Tuesday, February 28, 2012

The Crash….


Ikrar hampir tersedak mendengar berita di televisi…
‘….. Pesawat maskapai penerbangan JAL 40QS yang take off dari Bandara Changi diberitahan hilang.. 25 menit sebelumnya pesawat kehilangan kontak dengan bandara… pihak bandara masih menungu kemungkinan pesawat mendarat darurat di pegunungan Tisah di kepulauan Natuna.. dari pantauan satelit belum diketemukan tanda tanda serpihan pesawat jatuh atau meledak… pemerintah Singapura dan Indonesia masih berusaha mencari penyebab hilangnya kontak penerbangan dan bekerjasama dengan pihak militer guna mencari pesawat yang telah satu jam ini kehilangan kontak dengan bandara… pesawat diperkirakan mendarat di Bandar Sri Begawan 15 menit yang lalu namun sampai saat ini belum ada tanda tanda keberadaan pesawat naas tersebut…demikian flash light hari ini… sampai jumpa… '


Ia segera meraih handphone dan menghubungi Atta…"‘….ttuuuuuuuuuuuut….." tak ada jawaban…… " ya tuhan…. Please….. " dadanya berdebar tak menentu sambil mencoba menghubungi Atta dengan nomor lain…. "… tut..tut..tut..tuuuuuuuuuuuut……" lemas sekujur tubuhnya… ia terduduk di kursi seakan tak bertenaga...


 Hari ini Atta seharusnya pulang ke Jakarta, namun atas perintah boss nya ia harus ke kantor cabang di Brunai… menggantikan si boss yang berhalangan datang di acara peresmian pembukaan pabrik baru… acara weekend yang biasa mereka habiskan berdua harus di tunda…. Ikrar masih bercanda dengan Atta via seluler pagi tadi…
" Say… ke villanya di tunda minggu depan… gak pa pa yaa….." ia merasa bersalah
" Ok,… no probem… kamu hati hati, baby… jangan terlalu capek… Tahun depan jadi nikah yaaa… hahahaha…. Gak akan di tunda khan……???"
" Iihh… ya nggaklah, say… hahahaha.." tawa Atta renyah terdengar seperti krupuk udang kesukaan Ikrar… kkkrrriuuuukkkk…..
" Dengan penerbangan apa, baby..??..."
" Tadinya mau pake Buraq… tapi gak dapet ticket… weekend selalu ramai… akhirnya pake JAL … itupun sebenernya cadangan karna ada yang belum confirm… moga-moga bisa… kalo nnggak di tunda nanti siang jam 2…"
" Ya udah… kalo sudah sampai call lagi…. take care, yach…. Baby.." Ikrar mengakhiri
" Bye… "


Dua jam sudah berlalu namun Atta tak juga menghubunginya sampai akhirnya ia mendengar berita dari televisi tentang pesawat yang hilang …. Mungkinkah Atta ikut didalamnya?…. Tanpa kepastian Ikrar menghubungi kerabat, siapa tahu ada yang mendapat berita keberadaan Atta….


