Monday, February 27, 2012

Rha.... Sha...




PART 1 ________________

 “ I love you, Sha…” Kalimat itu menggetarkan dada. Hati dan jiwa yang meranggas bak tersiram air surga.. dingin dan menyegarkan. Bayu… mata teduhmu membiaskan cinta nan hangat ke dalam kalbu. Binar-binar  itu memancarkan berjuta gairah dalam hati Sha yang bergemuruh memendam rasa. Tak sanggup menatap mata itu Sha hanya mampu tertunduk. Namun pemilik mata itu seperti tak menyia-nyiakan kesempurnaan rasa dan segera mengangkat dagu gadis manis terpaku di hadapannya. Kecupan lembut membasahi bibirnya melumatkan getar irama di dada yang mengalun merdu seiring mata terpejam keduanya.

Indahnya cinta itu.. seuntai kata mampu menghancurkan keangkuhan jiwa yang membatu karna luka. Sha menyembunyikan senyumnya ketika pertanyaan Rha bertubi-tubi mencercanya… “ Bagaimana? Kau terima cintanya?... Sha?.. ayo ceritakan semua…”

Sha  kembaran jiwa Rha menyimpan keanggunan, kecantikan dan keindahan yang sama, kecerdasan dan kemampuan yang saling menunjang dalam hidup mereka. Namun kembar tak selamanya selalu sama. Sha yang periang dan senang bergaul lebih mudah mengekspresikan dalam kilatan blitz kameranya. Ia begitu mudah menemukan tambatan hatinya dibanding Rha yang pendiam dan cenderung mengungkapkan hatinya hanya dalam tulisan.

“ Sha keluar kota… masuk saja.. Bayu..” Rha tersenyum tipis.  Memang hanya beberapa kali Bayu menatap mata Rha selama ini. Hanya cerita tentang saudara kembar yang keluar dari bibir Sha terdengar selama ini. Ah.. kelembutan yang sama… pesona yang tak jauh berbeda… rindunya yang bergelora di dada seakan terobati dengan senyum manis Rha.. ah.. ia bukan Sha  kekasihnya.. tetapi Rha, saudara kembar kekasihnya.  

Ah.. ada apa dengan hatiku.. mengapa pria itu selalu tersenyum di sana? Mengajak hatiku menari menikmati kehangatan sinar mentari yang tampak begitu cerah. Kunikmati setiap tatap matanya dan kuntum bunga itu merekah indah setiap saat aku berada di sisinya… apakah aku telah jatuh cinta?... entahlah… Sha.. maafkan rasa ini padanya. Namun kepergianmu menuntut ilmu keluar kota sungguh memberi harapan akan keindahan dan kehangatan Bayu, kekasihmu menjamah setiap bilik-bilik hatiku. Tak kusadari aku semakin jauh terjerumus dalam palung cintanya… maafkan aku, Sha…

“ Kapan Sha kembali?...” Bayu kembali menikmati senyum yang dimiliki keduanya. Ia menikmati getaran yang sama seperti sebelumnya. Pertemuan ini tidak seperti biasanya. Rha begitu indah di hadapannya. Senyum itu seperti membuka pintu hati dan mengajaknya masuk menikmati keindahan cinta di dalamnya. Ah.. Rha.. mengapa kau berikan surgamu pada kerinduanku yang membuncah. Mengapa tak sedetikpun kau beranjak ketika tubuh kita saling berpadu dan melantunkan tembang cinta nan bergelora. Mengapa kau membisu ketika kunikmati setiap jengkal tubuhmu yang basah oleh keringat melebur dalam alunan tembang kasmaran.

“ Rha….. teganya dirimu…” Gadis itu menatap tajam saudara kembarannya. Nafasnya tersengal bergemuruh menahan hancurnya hati yang meluruh. Memaafkan saudaranya? Pasti.. namun mengapa nasib mempermainkan hidupnya dengan begitu kejam. Mengapa kekasih dambaan hatinya justru menkhianati cinta sucinya dengan Rha, saudara kembarnya?

“ Kau harus menikahinya… ia saudaraku satu-satunya..” Bayu tak sanggup menatap mata itu. Ia menyadari bahwa cintanya hanya untuk Sha. Namun keadaan tak berpihak kepadanya. Harapan dan penantian membutakan mata hatinya.. dan ketika keindahan Rha menyapa dan membelai jiwa yang merindu dan mendamba kekasihnya.. ia tak mampu menepis keindahan yang sama. Sha dan Rha begitu sempurna dengan keharuman yang sama…….

“ Maafkan aku…” Bayu menuliskan kalimat singkat dalam lembaran suram buku harian Sha. “ Terlalu dalam aku melukai hatimu.. tak sanggup rasanya tetap berada di dekatmu dengan memendam cinta dalam dada… seribu maaf mungkin tak kan kau berikan namun hatiku akan tetap memiliki keindahanmu, meski kau tak mau menerima kehadiranku kembali mengisi relung-relung hatimu.. maafkan kutinggalkan semua kenangan terdalam bersamamu.. dan bersama Rha….. ”.

Rha tak sanggup menghadapi galau hatinya. Setiap detik waktu berlalu semakin menyayat luka menyadari cintanya sia-sia. Ternyata rasa dan damba yang ada dalam hatinya bukanlah miliknya. Ia tak sanggup menyakiti saudaranya.. Sha… menitikkan air mata setiap mengenang kisah cintanya bersama kekasih dambaannya. Tulisan keputus asaan dan kesedihan yang tertuang tak mampu menghalau rasa bersalah yang selalu mengikuti dan membayangi hidupnya. Dan ketika dera luka itu memuncak ia hanya mampu berserah pasrah… Mimpi yang  sama dengan saudara kembarnya Sha.. Semoga obat itu mungkin mampu mengantarkan jiwanya ke suatu tempat yang damai dan jauh dari luka perih merana. Dan biarkan jiwa ini melayang mencari cinta sejati sebelum luka dalam kalbu terobati…

“ Rha……….. mengapa jalan ini yang kau pilih…. “ Sha merintih lirih memandang jasad Rha terbujur kaku meninggalkan dirinya.. meninggalkan dunia yang fana… meninggalkan semua kisah terajut selama hidupnya yang baru di jalani selama dua puluh tiga tahun. Selamat jalan Rha… selamat jalan saudaraku tercinta…

   
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


 PART 2____________

Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya Elang memasuki halaman rumah bernuansa etnik Jawa itu. Pandangan matanya menyapu seluruh bangunan yang sejak hari ini akan ia tempati… sendiri……..

Sejak perceraiannya dengan Sutra yang telah tega mengkhianatinya ia memutuskan untuk meninggalkan hingar-bingar ibukota untuk sekedar menenangkan hatinya, selain itu ia ingin konsentrasi menyelesaikan lukisan-lukisan yang empat bulan lagi akan di publish dalam sebuah pameran tunggal.

Dari lantai dua rumah ini pemandangan sangat menakjubkan… pegunungan dengan hutan pinus yang terhampar diselimuti kabut tipis menyegarkan relung hatinya yang sedang galau. Pelan tapi pasti tangannya yang telah terbiasa menggores warna di atas  kanvas bergerak mengikuti alur jiwanya yang terpesona dengan keindahan alam di hadapannya. Sketsa lukisan hutan pinus karya pertamanya semenjak menempati rumah ini selesai dalam waktu beberapa menit saja. Hmmmm…. Luar biasa…

_____

Pagi-pagi sekali Elang telah menyusuri jalan diantara pohon-pohon pinus dan melewati kebun teh.. dan akhirnya berputar melalui jalan setapak sepanjang kebun bunga mawar dan krisan… tanaman yang di budidayakan penduduk desa sekitar itu tumbuh subur dan kebetulan saat ini sedang berbunga… indah sekali.

