebuah kitab pribadinya.. ia mulai menuliskan sesuatu di sana….

Tuhan…

Ampunilah aku di malam ini,
disaat ini semua dosa yang pernah aku lakukan,
semua kejelekan yang pernah aku rahasiakan,
semua kedunguan yang pernah aku lakukan.
Yang aku sembunyikan dan aku tampakkan
Yang aku tutupi atau aku tunjukan.
Ampuni semua kebusukkan ku,
Dengan karunia -Mu Engkau menutupinya.
Wahai junjungan ku, Pelindung ku, Pemilik nyawaku,
jadikanlah waktu-waktu malam dan siang ku dipenuhi dengan zikir kepada-Mu
Kokohkan anggota badanku untuk berbakti pada-Mu
Teguhkan tulang-tulang ku untuk berbakti kepadaMu.
Teguhkan tulang-tulang ku untuk melaksanakan niat ku.
Karuniakan pada ku kesungguhan untuk bertakwa kepada -Mu
(DOA KUMAIL)

Sunyi sejenak merayap di kebisuan malam. Bestari menatap rembulan yang tak sepenuhnya menerangi alam. Tiada keraguan dalam hatinya… menjadi seorang permaisuri Raja memang dambaannya karena ia mencintai Gusti Raja..namun menjadi seorang muslim adalah tuntunan jiwanya, dan hal itu mengalahkan rasa cintanya kepada Gusti Raja. Ia telah siap apabila Raja meninggalkannya. Ia telah bertekat untuk menekuni agama ini dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam meniti sisa hidupnya.

“  Ada yang merisaukan hati diajeng rupanya… sehingga sampai selarut ini belum bisa memejamkan mata…” tiba-tiba Gusti Raja sudah berada di belakangnya. Semedinya sudah selesai rupanya.

“ Saya tidak bisa tidur karna memikirkan Gusti…. Saya merasa telah melawan Gusti…”

“ Diajeng tidak perlu risau.. saya akan memboyong permaisuri saya apapun keyakinannya….” Gusti Raja tersenyum dan meraih tangan Bestari.

“ Benarkah?... ah terima kasih Gusti… saya sangat mencintai Gusti.. jadi saya sangat takut menyakiti hati Gusti.. itulah yang merisaukan saya…”

“ Sekarang diajeng tidak perlu risau lagi.... “ Bestari memeluk Gusti Raja yang sangat dicintainya itu erat-erat seakan tidak mau melepaskannya…


Kerajaan dengan Raja dan permaisuri Bestari menjadi semakin makmur dan berkembang pesat. Perbedaan keyakinan diatara mereka tak membuat dinding pemisah namun justru menjadi jembatan bahwa perbedaan keyakinan itu tidak untuk di perdebatkan apalagi menjadi penghalang untuk maju. Sejak saat itu perkembangan agama Islam tidak merupakan hambatan bagi pemerintahan di kerajaan tersebut.

Kepandaian sang permaisuri Bestari sangat tersohor hingga ke pelosok desa. Tentu saja Raja sangat bangga dengan pilihannya.. dan memang itulah tujuannya selama ini. Bestari memang seorang wanita yang luar biasa.. kemampuannya tidak dimiliki oleh wanita lain, namun ia tidak pernah sombong dan merendahkan orang lain, termasuk sikapnya terhadap saudara-saudara selir yang lain.

Raja membebaskan para selir untuk memilih jalan hidupnya masing-masing atas permintaan permaisuri.. benar saja hanya gusti Ajeng yang berkenan mengabdikan dirinya kepada Gusti Raja. Dari gusti Ajeng Raja memiliki seorang putri bernama Anjani.

Beberapa tahun berganti, Kerajaan telah mengumumkan kelahiran putra mahkota. Perpaduan antara kewibawaan Raja Danendra dan kecerdasan Permaisuri Bestari sudah tampak pada diri Pangeran Bayuaji sejak ia masih kanak-kanak. Menginjak usianya ke sepuluh tahun Raja Danendra memanggil putra semata wayangnya…

“ Anakku Bayuaji…. Mulai sekarang kamulah yang akan menjadi penguasa kerajaan ini.. jadi persiapkanlah dirimu, pelajarilah semua ilmu yag diberikan oleh paman-paman penasehat kerajaan dan yang terpenting patuhilah setiap perkataan ibundamu..”

“ Baiklah ayah… nasehat ayah akan saya laksanakan.. “

“ Ayah titipkan kerajaan dan keluarga kita kepadamu, meski usiamu masih sepuluh tahun, namun ayah yakin kamu pasti mampu melaksanakannya..  ayah akan melakukan perjalanan beberapa waktu.. kelak tiba saatnya ayah akan kembali…”

Raja Danendra Mahardhika meninggalkan kerajaan untuh suatu urusan yang tidak satupun keluarga kerajaan mengetahuinya.. bahkan Permaisuri Bestari juga tidak mengerti kemana dan mengapa Gusti Raja meninggalkan istana. Kepergian Gusti Raja otomatis meninggalkan beban dan tanggung jawab kekuasaan kepada Permaisuri Bestari mengingat putra mahkota saat ini masih berusia sepuluh tahun.

Sewindu sudah Gusti Raja meninggalkan istana..  Permaisuri telah mengalih tugaskan jalannya pemerintahan kepada putra mahkota Pangeran Bayuaji atau setelah berganti keyakinan menjadi seorang muslim menjadi Pangeran  Al-fath Wahidin yang telah berusia delapan belas tahun.