 -----


Suara rintihan terdengar di mana mana… asap mengepul keluar dari mesin pesawat yang patah… bau benda terbakar menyengat…. Gadis itu membuka matanya… kepalanya terasa berat.. keaadaan sangat kacau… ia menggerakkan badannya dari himpitan benda benda yang menghantam tubuhnya… aaahhhh… kakinya terjepit kursi di depannya… dengan sedikit usaha akhirnya ia berhasil mengangkat kursi yang menghimpit kakinya… walau sakit ia masih bisa bangkit dari tempat duduknya… disampingnya laki laki setengah baya terlihat diam tak bergerak… darah segar mengalir dari kepalanya… tangan gadis itu masih bisa meraih laki laki itu… tak ada denyut nadi… tak bernafas… di sisi lain seorang wanita bule yang merintih sambil berusaha mengeluarkan sesuatu… ooohh… ternyata sebagian tubuh suaminya terhimpit benda berat… pria malang itu masih hidup.. namun ia tak bisa berbuat apa apa….
" Let’s take him out… help me hold the chair…" wanita itu segara melaksanakan perintah gadis itu
" C’mon… one..two..three.." uuuhhhh…. Huft.. berat sekali benda ini… " Try again… c’mon… one..two..three… aaaahh… take him out..!! " gadis itu berteriak supaya wanita itu menarik tubuh suaminya dari bawah… sekian detik berlalu… peluh membasahi dahi gadis itu…
" hurry up…!!!" ia berteriak tanda sudah tidak kuat menahan beban berat… aaakkhhh…. Sekian detik berlalu tepat ketika tubuh pria itu keluar gadis itu melepaskan beban yang di pegangnya… hhhhhhhhh… ia menghela nafas panjang… lelah dan perih sekujur badannya….
" Thank you so much… " wanita itu segera memeluk gadis penolongnya dan segera sibuk membantu bangkit suaminya… mereka berusaha keluar dari badan pesawat yang porak poranda… bau menyengat bahan bakar menyelimuti kabin penumpang.. dari luar sayub sayub terdengar teriakan seseorang… ‘ everybody go out..!!!!! hurry….fire.. fire…fire…!!!....’ Gadis itu membantu pasangan suami istri keluar dari kabin… tak dihiraukannya penumpang yang lain.. bahkan sebagian masih terjebak dengan himpitan benda benda keras…. Sambil menutup hidung ia berusaha segera keluar dari kabin apalagi ketika didengarnya suara ledakan dari salah satu sisi pesawat… Ya tuhan…. Tolonglah hambamu ini…. Doa gadis itu dalam hati…. Baru limabelas meter mereka keluar terseok seok dari reruntuhan pesawat, tiba tiba pesawat itu meledak..!!! untung saja ada pohon cukup besar yang melindungi mereka dari percikan api dan lemparan benda keras dari reruntuhan pesawat.. Gadis itu bersandar di pohon… bersama sekitar 30 penumpang yang selamat… seorang laki laki mengkoordinir penumpang yang selamat membantu penumpang yang terluka dengan peralatan seadanya.
" Is there anybody have a handphone?......" pria itu yang ternyata salah seorang steward kabin berusaha berkomunikasi dengan penumpang yang sebagian besar warga asing…. Tiba tiba gadis itu, Atta .. tersadar… tas kecil hadiah dari kekasihnya Ikrar masih tergantung di badannya… ia segera membukanya… semua masih utuh.. dompet.. passport.. handphone… huft.. thank’s God…. Ia segera menekan tombol on mode .. sesaat kemudian ia mencoba menghubungi nomor milik Ikrar….. ‘ Tuuuut…. Tuuuuut…. Tuuuuuut….. masuk…. Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut….. mati…..’ huh… sial.. no signal…. Tapi minimal tadi sudah masuk… mudah mudahan Ikrar melihat reportnya….’ Atta segara mengangkat tangannya… memberi tanda bahwa ia mempunyai benda yang di butuhkan…
" Oh.. thank’s miss……" steward itu meraih selular Atta
" Atta from Indonesia…" Atta segara menyebutkan namanya begitu pria itu duduk di sebelahnya…
" Saya juga dari Indonesia, miss Atta…. Saya Bobby… Ah… di sini tidak ada sinyal… saya coba di atas bukit kecil itu… " Bobby berlari menuju tempat yang agak terbuka di hutan ini… dari kejauhan terlihat Bobby berusaha menghubungi seseorang… tak berapa lama ia kembali…
" We are save…!!! The helicopter will find us in an hour….!!!" Huft…. Akhirnya… Atta tak henti mengucap syukur…
" Thank’s miss Atta… " Bobby tersenyum gembira sambil menyerahkan selular kepada Atta. Gadis itu segera berjalan menuju bukit kecil yang didatangi Bobby….
" Tuut… tuuut… halo.. Atta..!!!! thanx God…. Dimana kamu, sayang…. " suara Ikrar terdengar sangat kecil dan putus putus… namun Atta merasakan kecemasan campur kelegaan dalam suara itu..
" Lokasi masih belum jelas yang pasti….. tuuuuuuuuuuuut…… halo… halo… Ikrar…!!!!......" handphone tiba tiba mati.. seiring turunnya kabut tebal di pegunungan itu… hawa dingin menusuk tulang… dilihatnya jam di pergelangan tangan…. Pukul 11.00 wib…..
" Sudah hampir satu jam… mengapa tim SAR belum juga datang?... " Atta bergumam…
" Miss Atta… bisa pinjam handphone lagi?...."  Bobby mendekati gadis itu… dan Atta segera menyerahkan benda itu….. Bobby berjalan menuju bukit kecil dan berusaha mencari cari sinyal namun kelihatannya ia kesulitan menghubungi seseorang… tak lama kemudian pria itu kembali….
" Huuuuh… tak satupun bisa dihubungi…. Bagaimana ini…. Kalau sampai malam kabut tebal dan suhu udara sangat dingin… kita tidak punya persediaan logistik…" Bobby mengeluh kepada Atta… ia mengkhawatirkan para penumpang yang mengalami luka luka da beberapa lansia.
“ Let me help you, kita data dulu para penumpang yang selamat lalu kita usahakan mengambil benda benda dari puing puing pesawat, barangkali ada yang bisa di manfaatkan… bagaimana?”
“ Great… thanx ya miss. Atta….” Bobby mengangguk setuju. Beberapa pria membantu Bobby masuk ke dalam puing puing pesawat sementara Atta dan beberapa wanita mendata para penumpang yang selamat… seluruhnya berjumlah 30 terdiri dari empat belas wanita, dua belas pria dan lima orang anak anak.. Tak berapa lama rombongan Bobby telah kembali… sungguh melegakan karena mereka masih menemukan tiga peti makanan kaleng, satu peti roti kering dan lima peti minuman kaleng. Thank’s GOD… meski tim SAR belum juga datang setidaknya kami tidak kelaparan. Kabut tebal masih menyelimuti pegunungan ini rasanya mustahil bagi Tim SAR menemukan lokasi jatuhnya pesawat meski dari jarak dekat apalagi malam mulai menjelang.. para pria berusaha membuat tenda darurat dari parasut sebagian membagikan selimut dan kantong kantong penghangat tubuh sekedar menepis dingin kabut yang menusuk tulang. Sebagian membuat api unggun dari ranting dan puing puing pesawat yang terbuat dari kayu dan tripeks…


