Saturday, May 12, 2012

Lucy, si pengamen sexy....


Gara gara menerjang genangan air, hari ini gerobak kesanyangan harus masuk bengkel, Padahal pagi ini jam 10:00 aku harus memenuhi kewajiban mengajar. Jarak dari rumah ke tempat mengajar cukup jauh kalau naik motor, waduh… nggak sanggup deh… lagipula cuaca pagi ini agak mendung, khawatir kehujanan di jalan akhirnya kuputuskan naik bis.

Bis patas yang kudapatkan cukup nyaman. Penumpang yang naik tidak memenuhi kursi kursi yang ada sehingga dengan mudah aku menemukan tempat duduk di deret nomor dua. Bangku sebelahku kosong. Kulihat hujan mulai turun makin lama makin deras. Di sebuah kota kecil bis berhenti menaikan penumpang bersamaan dengan itu naik juga seorang pemusik jalanan.

Pertama melihat pemusik jalanan aku sudah tertarik, tidak hanya penampilannya yang nyentrik tapi, biasanya pemusik jalanan di dominasi oleh pria, yang kulihat kali ini seorang wanita, masih muda dan cantik dengan gitar di dekapannya. Rambutnya lurus panjang diikat seadanya dengan sebuah penjepit rambut berbahan plastik, badannya cukup proporsional. Mengenakan hem kotak kotak dan celana jeans yang agak ketat terlihat cukup trendy dengan ikat pinggang dari metal,.... tidak kalah dengan mahasiswa mahasiswa di kampus hehehe…

“ Selamat pagi bapak bapak, ibu ibu, adik adik, kakak kakak, perkenankan saya mempersembahkan sebuah lagu mengantarkan perjalanan anda sekalian dipagi yang dingin kali ini….

Jreeeeng….. ia mulai melantunkan bait bait lagu ………

….. cah bagus… ojo sumelang… [ anak cakep.. jangan khawatir]
…. Melu aku tak jak ngamen neng prapatan… [ikut aku kuajak ngamen di perempatan]
…. Njaluk HP mesti keturutan… [minta HP pasti keturutan]
… Nanging gelem ora mangan sangang wulan…. [asalkan mau nggak makan Sembilan bulan]

Aku tersenyum mendengar bait bait lagu yang dinyanyikan gadis sexy itu.. kocak sekali.. dan ketika ia menyodorkan kantong di depanku matanya melotot.. ia terkejut karna yang kumasukkan lembaran sepuluh ribuan…

“ Ndak ada kembalinya, mbak… nggak usah aja…. Terimakasih…” kata gadis itu terdengar sedikit kecewa.

“ Lho.. saya nggak minta kembalian kok… dah.. ambil aja semua…”

“ beneran…?? Wah… suwun, mbak….” Ia berlalu menyodorkan kantong kepada penumpang lainnya.

Hujan masih deras mengguyur bumi. Perjalananku masih satu jam lagi… kulihat gadis pengamen tadi berjalan mendekatiku.

“ Permisi, mbak… boleh duduk sini? “ sebelum aku menjawab gadis itu duduk di sampingku. Tercium bau parfum murah dari tubuhnya namun tetap segar.

“ oh, silahkan….”

“ Terimakasih, mbak… ngasih uangnya banyak sekali.. biasanya orang orang ngasihnya sih Cuma sewu (*seribu) tapi mbak masukin sepuluhribu… suwun ya…” ia tersenyum kelihatan senang.

“ Lagunya apik lho… ngarang sendiri ya…”

“ Oh.. nggak, mbak… itu khan lagunya orang ngamen… saya Cuma ikut ikut aja kok, mbak….”

“ Masih sekolah ya…?

“ Hahaha… sekolah opo mbak….. duit dari mana? Untuk makan aja saya kudu ngamen seharian..” tiba tiba kulihat sorot matanya berubah mengandung kepedihan.

“ Orang tua masih ada? ..” tanyaku hati hati, takutnya ternyata orang tuanya sudah tidak ada….

“ Embuh, mbak…. Orang tua saya sebenarnya ada, tapi saya ndak tau dimana… “ kepala gadis itu menunduk seolah meratapi nasibnya.

“ Maaf ya dik…………..”

“ Ndak pa pa, mbak… saya Lucy…. “

“ Oh, saya Lia…..” tiba tiba BB ku berbunyi, ada email masuk.

“ Wah… HP nya apik ya mbak… pasti harganya mahal ya…hmmm.. saya juga pingin punya HP sendiri yang bisa dipakai pesbukan…. ” Lagi lagi dengan keluguannya ia menerawang jauh… ah aku jadi kasihan sama anak ini.

“ Usiamu berapa dik….”

“ Delapan belas, mbak… saya putus sekolah tiga tahun yang lalu waktu kelas satu SMA, gara garanya saya kabur dari rumah ibu saya….”

“ Lho… kok kabur kenapa? Dimarahi..?” tanyaku penasaran. Karena kupikir dari penampilannya Lucy ini pantasnya jadi gadis rumahan bukan pengamen jalanan.

“ Ah…. Ibuku memang asu..!!.”

“ Haah… hush… nggak boleh begitu sama ibu… dosa lho…” kaget sekali aku mendengar kata kata Lucy barusan. Dalam wajahnya yang manis ternyata tidak semanis sikapnya terhadap ibunya.

“ Mbak nggak tau sih… ibuku itu pelacur… lonthe..!! “ sekali lagi kutangkap kebencian yang sangat dalam di raut wajah gadis itu.

“ Tapi ibu khan sayang sama Lucy…”

“ Sayang apanya, mbak… waktu aku berumur 15 tahun dia sudah menjualku sama om om….. lha untung aku bisa melarikan diri… dan sejak saat itu aku minggat.. lebih baik ngamen.. biar capek tapi halal… daripada harus menjual diri…”

Wadhuh….. Dadaku mendadak sesak.. tak menyangka perjalanan ini memberiku sebuah pelajaran hidup.. tiba tiba aku merasa menjadi manusia yang paling beruntung.. meski bunda sudah tiada sejak aku masih berusia 13 tahun, namun ajaran dan didikan penuh nilai kebaikan beliau tetap kukenang. Merinding aku membayangkan seorang ibu yang justru tega menjerumuskan anaknya…

Lucy sebenarnya dalam sebuah dilema. Yang kulihat ia sangat mendambakan kasih sayang dari orang terdekatnya, namun di sisi lain ia sudah tak mempercayai cinta dan kasih sayang itu.. satu satunya orang terdekat adalah ibunya… yang tega menjual dirinya… ah.. tiba tiba aku memikirkan nasibnya.

“ Lucy .. kamu mau tidak ikut saya mengajar hari ini? Aku sedang memikirkan mata kuliah Sosiology yang akan kuberikan. Sebenarnya materi ini ada dalam syllabus pengajaran bahwa mahasiswa sebagai calon intelektual harus peka terhadap masalah sosial di sekitarnya.

“ Saya harus ngamen, mbak… kalo tidak makan apa saya hari ini…? Jadi maaf.. saya ndak bisa….”

“ Ah.. soal itu jangan khawatir… saya akan memberimu uang.. jadi nggak perlu ngamen.. bagaimana?...” aku masih berusaha membujuknya.

“ Ya sudah… tapi mbak Lia.. saya malu dengan penampilan seperti ini…”

“ nggak pa pa Lucy…. Biasa saja…. Yang harus kamu lakukan nanti memberikan testimony di depan murid murid saya… bisa khan?..”

“ Testimoni ki opo to, mbak?.....” ia kelihatan bingung… hihihi…. Maaf ya Lucy… aku lupa berhadapan dengan siapa...

“ Begini.. kamu bercerita saja tentang hidupmu di depan mereka… keluargamu.. tempat tinggalmu.. teman temanmu… pokoknya terserah… yang penting bercerita…. Bisa khan?...”

“ Yo wis… aku mau… tapi nanti aku dikasih uang ya, mbak… buat makan…”

“ Nggak usah nanti… sekarang saja.. nih simpan…” Ku sodorkan lembaran seratus ribuan.. mudah mudahan ia tidak mengurungkan niatnya.

“ Wah… emoh, mbak… kebanyakan… saya maunya dua puluh ribu saja kok….” Lucy menolak uang yang kusodorkan.

“ Udaaah… terima aja… sisaya bisa kamu simpan…” kataku setengah memaksa, namun sebenarnya aku salut dengan kejujuran gadis ini, hidup di jalan tetap tidak membuatnya serakah dan mata duitan.

-----

“ Thank you, guys………….. see you next week…” Aku mengakhiri kelas hari ini. Biasanya para mahasiswa langsung menghambur keluar namun kali ini mereka tetap berada di ruangan, kudengar mereka saling berbisik bisik. Tiba tiba salah seorang mahasiswa bernana Abdi, yang tadi paling banyak mengemukakan pendapat berdiri…..

“ Mom, bagaimana kalo Lucy menyanyi sebuah lagu untuk kita… “ Abdi berkata diiringi teriakan setuju dari teman temannya.

Lucy hanya tersenyum memandangku… serta merta aku mengangguk. Lucy langsung berdiri dan mulai melantunkan sebuah lagu…

I have a dream….. a song to sing…………

Lagu lama yang sangat menyentuh.. kulihat beberapa mahasiswa berdiri dan dengan sukarela menyumbangkan sejumlah uang sambil ikut bernyanyi mengiringi alunan gitar Lucy… ah meriah sekali kelasku hari ini.

Beberapa saran dari mahasiswa untuk Lucy memang sangat bermanfaat..aku salut dengan empati mereka terhadap kasus social yang di alami Lucy.. yang jelas hari ini Lucy mendapatkan rejeki. Dengan sejumlah uang sumbangan dari mahasiswa mahasiswa mudah mudahan ia bisa melanjutkan kehidupannya, ia ingin membuka usaha menjual majalah di halaman kampus, ini juga merupakan saran dari seorang mahasiswa.

“ Lucy………… ini nomor HP saya…. Kalo sudah bisa beli HP hubungi saya ya….” Sebenarnya membelikan pun aku bisa… aku sungguh bersimpati pada Lucy, namun Aku berharap ia mau berusaha bekerja sehingga cita citanya mempunyai HP tercapai. Ah…. Hidup memang harus berjuang buat Lucy si pengamen sexy…………




Beberapa bulan telah berlalu sejak terakhir saya bertemu Lucy di depan kampus sebelum tahun baru… setelah semester berakhir keputuskan mundur dari perguruan tinggi tempatku mengajar karena alasan waktu dan jarak yang cukup jauh.

Siang itu karena menghadiri sebuah seminar Internasional saya kembali ke kampus itu. Sebelum memasuki halaman parkir mataku menyapu seluruh area halaman kampus dan sekitarnya mencari bayangan Lucy yang telah lama tidak bertemu.

Memang sejak berpisah beberapa bulan yang lalu Lucy beberapa kali mengirim sms mengabarkan keadaannya yang sekarang sudah tidak lagi ngamen dari satu bus ke bus yang lain. Berjualan majalah di depan kampus mampu menghidupinya. Saya senang mendengar kemajuan yang di capai oleh Lucy. Namun telah beberapa bulan ini saya tidak menerima kabar darinya. Hmm… mudah-mudahan gadis itu masih berjualan majalah di depan kampus.

Seminar hari ini akan di mulai pukul 09:00 wib.. masih ada waktu 30 menit untuk mencari Lucy. Saya memutuskan bertanya kepada seorang security kampus yang sedang berjaga.

“ Selamat pagi, pak… saya mau tanya… pedagang majalah, perempuan muda, yang di dekat lapangan parkir dimana ya?..”

“ Owh.. sudah lama bu tidak jualan lagi… katanya sih sudah menikah.. tapi saya dengar ia buka butik di sebelah barat kampus lama.. di daerah puri atas..”

“ Oh benarkah?...terima kasih ya pak..”

Sebuah butik?… thank’s God… berarti kehidupan Lucy jauh lebih baik… karena rasa penasaran saya mencoba menghubungi Lucy via HP nya…

Tuuuuuuuutttt…. Tuuuuuuuuutttt…. Sudah beberapa kali ternyata tak ada yang mengangkat… mungkinkah nomornya sudah ganti?.... ya sudahlah… saya segera memasuki aula tempat seminar terselenggara.

Sekitar pukul 14:00 wib seminar selesai.. karena saya tidak ada acara hari ini maka saya putuskan mencari butik milik Lucy di daerah Puri atas. Benar saja.. memasuki daerah kampus atas ada berderet pertokoan dan salah satunya terdapat sebuah butik dengan tulisan cukup besar BUTIK LUCY…… sebuah ruko yang di design cukup representative. Ketika memasuki butik yang terlihat cukup ramai, kebanyakan para mahasiswa yang berbelanja di sana karena baju-baju yang di jual sepertinya untuk kalangan anak muda, saya cukup surprise dengan kemajuan yang di capai Lucy.

Beberapa pramuniaga tersenyum ramah menyapa.. saya langsung menanyakan keberadaan Lucy si pemilik butik. Dengan ramah ia menunjukkan ruangan Lucy yang berada di bagian paling ujung dari butik tersebut. Sebuah ruagan berdinding kaca dan tertutup tirai warna ungu , namun samar-samar saya melihat sang pemilik butik yang duduk membelakangi pintu sedang berbicara dengan seseorang via telepon.

Sejenak saya mengurungkan niat mengetuk pintu, karna sepertinya percakapan di telepon itu sangat penting terlihat dari nada bicara sang pemilik butik yang terdengar agak tegang.

“ Maaf ibu saya tidak bisa…” suara itu sangat saya kenal, suara Lucy…

“ Ya tapi….”

“ Ah… saya tidak tahu, ibu Tanya sendiri sama suami ibu…”

“ Maaf…. Saya tidak bisa..”

“ Silahkan saja… saya tidak takut..”

“ Sekali lagi saya tidak tahu… maaf… saya sedang bekerja… selamat siang..” brakkkk… Lucy terlihat agak membanting ganggang telepon. Kepalanya tertunduk dan terdiam.. seolah mempunyai beban pikiran yang cukup berat. Gadis itu menghela nafas panjang dan mengusap air matanya dengan selembar tissue.

