Bumi ayu telah
tampak di depan mata… memasuki kadipaten yang berada di tepi pantai ini harmoni
kehidupan sempurna kembali terhampar. Desa-desa yang dilewati merupakan desa
yang subur-makmur.. rumah-rumah kayu tertata rapi, di sana-sini banyak terdapat
aktivitas perdagangan..
Memasuki kota
kadipaten tampak perdagangan beras dan hasil kebun, mendekati pusat kota
dimana-mana terlihat pengolahan hasil laut seperti ikan asin dan olahan
lainnya. Bau amis agak menyengat ketika melewati tempat-tempat pengolahan hasil
laut terebut. Ketika sampai di pusat kota yang cukup ramai, Raja dan Bestari langsung
menuju sisi kota sebelah barat.. sebuah bangunan megah di tepi pantai dengan
pagar kayu berukir. Mereka memasuki gerbang rumah megah tersebut….
“ Masyaallah…
anakku… bunda rindu sekali…” Bestari memeluk wanita setengah baya yang
mengenakan kerudung menutup rambutnya.
“ Tari juga
rindu, bunda……….”
Subari Wiratmo
yang sekarang tampak lain dengan jubah putih dan sorban tampak lebih tua namun entah mengapa Bestari
melihat tubuh ayahnya dikelilingi sinar kesejukan. Meremang seluruh tubuhnya
saat mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut ayahnya.. sungguh sangat menenangkan jiwanya… ah ayah…
suatu saat pasti aku akan mengikuti jejakmu, entah kapan….
Malam itu Bestari
heran, bundanya menyiapkan hidangan lezat yang cukup banyak… ia semakin heran
ketika beberapa wanita menghias dirinya..
ada apa ini?.. apakah orang tuanya akan mengadakan pesta?.. mengapa
Maharaja Danendra juga berpakaian serba putih?
“ Ayahmu berkenan
menikahkanmu dengan Gusti Raja secara Islam.. sebagai orang tua yang beragama
islam kami harus menjalankan kewajiban menikahkan anak perempuan… kalau tidak
sama saja kami membiarkan anak kami berzina… dan zina itu dosa anakku…..” bunda
menjelaskan panjang lebar atas pertanyaan Bestari sambil membenahi kerudung
sutra yang menutupi sebagian rambut Bestari yang telah ditata rapi..
“ Bagaimana
dengan Gusti Raja, bunda…. Apakah sudah diberi tahu?.. apakah beliau
berkenan?..”
“ Beliau menyanggupinya
anakku… jadi tersenyumlah malam ini.. karena kalian akan menjadi suami istri
yang sah secara Islam….” Bunda tersenyum mengagumi kecantikan anak semata
wayang di hadapannya. Kau tampak lebih dewasa dan bersahaja anakku.. dan bunda
melihat binar cinta itu di mata beningmu… bathinnya dalam hati.
Di pendopo utama
yang megah malam itu telah berkumpul beberapa tamu ayah yang semuanya
menggunaka pakaian yang sama.. setelah beberapa saat ayah segera duduk
berhadapan dengan Gusti Raja berbatasan dengan sebuah meja… tangan ayah
menggenggam erat tangan Gusti Raja.. dalam keadaan bersalaman ayah mengucapkan
beberapa do’a dan setelah itu beliau
mengucapkan kalimat pendek atau Ijab Qabul yang ditujukan kepada Gusti Raja …
“ Saya nikahkan
putri saya Bestari binti Subari Wiratmo dengan Gusti Raja Danendra Mahardika bin
Gusti Maharaja Saptaprasetya dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar
tunai…”
“ Saya terima
nikahnya Bestari binti Subari Wiratmo dengan mas kawin seperangkat alat sholat
dibayar tunai..” Gusti Raja mengucapkan kalimat tersebut dengan sangat tenang…
bahkan siapa saja yang mendengarkan prosesi ini ikut berdebar-debar… tak
terkecuali Bestari. Entah mengapa setelah ayahnya mengucapkan kata ‘sah’….
Hatinya seperti bergetar… ada sesuatu yang terlepas yang selama ini menyesakkan
dalam dadanya.
Apakah rasa itu berarti sebuah kelegaan?... sebuah keyakinan
bahwa ikatan bathin antara Gusti Raja dan dirinya menyatu?....dalam benaknya
terbersit rasa bahagia itu… kali ini senyumnya benar-benar tertahan dan sedikit
kaget ketika di hadapan tamu-tamu Sang Raja menyampaikan keinginannya
menjadikan Bestari sebagai Permaisurinya diiringi ucapan.. Alhamdulillah.. dari
seluruh tamu yang hadir…..
