Kereta kuda
berhias indah itu berhenti tepat di depan sebuah pelabuhan niaga.. seorang
pembesar istana dan seorang anak laki-laki berusia sekitar empat belas tahun
keluar dari kereta itu mengenakan pakaian yang indah. Semua orang menunduk
hormat kepada pembesar istana dan pemuda
kecil tersebut. Bestari, gadis kecil yang tengah asyik membaca kitab bergambar
dagangan ayahnya itu hanya melirik sekilas keramaian di pelabuhan niaga itu. Ia
tak mengerti arti kedatangan seorang calon pemimpin kerajaan di masa datang.
Tak berapa lama pemuda kecil itu menghampiri toko milik ayahnya dan
berbincang-bincang sejenak … Bestari tetap tak begitu memperdulikan, dan tetap
asyik membaca…
“ Anakku,
Bestari….. kitab itu mau dibeli, nak… ayo kembalikan di tempatnya…” Subari wiratmo,
saudagar kaya pemilik toko yang tak lain adalah ayahnya melayani rombongan
pemuda kecil berpakaian indah tadi dengan penuh rasa hormat.
“ Ini milik Tari ayah…. “ Bestari kecil tidak
rela kitab yang sedang dibacanya harus diserahkan kepada pemuda kecil
berpakaian indah itu.
“ Eeeh… tidak
boleh begitu, anakku……… ayo kembalikan, besok ayah belikan yang lebih bagus.
“ Baiklah,
ayah….” Dengan berat hati gadis kecil itu meletakkan kembali kitab bergambar
itu di atas rak. Pemuda itu mendekati rak dan mengambil kitab itu.
“ Kamu suka
membaca ya…” pemuda itu bertanya kepada Bestari kecil yang saat itu baru berusia
delapan tahun.
“ Saya suka yang
ada gambarnya… “ Bestari berkata sambil mengangguk.
“ Kalau begitu
ambillah kitab ini untukmu… “ pemuda itu menyerahkan kitab itu kepada Bestari
yang menerima dengan mata berbinar. Tatapan mata pemuda itu memancarkan
kedamaian dan persahabatan.. dan Bestari selalu mengenang tatapan itu.
“ Gusti… bukankah
kitab itu yang gusti cari?... mengapa diberikan kepada anak pemilik toko?...”
Pembesar istana yang mengiringi pemuda itu mengingatkan.
“ Biarkan saja
paman, saya akan membeli kitab yang lain….” Pemuda itu segera memilih kitab
lainnya yang banyak terdapat di toko milik ayah Bestari.
Gusti pangeran memang
masih kecil, namun kearifan dan sifat seorang penguasa sudah ada dalam dirinya.
Ia tak segan berkeliling ke tempat-tempat yang ia inginkan hanya sekedar
mengetahui keadaan yang sebenarnya. Hari itu Subari Wiratmo melihat sendiri
bahwa calon pengganti raja sudah siap naik tahta.
*****
Malam itu bulan
purnama memancarkan bias emas sinarnya.. Indah.. namun tak seindah hati seorang
gadis yang duduk termenung di dekat jendela. Wajahnya yang bulat lonjong dengan
lesung pipit tipis menghiasi pipinya yang putih mulus. Tiada senyum tersungging
di bibir sensualnya… keindahan itu tak mampu memancarkan swarna surga karena
kegalauan hatinya. Bayang pangeran pujaan yang ia sendiri tidak jelas siapa dan
dimana berada terhempas jauh ke dalam
lubuk hati yang paling dalam. Biarlah kusimpan bayang itu di hatiku…….
Besok ia akan
berangkat ke keraton bersama kedua orang tuanya untuk memenuhi permintaan
sesembahan mereka Gusti Maharaja Danendra
sebagai selir yang ke lima dari sang raja. Duh.. gusti… sejak kecil ia
bercita-cita menjadi seorang sastrawan atau penyair yang mampu membuat larikan
sajak-sajak indah seperti yang pernah ia baca di kitab-kitab dari negeri Kanton
atau Hindustan. Namun ia tak mampu menolak permintaan ayahnya untuk menjadi
selir atas permintaan Gusti Maharaja.
Ayahnya adalah
seorang pedagang kaya raya. Bahkan kekayaannya hampir menandingi harta
kerajaan, namun kekuasaan sang raja tiada tandingan. Permintaan sang raja untuk
menjadikan anak gadis satu-satunya untuk menjadi selir tak mampu ditolak karna
ayahnya bukan dari kalangan ningrat. Selain itu ayahnya mempunyai alasan yang
kuat dan keyakinan bahwa Bestari akan bahagia berada di istana.
