Thursday, April 5, 2012

Bidadari lupa diri…. ( Session 3 )




Sebuah negeri yang sangat indah...Ashley sang bidadari tersenyum menyambut akhir dari penantian yang panjang  yang  membalikkan kisah cinta mereka menjadi kesedihan. Ikatan kasih antara seorang anak manusia dan bidadari yang saling mencintai, Dea sang penyair dan Ashley sang bidadari. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantarkan matahari senja.  

Namun Ashley sang bidadari tak menyadari bahwa jerat cintanya membuat Dea sampai pada satu titik kebimbangan yang teramat dalam.. malam-malam saat merenungi hamparan padang cintanya Dea seakan lupa akan kodratnya sebagai manusia. Ia tak membutuhkan siapa-siapa di dunia ini… hanya ada seseorang yang mendampingi.. menyayangi dan mencintainya… Ashley sang bidadari cantik dambaan hatinya.

Namun sesaat kemudian Dea tersadar bahwa dunia tempat ia berpijak bukan khayalan semata. Raisa menunggu dan akan rela berbagi cinta dengannya…huft.. mengapa semua ini terjadi? Segenggam tanya tak jua terjawab.. Dea melemparkan buku hariannya ke atas meja.. tanpa sadar lilin kecil yang menerangi ruangan itu ikut terhempas.. api yang menyala semakin besar tak mampu ia singkirkan… Dea tak jua beranjak dari tempatnya berdiri… padahal api semakin lama semakin membesar dan membakar seluruh ruangan bahkan hampir sebagian rumah…

Sebagian atap sudah berjatuhan dilalap api yang seakan marah pada Dea… mengapa kau sia-siakan hidupmu Dea.. tak sadarkah dirimu bahwa hidup selalu mempunyai arti… bukan hanya sekedar bermimpi. Detik-detik terakhir sebelum api menelan tubuhnya sesosok bayangan dengan sinar putih melesat menyambar tubuh Dea yang telah sebagian terbakar… sesaat kemudian pak Pandu, asistennya yang dari tadi berteriak-teriak memanggil namanya mendekati kobaran api… Tak tertolong nasib pak Pandu tubuhnya menjadi santapan raja api yang sedang mengamuk menenggelamkan masa lalu Dea sang penyair dan seluruh hasil karyanya.

 Malang nasib Dea sang penyair… mengalami luka berat akibat kebakaran itu. Ia berbaring di atas ranjang  beberapa malam tidak sadarkan diri di  sebuah tempat yang asing. Ashley sang bidadari   menjaganya  dengan tiada henti memanggil-manggil nama Dea kekasihnya yang tidak sadar sedikitpun. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari. Siang dan malam sang bidadari selalu mendo’akan kekasihnya agar tersadar dari tidur panjangnya. Sang penguasa Nirwanapun merasa iba kepada bidadari yang telah memilih menjauhi kenikmatan bak surga  demi menemui kekasihnya di dunia… Ashley sang bidadari memohon pertolongan kepada sang Penguasa negeri bidadari untuk mengembalikan kekasihnya.

" Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?".

 " Ya…"  Ashley sang bidadari tanpa ragu sedikitpun menjawabnya.

 " Baiklah.. Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Apakah kamu juga bersedia dengan pertukaran seperti ini?".

" Saya bersedia!"  dengan jawaban yang pasti sang bidadari menjawabnya.

Ketika hari telah menjelang terang, Ashley sang bidadari   telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Kepakan sayap biru nan kemilau berputar-putar di dekat ruangan dimana Dea dirawat setelah menghabiskan beberapa minggu dalam kondisi koma.

Hasilnya,  Dea benar-benar telah siuman bahkan ia sudah mampu berbicara dengan seorang dokter. Namun sayang, kupu-kupu jelmaan Ashley sang bidadari tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu. Dengan di batasi oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri.

Beberapa hari kemudian, Dea sang penyair telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak merasa bahagia..   dimana ia?..

Seorang perawat yang memasuki ruangan menceritakan bahwa ia di temukan telah berada di depan Rumah Sakit ini sejak dua minggu yang lalu dalam keadaan koma. Pihak rumah sakit mengetahui jati dirinya dari surat kabar.. rumah sakit terpencil ini jaraknya 50 km dari rumahnya yang terbakar? Mungkinkah? Siapa yang membawanya kemari?...  

Ashley sang bidadari yang telah berubah menjadi kupu-kupu berwarna biru setiap saat selalu berputar di sampingnya? hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam-diam. Ah.. Dea kekasihku… aku merindukanmu…

Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut.. lalu  untuk yang terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu Dea sang penyair. Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yg kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yg kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri dan dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan.