Hawa dingin yang menusuk membuat pria itu merapatkan jaketnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti… kilatan blitz dari kamera menerpa wajahnya… sekilas ia melihat seorang wanita di atas bukit kecil itu. Dengan seperangkat kamera wanita itu membidik setiap objek yang di lihatnya. Jalan setapak ini memang menuju ke bukit itu… Setelah jaraknya cukup dekat gadis itu mengarahkan kameranya kepada Elang… dan.. klik….

“ Jaket merah bata yang kamu kenakan sangat kontras dengan warna daun dan bunga yang keseluruhannya dominan warna putih… nice..!!”

“ Oh ya…. Boleh saya lihat hasilnya?” Elang mendekati kamera yang di sodorkan gadis itu….

“ Hasil jepretan fotografer professional… sudut pandangnya bagus… fokusnya sangat dominan tetapi tidak mengurangi keindahan latar belakangnya…” Elang menyerahkan kamera kepada gadis  yang tersenyum dan terheran-heran dengan opini dari pria itu.

“  Sepertinya anda menguasai perspektif gambar dengan baik.. saya memang fotografer tetapi masih belajar…. belum professional seperti yang anda katakan tadi.. oh ya… saya Sha…  asli asal desa ini…” gadis itu mengulurkan tangan kepada Elang.

“ Elang… saya tinggal di sebelah utara bukit ini… jika kamu berkenan melihat lukisan saya silahkan datang….

“ Wow…  anda pelukis rupanya… yupz…. Kalau ada waktu saya pasti mampir… bye..“ gadis itu melangkah menjauhi Elang melalui jalan setapak kearah desa…

------

Gerimis malam itu tak membuat Elang beranjak dari depan kanvasnya di lantai dua… Sudah sebulan ia di tempat ini… baberapa masterpiece telah ia selesaikan. Kalau lancar mudah-mudahan pameran tunggal yang akan terselenggara tiga bulan lagi akan sukses… Elang berharap dalam hati. Huft.. kesuksesan yang tak terbayar dengan cinta… terlintas banyangan Sutra mantan istrinya yang telah meninggalkan dirinya dengan pria lain … tega sekali kamu Sutra…. Tiba-tiba rasa sakit dalam hatinya datang lagi… Ah.. persetan denganmu Sutra…. Ting Tong…!!!!!!  bel berbunyi  …. Siapa yang malam-malam begini bertamu? Elang melihat jam di dinding menunjukan pukul 19:30 wib….

“  Selamat malam…… boleh saya masuk?...” Sha.. gadis itu berdiri di hadapannya.

“ Oh.. silahkan….. “ Elang tak mampu menyembunyikan kegugupannya… ia benar-benar heran dengan gadis itu… malam-malam dan hujan begini sungguh sebuah keberanian yang luar biasa melewati deretan hutan pinus menuju rumahnya.

“ kamu berani sekali malam-malam berjalan sendiri..” Elang meletakkan secangkir kopi mix di depan gadis itu.

“ Saya asli orang sini.. kenapa mesti takut… dari kecil saya sudah mengenal daerah ini…”  gadis itu tersenyum.. Namun senyum yang menurut Elang agak berbeda dengan yang dilihatnya di kebun bunga beberapa waktu yang lalu.

“  Saya baru beberapa bulan di sini, jadi belum terbiasa dengan keadaan di daerah ini… maaf…..”

“ Boleh melihat lukisannya?... “ gadis itu memecah keheningan yang tiba-tiba melanda ruangan ini.

“ Oh… silahkan… kita ke lantai dua… “ Elang berkata sambil menutup pintu depan. Sekilas ia mencium bau wangi yang aneh… semerbak bunga namun tidak sesegar parfum.. ah entahlah….

Mereka menuju ke lantai dua… benar saja.. mata gadis itu terbelalak terkagum-kagum memandangi lukisan lukisan yang terpajang di dinding ruangan itu. Mereka berdiskusi dari satu gambar ke gambar lainnya. Elang menikmati pertemuan dengan gadis yang ia ketahui bernama Sha itu… dari cara ia berbicara terlihat ia sangat cerdas dan berpengetahuan luas..

“  Ini lukisan siapa… cantik sekali..” Sha mengagumi sebuah lukisan di sudut ruangan.

“ Lukisan mantan istri saya… namaya Sutra….” Elang melihat gadis itu memandang lukisan Sutra dengan seksama.

“ Saya juga ingin di lukis.. kalau berkenan..” gadis itu tiba-tiba menatap Elang penuh harap.

“ Boleh… kapan saja kamu mau saya lukis silahkan datang..” Elang seperti tak mampu menolak keinginan gadis itu.

Tatapan itu begitu tajam dan menghujam.. menembus.. dan menyiram dengan air segar sekat-sekat hati Elang yang terluka dan perih sejenak memudar… Ah.. Elang tersadar dan mencari gadis itu… kemana dia… mengapa menghilang begitu saja…Elang melangkah keruang bawah… tetapi tetap tidak menemukan Sha… ah mungkin dia sudah pulang… begitu dilihatnya pintu terbuka dan payung yang dibawa gadis itu sudah tidak ada.. dan bau harum aneh itu juga menghilang…

_______________

“ Kau indah… “ Hanya itu kalimat yang mampu Elang ucapkan demi melihat gadis itu hanya mengenakan lingerie panjang berwarna putih.

“ Ah.. jangan menggoda.. saya jadi grogi…” gadis itu tersipu malu.

“ Relaks saja ya…. Jangan tegang… senyumnya jangan di tahan..” jari-jari tangan Elang semakin lincah menterjemahkn keindahan di hadapannya.

Malam itu menjadikan hubungn mereka semakin dekat saja. Gadis yang dipanggil Shayang oleh Elang dan selalu saja ia tersipu mendengar panggilan itu. Sha rajin mengunjungi Elang hampir di setiap malam-malam yang dingin dan menghangatkan pria yang haus akan belaian kasih sayang.

Sha.. menurut Elang adalah gadis yang tidak terlalu banyak bicara, walau ucapan kepadanya selalu manis dan membuai angannya namun sinar matanya banyak berkata dibanding dengan bibirnya yang merah ranum itu. Elang adalah seorang seniman, tak sulit  baginya menterjemahkah sinar mata Sha. Ia selalu mampu menemukan arti tatapan gadis itu, keinginannya dan harapan pada dirinya. Elang menemukan cinta di sinar matanya.. ya.. walau tak banyak kalimat yang terucap Elang tahu Sha mencintainya… dan Elang sungguh bahagia menyadarinya karna ia juga sangat menyukai gadis itu.

Malam itu mereka merajut asmara dalam derasnya hujan di bulan pertengahan.. hawa dingin yang menyeruak dari sela-sela jendela tak mengurangi kehangatan cinta mereka. Elang bahagia karna adanya Sha membuatnya bersemangat menghadapi hidupnya yang hampir saja hancur tak berenergi… Pameran tunggalnya di Ibukota akan segera terlaksana beberapa hari lagi. Tak sanggup rasanya Elang meninggalkan keharuman tubuh gadis dalam dekapannya malam ini. Namun pihak sponsor menginginkan kehadirannya besok untuk persiapan akhir. Perpisahan sementara membuat keduanya tenggelam dalam kehilangan seakan tak akan bertemu kambali.

“ Saya pasti akan merindumu, Shayang… “ Elang merasakan dekapan gadis itu yang semakin erat adalah sebuah jawaban.

“ Saya akan setia menunggumu, Elang… sampai kapanpun… hanya kamu milikku…”  Akhirnya kalimat itu kelur dari bibir ranum Sha yang segera disambut dengan kecupan hangat.