Raja memang
mempunyai kekuasaan penuh atas tanah dan seluruh kehidupan pada zaman itu.
Segala sesuatu yang ada di negeri ini adalah milik raja. Tugas raja adalah menetapkan hukum dan menegakkan
keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan
raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang
dimilikinya. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang
diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan. Sebagian lagi merupakan
persembahan dari kerajaan lain, ada juga selir yang berasal dari lingkungan
keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan
keluarga istana.
Bestari tersenyum
ketika kedua orang tua itu melambaikan tangan meninggalkannya di pendopo kaputren.
Bangunan nan asri yang khusus dibuat untuk para selir itu seakan hendak menelan
tubuhnya. Dalam balutan kain warna biru dan kebaya putih ia memandang tempat
yang siap membelenggu nasibnya.
“ Gusti Maharaja
berkenan ke kaputren sebentar lagi, silahkan gusti putri mempersiapkan diri…”
seorang pelayan wanita berkebaya mendekatinya dengan penuh hormat.
“ Baiklah.. saya
sudah siap, mbok….” Bestari memang baru
berusia sembilan belas tahun, namun sejak kecil ia sudah terbiasa hidup
bergelimang kekayaan. Ayahnya sering mengajaknya berniaga ke tempat-tempat yang
sangat menarik. Ia mempelajari banyak hal dari setiap perjalanan berniaga.
Ditunjang dengan kecerdasannya tak heran ia mampu membaca kitab-kitab
kesusastraan dari berbagai bangsa.
Maharaja Danendra
adalah seorang raja yang sangat kharismatik.. kemampuannya memimpin negeri ini
pantas dibanggakan. Selain negeri subur makmur rakyatnya juga hidup sejahtera. Raja
yang masih berusia belia itu telah menjadi penguasa sejak ayahandanya mangkat
saat ia berusia enam belas tahun, hingga sekarang sudah sepuluh tahun ia menjadi raja… Bestari sendiri sebenarnya
belum pernah melihat Gusti Maharaja
Danendra secara jelas. Namun karena keyakinan dan kekuatan hatinya ia tidak
merasa sedih atau terpaksa menjalaninya.
Dalam pendopo
sudah berkumpul para selir, keseluruhannya berjumlah lima orang termasuk
Bestari. Selir pertama Gusti Ajeng, ia masih kerabat istana.. cantik dan
anggun. Selir kedua Gusti Mayangsari, hadiah dari kerajaan sahabat.. cantik dan
ramah. Selir ketiga Gusti Kartika, putri dari kerajaan seberang.. cantik dan
periang. Selir yang keempat Gusti Roseha, putri dari Malaya.. cantik dan pintar
menari. Bestari sudah diperkenalkan dengan semua selir raja oleh kepala pelayan di kaputren ini.
Dari kelima selir yang bukan dari kalangan kerajaan hanya Bestari seorang.
Ketika Gusti Maharaja
Danendra memasuki kaputren ada keanehan yang ditangkap oleh Bestari. Dimana
sang permaisuri atau ratu kerajaan ini? Ia tidak melihat Gusti Maharaja
Danendra bersama seorang ratu. Ah.. ternyata inilah seorang Maharaja Danendra
yang terkenal di negeri ini. Bestari baru sekali ini menatap langsung Gusti Raja..
namun mengapa ia merasa telah mengenal
sang raja padahal ia belum pernah bertemu? Banyak pertanyaan yang muncul di
kepala Bestari saat itu.
Bestari tenggelam
dalam lamunannya sehingga ia kurang memperhatikan pembicaraan antara raja dan
para selir yang sangat menghormati Gusti Raja. Bahkan ketika Gusti Raja
berkenan akan bermalam dengannyapun Bestari tidak begitu mendengarkannya. Ia
tidak begitu memperdulikannya hingga ketika Gusti Raja meninggalkan kaputren
dan para selir memandangnya dengan senyum penuh arti Bestari hanya mampu
bertanya..
“ Ada apa yunda
gusti Ajeng… mengapa memandang saya seperti itu?..” Bestari sungguh terlihat
bingung.
“ Wah dinda gusti Bestari… pura-pura tidak tahu
ya… malam ini khan Maharaja Danendra akan tidur dengan dinda... selamat ya..” gusti
Ajeng tersenyum diikuti olah keempat selir lainnya…
Bestari sama
sekali tidak mengerti, bukankah sebagai seorang selir sudah kewajibannya
memenuhi keinginan Gusti Raja? Lalu apa yang harus di tertawakan? Mengapa
keempat selir raja menggodanya?
