Hamparan hutan di
sekitar perbukitan nan hijau dan nyanyian burung-burung hutan menambah
kedamaian pagi itu. Langkah-langkah kaki kuda berlari menembus pekatnya pagi
tak menghiraukan hewan-hewan kecil berlarian dan burung-burung berterbangan
mendengar derap kaki kuda berlari
kencang. Di tengah-tengah hutan lebat tiba-tiba kuda-kuda itu meringkik karena
tali kekang mereka di tarik mengejak mereka berhenti berlari. Beberapa waktu
kedua penunggang kuda diam dan memeriksa keadaan sekitar.
“ Sepertinya ada
yang mengikuti kita..” salah seorang penunggang kuda berbisik kepada temannya.
“ Ya.. saya juga
merasakannya… “ kedua penunggang kuda itu tetap berjalan mennembus hutan yang
pekat namu mata dan telinga mereka tetap waspada.
Tiba-tiba jarak
sepuluh depa di depan mereka.. samar-samar telah berdiri sesosok manusia… dua..
tiga.. empat.. lima… enam… dari berbagai sudut muncul mengepung kedua
penunggang kuda….
Salah seorang
mengayunkan pedang kearah kedua penunggang kuda diikuti oleh pengepung yang
lainnya. Perkelahian tak terhindarkan. Suara dentingan pedang yang beradu
memecah keheningan pagi itu.
Satu demi satu
para pengepung terpelanting berjatuhan…merintih kesakitan dan berlarian menjauh
dari arena perkelahian. Kedua penunggang kuda ternyata tidak mudah
ditundukkan.. ketika salah seorang
pengepung berhasil di tangkap mereka menghentikan perkelahian.
“ Apa maksud
kalian mengepung kami?.....”
“ Ampun.. tuan…
saya hanya ingin mendapatkan uang untuk menghidupi anak dan keluarga kami….”
“ Mengapa kalian
merampok?..”
“ Sudah tidak ada
lahan yang bisa di garap tuan… semua kering.. ampun tuan… tolong lepaskan
kami…” pengepung yang ternyata berusaha merampok itu memohon. Penunggang kuda
segera melepaskan cengkramannya.
Begitu
cengkeraman dari penunggang kuda itu terlapas.. mereka segera melarikan diri
memasuki hutan yang pagi itu mulai di tembus oleh sinar surya berwarna kuning
keemasan. Kabut putih yang menyelimuti hutan di bukit itu perlahan-lahan menepi
seakan memberi celah kepada mentari untuk menerangi dunia ini.
Keluar dari
lebatnya hutan kedua penunggang kuda itu memasuki sebuah desa. Dari jalan
setapak menuju kearah desa pemandangan sangatlah mengenaskan. Lahan perkebunan
dan pohon-pohon penyejuk di sepanjang jalan tampak kering meranggas… Melewati
sungai kecil keadaan semakin parah… sungai yang seharusnya dialiri air sebagai
sumber kehidupan itu kering hanya menyisakan genangan air keruh bercampur
lumpur.
Aneh sekali….
Padahal daerah ini termasuk dataran rendah yang seharusnya tidak mungkin
kekurangan air, apalagi sampai kekeringan begini. Memasuki desa keadaan tampak
lenggang… gersang dan kumuh…. Hanya ada sebuah kedai minum kecil dan kotor di
ujung sebuah pasar yang kelihatannya tidak berfungsi lagi.
“ Kita berhenti
di kedai minum itu sebentar…”
“ Baiklah…”
Setelah mengikat
kuda-kuda mereka pada sebuah pohon, keduanya memasuki kedai tersebut… beberapa pasang mata memandang penuh curiga
kedatangan mereka. Pemilik warung memberikan sebuah kendi dan dua buah cangkir
terbuat dari batok kelapa di meja mereka.
“ Kisanak mau
kemana?....” pemilik kedai kopi tersenyum ramah.
“ Kami mau ke
Bumiayu, nyai…” laki-laki penunggang kuda menjawab.
“ Ohh… masih jauh
itu… silahkan di minum…”
“ Mengapa desa
ini sangat sepi, nyai?...” wanita penunggang kuda ikut bertanya.
“ Hhhhhhh….
Beginilah keadaan desa ini setelah kekeringan panjang melanda.. para pria pergi
merantau ke daerah lain… “
“ Mengapa tidak
menggarap sawah dan ladang mereka?..”
“ Sungai yang
kering membuat tanah pertanian di desa ini menjadi gersang…”
Setelah melepas
lelah kedua penunggang kuda itu meninggalkan kedai diikuti dari beberapa pasang mata di dalam
kedai yang memang sedari tadi mengamati gerak-gerik mereka.
Keduanya
berbincang-bincang sejenak dan memacu kuda-kuda mereka menuju hulu sungai di
sebuah bukit. Mereka memasuki hutan yang tandus.. daun-daun kering meranggas .. debu berterbangan
menyesakkan dada. Keheranan tampak jelas di wajah keduanya. Mengapa hutan yang
seharusnya menjadi sumber penampungan air untuk menghidupi desa-desa sekitarnya
kering meranggas?
Jalanan menanjak
di perbukitan itu kian sulit dilalui. Mereka memutuskan berhenti dan dan
meneruskan berjalan kaki. Semakin ke atas keadaan semakin parah. Pohon-pohon
habis di tebang meninggalkan daun-daun kering. Tidak terdengar kicauan burung
sedikitpun di sekitar bukit itu. Tidak ditemukan hewan-hewan berkeliaran di
hutan kering itu.
Tanah yang di
ambil dalam genggaman melebur jatuh kembali dengan ringannya. Laki-laki itu
memandang hamparan bukit kering, dari tatapan matanya tampak jelas ia sedang
berfikir… entah apa yang difikirkannya.
“ Tampaknya hutan
ini telah mati sekian lama…” wanita penunggang kuda bergumam.
“ Ya… lama sekali
hutan ini dibiarkan kering…” laki-laki
penunggang kuda masih memandang hamparan bukit gersang.
“ Harus di adakan
peremajaan hutan atau air resapan tidak akan keluar lagi…”
“ Bagaimana
caranya?...” laki-laki itu memandang temannya dengan tajam.
“ Kita telah
melewati desa-desa subur sebelumnya.. mengapa tidak menyemai bibit tanaman di
sana? Aliran sungai yang kita lewati sebelumnya bisa dibelokkan melewati sungai
yang mengalir di desa ini… ajak masyarakat desa bersama-sama menanam bibit yang
telah disemai di sekitar perbukitan ini.. dimulai dari lereng bukit yang paling
bawah… saya yakin tidak akan memakan waktu lama bukit ini akan hijau kembali…”
“ Rencana yang
hebat… terima kasih.. ” tatapan mata
takjub kembali terpancar di mata penunggang kuda… hmmm… dia memang luar
biasa..!!!
-------
Meneruskan
perjalanan kedua penunggang kuda memacu lari kuda-kuda mereka menuju arah
matahari terbenam. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah pantai… pasir pantai
yang lembut dan angin sepoi-sepoi menerpa di hadapan mentari yang perlahan-lahan
tenggelam di telan alam meninggalkan kehangatan sinarnya.. membuat keduanya
hanyut dan melupakan kelelahan setelah perjalanan panjang hari ini.
Kaki-kaki
telanjang mereka meninggalkan lubang di permukaan pasir pantai, namun sesaat
kemudian kembali seperti semula di terpa ombak kecil…
“ Apa yang diajeng
fikirkan….” Menyadari wanita di sebelahnya hanya membisu dan memandang mentari
tenggelam perlahan lalu menghitam… dan sisa cahaya yang tertinggal tak mampu
menerangi alam.. pantaipun seketika menjadi gelap.. ombak semakin besar dan
desiran angin yang tadinya sepoi-sepoi mendadak menjadi ganas mempermainkan
rambut yang panjang terurai di hadapannya.
“ Menurut Gusti,
siapakah yang menciptakan alam yang begitu indah ini?...”
“ Sang pencipta…
sebut saja begitu… entah siapa.. tak seorangpun di alam ini mengetahuinya.. tetapi kita harus percaya pasti ada… kita
menyembah dan memujanya… semua yang ada di alam semesta ini dialah yang
menciptakannya… terlahir.. tumbuh.. dan mati.. semua akan kembali kepadanya.. “
Maharaja Danendra yang saat itu melepaskan semua atribut keindahan dan
keagungan sebagai seorang raja tersenyum ketika Bestari memandangnya dengan
wajah terperangah… takjub…
“ Bukankah itu
yang ada dalam kitab agama Islam, Gusti…. Sepertinya Gusti sudah mengenalnya..”
“ Tentu saja….
Sejak beberapa tahun yang lalu…. Ajaran itu sangat menyentuh sanubari.. namun
belum ada niat untuk merubah kepercayaan yang telah ditanamkan secara
turun-temurun dalam darah ningrat saya untuk memeluk kepercayaan lain….
Walaupun sebenarnya saya sangat memikirkannya… namun sebagai pemimpin, saya
harus memandang dan mempertimbangkan keputusan saya demi kepentingan rakyat…
bagaimana dengan diajeng sendiri?... dari prilaku diajeng kelihatannya ada
kebimbangan dengan kepercayaan itu… ”
“ Entahlah… saya
selalu berdebar-debar setiap membaca dalil-dalil dalam kitab Islam itu…. Semua
kesalahan yang di sebut dosa ternyata sering saya lakukan… dan saya selalu
terbayang-bayang bahwa Sang Pencipta alam semesta akan murka apabila mahkluk
ciptaannya banyak berbuat dosa….”
Raja memeluk Bestari
mencoba menenangkan dan mendamaikan hatinya. Sebenarnya ia tahu dan merasakan
apa yang dirasakan Bestari… karena sebenarnya ia telah lebih dahulu mengenal
ajaran itu….
Angin pantai yang
kian ganas menghempas mereka tinggalkan. Dalam keremangan malam itu bulan
setengah tersenyum mengiringi langkah kaki-kaki kuda berlari menuju desa
terdekat dan mencari penginapan sekedar untuk beristirahat.
Baru beberapa
saat mereka meninggalkan pantai terdengar suara seseorang merintih-rintih
kesakitan. Keduanya menghentikan langkah kuda mereka.
“ Rumah itu,
Gusti…” Bestari menunjuk sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempat mereka
berdiri. Dari depan rumah yang terbuka tampak seorang wanita yang
merintih-rintih sambil memegangi perutnya yang membesar. Rupanya wanita itu
akan melahirkan.
“ Dimana
suaminya, nyai… “ Bestari turun dari kudanya dan mendekati wanita itu.
“ Sedang
menjemput tabib, …. Aduuuhhhh… saya sudah tidak tahan..”
Tiba-tiba suami
wanita tersebut datang….. tetapi ia tidak bersama sang tabib.. ternyata sang
tabib sedang berada luar desa yang jaraknya cukup jauh. Dengan wajah cemas
suami wanita tersebut memberitahu istrinya.
“ Aduh bagaimana ini… kang Jaka…. Sakit
sekali….”
“ Sabar nyai…
saya akan berusaha mencari tabib lain..” Suami wanita berbicara sebentar dengan
kedua pengembara yang berada di rumahnya. Tentu saja ia tidak mengenali
keduanya sebagai Raja dan Selirnya… Ia
senang wanita pengembara akan membantu istrinya melahirkan.
Mula-mula Bestari
meminta suami wanita itu merebus air… ia sendiri mencuci tangannya lalu meminta
wanita itu tidur dengan melipat kedua lututnya. Sebuah wadah yang berisi air
hangat dan beberapa lembar kain bersih telah disiapkan. Bestari melepas tusuk
rambutnya dan mencucinya dengan air hangat hingga bersih. Raja yang ikut
membantu suami wanita itu menyiapkan perlengkapan persalinan hanya memandang
takjub. Sekali lagi ia melihat wanita itu sungguh serba bisa…
“ Selain kang
Joko yang akan membantu saya… sebaiknya kakang
menunggu di luar….” Bestari memberi isyarat kepada Raja supaya keluar kamar…
Raja tersenyum.. tentu saja… ia melangkah keluar kamar….
Tak menunggu lama
terdengar suara tangis bayi.. seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bestari
keluar bilik dengan wajah berkeringat, membetulkan ikatan rambut yang terurai
karena susuknya ia pakai untuk memotong tali pusar dan meninggalkan suami istri yang berbahagia
dengan bayi mereka. Raja mengusap kening Bestari… mereka segera meninggalkan
gubug sederhana melanjutkan perjalanan…..
“ Darimana
diajeng mempelajarinya?...”
“ Dulu saya
pernah membantu seorang tabib… setelah itu saya mencari kitab khusus yang
menjelaskan masalah persalinan… dan saya
telah beberapa kali membantu wanita yng akan melahirkan di berbagai tempat…“
Raja beringsut
menghadap tepat ke wajah Bestari, menggenggam tangannya dan memandang tajam…
tentu saja wanita itu menjadi sedikit bingung…
“ Apalagi yang akan saya temukan dalam diri diajeng
berikutnya?....” wajah cantik Bestari semakin bingung….
“ Maksud Gusti
apa?....” Bestari merasakan sesuatu yang aneh.
“ Saya akan
memberitahukannya sesampai di rumah diajeng nanti… “ Raja masih memandang
Bestari masih terlihat bingung. Mencium keningnya dan merebahkan tubuh Bestari
di peraduan. Malam yang kelam menenggelamkan mereka dalam mimpi indah di
penginapan itu.

No comments:
Post a Comment