Karena Ajaran Islam yang dipeluk oleh sang Permaisuri ternyata sangat mempengaruhi seluruh kerajaan maka tak heran dalam tempo sewindu seluruh keluarga istana sudah memeluk agama Islam.  


-----


Senja temaram meninggalkan semburat sinar meremang di ujung barat. Wanita berkerudung itu memandang taman bunga yang hari ini sedang bermekaran.. sungguh suatu karunia Illahi keindahan ini. Matanya yang tajam dan indah mengerjap menikmati bunga-bunga. Para abdi Istana yang akan menyampaikan berita kedatangan tamu agungpun hanya menunggu sang Permaisuri keluar dari taman bunga. Kalau sudah begini hanya Al-fath lah satu-satunya yang boleh mengganggunya.

“ Assalamu’alaikum… “

“ Wa’alaikum salam…. Anakku Al fath… ada apa?...”

“ Maaf Ibunda.. ada tamu agung mencari bunda… sudah  dipersilahkan duduk di pendopo…”

" Siapakah tamu agung yang datang?..."

" Mohon maaf Ibunda... saya juga melum bertemu dengan beliau.. saya akan menemani Ibunda menemui tamu agung tersebut.. mari Ibunda..."

“ Baiklah, nak… jangan lupa hari ini akan ada pengajian setelah sholat Maghrib...” sebelum beranjak ke pendopo wanita itu mencium  kepala Al fath, pemuda tampan yang saat ini telah berusia delapan belas tahun.

“ Ya, Ibunda….”

Sejak seluruh penghuni kerajaan memeluk agama Islam pendopo utama berubah fungsi tidak hanya untuk menerima tamu tetapi juga sebagai tempat untuk melaksanakan pengajian dan ibadah keagamaan lainnya.

Seseorang dengan pakaian berjubah dan bersorban serba putih duduk bersila. Sesaat Bestari seperti mengenali cara duduk orang ini namun ia menggelengkan kepala… ah.. siapa beliau ini?... dari pakaian yang di kenakan jelas ia seorang Muslim.

“ Assalam’alaikum….” Bestari menyapa.. dan….. betapa terkejut dirinya… lemas sekujur tubuhnya.. darahnya seperti berhenti mengalir di sekujur tubuhnya…. Al-fath mungkin tidak mengenali laki-laki ini, namun Bestari tidak akan pernah melupakan tatap matanya.

“ Wa’alaikumsallam……” suara berwibawa itu tak mungkin ia lupakan.

Syeh Muhammad Iskandar merupakan salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa. Bestari sudah pernah mendengar nama besar itu beberapa tahun yang lalu. Kebesaran nama pemuka agama Islam yang telah mengenyam pendidikan keagamaan dari negeri Arab dan beberapa Negara itu sangat harum namanya.  Sejak beliau kembali ke tanah Jawa dan ikut serta menyebarkan agama Islam dengan cara yang sangat bersahaja. Namun sungguh Bestari tidak menyangka bahwa beliau adalah suaminya sendiri...

Inilah penantian Gusti Raja Danendra Mahardhika yang sekarang telah bermetamorfosis setelah memeluk agama Islam. Ia telah memikirkan keadaan ini sebelum menjadikan Bestari menjadi seorang Permaisuri. Bahkan jauh-Jauh hari sebelum ia memutuskan untuk pergi mendalami sebuah ajaran kebenaran. Ia tidak salah memilih Bestari sebagai penggantinya selama ia pergi, ia sangat percaya wanita yang ia pilih setelah berbagai ujian itu mampu mendidik keturunannya menjadi calon penguasa yang mumpuni dan berahklak mulia.

*****

Dalam keheningan malam itu tampak cahaya bulan purnama memancarkan sinar emasnya. Semilir angin malam menemani wanita yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an… suaranya yang halus dan lembut menyayat hati seakan mengiris-iris jiwa resah dan menyiraminya dengan sejuknya air surga.. ada ketenangan mendengar suara merdu dan lembut itu. Syeh Muhammad Iskandar yang duduk di hadapannya begitu meresapi alunan kata-kata suci dan murni melebihi intan permata di dunia.

Beberapa saat setelah mengakhiri bacaannya, wanita itu meraih sebuah kitab catatan dan  menuliskan bait-bait  puisi..

Saat tatapan mata memandang lepas
Wujud ciptaanNya di dunia
Berdegup hati ini berkata,
Sungguh mempesona tak ada duanya

Ku bayangkan dan kuresapi siapa gerangan
Membuat sama sedemikian rupa
Hati semakin berdegup seraya menangis
teringat dan terngiang, seperti apa
taman surga berada

Meratap dan menangis kembali hati ini
Mengingat janji Tuhan
Hanyalah mereka manusia pilihan
Yang jauh dari perbuatan nista dan angkara murka

Yang akan menjadikan mereka penghuni taman surga
kekal selamanya
Oh, Tuhan walau seribu jalan berliku
Berikanlah petunjukMu pada langkah kaki ini
Agar hambaMu termasuk ke dalam golongannya…



………tamat

1 comment:

  1. beuuuhhh..... akhirnya selesai juga.... thanx reader!!!!!


    warm regards for u all......

    ReplyDelete