-----

Raisa tak henti mengucap syukur pada ILLAHI….. penantian dan pencarian Dea kekasihnya selama ini telah menemukan titik terang… Dea berada di sebuah rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya… dan masih hidup..!!!

"  Raisa… "  

"  Dea.. thank’s GOD kau selamat…"  

"  Jangan tinggalkan aku sendiri lagi, Ra…"  

"  Tak kan pernah..!"  

"  Ra… menikahlah denganku…"

Raisa memeluk pria yang dicintainya itu erat-erat seakan tak ingin melepaskannya… sungguh sebuah penantian yang sangat panjang untuk menggapai mimpi bersanding dengan Dea. Hari itu musim semi dimulai… di hari-hari yang indah Dea dan Raisa merajut impian mereka setelah janji sehidup semati di ucapkan… pernikahan yang sangat bersahaja… seorang penyair dan penulis novel ternama……
  
Setelah tiba musim semi yg kedua, sang kupu-kupu jelmaan Ashley sang bidadari dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya Dea yang lama di tinggalkannya. Namun matanya yang mungil memandang seseorang di samping bayangan yang tak asing lagi… ternyata telah berdiri seorang wanita cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa. Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan  pembicaraan banyak orang.  Suara-suara terdengar di telinganya betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya wanita itu menemani. Bayangan lukisan sebuah pernikahan yang bahagia di pelupuk matanya.. betapa   sempurnanya percintaan mereka.

Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia  sering melihat Dea kekasihnya membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah di milikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah berganti seorang wanita lain sedangkan ia sendiri  hanya bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.

Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara Dea dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat hembusan nafasnya berakhir, oleh sebab itu sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu. Meninggalkan sebait puisi kepedihan dalam benaknya….

Sayap-sayap patah

Hasrat kian menguap
Lara terendap
Terbelenggu jiwa berawai harap
Tersayat, gelora terdekap

Senyap; tersadap
Binar asmara, redup tengkurap
Bunga nyata kembali terhisap
Lekas menatap berganti atap

Sosok lenyap
Tenggelam dalam gelap
Desah tertangkap
Patah sayap tak mampu hinggap ,,

Kagum mendecak
Singgasana awan bersiram arak
Sayap bercahaya mengepak lunak
Memeluk asmara berhias semerbak

Rinai goda pertegas jarak
Bersangkar kodrat menyekat tampak
Membelah jiwa dalam ruang tak berarak
Rindu menyayat luka berserak

Oh, penguasa negeri sajak
Kekuatan derma telah terpasak
Terhuyung keluh tak berteriak
Sanggupkah getir abadi ku tapak?


(puisi by Dea Penyair)


Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Musim panas pada tahun ketiga datang jua, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya Dea. Sesekali di malam-malam yang sepi kepakan sayap kecilnya menerbangkan tubuh mungilnya memandang sang penyair  kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajah wanitanya itu, mencumbunya dan ia   sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.

Tiga tahun perjanjian penguasa negeri bidadari dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir. Tepat di hari yang terakhir, Dea.. kekasih si kupu-kupu jelmaan Ashley sang bidadari  tersenyun mengenggam erat sang wanita, Raisa dengan seorang bayi mungil di dekapan mereka. Dalam ruangan itu sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Dea. Ia mendengarkan sang kekasih mengucap kata-kata penuh kebahagiaan mendo’akan si buah hati mungil mereka.

" Putri kecilku yang cantik.. semoga engkau dikaruniai sebuah hati yang putih bersih semurni kasih sang bidadari !". Ia memandangi sang ibu dan mereka berciuman dengan mesranya.

Mengalirlah air mata sedih bercampur haru sang kupu-kupu.. terbang menjauhi ruangan menuju nirwana menemui sang penguasa negeri bidadari.

 "Apakah kamu menyesal?" sang Penguasa bertanya.

Sang kupu-kupu segera mengeringkan air matanya dan menjawab "Tidak".  

" Besok kamu sudah kembali menjadi dirimu sendiri". Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya   "Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidupku".

" Mengapa? "

" Adakalanya kehilangan merupakan takdir..dan ada beberapa pertemuan  yang tidak akan berakhir selamanya.. MENCINTAI seseorang tidak mesti harus  MEMILIKI, namun... MEMILIKI seseorang harus benar-benar  MENCINTAI… saya ingin tetap memiliki cinta itu dalam jiwa…."

Dan kupu-kupu biru penghuni negeri bidadari melesat terbang menjauhi bumi… menikmati keindahan nirwana…. Ah… bidadari memang selalu berhati suci…… (end)


1 comment: