Wednesday, May 30, 2012

The Novel : Selir [ chapter 1 ]



 
Kereta kuda berhias indah itu berhenti tepat di depan sebuah pelabuhan niaga.. seorang pembesar istana dan seorang anak laki-laki berusia sekitar empat belas tahun keluar dari kereta itu mengenakan pakaian yang indah. Semua orang menunduk hormat kepada  pembesar istana dan pemuda kecil tersebut. Bestari, gadis kecil yang tengah asyik membaca kitab bergambar dagangan ayahnya itu hanya melirik sekilas keramaian di pelabuhan niaga itu. Ia tak mengerti arti kedatangan seorang calon pemimpin kerajaan di masa datang. Tak berapa lama pemuda kecil itu menghampiri toko milik ayahnya dan berbincang-bincang sejenak … Bestari tetap tak begitu memperdulikan, dan tetap asyik membaca…

“ Anakku, Bestari….. kitab itu mau dibeli, nak… ayo kembalikan di tempatnya…” Subari wiratmo, saudagar kaya pemilik toko yang tak lain adalah ayahnya melayani rombongan pemuda kecil berpakaian indah tadi dengan penuh rasa hormat.

“  Ini milik Tari ayah…. “ Bestari kecil tidak rela kitab yang sedang dibacanya harus diserahkan kepada pemuda kecil berpakaian indah itu.

“ Eeeh… tidak boleh begitu, anakku……… ayo kembalikan, besok ayah belikan yang lebih bagus.

“ Baiklah, ayah….” Dengan berat hati gadis kecil itu meletakkan kembali kitab bergambar itu di atas rak. Pemuda itu mendekati rak dan mengambil kitab itu.

“ Kamu suka membaca ya…” pemuda itu bertanya kepada Bestari kecil yang saat itu baru berusia delapan tahun. 

“ Saya suka yang ada gambarnya… “  Bestari  berkata sambil mengangguk.

“ Kalau begitu ambillah kitab ini untukmu… “ pemuda itu menyerahkan kitab itu kepada Bestari yang menerima dengan mata berbinar. Tatapan mata pemuda itu memancarkan kedamaian dan persahabatan.. dan Bestari selalu mengenang tatapan itu.

“ Gusti… bukankah kitab itu yang gusti cari?... mengapa diberikan kepada anak pemilik toko?...” Pembesar istana yang mengiringi pemuda itu mengingatkan.

“ Biarkan saja paman, saya akan membeli kitab yang lain….” Pemuda itu segera memilih kitab lainnya yang banyak terdapat di toko milik ayah Bestari.

Gusti pangeran memang masih kecil, namun kearifan dan sifat seorang penguasa sudah ada dalam dirinya. Ia tak segan berkeliling ke tempat-tempat yang ia inginkan hanya sekedar mengetahui keadaan yang sebenarnya. Hari itu Subari Wiratmo melihat sendiri bahwa calon pengganti raja sudah siap naik tahta.

*****

Malam itu bulan purnama memancarkan bias emas sinarnya.. Indah.. namun tak seindah hati seorang gadis yang duduk termenung di dekat jendela. Wajahnya yang bulat lonjong dengan lesung pipit tipis menghiasi pipinya yang putih mulus. Tiada senyum tersungging di bibir sensualnya… keindahan itu tak mampu memancarkan swarna surga karena kegalauan hatinya. Bayang pangeran pujaan yang ia sendiri tidak jelas siapa dan dimana  berada terhempas jauh ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Biarlah kusimpan bayang itu di hatiku……. 

Besok ia akan berangkat ke keraton bersama kedua orang tuanya untuk memenuhi permintaan sesembahan mereka Gusti Maharaja Danendra  sebagai selir yang ke lima dari sang raja. Duh.. gusti… sejak kecil ia bercita-cita menjadi seorang sastrawan atau penyair yang mampu membuat larikan sajak-sajak indah seperti yang pernah ia baca di kitab-kitab dari negeri Kanton atau Hindustan. Namun ia tak mampu menolak permintaan ayahnya untuk menjadi selir atas permintaan Gusti Maharaja.

Ayahnya adalah seorang pedagang kaya raya. Bahkan kekayaannya hampir menandingi harta kerajaan, namun kekuasaan sang raja tiada tandingan. Permintaan sang raja untuk menjadikan anak gadis satu-satunya untuk menjadi selir tak mampu ditolak karna ayahnya bukan dari kalangan ningrat. Selain itu ayahnya mempunyai alasan yang kuat dan keyakinan bahwa Bestari akan bahagia berada di istana.

Raja memang mempunyai kekuasaan penuh atas tanah dan seluruh kehidupan pada zaman itu. Segala sesuatu yang ada di negeri ini adalah milik raja. Tugas raja  adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan. Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain, ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana.

Bestari tersenyum ketika kedua orang tua itu melambaikan tangan meninggalkannya di pendopo kaputren. Bangunan nan asri yang khusus dibuat untuk para selir itu seakan hendak menelan tubuhnya. Dalam balutan kain warna biru dan kebaya putih ia memandang tempat yang siap membelenggu nasibnya.

“ Gusti Maharaja berkenan ke kaputren sebentar lagi, silahkan gusti putri mempersiapkan diri…” seorang pelayan wanita berkebaya mendekatinya dengan penuh hormat.

“ Baiklah.. saya sudah siap, mbok….”  Bestari memang baru berusia sembilan belas tahun, namun sejak kecil ia sudah terbiasa hidup bergelimang kekayaan. Ayahnya sering mengajaknya berniaga ke tempat-tempat yang sangat menarik. Ia mempelajari banyak hal dari setiap perjalanan berniaga. Ditunjang dengan kecerdasannya tak heran ia mampu membaca kitab-kitab kesusastraan dari berbagai bangsa.

Maharaja Danendra adalah seorang raja yang sangat kharismatik.. kemampuannya memimpin negeri ini pantas dibanggakan. Selain negeri subur makmur rakyatnya juga hidup sejahtera. Raja yang masih berusia belia itu telah menjadi penguasa sejak ayahandanya mangkat saat ia berusia enam belas tahun, hingga sekarang sudah sepuluh  tahun ia menjadi raja… Bestari sendiri sebenarnya belum pernah melihat  Gusti Maharaja Danendra secara jelas. Namun karena keyakinan dan kekuatan hatinya ia tidak merasa sedih atau terpaksa menjalaninya.

Dalam pendopo sudah berkumpul para selir, keseluruhannya berjumlah lima orang termasuk Bestari. Selir pertama Gusti Ajeng, ia masih kerabat istana.. cantik dan anggun. Selir kedua Gusti Mayangsari, hadiah dari kerajaan sahabat.. cantik dan ramah. Selir ketiga Gusti Kartika, putri dari kerajaan seberang.. cantik dan periang. Selir yang keempat Gusti Roseha, putri dari Malaya.. cantik dan pintar menari. Bestari sudah diperkenalkan dengan semua selir  raja oleh kepala pelayan di kaputren ini. Dari kelima selir yang bukan dari kalangan kerajaan hanya Bestari seorang.

Ketika Gusti Maharaja Danendra memasuki kaputren ada keanehan yang ditangkap oleh Bestari. Dimana sang permaisuri atau ratu kerajaan ini? Ia tidak melihat Gusti Maharaja Danendra bersama seorang ratu. Ah.. ternyata inilah seorang Maharaja Danendra yang terkenal di negeri ini. Bestari baru sekali ini menatap langsung Gusti Raja..  namun mengapa ia merasa telah mengenal sang raja padahal ia belum pernah bertemu? Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Bestari saat itu.

Bestari tenggelam dalam lamunannya sehingga ia kurang memperhatikan pembicaraan antara raja dan para selir yang sangat menghormati Gusti Raja. Bahkan ketika Gusti Raja berkenan akan bermalam dengannyapun Bestari tidak begitu mendengarkannya. Ia tidak begitu memperdulikannya hingga ketika Gusti Raja meninggalkan kaputren dan para selir memandangnya dengan senyum penuh arti Bestari hanya mampu bertanya..

“ Ada apa yunda gusti Ajeng… mengapa memandang saya seperti itu?..” Bestari sungguh terlihat bingung.

“ Wah   dinda gusti Bestari… pura-pura tidak tahu ya… malam ini khan Maharaja Danendra akan tidur dengan dinda... selamat ya..”   gusti Ajeng tersenyum diikuti olah keempat selir lainnya…

Bestari sama sekali tidak mengerti, bukankah sebagai seorang selir sudah kewajibannya memenuhi keinginan Gusti Raja? Lalu apa yang harus di tertawakan? Mengapa keempat selir raja menggodanya?

Bestari memang masih muda, namun ia banyak belajar berbagai ilmu pengetahuan … sudah banyak kitab-kitab tentang hubungan pria dan wanita serta perkawinan yang ia baca. Tidak itu saja ia sering bercerita dengan ibundanya mengenai kehidupan sekitar perkawinan dan rumah tangga. Jadi tidak ada yang harus ia takutkan ketika Gusti Maharaja Danendra ingin tidur dengannya. Sebelum ia datang di Istana megah ini sudah ada tekad yang teguh darinya bahwa ia akan menjalani takdirnya… perkara ia suka atau tidak… Bestari tidak perduli. .. Bestari memang gadis yang luar biasa.

Malam itu setelah seorang emban membersihkan tubuhnya dengan cara melulur seluruh badannya ia suguhi minuman tradisional yang menurutnya terasa pahit. Bestari sebenarnya sudah terbiasa dengan hal ini, semua sering dilakukan di rumahnya atas perintah ibunya.  Sebagai seorang gadis ia diharuskan merawat tubuhnya sehingga terpancar sinar kecantikan dari dalam. Ketika semua telah selesai Bestari bukannya menunggu Gusti Raja ia malah sibuk menulis beberapa catatan dalam sebuah kitab pribadi miliknya. Tangannya asik menorehkan tinta  dengan sebatang kuas kecil yang disebut ‘Tsin’ yang dicelupkan kedalam sebuah botol berisi tinta berwarna hitam.. Ayahnya membelikan semua perangkat menulis itu dari negeri Kanton.

Mata dan fikiran gadis itu larut dalam rangkaian aksara yang ia tuliskan sehingga ketika Gusti Maharaja Danendra memasuki pendopo miliknya ia tak mengetahuinya, bahkan ketika sang Raja memasuki kamarnya, Bestari tengah asik membacakan syair indah yang baru saja dibuatnya, suaranya yang lembut tetapi tajam pada saat syair menekan makna…. Sang Raja berhenti melangkahkan kaki.. menikmati titian syair dari bibir Bestari…..


DERMAGA CINTA REMBULAN SAGA

LARUT MALAM MENJELANG..
TATAPAN MATA TETAP JALANG..
MENEMBUS KALBU..
MENGHUJAM RINDU..

SINAR REMBULAN SEMAKIN TERANG..
MENERJANG MALAM NAN KELAM..
SINARAN JIWA SEPI..
TERANGI HATI TANPA MIMPI..

REMBULAN SAGA MENGHIAS NIRWANA..
MENEMBUS HATI NAN LARA..
BILA CINTA MEMBELAI JIWA..
MATA INDAH  MENGHARAP ASA..
MENANTI SANG PUJANGGA MENEBAR ASMARA..


Plok.. plok.. plok.. dari arah pintu seseorang bertepuk tangan. Bestari kaget dan membalikkan badannya.. ah Gusti Maharaja Danendra telah berdiri di hadapannya…

“ Syair yang indah… luar biasa.. saya menikmatinya…”

“ Oh, maafkan saya Gusti Raja… tidak memyadari Gusti telah berada di sini..” Bestari menghaturkan sembah hormat kepada Gusti Raja.

 “ Tidak apa-apa diajeng Bestari… “ Raja tersenyum sambil mengamati ruangan itu. Tiba-tiba matanya tertuju kepada setumpuk kitab di atas meja. Ia mendekati meja dan mengambil sebuah kitab.. Bestari hanya mampu memandang dan menahan hatinya... mudah-mudahan Gusti Raja berkenan dan tidak melarangnya membawa kitab-kitab kesayangannya. Dari beberapa kitab yang ada di sana sang Raja tertarik dengan sebuah kitab usang milik Bestari.

“ Ah.. ternyata diajeng Bestari masih menyimpan kitab ini…” sang Raja menunjukkan sebuah kitab bergambar miliknya.

“ Tentu saja gusti, itu pemberian seorang pangeran ketika saya masih kecil..”

Gusti Maharaja Mahardika tersenyum penuh arti… kemudian dengan pasti ia berkata kepada Bestari.

“ Pangeran itu adalah saya… tak ingatkah diajeng Bestari kepada saya?..”

“ Oh.. benarkah…” Mata indah Bestari benar-benar berbinar.. sungguh,  ia tak mempercayai bahwa ia telah menemukan seseorang yang selama ini selalu  ia fikirkan. Tanpa sadar ia mengangkat wajahnya memandang tajam Gusti Raja yang juga  sedang memandangnya... seketika mata mereka beradu.. ada debar-debar dalam dada Bestari.