------

PART 3 _______________

Pameran lukisan di Graha Indah terselenggara dengan sukses. Elang semakin menetapkan dirinya sebagai pelukis ternama di negeri ini. Bahkan beberapa kolektor dari Negara-negara tetangga memesan lukisan dengan harga selangit. Elang puas dengan hasil karjanya selama ini. Semua ini tak lepas dari dukungan Sha.. gadis yang sangat di cintainya.. ah.. tiba-tiba rindunya pada Sha menyeruak dalam dadanya. Sedang apa dia di sana? Apakah ia juga merindukannya?

Hari terakhir penyelenggaraan pameran membuat hati Elang berdebar-debar tak karuan. Sudah dua minggu ia meninggalkan rumahnya, meninggalkan cintanya di sana…

“ Selamat pagi…. Sukses ya… maaf baru bisa datang di hari terakhir…” Sha….!!!  Elang merasa jantungnya hampir copot memandang gadis yang di rindukannya itu berdiri tepat di hadapannya.


“ Sha… saya tidak menyangka kejutan ini… apa khabar shayang..” Elang meraih tangan gadis yang sangat dirindukan itu dan memeluknya.

Namun sedetik kemudian Elang benar-benar tekejut ketika Sha menghindari dekapan rindunya. Ada apa ini? Sudah secepat itukah hati gadis ini berubah?

“ Maaf… maksud saya, ah.. bukankah kita baru bertemu yang kedua kali ini… ??” gadis itu menjelaskan situasi yang kelihatannya sangat sulit baginya.

“ Sha… bukankah kita telah saling mencintai? Ada apa denganmu Sha?...” Elang tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ia tak melihat sinar mata terpancar penuh cinta dari gadis yang berdiri di hadapannya itu. Ia juga tak mencium bau harum yang khas dari tubuh gadis itu.

Sha, gadis itu memandang Elang sejenak dan segera menyadari apa yang telah terjadi, lalu segera melangkah menjauhi Elang yang masih dipenuhi tanda Tanya di kepalanya. Ternyata benar mimpi itu… Rha.. kamu datang dan tersenyum bahagia, mengisyaratkan cinta sejati yang telah kau dapatkan dari seorang pria. Sha mempercepat langkahnya menghindari tatapan Elang yang tak mampu ia terjemahkan. Ia tak sanggup menjelaskan apa yang sedang terjadi sebenarnya.

Menyadari hanya gadis itu yang bisa menjawab tanyanya, Elang segera mengejar Sha yang telah berada di luar gedung.

“ Tolonglah… beri saya penjelasan.. ada apa sebenarnya?  Tegakah kamu menghancurkan cinta saya?...” Elang berusaha menahan kepergian Sha.

Gadis itu memandang ragu seakan dalam kebimbangan yang sangat dalam. Namun akhirnya ia menghentikan langkahnya.

“ Kapan kamu pulang?”

“ Besok… “

“ Datanglah ke rumah saya… ada sesuatu yang harus kamu ketahui..”

-----

Rumah berdinding kayu itu sangat asri. Di halamannya terdapat berbagai tanaman hias terawat dalam pot-pot putih. Teras berlantai keramik warna hijau menambah keasriannya. Elang baru saja melangkah di teras ketika pintu terbuka. Sha sudah berada di sana.

“ Oh… jadi kalian kembar… dan Rha kembaranmu sudah meninggal??..” terasa lemas sekujur tubuh Elang menyadari apa yang terjadi selama ini. Mengapa ia tak menyadarinya? Apakah ia telah dibutakan oleh kesepian, sehingga membedakan manusia dengan arwah saja tidak bisa? Namun ia tak menampik Rha memang begitu nyata……. Sama persis dengan gadis yang ada di hadapannya…..
Dalam perjalanan pulang Elang masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi. Rha… ya… arwah penasaran itu begitu sempurna di matanya. Ah… Rha.. tak bolehkah aku merindumu... datanglah malam ini Rha… seperti malam-malam sebelumnya… hangatkan jiwaku.. hapuskan rinduku padamu…. Akhirnya Elangpun memejamkan matanya.

“……………… maafkan saya cintaku… jiwaku telah tenang menemukan cintamu… maafkan aku harus meninggalkanmu.. kutitipkan saudaraku padamu… cintailah ia, seperti kamu mencintaiku… percayalah…. Cintaku selalu hanya untukmu dalam jiwa kembaranku….” Elang berlari mengejar Rha yang seakan melayang terbang dengan cepat meninggalkan dirinya yang terpuruk.

-----

Pagi itu Sha dan Elang berziarah ke makam Rha. Dalam perjalanan pulang Sha banyak bercerita tentang saudara kembarnya itu.

“ Rha datang dalam mimpi saya tadi malam…” Elang tiba-tiba memecah kesunyian setelah sekian menit mereka berjalan dalam kebisuan.

“ Ah.. jangan terlalu dipikirkan… Rha sudah tenang di alam sana… boleh saya melihat lukisan Rha??... ” Sha sengaja mengalihkan perhatian., padahal Ia mengalami mimpi yang sama… dan intinya Rha meminta Sha dan Elang menyatu dalam cinta… tetapi mungkinkah?... Sha tidak sedetikpun mempunyai rasa terhadap Elang…

“ Datanglah kapan saja kamu mau…. “ Elang sebenarnya ingin menceritakan perihal mimpinya kepada Sha, namun entah mengapa ia melihat gadis yang berjalan di sebelahnya itu tidak seperti wanita yang di cintainya, yang begitu hangat dan mesra. Gadis itu begitu dingin dan kaku… walau sebenarnya setiap menatap matanya Elang merasakan getar-getar yang aneh dalam hatinya. Sebersit harap hadir akan kerinduannya terhadap kekasihnya di mata Sha…

-----

“ Selamat sore…” Sha gadis itu berdiri di depan pintu… cantik sekali…meski tanpa  senyum di sana.. ah.. Elang menepis bayang semu di matanya.

“ Silahkan masuk… “ Elang memperhatikan Sha dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dari belakang gadis itu. Ia sungguh ingin meyakinkan bahwa gadis itu bukan kekasihnya.

Sha meletakkan kamera yang dikalungkan di lehernya di atas meja… ini pertama kali ia memasuki rumah Elang.. hmm.. cukup nyaman… Pandangan matanya menyapu dinding ruangan yang dihiasi dengan beberapa bingkai lukisan.

“ Galery saya ada di atas… kita ke atas saja ya….”

“ Ok… “

Dalam ruangan yang cukup luas itu jelas sekali terlihat mata itu begitu takjub memandang sederet lukisan karya Elang… ah.. reaksi yang sama ketika dulu kekasihnya memasuki ruangan ini untuk pertama kali.

Sha berhenti tepat di depan lukisan dirinya sendiri.. ah.. bukan.. itu Rha.. saudara kembarnya… agak lama ia memandang lukisan tersebut… ia mengamati lukisan sempurna berbingkai emas di dinding.. ada sesuatu yang Ia pikirkan…. Kemudian ia menggelengkan kepalanya…..

“ Lukisan yang Indah…” Sha berkata lirih dan tatapan matanya tetap pada lukisan itu…

“ Kalau mau, saya bersedia melukismu….” Elang sengaja menawarkan harapan untuk memandang mata itu lebih lama….

“ Tidak… saya suka mengambil gambar obyek lain dengan kamera tapi saya tidak suka di foto atau di lukis… terima kasih…” Sha menolak harapan itu….Elang menangkap sesuatu yang tak ingin diungkapkan di mata gadis itu...

“ Kamu boleh membawa lukisan ini…”

“ Benarkah..?? “ mata Sha tampak berbinar… Elang tahu gadis itu menginginkannya…

“ Tetapi tolong dirawat… jangan sampai rusak… dan saya di beri nomor yang bisa dihubungi….”

“ Pasti…  ini kartu nama saya… terima kasih… saya pamit dulu ya….” 

