Monday, June 25, 2012

The Novel : Selir [ chapter 5 ]


Hamparan hutan di sekitar perbukitan nan hijau dan nyanyian burung-burung hutan menambah kedamaian pagi itu. Langkah-langkah kaki kuda berlari menembus pekatnya pagi tak menghiraukan hewan-hewan kecil berlarian dan burung-burung berterbangan mendengar  derap kaki kuda berlari kencang. Di tengah-tengah hutan lebat tiba-tiba kuda-kuda itu meringkik karena tali kekang mereka di tarik mengejak mereka berhenti berlari. Beberapa waktu kedua penunggang kuda diam dan memeriksa keadaan sekitar.

“ Sepertinya ada yang mengikuti kita..” salah seorang penunggang kuda berbisik kepada temannya.

“ Ya.. saya juga merasakannya… “ kedua penunggang kuda itu tetap berjalan mennembus hutan yang pekat namu mata dan telinga mereka tetap waspada.

Tiba-tiba jarak sepuluh depa di depan mereka.. samar-samar telah berdiri sesosok manusia… dua.. tiga.. empat.. lima… enam… dari berbagai sudut muncul mengepung kedua penunggang kuda….

Salah seorang mengayunkan pedang kearah kedua penunggang kuda diikuti oleh pengepung yang lainnya. Perkelahian tak terhindarkan. Suara dentingan pedang yang beradu memecah keheningan pagi itu.

Satu demi satu para pengepung terpelanting berjatuhan…merintih kesakitan dan berlarian menjauh dari arena perkelahian. Kedua penunggang kuda ternyata tidak mudah ditundukkan..  ketika salah seorang pengepung berhasil di tangkap mereka menghentikan perkelahian.

“ Apa maksud kalian mengepung kami?.....”

“ Ampun.. tuan… saya hanya ingin mendapatkan uang untuk menghidupi anak dan keluarga kami….”

“ Mengapa kalian merampok?..”

“ Sudah tidak ada lahan yang bisa di garap tuan… semua kering.. ampun tuan… tolong lepaskan kami…” pengepung yang ternyata berusaha merampok itu memohon. Penunggang kuda segera melepaskan cengkramannya.

Begitu cengkeraman dari penunggang kuda itu terlapas.. mereka segera melarikan diri memasuki hutan yang pagi itu mulai di tembus oleh sinar surya berwarna kuning keemasan. Kabut putih yang menyelimuti hutan di bukit itu perlahan-lahan menepi seakan memberi celah kepada mentari untuk menerangi dunia ini.

Keluar dari lebatnya hutan kedua penunggang kuda itu memasuki sebuah desa. Dari jalan setapak menuju kearah desa pemandangan sangatlah mengenaskan. Lahan perkebunan dan pohon-pohon penyejuk di sepanjang jalan tampak kering meranggas… Melewati sungai kecil keadaan semakin parah… sungai yang seharusnya dialiri air sebagai sumber kehidupan itu kering hanya menyisakan genangan air keruh bercampur lumpur.

Aneh sekali…. Padahal daerah ini termasuk dataran rendah yang seharusnya tidak mungkin kekurangan air, apalagi sampai kekeringan begini. Memasuki desa keadaan tampak lenggang… gersang dan kumuh…. Hanya ada sebuah kedai minum kecil dan kotor di ujung sebuah pasar yang kelihatannya tidak berfungsi lagi.

“ Kita berhenti di kedai minum itu sebentar…”

“ Baiklah…”

Setelah mengikat kuda-kuda mereka pada sebuah pohon, keduanya memasuki kedai tersebut…  beberapa pasang mata memandang penuh curiga kedatangan mereka. Pemilik warung memberikan sebuah kendi dan dua buah cangkir terbuat dari batok kelapa di meja mereka.

“ Kisanak mau kemana?....” pemilik kedai kopi tersenyum ramah.

“ Kami mau ke Bumiayu, nyai…” laki-laki penunggang kuda menjawab.

“ Ohh… masih jauh itu… silahkan di minum…”

“ Mengapa desa ini sangat sepi, nyai?...” wanita penunggang kuda ikut bertanya.

“ Hhhhhhh…. Beginilah keadaan desa ini setelah kekeringan panjang melanda.. para pria pergi merantau ke daerah lain… “

“ Mengapa tidak menggarap sawah dan ladang mereka?..”

“ Sungai yang kering membuat tanah pertanian di desa ini menjadi gersang…”

Setelah melepas lelah kedua penunggang kuda itu meninggalkan kedai  diikuti dari beberapa pasang mata di dalam kedai yang memang sedari tadi mengamati gerak-gerik mereka.