Ia memang selalu mengenang pemberi kitab itu.. baginya pemberi kitab itu adalah malaikat penolongnya sehingga ia menjadi tertarik menulis dan membaca syair atau prosa indah dari berbagai negeri.. karena di dalam buku itu menggambarkan betapa banyak orang-orang di luar negeri sana yang menciptakan syair-syair nan indah. Bestari selalu mengenang tatapan ramah pangeran kecil  yang baik hati itu. Mungkin itulah sebabnya ia seperti mengenal Gusti Maharaja Danendra ketika pertama kali bertemu.. ternyata ia adalah seseorang yang selalu tersimpan dalam hatinya.

Maka Bestari hanya mampu menikmati permainan cinta Gusti Raja. Ia menutup matanya kala tangan lembut pria dewasa itu menjamah seluruh tubuhnya. Bestari tak menyangka bahwa akhirnya ia bertemu pangeran pujaannya. Keindahan kamasutra yang telah dikenalnya membuat sang Raja takjub dan bergairah mencumbunya. Tak dipungkiri Bestari memang pandai bermain cinta. Ilmu yang ia dapatkan dari kunjungan di berbagai negeri. Dari negeri China sampai Hindustan……

“ Diajeng Bestari… saya sungguh sangat berterima kasih karena malam ini saya sangat menikmati kebersamaan dengan diajeng…”

“ Sudah menjadi kewajiban saya Gusti….” Ah seandaianya engkau tahu bahwa saya mendambamu sejak dahulu…Bestari berbisik dalam hatinya yang malam itu berbunga-bunga.

“ Ehm…  saya tidak salah memilih diajeng sebagai selir saya… karena ternyata diajeng Bestari lebih pintar dari yang saya perkirakan… “

“ Maaf.. saya tidak mengerti maksud Gusti…”

“ Diajeng bestari sangat menguasai bercinta ala kamasutra… “ Raja tersenyum sambil mengelus rambut bestari yang panjang terurai.

“ Oh.. saya banyak membaca kitab-kitab Hindustan yang saya dapatkan ketika diajak oleh ayah berniaga… emmmm… tetapi baru sekali ini saya melakukannya…” Bestari tertunduk menyembunyikan rona merah wajahnya. Raja tertawa mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh selir ke limanya itu… segera dipeluknya tubuh wangi dan indah dalam dekapannya.

“ Jadi seberapa jauh diajeng memahami tentang kamasutra?..” Raja berbisik di telinga Bestari

 “ Kama Sutra dari kata   काम; kāma, yang berarti keinginan, hasrat, cinta atau nafsu dan  सूत्र; sūtra, yang berarti benang atau rangkaian  jadi kalau diartikan kamasutra adalah rangkaian dari adegan hasrat dalam hubungan intim.

Ada sebagian orang yang mendifinisikan Kama Sutra sebagai tali atau benang pengikat dalam percintaan.  Kitab Kama Sutra merupakan hasil karya sastra Sanskerta yang dikarang oleh Mallanaga Vatsyayana dan banyak dipakai sebagai  kitab acuan dalam hal percintaan.  

Kama (batara Kamajaya) juga merupakan lambang dari dewa percintaan, seperti yang dikenal dalam cerita Kamajaya-Ratih (dewi Kamaratih).
……… begitulah yang saya baca dalam kitab tersebut Gusti…” Bestari mengakhiri jawaban atas pertanyaan sang Raja.

Malam berteman sinar bulan menjadi saksi dua insan  dalam peraduan asmara… tidak hanya itu saja mereka terlibat percakapan yang sangat menarik sehingga walau malam telah larut keduanya tak menghiraukannya.

Sekali lagi  Raja di buat kagum dengan kecerdasan Bestari.. wanita dalam dekapannya itu menempati ruang hatinya yang kosong selama ini walau baru beberapa jam saja ia bertemu dengannya, namun menemukan wanita cerdas yang ia dambakan seakan tampak di depan matanya…    


5 comments:

  1. keren dech Al Novelnya, kenapa harus nervous? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... jujur aja... belum pede... thanx SL....

      Delete
  2. Dedek hanya bisa berkata, cerdas!!!
    Seperti biasa, dedek suka cara Mbak memanaj alur cerita. Menarik dan tidak membosankan.

    Dan satu hal lagi, puisinya apik tenan, Rek .... :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. .. thanx dedek... puisi yg dedek buatin Al pakai di chapter berikutnya ya... bayar royaltinya ngutang dulu... hahahahahahaha..................

      Delete
    2. Hahahahaha
      Sayangnya Dedek bukan karyawan Bank, Mbak. So, royalty gak boleh ngutang!!!
      Tunaikan sekarang juga! dengan memberikan seulas senyum termanismu untukku, okey???

      Delete