Bestari memang
masih muda, namun ia banyak belajar berbagai ilmu pengetahuan … sudah banyak
kitab-kitab tentang hubungan pria dan wanita serta perkawinan yang ia baca.
Tidak itu saja ia sering bercerita dengan ibundanya mengenai kehidupan sekitar
perkawinan dan rumah tangga. Jadi tidak ada yang harus ia takutkan ketika Gusti
Maharaja Danendra ingin tidur dengannya. Sebelum ia datang di Istana megah ini
sudah ada tekad yang teguh darinya bahwa ia akan menjalani takdirnya… perkara
ia suka atau tidak… Bestari tidak perduli. .. Bestari memang gadis yang luar
biasa.
Malam itu setelah
seorang emban membersihkan tubuhnya dengan cara melulur seluruh badannya ia
suguhi minuman tradisional yang menurutnya terasa pahit. Bestari sebenarnya sudah
terbiasa dengan hal ini, semua sering dilakukan di rumahnya atas perintah
ibunya. Sebagai seorang gadis ia
diharuskan merawat tubuhnya sehingga terpancar sinar kecantikan dari dalam. Ketika
semua telah selesai Bestari bukannya menunggu Gusti Raja ia malah sibuk menulis
beberapa catatan dalam sebuah kitab pribadi miliknya. Tangannya asik menorehkan
tinta dengan sebatang kuas kecil yang
disebut ‘Tsin’ yang dicelupkan kedalam sebuah botol berisi tinta berwarna
hitam.. Ayahnya membelikan semua perangkat menulis itu dari negeri Kanton.
Mata dan fikiran
gadis itu larut dalam rangkaian aksara yang ia tuliskan sehingga ketika Gusti Maharaja
Danendra memasuki pendopo miliknya ia tak mengetahuinya, bahkan ketika sang
Raja memasuki kamarnya, Bestari tengah asik membacakan syair indah yang baru
saja dibuatnya, suaranya yang lembut tetapi tajam pada saat syair menekan
makna…. Sang Raja berhenti melangkahkan kaki.. menikmati titian syair dari
bibir Bestari…..
DERMAGA
CINTA REMBULAN SAGA
LARUT
MALAM MENJELANG..
TATAPAN
MATA TETAP JALANG..
MENEMBUS
KALBU..
MENGHUJAM
RINDU..
SINAR
REMBULAN SEMAKIN TERANG..
MENERJANG
MALAM NAN KELAM..
SINARAN
JIWA SEPI..
TERANGI
HATI TANPA MIMPI..
REMBULAN
SAGA MENGHIAS NIRWANA..
MENEMBUS
HATI NAN LARA..
BILA
CINTA MEMBELAI JIWA..
MATA
INDAH MENGHARAP ASA..
MENANTI
SANG PUJANGGA MENEBAR ASMARA..
Plok.. plok..
plok.. dari arah pintu seseorang bertepuk tangan. Bestari kaget dan membalikkan
badannya.. ah Gusti Maharaja Danendra telah berdiri di hadapannya…
“ Syair yang
indah… luar biasa.. saya menikmatinya…”
“ Oh, maafkan
saya Gusti Raja… tidak memyadari Gusti telah berada di sini..” Bestari menghaturkan
sembah hormat kepada Gusti Raja.
“ Tidak apa-apa diajeng Bestari… “ Raja
tersenyum sambil mengamati ruangan itu. Tiba-tiba matanya tertuju kepada
setumpuk kitab di atas meja. Ia mendekati meja dan mengambil sebuah kitab..
Bestari hanya mampu memandang dan menahan hatinya... mudah-mudahan Gusti Raja
berkenan dan tidak melarangnya membawa kitab-kitab kesayangannya. Dari beberapa
kitab yang ada di sana sang Raja tertarik dengan sebuah kitab usang milik
Bestari.
“ Ah.. ternyata
diajeng Bestari masih menyimpan kitab ini…” sang Raja menunjukkan sebuah kitab
bergambar miliknya.
“ Tentu saja
gusti, itu pemberian seorang pangeran ketika saya masih kecil..”
Gusti Maharaja
Mahardika tersenyum penuh arti… kemudian dengan pasti ia berkata kepada
Bestari.
“ Pangeran itu
adalah saya… tak ingatkah diajeng Bestari kepada saya?..”
“ Oh.. benarkah…”
Mata indah Bestari benar-benar berbinar.. sungguh, ia tak mempercayai bahwa ia telah menemukan seseorang
yang selama ini selalu ia fikirkan.
Tanpa sadar ia mengangkat wajahnya memandang tajam Gusti Raja yang juga sedang memandangnya... seketika mata mereka
beradu.. ada debar-debar dalam dada Bestari.
Ia memang selalu
mengenang pemberi kitab itu.. baginya pemberi kitab itu adalah malaikat
penolongnya sehingga ia menjadi tertarik menulis dan membaca syair atau prosa
indah dari berbagai negeri.. karena di dalam buku itu menggambarkan betapa
banyak orang-orang di luar negeri sana yang menciptakan syair-syair nan indah.
Bestari selalu mengenang tatapan ramah pangeran kecil yang baik hati itu. Mungkin itulah sebabnya
ia seperti mengenal Gusti Maharaja Danendra ketika pertama kali bertemu..
ternyata ia adalah seseorang yang selalu tersimpan dalam hatinya.
Maka Bestari
hanya mampu menikmati permainan cinta Gusti Raja. Ia menutup matanya kala tangan
lembut pria dewasa itu menjamah seluruh tubuhnya. Bestari tak menyangka bahwa
akhirnya ia bertemu pangeran pujaannya. Keindahan kamasutra yang telah
dikenalnya membuat sang Raja takjub dan bergairah mencumbunya. Tak dipungkiri
Bestari memang pandai bermain cinta. Ilmu yang ia dapatkan dari kunjungan di berbagai
negeri. Dari negeri China sampai Hindustan……
“ Diajeng Bestari… saya sungguh sangat berterima kasih karena malam ini saya sangat menikmati kebersamaan dengan diajeng…”
“ Sudah menjadi kewajiban saya Gusti….” Ah seandaianya engkau tahu bahwa saya mendambamu sejak dahulu…Bestari berbisik dalam hatinya yang malam itu berbunga-bunga.
“ Ehm… saya tidak salah memilih diajeng sebagai selir saya… karena ternyata diajeng Bestari lebih pintar dari yang saya perkirakan… “
“ Maaf.. saya tidak mengerti maksud Gusti…”
“ Diajeng bestari sangat menguasai bercinta ala kamasutra… “ Raja tersenyum sambil mengelus rambut bestari yang panjang terurai.
“ Oh.. saya banyak membaca kitab-kitab Hindustan yang saya dapatkan ketika diajak oleh ayah berniaga… emmmm… tetapi baru sekali ini saya melakukannya…” Bestari tertunduk menyembunyikan rona merah wajahnya. Raja tertawa mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh selir ke limanya itu… segera dipeluknya tubuh wangi dan indah dalam dekapannya.
“ Jadi seberapa jauh diajeng memahami tentang kamasutra?..” Raja berbisik di telinga Bestari
“ Kama Sutra dari kata काम; kāma, yang berarti keinginan, hasrat, cinta atau nafsu dan सूत्र; sūtra, yang berarti benang atau rangkaian jadi kalau diartikan kamasutra adalah rangkaian dari adegan hasrat dalam hubungan intim.
Ada sebagian orang yang mendifinisikan Kama Sutra sebagai tali atau benang pengikat dalam percintaan. Kitab Kama Sutra merupakan hasil karya sastra Sanskerta yang dikarang oleh Mallanaga Vatsyayana dan banyak dipakai sebagai kitab acuan dalam hal percintaan.
Kama (batara Kamajaya) juga merupakan lambang dari dewa percintaan, seperti yang dikenal dalam cerita Kamajaya-Ratih (dewi Kamaratih).

keren dech Al Novelnya, kenapa harus nervous? :)
ReplyDeletehehehe... jujur aja... belum pede... thanx SL....
DeleteDedek hanya bisa berkata, cerdas!!!
ReplyDeleteSeperti biasa, dedek suka cara Mbak memanaj alur cerita. Menarik dan tidak membosankan.
Dan satu hal lagi, puisinya apik tenan, Rek .... :-)
.. thanx dedek... puisi yg dedek buatin Al pakai di chapter berikutnya ya... bayar royaltinya ngutang dulu... hahahahahahaha..................
DeleteHahahahaha
DeleteSayangnya Dedek bukan karyawan Bank, Mbak. So, royalty gak boleh ngutang!!!
Tunaikan sekarang juga! dengan memberikan seulas senyum termanismu untukku, okey???