“ I love you, Sha…” Kalimat itu menggetarkan
dada. Hati dan jiwa yang meranggas bak tersiram air surga.. dingin dan
menyegarkan. Bayu… mata teduhmu membiaskan cinta nan hangat ke dalam kalbu.
Binar-binar itu memancarkan berjuta
gairah dalam hati Sha yang bergemuruh memendam rasa. Tak sanggup menatap mata
itu Sha hanya mampu tertunduk. Namun pemilik mata itu seperti tak
menyia-nyiakan kesempurnaan rasa dan segera mengangkat dagu gadis manis terpaku
di hadapannya. Kecupan lembut membasahi bibirnya melumatkan getar irama di dada
yang mengalun merdu seiring mata terpejam keduanya.
Indahnya cinta
itu.. seuntai kata mampu menghancurkan keangkuhan jiwa yang membatu karna luka.
Sha menyembunyikan senyumnya ketika pertanyaan Rha bertubi-tubi mencercanya… “
Bagaimana? Kau terima cintanya?... Sha?.. ayo ceritakan semua…”
Sha kembaran jiwa Rha menyimpan keanggunan,
kecantikan dan keindahan yang sama, kecerdasan dan kemampuan yang saling
menunjang dalam hidup mereka. Namun kembar tak selamanya selalu sama. Sha yang
periang dan senang bergaul lebih mudah mengekspresikan dalam kilatan blitz
kameranya. Ia begitu mudah menemukan tambatan hatinya dibanding Rha yang
pendiam dan cenderung mengungkapkan hatinya hanya dalam tulisan.
“ Sha keluar
kota… masuk saja.. Bayu..” Rha tersenyum tipis.
Memang hanya beberapa kali Bayu menatap mata Rha selama ini. Hanya
cerita tentang saudara kembar yang keluar dari bibir Sha terdengar selama ini.
Ah.. kelembutan yang sama… pesona yang tak jauh berbeda… rindunya yang
bergelora di dada seakan terobati dengan senyum manis Rha.. ah.. ia bukan
Sha kekasihnya.. tetapi Rha, saudara
kembar kekasihnya.
Ah.. ada apa
dengan hatiku.. mengapa pria itu selalu tersenyum di sana? Mengajak hatiku
menari menikmati kehangatan sinar mentari yang tampak begitu cerah. Kunikmati
setiap tatap matanya dan kuntum bunga itu merekah indah setiap saat aku berada
di sisinya… apakah aku telah jatuh cinta?... entahlah… Sha.. maafkan rasa ini
padanya. Namun kepergianmu menuntut ilmu keluar kota sungguh memberi harapan
akan keindahan dan kehangatan Bayu, kekasihmu menjamah setiap bilik-bilik
hatiku. Tak kusadari aku semakin jauh terjerumus dalam palung cintanya… maafkan
aku, Sha…
“ Kapan Sha
kembali?...” Bayu kembali menikmati senyum yang dimiliki keduanya. Ia menikmati
getaran yang sama seperti sebelumnya. Pertemuan ini tidak seperti biasanya. Rha
begitu indah di hadapannya. Senyum itu seperti membuka pintu hati dan
mengajaknya masuk menikmati keindahan cinta di dalamnya. Ah.. Rha.. mengapa kau
berikan surgamu pada kerinduanku yang membuncah. Mengapa tak sedetikpun kau
beranjak ketika tubuh kita saling berpadu dan melantunkan tembang cinta nan
bergelora. Mengapa kau membisu ketika kunikmati setiap jengkal tubuhmu yang
basah oleh keringat melebur dalam alunan tembang kasmaran.
“ Rha….. teganya
dirimu…” Gadis itu menatap tajam saudara kembarannya. Nafasnya tersengal
bergemuruh menahan hancurnya hati yang meluruh. Memaafkan saudaranya? Pasti..
namun mengapa nasib mempermainkan hidupnya dengan begitu kejam. Mengapa kekasih
dambaan hatinya justru menkhianati cinta sucinya dengan Rha, saudara kembarnya?
“ Kau harus
menikahinya… ia saudaraku satu-satunya..” Bayu tak sanggup menatap mata itu. Ia
menyadari bahwa cintanya hanya untuk Sha. Namun keadaan tak berpihak kepadanya.
Harapan dan penantian membutakan mata hatinya.. dan ketika keindahan Rha
menyapa dan membelai jiwa yang merindu dan mendamba kekasihnya.. ia tak mampu
menepis keindahan yang sama. Sha dan Rha begitu sempurna dengan keharuman yang
sama…….
“ Maafkan aku…”
Bayu menuliskan kalimat singkat dalam lembaran suram buku harian Sha. “ Terlalu
dalam aku melukai hatimu.. tak sanggup rasanya tetap berada di dekatmu dengan
memendam cinta dalam dada… seribu maaf mungkin tak kan kau berikan namun hatiku
akan tetap memiliki keindahanmu, meski kau tak mau menerima kehadiranku kembali
mengisi relung-relung hatimu.. maafkan kutinggalkan semua kenangan terdalam
bersamamu.. dan bersama Rha….. ”.
Rha tak sanggup
menghadapi galau hatinya. Setiap detik waktu berlalu semakin menyayat luka
menyadari cintanya sia-sia. Ternyata rasa dan damba yang ada dalam hatinya
bukanlah miliknya. Ia tak sanggup menyakiti saudaranya.. Sha… menitikkan air
mata setiap mengenang kisah cintanya bersama kekasih dambaannya. Tulisan
keputus asaan dan kesedihan yang tertuang tak mampu menghalau rasa bersalah
yang selalu mengikuti dan membayangi hidupnya. Dan ketika dera luka itu
memuncak ia hanya mampu berserah pasrah… Mimpi yang sama dengan saudara kembarnya Sha.. Semoga obat
itu mungkin mampu mengantarkan jiwanya ke suatu tempat yang damai dan jauh dari
luka perih merana. Dan biarkan jiwa ini melayang mencari cinta sejati sebelum
luka dalam kalbu terobati…
“ Rha……….. mengapa
jalan ini yang kau pilih…. “ Sha merintih lirih memandang jasad Rha terbujur
kaku meninggalkan dirinya.. meninggalkan dunia yang fana… meninggalkan semua
kisah terajut selama hidupnya yang baru di jalani selama dua puluh tiga tahun.
Selamat jalan Rha… selamat jalan saudaraku tercinta…
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PART
2____________
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya Elang
memasuki halaman rumah bernuansa etnik Jawa itu. Pandangan matanya menyapu
seluruh bangunan yang sejak hari ini akan ia tempati… sendiri……..
Sejak perceraiannya dengan Sutra yang telah
tega mengkhianatinya ia memutuskan untuk meninggalkan hingar-bingar ibukota
untuk sekedar menenangkan hatinya, selain itu ia ingin konsentrasi menyelesaikan
lukisan-lukisan yang empat bulan lagi akan di publish dalam sebuah pameran
tunggal.
Dari lantai dua rumah ini pemandangan sangat
menakjubkan… pegunungan dengan hutan pinus yang terhampar diselimuti kabut
tipis menyegarkan relung hatinya yang sedang galau. Pelan tapi pasti tangannya
yang telah terbiasa menggores warna di atas kanvas bergerak mengikuti alur jiwanya yang terpesona
dengan keindahan alam di hadapannya. Sketsa lukisan hutan pinus karya
pertamanya semenjak menempati rumah ini selesai dalam waktu beberapa menit
saja. Hmmmm…. Luar biasa…
_____
Pagi-pagi sekali Elang telah menyusuri jalan
diantara pohon-pohon pinus dan melewati kebun teh.. dan akhirnya berputar
melalui jalan setapak sepanjang kebun bunga mawar dan krisan… tanaman yang di
budidayakan penduduk desa sekitar itu tumbuh subur dan kebetulan saat ini
sedang berbunga… indah sekali.
Hawa dingin yang menusuk membuat pria itu
merapatkan jaketnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti… kilatan blitz dari kamera
menerpa wajahnya… sekilas ia melihat seorang wanita di atas bukit kecil itu.
Dengan seperangkat kamera wanita itu membidik setiap objek yang di lihatnya.
Jalan setapak ini memang menuju ke bukit itu… Setelah jaraknya cukup dekat
gadis itu mengarahkan kameranya kepada Elang… dan.. klik….
“ Jaket merah bata yang kamu kenakan sangat
kontras dengan warna daun dan bunga yang keseluruhannya dominan warna putih…
nice..!!”
“ Oh ya…. Boleh saya lihat hasilnya?” Elang
mendekati kamera yang di sodorkan gadis itu….
“ Hasil jepretan fotografer professional…
sudut pandangnya bagus… fokusnya sangat dominan tetapi tidak mengurangi
keindahan latar belakangnya…” Elang menyerahkan kamera kepada gadis yang tersenyum dan terheran-heran dengan
opini dari pria itu.
“
Sepertinya anda menguasai perspektif gambar dengan baik.. saya memang
fotografer tetapi masih belajar…. belum professional seperti yang anda katakan
tadi.. oh ya… saya Sha… asli asal desa
ini…” gadis itu mengulurkan tangan kepada Elang.
“ Elang… saya tinggal di sebelah utara bukit
ini… jika kamu berkenan melihat lukisan saya silahkan datang….
“ Wow… anda pelukis rupanya… yupz…. Kalau ada waktu
saya pasti mampir… bye..“ gadis itu melangkah menjauhi Elang melalui jalan
setapak kearah desa…
------
Gerimis malam itu tak membuat Elang beranjak
dari depan kanvasnya di lantai dua… Sudah sebulan ia di tempat ini… baberapa
masterpiece telah ia selesaikan. Kalau lancar mudah-mudahan pameran tunggal
yang akan terselenggara tiga bulan lagi akan sukses… Elang berharap dalam hati.
Huft.. kesuksesan yang tak terbayar dengan cinta… terlintas banyangan Sutra
mantan istrinya yang telah meninggalkan dirinya dengan pria lain … tega sekali
kamu Sutra…. Tiba-tiba rasa sakit dalam hatinya datang lagi… Ah.. persetan
denganmu Sutra…. Ting Tong…!!!!!! bel
berbunyi …. Siapa yang malam-malam
begini bertamu? Elang melihat jam di dinding menunjukan pukul 19:30 wib….
“
Selamat malam…… boleh saya masuk?...” Sha.. gadis itu berdiri di
hadapannya.
“ Oh.. silahkan….. “ Elang tak mampu
menyembunyikan kegugupannya… ia benar-benar heran dengan gadis itu… malam-malam
dan hujan begini sungguh sebuah keberanian yang luar biasa melewati deretan
hutan pinus menuju rumahnya.
“ kamu berani sekali malam-malam berjalan
sendiri..” Elang meletakkan secangkir kopi mix di depan gadis itu.
“ Saya asli orang sini.. kenapa mesti takut…
dari kecil saya sudah mengenal daerah ini…”
gadis itu tersenyum.. Namun senyum yang menurut Elang agak berbeda
dengan yang dilihatnya di kebun bunga beberapa waktu yang lalu.
“ Saya
baru beberapa bulan di sini, jadi belum terbiasa dengan keadaan di daerah ini…
maaf…..”
“ Boleh melihat lukisannya?... “ gadis itu
memecah keheningan yang tiba-tiba melanda ruangan ini.
“ Oh… silahkan… kita ke lantai dua… “ Elang
berkata sambil menutup pintu depan. Sekilas ia mencium bau wangi yang aneh…
semerbak bunga namun tidak sesegar parfum.. ah entahlah….
Mereka menuju ke lantai dua… benar saja.. mata
gadis itu terbelalak terkagum-kagum memandangi lukisan lukisan yang terpajang
di dinding ruangan itu. Mereka berdiskusi dari satu gambar ke gambar lainnya.
Elang menikmati pertemuan dengan gadis yang ia ketahui bernama Sha itu… dari
cara ia berbicara terlihat ia sangat cerdas dan berpengetahuan luas..
“ Ini
lukisan siapa… cantik sekali..” Sha mengagumi sebuah lukisan di sudut ruangan.
“ Lukisan mantan istri saya… namaya Sutra….”
Elang melihat gadis itu memandang lukisan Sutra dengan seksama.
“ Saya juga ingin di lukis.. kalau berkenan..”
gadis itu tiba-tiba menatap Elang penuh harap.
“ Boleh… kapan saja kamu mau saya lukis
silahkan datang..” Elang seperti tak mampu menolak keinginan gadis itu.
Tatapan itu begitu tajam dan menghujam..
menembus.. dan menyiram dengan air segar sekat-sekat hati Elang yang terluka
dan perih sejenak memudar… Ah.. Elang tersadar dan mencari gadis itu… kemana
dia… mengapa menghilang begitu saja…Elang melangkah keruang bawah… tetapi tetap
tidak menemukan Sha… ah mungkin dia sudah pulang… begitu dilihatnya pintu
terbuka dan payung yang dibawa gadis itu sudah tidak ada.. dan bau harum aneh
itu juga menghilang…
_______________
“ Kau indah… “ Hanya itu kalimat yang mampu
Elang ucapkan demi melihat gadis itu hanya mengenakan lingerie panjang berwarna
putih.
“ Ah.. jangan menggoda.. saya jadi grogi…”
gadis itu tersipu malu.
“ Relaks saja ya…. Jangan tegang… senyumnya
jangan di tahan..” jari-jari tangan Elang semakin lincah menterjemahkn
keindahan di hadapannya.
Malam itu menjadikan hubungn mereka semakin
dekat saja. Gadis yang dipanggil Shayang oleh Elang dan selalu saja ia tersipu
mendengar panggilan itu. Sha rajin mengunjungi Elang hampir di setiap
malam-malam yang dingin dan menghangatkan pria yang haus akan belaian kasih
sayang.
Sha.. menurut Elang adalah gadis yang tidak
terlalu banyak bicara, walau ucapan kepadanya selalu manis dan membuai angannya
namun sinar matanya banyak berkata dibanding dengan bibirnya yang merah ranum
itu. Elang adalah seorang seniman, tak sulit
baginya menterjemahkah sinar mata Sha. Ia selalu mampu menemukan arti
tatapan gadis itu, keinginannya dan harapan pada dirinya. Elang menemukan cinta
di sinar matanya.. ya.. walau tak banyak kalimat yang terucap Elang tahu Sha
mencintainya… dan Elang sungguh bahagia menyadarinya karna ia juga sangat
menyukai gadis itu.
Malam itu mereka merajut asmara dalam derasnya
hujan di bulan pertengahan.. hawa dingin yang menyeruak dari sela-sela jendela
tak mengurangi kehangatan cinta mereka. Elang bahagia karna adanya Sha
membuatnya bersemangat menghadapi hidupnya yang hampir saja hancur tak
berenergi… Pameran tunggalnya di Ibukota akan segera terlaksana beberapa hari
lagi. Tak sanggup rasanya Elang meninggalkan keharuman tubuh gadis dalam
dekapannya malam ini. Namun pihak sponsor menginginkan kehadirannya besok untuk
persiapan akhir. Perpisahan sementara membuat keduanya tenggelam dalam
kehilangan seakan tak akan bertemu kambali.
“ Saya pasti akan merindumu, Shayang… “ Elang
merasakan dekapan gadis itu yang semakin erat adalah sebuah jawaban.
“ Saya akan setia menunggumu, Elang… sampai
kapanpun… hanya kamu milikku…” Akhirnya
kalimat itu kelur dari bibir ranum Sha yang segera disambut dengan kecupan
hangat.
------
PART 3
_______________
Pameran lukisan
di Graha Indah terselenggara dengan sukses. Elang semakin menetapkan dirinya
sebagai pelukis ternama di negeri ini. Bahkan beberapa kolektor dari
Negara-negara tetangga memesan lukisan dengan harga selangit. Elang puas dengan
hasil karjanya selama ini. Semua ini tak lepas dari dukungan Sha.. gadis yang
sangat di cintainya.. ah.. tiba-tiba rindunya pada Sha menyeruak dalam dadanya.
Sedang apa dia di sana? Apakah ia juga merindukannya?
Hari terakhir
penyelenggaraan pameran membuat hati Elang berdebar-debar tak karuan. Sudah dua
minggu ia meninggalkan rumahnya, meninggalkan cintanya di sana…
“ Selamat pagi….
Sukses ya… maaf baru bisa datang di hari terakhir…” Sha….!!! Elang merasa jantungnya hampir copot
memandang gadis yang di rindukannya itu berdiri tepat di hadapannya.
“ Sha… saya tidak
menyangka kejutan ini… apa khabar shayang..” Elang meraih tangan gadis yang
sangat dirindukan itu dan memeluknya.
Namun sedetik
kemudian Elang benar-benar tekejut ketika Sha menghindari dekapan rindunya. Ada
apa ini? Sudah secepat itukah hati gadis ini berubah?
“ Maaf… maksud
saya, ah.. bukankah kita baru bertemu yang kedua kali ini… ??” gadis itu
menjelaskan situasi yang kelihatannya sangat sulit baginya.
“ Sha… bukankah
kita telah saling mencintai? Ada apa denganmu Sha?...” Elang tak mampu
menyembunyikan kekecewaannya. Ia tak melihat sinar mata terpancar penuh cinta
dari gadis yang berdiri di hadapannya itu. Ia juga tak mencium bau harum yang
khas dari tubuh gadis itu.
Sha, gadis itu
memandang Elang sejenak dan segera menyadari apa yang telah terjadi, lalu segera
melangkah menjauhi Elang yang masih dipenuhi tanda Tanya di kepalanya. Ternyata
benar mimpi itu… Rha.. kamu datang dan tersenyum bahagia, mengisyaratkan cinta
sejati yang telah kau dapatkan dari seorang pria. Sha mempercepat langkahnya
menghindari tatapan Elang yang tak mampu ia terjemahkan. Ia tak sanggup
menjelaskan apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Menyadari hanya
gadis itu yang bisa menjawab tanyanya, Elang segera mengejar Sha yang telah
berada di luar gedung.
“ Tolonglah… beri
saya penjelasan.. ada apa sebenarnya? Tegakah kamu menghancurkan cinta saya?...”
Elang berusaha menahan kepergian Sha.
Gadis itu
memandang ragu seakan dalam kebimbangan yang sangat dalam. Namun akhirnya ia
menghentikan langkahnya.
“ Kapan kamu
pulang?”
“ Besok… “
“ Datanglah ke
rumah saya… ada sesuatu yang harus kamu ketahui..”
-----
Rumah berdinding
kayu itu sangat asri. Di halamannya terdapat berbagai tanaman hias terawat
dalam pot-pot putih. Teras berlantai keramik warna hijau menambah keasriannya.
Elang baru saja melangkah di teras ketika pintu terbuka. Sha sudah berada di
sana.
“ Oh… jadi kalian
kembar… dan Rha kembaranmu sudah meninggal??..” terasa lemas sekujur tubuh
Elang menyadari apa yang terjadi selama ini. Mengapa ia tak menyadarinya?
Apakah ia telah dibutakan oleh kesepian, sehingga membedakan manusia dengan
arwah saja tidak bisa? Namun ia tak menampik Rha memang begitu nyata……. Sama
persis dengan gadis yang ada di hadapannya…..
Dalam perjalanan
pulang Elang masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi. Rha… ya… arwah
penasaran itu begitu sempurna di matanya. Ah… Rha.. tak bolehkah aku
merindumu... datanglah malam ini Rha… seperti malam-malam sebelumnya… hangatkan
jiwaku.. hapuskan rinduku padamu…. Akhirnya Elangpun memejamkan matanya.
“……………… maafkan saya
cintaku… jiwaku telah tenang menemukan cintamu… maafkan aku harus
meninggalkanmu.. kutitipkan saudaraku padamu… cintailah ia, seperti kamu
mencintaiku… percayalah…. Cintaku selalu hanya untukmu dalam jiwa kembaranku….”
Elang berlari mengejar Rha yang seakan melayang terbang dengan cepat
meninggalkan dirinya yang terpuruk.
-----
Pagi itu Sha dan
Elang berziarah ke makam Rha. Dalam perjalanan pulang Sha banyak bercerita
tentang saudara kembarnya itu.
“ Rha datang
dalam mimpi saya tadi malam…” Elang tiba-tiba memecah kesunyian setelah sekian
menit mereka berjalan dalam kebisuan.
“ Ah.. jangan
terlalu dipikirkan… Rha sudah tenang di alam sana… boleh saya melihat lukisan Rha??...
” Sha sengaja mengalihkan perhatian., padahal Ia mengalami mimpi yang sama… dan
intinya Rha meminta Sha dan Elang menyatu dalam cinta… tetapi mungkinkah?...
Sha tidak sedetikpun mempunyai rasa terhadap Elang…
“ Datanglah kapan
saja kamu mau…. “ Elang sebenarnya ingin menceritakan perihal mimpinya kepada
Sha, namun entah mengapa ia melihat gadis yang berjalan di sebelahnya itu tidak
seperti wanita yang di cintainya, yang begitu hangat dan mesra. Gadis itu begitu
dingin dan kaku… walau sebenarnya setiap menatap matanya Elang merasakan
getar-getar yang aneh dalam hatinya. Sebersit harap hadir akan kerinduannya
terhadap kekasihnya di mata Sha…
-----
“ Selamat sore…”
Sha gadis itu berdiri di depan pintu… cantik sekali…meski tanpa senyum di sana.. ah.. Elang menepis bayang
semu di matanya.
“ Silahkan masuk…
“ Elang memperhatikan Sha dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dari belakang
gadis itu. Ia sungguh ingin meyakinkan bahwa gadis itu bukan kekasihnya.
Sha meletakkan
kamera yang dikalungkan di lehernya di atas meja… ini pertama kali ia memasuki
rumah Elang.. hmm.. cukup nyaman… Pandangan matanya menyapu dinding ruangan
yang dihiasi dengan beberapa bingkai lukisan.
“ Galery saya ada
di atas… kita ke atas saja ya….”
“ Ok… “
Dalam ruangan
yang cukup luas itu jelas sekali terlihat mata itu begitu takjub memandang
sederet lukisan karya Elang… ah.. reaksi yang sama ketika dulu kekasihnya
memasuki ruangan ini untuk pertama kali.
Sha berhenti
tepat di depan lukisan dirinya sendiri.. ah.. bukan.. itu Rha.. saudara
kembarnya… agak lama ia memandang lukisan tersebut… ia mengamati lukisan
sempurna berbingkai emas di dinding.. ada sesuatu yang Ia pikirkan…. Kemudian
ia menggelengkan kepalanya…..
“ Lukisan yang
Indah…” Sha berkata lirih dan tatapan matanya tetap pada lukisan itu…
“ Kalau mau, saya
bersedia melukismu….” Elang sengaja menawarkan harapan untuk memandang mata itu
lebih lama….
“ Tidak… saya
suka mengambil gambar obyek lain dengan kamera tapi saya tidak suka di foto
atau di lukis… terima kasih…” Sha menolak harapan itu….Elang menangkap sesuatu
yang tak ingin diungkapkan di mata gadis itu...
“ Kamu boleh
membawa lukisan ini…”
“ Benarkah..?? “
mata Sha tampak berbinar… Elang tahu gadis itu menginginkannya…
“ Tetapi tolong
dirawat… jangan sampai rusak… dan saya di beri nomor yang bisa dihubungi….”
“ Pasti… ini kartu nama saya… terima kasih… saya pamit
dulu ya….”
Sha meninggalkan
Elang yang masih belum mampu menata hatinya… huft… dunia ini memang penuh
keajaiban.. begitu sempurna Tuhan menciptakan kesamaan pada diri Sha dan Rha…
ah… Elang hanya mampu memandang tubuh Sha pergi menjauhi rumahnya.
-----
Hmmmm….. Pantas
saja pria itu memandang dirinya seakan hendak menerkam. Rha… lukisan dirimu
begitu sempurna… Pantas saja ia begitu kehilangan dirimu… kau indah Rha……Pantas
saja ia begitu memujamu.. Kau begitu membuai angannya… lihatlah dirimu Rha…
Sha, gadis itu
tersenyum memandang lukisan yang terpasang di dinding kamarnya. Ia saja yang
bukan penikmat lukisan mampu merasakan sesuatu yang membara dalam lukisan yang
dibuat dengan rasa cinta yang menggelora………………….
………….. Kau pasti
mampu meraih cinta itu, Sha….. ia begitu mengagumimu… lihatlah pria kesepian
itu… ia mendambamu… tak mampukah kau mencairkan gunung es dalam hatimu
sejak Bayu meninggalknmu… kau dulu
sangat ceria… lebih bahagia dariku… mengapa sekarang kau kunci rapat-rapat
hatimu?... ayolah saudaraku… kupilihkan seseorang yang terbaik untukmu… jangan
menyakitinya... dan jangan membohongi hatimu… bukalah hatimu untuknya…………………………
…
triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinng………Ah…. Sha terbangun dan memandang jam di dinding…
pukul 02:00 wib… huft… ia meraih handphone yang memberi tanda ada e-mail masuk,
dari Elang…. Malam-malam begini mengirimkan email?....
“ Ini bukan hasil
jepretan fotografer professional, namun objek dalam foto itu memang indah…..
semoga menikmati….” Pesan singkat di ikuti lampiran beberapa foto-foto
dirinya.. ah.. bukan …. itu Rha…… cantik sekali Rha dalam balutan dress warna
biru yang sedikit terbuka…. Hmmm…… sungguh mereka saling mencinta…….
Sha segera
mengambil kabel USB dan menyambungkan handphone ke komputer, mengedit dan
mencetak foto-foto itu……………indah…….ia memandang ke cermin… sayangnya ia tidak
memiliki keindahan itu… tatapannya kosong .. senyumnya dingin… ah tidak ada
cinta di sana…. Sha mendesah…. Hhhhhhhh…… ada apa ini?... mengapa aku begitu
iri terhadap kebahagian Rha?...... ah… angin malam yang berhembus… coba
merasakan galau hatiku… dimana adanya cinta itu?....mengapa mautpun tak jua memisahkan
hati kami?.....apakah kembar identik berarti hanya memiliki satu jiwa? Mengapa
ia seperti merasakan kerinduan itu walau tak mampu menjamahnya… Entahlah…. Sha
membuka almari pakaiannya… diambilnya sebuah lingerie putih milik Rha…. Hmmmm……
lingerie dalam lukisan itu…..
_____
“ Sha, ijinkan
saya memilikimu……” Elang memandang mata itu.. ada kebimbangan di sana…. Elang sengaja mengajak gadis itu ke sebuah
danau tak jauh dari rumahnya.
“ Maaf…. Saya
belum mampu menjawabnya sekarang…..” Sha berjalan menjauhi Elang yang
memandangnya dengan penuh harap. Ia tahu Elang sangat menginginkannya. Sha
menyadari sebenarnya Elang menginginkan cinta Rha ada dalam dirinya…. Ah…
mustahil… Sha dan Rha adalah pribadi yang berbeda walau satu jiwa…..