Saya jadi agak ragu-ragu menemui Lucy.. setelah melihat apa yang baru saja terjadi.. saya membalikkan badan hendak keluar ruangan ketika tiba-tiba Lucy berteriak memanggil namaku.

“ Mbak Liaaaaaaaaa…………….” Ia berlari memelukku

“ Lucy… apa kabar?....

Siang itu kami ngobrol di sebuah cafe sebelum akhirnya kami berpisah. Ah Lucy… banyak sekali yang terjadi selama kita tidak bertemu. Hidupmu yang sudah sangat berat harus di tambah dengan beban yang lebih berat lagi.

Dari obrolan kami tadi saya baru tahu bahwa Lucy ternyata menjadi istri kedua dari seorang pengusaha.
Akhir tahun lalu Lucy mendapat kabar dari salah seorang teman ibunya bahwa sang ibu terkena penyakit AIDS… Lucy hampir saja tidak perduli mengingat prilaku ibunya yang tidak baik, namun setelah melihat sendiri kondisi ibunya yang sangat memprihatinkan ia menjadi tidak tega. Rasa kasihan atau kasih sayang yang sebenarnya tersimpan sebagai seorang anak timbul dan memaksa ia merawat ibunya.

Beberapa kali Lucy membawa ibunya ke rumah sakit untuk berobat, namun setelah beberapa kali berobat tabungannya menipis dan akhirnya ia tidak sanggup lagi membiayai pengobatan ibunya.

Dalam situasi terhimpit seorang pengusaha yang sering lewat di depan kampus dan membeli majalah di kiosnya tertarik dengannya. Karena sering di bantu oleh sang pengusaha akhirnya pada saat sang pengusaha ingin menikahinya ia tidak sanggup menolak karena sudah banyak hutang budi yang diterimanya, walau ia tahu sang pengusaha sudah mempunyai istri.

Lucy mulai hidup bergelimang harta namun selalu di bayang-bayangi terror istri tua sang pengusaha. Namun bukan Lucy gadis yang tegar dan kuat kalau ia menyerah dengan keadaan. Selama ia masih mampu membiayai pengobatan ibunya walau akhirnya beliau meninggal dunia di pangkuan anak semata wayangnya, ia tidak memperdulikan terror istri tua sang pengusaha.

Lucy tak mampu lari dari kenyataan bahwa ia adalah wanita perebut suami orang. Beberapa kali ia minta suaminya menceraikanya namun kelihatannya sang pengusaha sangat memuja dan mencintainya. Bagaimana Lucy mampu menghadapi semua ini?

Saya tak habis berfikir Lucy begitu tegar menghadapi semua ini?… Bagaimana dengan ia sendiri?.. apakah ia mencintai suaminya?... dari pengakuannya sampai saat ini ia hanya bisa menerima sang suami tanpa ada rasa cinta… duh… sekali lagi saya kagum dengan gadis itu… tidak bisa membayangkan apabila saya dalam posisi seperti Lucy.. apa yang sebenarnya dipertahankan? Ia tidak mencintai suaminya.. ia di terror olah istri tua suaminya.. ia sudah tidak memerlukan biaya pengobatan untuk ibunya… nah apalagi?.... namun Lucy yang cuma lulusa SMP itu mampu berfikir sangat bijak dengan mencoba menerima takdirnya.. ia mampu menerima sesuatu yang tidak ia sukai dengan ikhlas…ia sanggup member kebahagiaan kepada suaminya walau tidak ada cinta di hatinya. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa…

Perjalanan pulang ke rumah kali memberikan saya sebuah pemikiran tentang hidup… ternyata benar hidup di dunia ini tidak selamanya indah… saya yang berfikir bahwa Lucy sudah berhasil ternyata tidak seperti yang terlihat di luarnya.. keberhasilan yang penuh dengan pengorbanan.

Ah… saya merasa malu pada diri sendiri… di banding Lucy saya sungguh sangat beruntung… keluarga yang menyayangi… kekasih yang mencintai.. apa lagi? Itu saja saya sering tidak puas dengan keinginan orang-orang di sekitar saya… saya cenderung ingin menjalaninya sesuai dengan rencana dan keinginan saya... saya merasa menjadi seorang yang sangat egois…

Sampai dirumah nanti saya berjanji akan merubah sikap saya yang kadang sering mau menang sendiri… tak apalah sekali-sekali menuruti keinginan orang lain demi kebaikan… bukankah ketika kita mengetahui sebuah kesalahan itu artinya kita belajar memaafkan dan ketika kita harus menerima sesuatu yang tidak kita inginkan itu artinya kita belajar keikhlasan……hmmm…. Subhanallah…..



No comments:

Post a Comment