 *****


Hari kedua...


 “ Earthquake.. !! seseorang berteriak diantara para penumpang pesawat yang sebagian masih terlelap… Hari masih gelap.. Atta memandang di udara.. sesuatu telah terjadi… gempa bumi!!… dari tempat mereka berdiri terlihat kilatan kilatan merah dari arah puncak gunung diikuti gerakan tanah yang cukup membuat hati berdebar debar. Kabut tebal yang menyelimuti bukit tiba tiba bercampur debu tipis berwarna putih… debu vulkanik..!! Atta segera berteriak kepada orang orang untuk menutupi wajah dan mata mereka dari siraman debu vulkanik…gadis itu segera menemukan Bobby yang sedang membantu seorang kakek. “ sial… ternyata kita terdampar di gunung berapi yang aktif… bagaimana ini??” Atta merapatkan jaketnya dan memasang tutup kepala menghindari siraman debu vulkanik ke matanya. “ Tenang dulu Atta… kita tetap survive… saya akan coba membuat tanda dengan asap… kebetulan kita dapatkan ban pesawat yang sudah rusak parah, mudah mudahan asapnya mampu menembus kabut..” Bobby masih memiliki kekuatan yang secara tak langsung menenangkan hati Atta yang hampir putus asa. Beberapa waktu berlalu keadaan tak kunjung berangsur baik. Beberapa orang mengeluh pusing dan mual… Atta pun mengalami hal yang sama… celaka… gunung berapi yang tadi pagi mengeluarkan debu vulkanik sekarang bertambah menyebarkan gas beracun… Atta segera menutupi hidungnya dengan masker seadanya… agak sesak dadanya namun setelah ditutup dengan masker pusingnya berangsur hilang… ia segera menganjurkan orang orang menutup hidungnya dengan apa saja menghindari gas beracun yang berasal dari gunung berapi tak jauh dari bukit tempat mereka terdampar. Sialnya beberapa manula tak sanggup menghadapi hembusan gas beracun.. beberapa diantara mereka mati lemas keracunan gas dan sisanya hanya bisa menunggu waktu… Atta dan Bobby bersama beberapa orang memutuskan untuk menuruni bukit ini… walau kelihatannya kondisi bukit agak berat mengingat tempat ini mungkin belum pernah di jamah manusia sebelumnya. Mereka tetap memutuskan bergerak menuruni bukit dengan sisa sisa kekuatan yang ada. Rombongan yang tersisa berjumlah dua puluh dua orang sementara kedelapan orang yang meninggal karna menghirup gas beracun di kuburkan seadanya di tempat itu. Menuruni bukit ternyata tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Bobby dan beberapa pria yang berada di depan harus menerjang semak semak yang cukup lebat dan berduri. Atta yang berada di tengah ikut membantu para wanita dan anak anak yang sesekali menangis dengan kondisi yang sangat tidak nyaman. “ Everybody…. Cover your face..!!! suara bobby terdengar menggema di tengah perbukitan yang lebat dan berkabut. “ What happen..!!! Atta menyahut dari belakang. “ Volcanic dust…….!!!!! Hurry up….. be careful…!!!“ Bobby berteriak namun suaranya terdengar kurang jelas karna ia menutupi wajahnya dengan jaketnya. Ya tuhan…. Apa lagi ini…. Sampai kapan kami terjebak dalam situasi seperti ini??? Atta segera menutupi wajahnya dengan syal yang memang kebetulan ia kenakan, sambil melangkahkan kaki ia tak henti berdo’a memohon pertolongan dari yang maha kuasa.


 -----


“ Bagaimana kondisi di lokasi…” Koordinator team SAR Setyo berkoordinasi dengan staffnya. “ … Saya khawatir dengan keselamatan mereka, Gempa dan semburan debu vulkanik tadi pagi semakin mempersulit kami mendeteksi lokasi jatuhnya pesawat, ndan…” Koordinator lapangan melaporkan situasi terkini. “ Bagaimana kemungkinan menyisir dari darat?...” “ Berat, ndan….. lokasi perbukitan terjal dan kabut sangat tebal… tetapi saya tetap memberangkatkan dua team menyisir dari arah utara dan selatan..” Setyo terduduk lemas di bangku posko. Beban berat berada di pundaknya. Komunikasi terakhir dengan seorang pramugara pesawat yang selamat menyatakan bahwa masih ada sekitar 30 orang yang selamat dari jatuhnya pesawat.. Dan ini sudah lebih dari 24 jam sejak kejadian. Bagaimana kondisi mereka saat ini? Tugas penyelamatan kali ini sungguh sulit. Selain lokasi perbukitan yang selalu tertutup kabut, gempa vulkanik yang di sebabkan aktifnya gunung berapi yang berada tak jauh dari bukit dimana pesawat terjatuh menambah parahnya keadaan. Helicopter yang berpatroli dari udara juga tak membuahkan hasil mengingat tebalnya kabut bercmpur asap. Krrriiiiiiiing……. Telepon di mejanya berbunyi…. “ Selamat pagi..” “ Oh, bapak mentri…. Siap… Kami akan berusaha sekuat tenaga…” “ Baik, untuk sementara belum ada informasi korban yang selamat.. “ “ Bagaimana?.... ada yang bisa menghubungi keluarganya?.... kapan?..” “ Oh.. ya… kami juga masih terhubung dengan pramugara pesawat saat itu..” “ Baik.. terimakasih…” Setyo meletakkan ganggang telepon lalu duduk.. ia sedang memikirkan kemungkinan kemungkinan penyelamatan…. Kemudian ia berdiri…. “ Arya…. Kita meeting sebentar, panggil staff yang lain.. segera…” “ Baiklah, kita pada kesepakata akhir… Team 1, 2 dan 3… pantauan dari udara..” “ Siap, komandan…” “ Team 4 dan 5.. menyisir dari utara karna sesuai peta lokasi, jalur ini tidak terlalu terjal dan medan tidak berbahaya…” “ Siap…” “ Team 6 dan 7, menyisir dari sepanjang sungai yang mengelilingi bukit, di mulai dari bagian paling selatan menuju utara. Jangan lupa persiapkan perahu cadangan karna kondisi sungai agak dangkal dan berbatu batu..” “ Siap ndan…” “ Pak Tri… bagaimana kondisi pasca gempa bumi tadi padi? ...” “ Masih stabil, ndan… namun tetap mengeluarkan debu vulkanik dan ada kekhawatiran mengeluarkan gas beracun…” “ Kalian berangkat dalam satu jam…. Heli akan mengantar Team darat dan sungai ke lokasi, baru kemudian team 1,2 dan 3 menuju lokasi masing masing. Perjalanan menuju lokasi diperkirakan memakan waktu 30 menit saat ini pukul 06:30 kita punya waktu yang cukup panjang hari ini, semoga cuaca mendukung dan saya harapkan kalian berhati hati mengingat medan yang cukup sulit dan perhatikan dengan kondisi gunung berapi yang tengah aktif saat ini, tetap pergunakan masker mendekati pegunungan yang masih aktif..… Good luck..!! “ Siap..!!” Serentak seluruh komandan team yang hadir dalam rapat itu menjawab. Dengan cepat mereka bergerak mengkoordinir anak buah mereka masing masing menuju heli yang telah menunggu di halaman depan kantor.


-----


 Pagi itu sudah dua jam rombongan Bobby dan Atta berjalan menyusuri perbukitan.. luar biasa luas sekali perbukian ini. Dari kompas yang mereka bawa menunjukkan bahwa mereka berjalan menuju arah utara.. entahlah apa yang akan mereka temukan nanti, mudah mudahan merek segera keluar dari hutan belantara dan semak semak berduri yang terkesan tiada habisnya. Rasa lelah memaksa mereka berhenti sebelum memasuki hutan lebat berikutnya. Tiba tiba… aaaahhhh… help me..!!! suara seseorang meminta tolong dari arah belakang. Ternyata salah seorang dalam rombongan tengah berjuang menahan belitan seekor ular Sanca sebesar paha orang dewasa… rombongan lainnya merasa merinding melihat pemandangan yang mengerikan dimana perlahan tapi pasti ular tersebut meremukan tulang tulang pria itu hingga lemas dan akhirnya tak bergerak lagi.. mati.. beberapa laki laki dalam rombongan sebenarnya telah berusaha menghela ular tersebut dengan kayu dan melemparinya dengan batu, namun ular raksasa tersebut tak menghiraukan. Setelah ia yakin mangsanya tak bernyawa lagi ular itu menelan mayatnya tak sampai memakan waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit . Rombongan sempat syok melihat pemandangan di hadapan mereka… Atta hanya bisa terpaku lemas menyadari di sekitar mereka mungkin ada berbagai jenis binatang buas yang kelaparan dan akan memangsa mereka satu persatu. Sia siakah perjalanan penyelamatan ini? Bobby menginstruksikan masing masing untuk membuat obor dari ranting ranting kayu di sekitar mereka menantipasi binatang buas yang mungkin saja tiba tiba muncul dan menyerang mereka. Ia juga menyarankan semua untuk berjalan saling berdekatan jangan terpisah terlalu jauh supaya jika terjadi apa apa bisa saling membantu. Tak berapa lama mereka sampai di tepi sungai. Bobby dan beberapa pria memotong pohon-pohon di sekitar untuk membuat rakit. Baru beberapa menit mereka bekerja tiba-tiba dari arah sungai bermunculan segerombolan buaya-buaya mendekati mereka. “ Everybody… move back.. follow me… “ Bobby berteriak sambil berjalan menuju sebuah bukit kecil tak jauh dari tepi sungai yang landai. Namun buaya-buaya sepertinya sangat ganas dan kelaparan. Beberapa orang sempat tersambar ekor buaya dan segera mendapat bantuan seadanya. Dengan sebuah batang pohon sebesar lengan dan dengan sisa-sisa tenaga mereka bersama-sama menghalau buaya-buaya supaya menjauhi mereka. Herannya buaya itu kelihatannya tidak takut dengan batang pohon yang menghalau mereka, dan tetap merayap mendekati rombongan yang semakin ketakutan… apalagi anak-aak menjerit-jerit melihat buaya-buaya ganas itu semakin mendekati mereka. Mereka memutuskan kembali masuk ke hutan demi menghindari korban karena tidak mampu lagi menghadapi serangan gerombolan buaya yang jumlahnya lebih dari limapuluh ekor. Namun sebelum memasuki hutan mereka dikejutkan oleh auman kawanan harimau yang berukuran sangat besar dan memancarkan sinar mata tajam kearah manusia di depannya. Bobby yang berada di depan berhenti melangkahkan kaki. Hatinya diliputi kebimbaangan….. Atta memahami posisi mereka yang sangat sulit dan hanya mampu terdiam… berdo’a dan berharap keajaiban. “ Doooorrrr…. Dooooorrr….. “ tiba-tiba suara tembakan menggema di dalam hutan. Buaya-buaya berlarian masuk kembali kedalam sungai demi mendengar suara tembakan dan melihat beberapa dari kawanan buaya mati terkapar karna terkena peluru panas dari team SAR yang menyusuri sungai. Harimau itupun segera melompat masuk kembali ke dalam hutan dan dalam sekejap menghilang….. Bobby , Atta dan rombongan lainnya bernafas lega ketika menyadari team SAR telah menemukan mereka…


Operasi penyelamatan berhasil mengembalikan sebagian penumpang yang selamat ke Negara mereka masing-masing. Atta menemui Ikrar dan keluarganya di Bandara Soeta. Penghargaan setinggi-tingginya disampaikan kepada Bobby yang telah membantu misi penyelamatan penumpang dari maskapai penerbangan. Pengalaman mencekam yang tak mungkin terlupakan……….

No comments:

Post a Comment