Keduanya berbincang-bincang sejenak dan memacu kuda-kuda mereka menuju hulu sungai di sebuah bukit. Mereka memasuki hutan yang tandus.. daun-daun  kering meranggas .. debu berterbangan menyesakkan dada. Keheranan tampak jelas di wajah keduanya. Mengapa hutan yang seharusnya menjadi sumber penampungan air untuk menghidupi desa-desa sekitarnya kering meranggas?

Jalanan menanjak di perbukitan itu kian sulit dilalui. Mereka memutuskan berhenti dan dan meneruskan berjalan kaki. Semakin ke atas keadaan semakin parah. Pohon-pohon habis di tebang meninggalkan daun-daun kering. Tidak terdengar kicauan burung sedikitpun di sekitar bukit itu. Tidak ditemukan hewan-hewan berkeliaran di hutan kering itu.

Tanah yang di ambil dalam genggaman melebur jatuh kembali dengan ringannya. Laki-laki itu memandang hamparan bukit kering, dari tatapan matanya tampak jelas ia sedang berfikir… entah apa yang difikirkannya.

“ Tampaknya hutan ini telah mati sekian lama…” wanita penunggang kuda bergumam.

“ Ya… lama sekali hutan ini dibiarkan kering…”  laki-laki penunggang kuda masih memandang hamparan bukit gersang.

“ Harus di adakan peremajaan hutan atau air resapan tidak akan keluar lagi…”

“ Bagaimana caranya?...” laki-laki itu memandang temannya dengan tajam.

“ Kita telah melewati desa-desa subur sebelumnya.. mengapa tidak menyemai bibit tanaman di sana? Aliran sungai yang kita lewati sebelumnya bisa dibelokkan melewati sungai yang mengalir di desa ini… ajak masyarakat desa bersama-sama menanam bibit yang telah disemai di sekitar perbukitan ini.. dimulai dari lereng bukit yang paling bawah… saya yakin tidak akan memakan waktu lama bukit ini akan hijau kembali…”

“ Rencana yang hebat…  terima kasih.. ” tatapan mata takjub kembali terpancar di mata penunggang kuda… hmmm… dia memang luar biasa..!!!

-------

Meneruskan perjalanan kedua penunggang kuda memacu lari kuda-kuda mereka menuju arah matahari terbenam. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah pantai… pasir pantai yang lembut dan angin sepoi-sepoi menerpa di hadapan mentari yang perlahan-lahan tenggelam di telan alam meninggalkan kehangatan sinarnya.. membuat keduanya hanyut dan melupakan kelelahan setelah perjalanan panjang hari ini.

Kaki-kaki telanjang mereka meninggalkan lubang di permukaan pasir pantai, namun sesaat kemudian kembali seperti semula di terpa ombak kecil…

“ Apa yang diajeng fikirkan….” Menyadari wanita di sebelahnya hanya membisu dan memandang mentari tenggelam perlahan lalu menghitam… dan sisa cahaya yang tertinggal tak mampu menerangi alam.. pantaipun seketika menjadi gelap.. ombak semakin besar dan desiran angin yang tadinya sepoi-sepoi mendadak menjadi ganas mempermainkan rambut yang panjang terurai di hadapannya.

“ Menurut Gusti, siapakah yang menciptakan alam yang begitu indah ini?...”

“ Sang pencipta… sebut saja begitu… entah siapa.. tak seorangpun di alam ini mengetahuinya..  tetapi kita harus percaya pasti ada… kita menyembah dan memujanya… semua yang ada di alam semesta ini dialah yang menciptakannya… terlahir.. tumbuh.. dan mati.. semua akan kembali kepadanya..    Maharaja Danendra yang saat itu melepaskan semua atribut keindahan dan keagungan sebagai seorang raja tersenyum ketika Bestari memandangnya dengan wajah terperangah… takjub… 

“ Bukankah itu yang ada dalam kitab agama Islam, Gusti…. Sepertinya Gusti sudah mengenalnya..”

“ Tentu saja…. Sejak beberapa tahun yang lalu…. Ajaran itu sangat menyentuh sanubari.. namun belum ada niat untuk merubah kepercayaan yang telah ditanamkan secara turun-temurun dalam darah ningrat saya untuk memeluk kepercayaan lain…. Walaupun sebenarnya saya sangat memikirkannya… namun sebagai pemimpin, saya harus memandang dan mempertimbangkan keputusan saya demi kepentingan rakyat… bagaimana dengan diajeng sendiri?... dari prilaku diajeng kelihatannya ada kebimbangan dengan kepercayaan itu… ”

“ Entahlah… saya selalu berdebar-debar setiap membaca dalil-dalil dalam kitab Islam itu…. Semua kesalahan yang di sebut dosa ternyata sering saya lakukan… dan saya selalu terbayang-bayang bahwa Sang Pencipta alam semesta akan murka apabila mahkluk ciptaannya banyak berbuat dosa….”

Raja memeluk Bestari mencoba menenangkan dan mendamaikan hatinya. Sebenarnya ia tahu dan merasakan apa yang dirasakan Bestari… karena sebenarnya ia telah lebih dahulu mengenal ajaran itu….

Angin pantai yang kian ganas menghempas mereka tinggalkan. Dalam keremangan malam itu bulan setengah tersenyum mengiringi langkah kaki-kaki kuda berlari menuju desa terdekat dan mencari penginapan sekedar untuk beristirahat.

Baru beberapa saat mereka meninggalkan pantai terdengar suara seseorang merintih-rintih kesakitan. Keduanya menghentikan langkah kuda mereka.

“ Rumah itu, Gusti…” Bestari menunjuk sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempat mereka berdiri. Dari depan rumah yang terbuka tampak seorang wanita yang merintih-rintih sambil memegangi perutnya yang membesar. Rupanya wanita itu akan melahirkan.

“ Dimana suaminya, nyai… “ Bestari turun dari kudanya dan mendekati wanita itu.

“ Sedang menjemput tabib, …. Aduuuhhhh… saya sudah tidak tahan..”

Tiba-tiba suami wanita tersebut datang….. tetapi ia tidak bersama sang tabib.. ternyata sang tabib sedang berada luar desa yang jaraknya cukup jauh. Dengan wajah cemas suami wanita tersebut memberitahu istrinya.

  Aduh bagaimana ini… kang Jaka…. Sakit sekali….”

“ Sabar nyai… saya akan berusaha mencari tabib lain..” Suami wanita berbicara sebentar dengan kedua pengembara yang berada di rumahnya. Tentu saja ia tidak mengenali keduanya sebagai Raja dan Selirnya…  Ia senang wanita pengembara akan membantu istrinya melahirkan.

Mula-mula Bestari meminta suami wanita itu merebus air… ia sendiri mencuci tangannya lalu meminta wanita itu tidur dengan melipat kedua lututnya. Sebuah wadah yang berisi air hangat dan beberapa lembar kain bersih telah disiapkan. Bestari melepas tusuk rambutnya dan mencucinya dengan air hangat hingga bersih. Raja yang ikut membantu suami wanita itu menyiapkan perlengkapan persalinan hanya memandang takjub. Sekali lagi ia melihat wanita itu sungguh serba bisa…

“ Selain kang Joko yang akan membantu saya…  sebaiknya kakang menunggu di luar….” Bestari memberi isyarat kepada Raja supaya keluar kamar… Raja tersenyum.. tentu saja… ia melangkah keluar kamar….

Tak menunggu lama terdengar suara tangis bayi.. seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bestari keluar bilik dengan wajah berkeringat, membetulkan ikatan rambut yang terurai karena susuknya ia pakai untuk memotong tali pusar dan  meninggalkan suami istri yang berbahagia dengan bayi mereka. Raja mengusap kening Bestari… mereka segera meninggalkan gubug sederhana melanjutkan perjalanan…..

“ Darimana diajeng mempelajarinya?...”

“ Dulu saya pernah membantu seorang tabib… setelah itu saya mencari kitab khusus yang menjelaskan masalah persalinan…  dan saya telah beberapa kali membantu wanita yng akan melahirkan di berbagai tempat…“

Raja beringsut menghadap tepat ke wajah Bestari, menggenggam tangannya dan memandang tajam… tentu saja wanita itu menjadi sedikit bingung…

“ Apalagi  yang akan saya temukan dalam diri diajeng berikutnya?....” wajah cantik Bestari semakin bingung….

“ Maksud Gusti apa?....” Bestari merasakan sesuatu yang aneh.

“ Saya akan memberitahukannya sesampai di rumah diajeng nanti… “ Raja masih memandang Bestari masih terlihat bingung. Mencium keningnya dan merebahkan tubuh Bestari di peraduan. Malam yang kelam menenggelamkan mereka dalam mimpi indah di penginapan itu.

No comments:

Post a Comment