“ Kenapa
diajeng?.... mengapa wajah diajeng seperti menyembunyikan sesuatu?...” Gusti
Raja menggenggam tangan Bestari ketika keduanya berada di peraduan.
“ Maafkan saya,
Gusti… apakah keputusan Gusti sudah
matang memilih saya sebagai permaisuri..”
“ Apa diajeng
meragukan keputusan saya?...” kali ini Raja melihat mata itu memancarkan sinar
aneh.. tak seperti kerlip bintang yang selalu ia kagumi. Ia merasa Bestari
menyimpan sesuatu di sana…
“ Bolehkan saya
sekali ini saja memohon sebuah permintaan, Gusti?... saya sudah memutuskan
untuk menjadi muslim.. dan apabila Gusti
tidak berkenan dengan keputusan ini.. saya bersedia dihukum apa saja… ” Raja melihat bibir Bestari bergetar
mengucapkan kalimat itu.
Sebuah keputusan
yang sulit bagi Raja.. ia sungguh tulus mencintai Bestari, Namun menjadikan
Bestari sebagai permaisuri dalam kondisi berbeda keyakinan sungguh berat…
sementara, walaupun hatinya mengakui kebenaran dalam Islam ia masih harus
berfikir panjang untuk memasukkan ajaran itu ke dalam Istana.
Kerajaan bukanlah
miliknya sendiri. Disana ada rakyat yang harus dipersatukan supaya tidak
terjadi keraguan dan kekhawatiran dengan rajanya. Apa yang akan terjadi ketika
seorang Raja tiba-tiba berganti keyakinan.. apakah rakyat tidak menjadi
bingung… mana yang harus dipercayai.. jika seorang Raja tidak punya
pendirian?...
Raja mengusap air
mata di pipi Bestari.. malam itu meski kehangatan terjalin namun dalan bilik
hati masing-masing menyimpan persoalan. Ketika membuka matanya Bestari tak
menemukan Raja di sampingnya… ia tahu.. pasti beliau sedang bersemedi.. itu
yang selalu dilakukan ketika Raja mempunyai sebuah pemikiran. Bestari tidak
mampu memejamkan mata lagi, ia bangkit dan meraih sebuah kitab pribadinya.. ia
mulai menuliskan sesuatu di sana….
Tuhan…
Ampunilah
aku di malam ini,
disaat ini semua dosa yang pernah aku
lakukan, semua kejelekan yang pernah aku rahasiakan,
semua kedunguan yang pernah aku lakukan.
Yang aku sembunyikan dan aku tampakkan
Yang aku tutupi atau aku tunjukan.
Ampuni semua kebusukkan ku,
Dengan karunia -Mu Engkau menutupinya.
Wahai junjungan ku, Pelindung ku, Pemilik nyawaku,
jadikanlah waktu-waktu malam dan siang ku dipenuhi dengan zikir kepada-Mu
Kokohkan anggota badanku untuk berbakti pada-Mu
Teguhkan tulang-tulang ku untuk berbakti kepadaMu.
Teguhkan tulang-tulang ku untuk melaksanakan niat ku.
Karuniakan pada ku kesungguhan untuk bertakwa kepada -Mu
(DOA KUMAIL)
Sunyi
sejenak merayap di kebisuan malam. Bestari menatap rembulan yang tak sepenuhnya
menerangi alam. Tiada keraguan dalam hatinya… menjadi seorang permaisuri Raja
memang dambaannya karena ia mencintai Gusti Raja..namun menjadi seorang muslim
adalah tuntunan jiwanya, dan hal itu mengalahkan rasa cintanya kepada Gusti
Raja. Ia telah siap apabila Raja meninggalkannya. Ia telah bertekat untuk
menekuni agama ini dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam meniti sisa hidupnya.
“
Ada yang merisaukan hati diajeng
rupanya… sehingga sampai selarut ini belum bisa memejamkan mata…” tiba-tiba
Gusti Raja sudah berada di belakangnya. Semedinya sudah selesai rupanya.
“
Saya tidak bisa tidur karna memikirkan Gusti…. Saya merasa telah melawan
Gusti…”
“
Diajeng tidak perlu risau.. saya akan memboyong permaisuri saya apapun
keyakinannya….” Gusti Raja tersenyum dan meraih tangan Bestari.
“
Benarkah?... ah terima kasih Gusti… saya sangat mencintai Gusti.. jadi saya
sangat takut menyakiti hati Gusti.. itulah yang merisaukan saya…”
“
Sekarang diajeng tidak perlu risau lagi.... “ Bestari memeluk Gusti Raja yang
sangat dicintainya itu erat-erat seakan tidak mau melepaskannya…
Kerajaan dengan
Raja dan permaisuri Bestari menjadi semakin makmur dan berkembang pesat.
Perbedaan keyakinan diatara mereka tak membuat dinding pemisah namun justru
menjadi jembatan bahwa perbedaan keyakinan itu tidak untuk di perdebatkan
apalagi menjadi penghalang untuk maju. Sejak saat itu perkembangan agama Islam
tidak merupakan hambatan bagi pemerintahan di kerajaan tersebut.
Kepandaian sang
permaisuri Bestari sangat tersohor hingga ke pelosok desa. Tentu saja Raja
sangat bangga dengan pilihannya.. dan memang itulah tujuannya selama ini.
Bestari memang seorang wanita yang luar biasa.. kemampuannya tidak dimiliki
oleh wanita lain, namun ia tidak pernah sombong dan merendahkan orang lain,
termasuk sikapnya terhadap saudara-saudara selir yang lain.
Raja membebaskan para selir untuk memilih jalan hidupnya masing-masing atas permintaan permaisuri.. benar saja hanya gusti Ajeng yang berkenan mengabdikan dirinya kepada Gusti Raja. Dari gusti Ajeng Raja memiliki seorang putri bernama Anjani.
Raja membebaskan para selir untuk memilih jalan hidupnya masing-masing atas permintaan permaisuri.. benar saja hanya gusti Ajeng yang berkenan mengabdikan dirinya kepada Gusti Raja. Dari gusti Ajeng Raja memiliki seorang putri bernama Anjani.
Beberapa tahun
berganti, Kerajaan telah mengumumkan kelahiran putra mahkota. Perpaduan antara
kewibawaan Raja Danendra dan kecerdasan Permaisuri Bestari sudah tampak pada
diri Pangeran Bayuaji sejak ia masih kanak-kanak. Menginjak usianya ke sepuluh
tahun Raja Danendra memanggil putra semata wayangnya…
“ Anakku
Bayuaji…. Mulai sekarang kamulah yang akan menjadi penguasa kerajaan ini.. jadi
persiapkanlah dirimu, pelajarilah semua ilmu yag diberikan oleh paman-paman
penasehat kerajaan dan yang terpenting patuhilah setiap perkataan ibundamu..”
“ Baiklah ayah…
nasehat ayah akan saya laksanakan.. “
“ Ayah titipkan
kerajaan dan keluarga kita kepadamu, meski usiamu masih sepuluh tahun, namun
ayah yakin kamu pasti mampu melaksanakannya..
ayah akan melakukan perjalanan beberapa waktu.. kelak tiba saatnya ayah
akan kembali…”
Raja Danendra Mahardhika
meninggalkan kerajaan untuh suatu urusan yang tidak satupun keluarga kerajaan
mengetahuinya.. bahkan Permaisuri Bestari juga tidak mengerti kemana dan
mengapa Gusti Raja meninggalkan istana. Kepergian Gusti Raja otomatis
meninggalkan beban dan tanggung jawab kekuasaan kepada Permaisuri Bestari
mengingat putra mahkota saat ini masih berusia sepuluh tahun.
Sewindu sudah
Gusti Raja meninggalkan istana.. Permaisuri
telah mengalih tugaskan jalannya pemerintahan kepada putra mahkota Pangeran
Bayuaji atau setelah berganti keyakinan menjadi seorang muslim menjadi Pangeran Al-fath Wahidin yang telah berusia delapan
belas tahun.
Karena Ajaran
Islam yang dipeluk oleh sang Permaisuri ternyata sangat mempengaruhi seluruh
kerajaan maka tak heran dalam tempo sewindu seluruh keluarga istana sudah
memeluk agama Islam.
-----
Senja
temaram meninggalkan semburat sinar meremang di ujung barat. Wanita berkerudung
itu memandang taman bunga yang hari ini sedang bermekaran.. sungguh suatu
karunia Illahi keindahan ini. Matanya yang tajam dan indah mengerjap menikmati
bunga-bunga. Para abdi Istana yang akan menyampaikan berita kedatangan tamu agungpun hanya menunggu
sang Permaisuri keluar dari taman bunga. Kalau sudah begini hanya Al-fath lah
satu-satunya yang boleh mengganggunya.
“ Assalamu’alaikum… “
“ Wa’alaikum salam…. Anakku Al fath… ada apa?...”
“
Maaf Ibunda.. ada tamu agung mencari bunda… sudah dipersilahkan duduk di pendopo…”
" Siapakah tamu agung yang datang?..."
" Mohon maaf Ibunda... saya juga melum bertemu dengan beliau.. saya akan menemani Ibunda menemui tamu agung tersebut.. mari Ibunda..."
“
Baiklah, nak… jangan lupa hari ini akan ada pengajian setelah sholat Maghrib...” sebelum beranjak ke
pendopo wanita itu mencium kepala Al
fath, pemuda tampan yang saat ini telah berusia delapan belas tahun.
“
Ya, Ibunda….”
Sejak
seluruh penghuni kerajaan memeluk agama Islam pendopo utama berubah fungsi tidak
hanya untuk menerima tamu tetapi juga sebagai tempat untuk melaksanakan
pengajian dan ibadah keagamaan lainnya.
Seseorang
dengan pakaian berjubah dan bersorban serba putih duduk bersila. Sesaat Bestari
seperti mengenali cara duduk orang ini namun ia menggelengkan kepala… ah..
siapa beliau ini?... dari pakaian yang di kenakan jelas ia seorang Muslim.
“
Assalam’alaikum….” Bestari menyapa.. dan….. betapa terkejut dirinya… lemas
sekujur tubuhnya.. darahnya seperti berhenti mengalir di sekujur tubuhnya…. Al-fath
mungkin tidak mengenali laki-laki ini, namun Bestari tidak akan pernah melupakan
tatap matanya.
“
Wa’alaikumsallam……” suara berwibawa itu tak mungkin ia lupakan.
Syeh
Muhammad Iskandar merupakan salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa.
Bestari sudah pernah mendengar nama besar itu beberapa tahun yang lalu. Kebesaran
nama pemuka agama Islam yang telah mengenyam pendidikan keagamaan dari negeri
Arab dan beberapa Negara itu sangat harum namanya. Sejak beliau kembali ke tanah Jawa dan ikut
serta menyebarkan agama Islam dengan cara yang sangat bersahaja. Namun sungguh Bestari tidak menyangka bahwa beliau adalah suaminya sendiri...
Inilah
penantian Gusti Raja Danendra Mahardhika yang sekarang telah bermetamorfosis
setelah memeluk agama Islam. Ia telah memikirkan keadaan ini sebelum menjadikan
Bestari menjadi seorang Permaisuri. Bahkan jauh-Jauh hari sebelum ia memutuskan
untuk pergi mendalami sebuah ajaran kebenaran. Ia tidak salah memilih Bestari sebagai
penggantinya selama ia pergi, ia sangat percaya wanita yang ia pilih setelah
berbagai ujian itu mampu mendidik keturunannya menjadi calon penguasa yang
mumpuni dan berahklak mulia.
*****
Dalam
keheningan malam itu tampak cahaya bulan purnama memancarkan sinar emasnya.
Semilir angin malam menemani wanita yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an…
suaranya yang halus dan lembut menyayat hati seakan mengiris-iris jiwa resah
dan menyiraminya dengan sejuknya air surga.. ada ketenangan mendengar suara
merdu dan lembut itu. Syeh Muhammad Iskandar yang duduk di hadapannya begitu
meresapi alunan kata-kata suci dan murni melebihi intan permata di dunia.
Beberapa
saat setelah mengakhiri bacaannya, wanita itu meraih sebuah kitab catatan
dan menuliskan bait-bait puisi..
Saat tatapan mata memandang lepas
Wujud ciptaanNya di dunia
Berdegup hati ini berkata,
Sungguh mempesona tak ada duanya
Ku bayangkan dan kuresapi siapa gerangan
Membuat sama sedemikian rupa
Hati semakin berdegup seraya menangis
teringat dan terngiang, seperti apa
taman surga berada
Meratap dan menangis kembali hati ini
Mengingat janji Tuhan
Hanyalah mereka manusia pilihan
Yang jauh dari perbuatan nista dan angkara murka
Yang akan menjadikan mereka penghuni taman surga
kekal selamanya
Oh, Tuhan walau seribu jalan berliku
Berikanlah petunjukMu pada langkah kaki ini
Agar hambaMu termasuk ke dalam golongannya…
………tamat

beuuuhhh..... akhirnya selesai juga.... thanx reader!!!!!
ReplyDeletewarm regards for u all......