Elang sudah tidak
mampu menahan hasratnya akan cinta… kerinduannya akan kasih yang membuncah
dalam dadanya membuat ia sedikit berlebihan sehingga Sha merasa seperti ditekan
perasaan.. ditariknya tubuh Sha dalam pelukannya… gadis itu sedikit meronta…
namun rengkuhan tangan kekar Elang tak mampu ia tepiskan…. Dengan sekali
gerakan tersingkaplah jaket gadis itu…. Elang terbelalak ketika ia mengusap
pundak Sha yang sedikit terbuka…..
“ Kamu…. Ah.. Apa maksud semua ini..??? “ Elang mencengkram
kedua lengan Sha… gadis itu hanya mampu merintih….. sedetik kemudian Elang
sadar dan segera melepaskan cengkramannya.
“ Itulah yang
saya herankan sampai saat ini... sejak saya melihat lukisan itu…. Lukisan itu
adalah lukisan saya… Rha tidak memiliki luka di pundaknya… luka itu milik saya…
Tapi saya bersumpah tidak pernah menemuimu sebelum kita bertemu di pameran…
maafkan saya….” Sha segera berlalu
meninggalkan Elang yang tetap diam memandang danau.
Sha berjalan
menyusuri hutan pinus... sore itu udara sangat cerah.. angin bertiup semilir
memainkan rambut lebatnya yang tergerai sebatas bahu. Pikirannya kembali ke
beberapa bulan yang lalu. Mengapa tiba-tiba ia menemukan dirinya terbangun
dengan mengenakan lingerie putih milik Rha… mengapa mimpi-mimpinya bercinta
dengan Elang tak mampu ia tepiskan…. Mimpi atau kenyataan..?? apa yang
sebenarnya terjadi? Mungkinkah sebagian jiwa Rha yang ada dalam dirinya telah
menguasainya? Mungkinkah sebagian jiwanya sebenarnya mencintai pria itu?
Aaahhhh….. Sha semakin bingung… kepalanya pusing.. pandangannya kabur…
berputar-putar… dan gelap…………………………………………………
_____
Sha membuka
matanya....dan genggaman tangan itu hangat ia rasakan…. Ia masih belum mampu
berfikir.. Ah dimana ini?... sayub-sayub ia mendengar seseorang berbicara…
“ Biarkan ia
beristirahat…. Ia hanya sedikit lelah….mungkin terlalu banyak beban pikiran..
berikan obatnya setelah makan ya….. tolong jaga kandungannya…jangan sampai
kecapean…. saya pamit..”
“ Terima kasih,
dok…..”
Sha baru
menyadari bahwa sesuatu telah terjadi terhadap dirinya… ia berada di rumah Elang…. Dinding kayu dan lukisan-lukisan itu ia kenal……..
“ Sha… ah sudah sadar rupanya…” Elang yang baru
memasuki ruangan segera mendekati gadis itu dan menggenggam tangannya
“ Apa yang
terjadi?....”
“ Kamu… hamil… maaf kalau saya terlalu membuatmu
tertekan… itu pasti anak saya….” wajah pria itu kelihatan merasa bersalah.
Hening sejenak…
keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing… ternyata benar… Sha yang datang mengunjungi
Elang di malam-malam yang dingin tetapi jiwa Rha yang ada di dalamnya….
“ Apakah kita
telah…….” Sha menggantung pertanyaannya menunggu reaksi Elang.
“ Ya… beberapa
kali… “ Elang menghela nafas pajang seolah melepaskan beban dalam dadanya…
“ Benarkah?....”
Sha seperti tidak percaya…
“ Jangan
khawatir… saya akan mempertanggung jawabkannya….Elang tersenyum..
“ Jadi……”
“ Saya akan
menikahimu segera……” Elang mempererat genggaman tangannya dan tanpa sadar gadis
itu membalas genggaman tangannya. Ada kelegaan di mata itu…….. terima kasih
Rha… telah engkau kirimkan cinta itu padaku… elang berbisik dalam hatinya………………………………………………………………..end…..

No comments:
Post a Comment