Sha meninggalkan Elang yang masih belum mampu menata hatinya… huft… dunia ini memang penuh keajaiban.. begitu sempurna Tuhan menciptakan kesamaan pada diri Sha dan Rha… ah… Elang hanya mampu memandang tubuh Sha pergi menjauhi rumahnya.

-----

Hmmmm….. Pantas saja pria itu memandang dirinya seakan hendak menerkam. Rha… lukisan dirimu begitu sempurna… Pantas saja ia begitu kehilangan dirimu… kau indah Rha……Pantas saja ia begitu memujamu.. Kau begitu membuai angannya… lihatlah dirimu Rha…

Sha, gadis itu tersenyum memandang lukisan yang terpasang di dinding kamarnya. Ia saja yang bukan penikmat lukisan mampu merasakan sesuatu yang membara dalam lukisan yang dibuat dengan rasa cinta yang menggelora………………….

………….. Kau pasti mampu meraih cinta itu, Sha….. ia begitu mengagumimu… lihatlah pria kesepian itu… ia mendambamu… tak mampukah kau mencairkan gunung es dalam hatimu sejak  Bayu meninggalknmu… kau dulu sangat ceria… lebih bahagia dariku… mengapa sekarang kau kunci rapat-rapat hatimu?... ayolah saudaraku… kupilihkan seseorang yang terbaik untukmu… jangan menyakitinya... dan jangan membohongi hatimu… bukalah hatimu untuknya…………………………

… triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinng………Ah…. Sha terbangun dan memandang jam di dinding… pukul 02:00 wib… huft… ia meraih handphone yang memberi tanda ada e-mail masuk, dari Elang…. Malam-malam begini mengirimkan email?....

“ Ini bukan hasil jepretan fotografer professional, namun objek dalam foto itu memang indah….. semoga menikmati….” Pesan singkat di ikuti lampiran beberapa foto-foto dirinya.. ah.. bukan …. itu Rha…… cantik sekali Rha dalam balutan dress warna biru yang sedikit terbuka…. Hmmm…… sungguh mereka saling mencinta…….

Sha segera mengambil kabel USB dan menyambungkan handphone ke komputer, mengedit dan mencetak foto-foto itu……………indah…….ia memandang ke cermin… sayangnya ia tidak memiliki keindahan itu… tatapannya kosong .. senyumnya dingin… ah tidak ada cinta di sana…. Sha mendesah…. Hhhhhhhh…… ada apa ini?... mengapa aku begitu iri terhadap kebahagian Rha?...... ah… angin malam yang berhembus… coba merasakan galau hatiku… dimana adanya cinta itu?....mengapa mautpun tak jua memisahkan hati kami?.....apakah kembar identik berarti hanya memiliki satu jiwa? Mengapa ia seperti merasakan kerinduan itu walau tak mampu menjamahnya… Entahlah…. Sha membuka almari pakaiannya… diambilnya sebuah lingerie putih milik Rha…. Hmmmm…… lingerie dalam lukisan itu…..

_____


“ Sha, ijinkan saya memilikimu……” Elang memandang mata itu.. ada kebimbangan di sana….  Elang sengaja mengajak gadis itu ke sebuah danau tak jauh dari rumahnya.

“ Maaf…. Saya belum mampu menjawabnya sekarang…..” Sha berjalan menjauhi Elang yang memandangnya dengan penuh harap. Ia tahu Elang sangat menginginkannya. Sha menyadari sebenarnya Elang menginginkan cinta Rha ada dalam dirinya…. Ah… mustahil… Sha dan Rha adalah pribadi yang berbeda walau satu jiwa…..

Elang sudah tidak mampu menahan hasratnya akan cinta… kerinduannya akan kasih yang membuncah dalam dadanya membuat ia sedikit berlebihan sehingga Sha merasa seperti ditekan perasaan.. ditariknya tubuh Sha dalam pelukannya… gadis itu sedikit meronta… namun rengkuhan tangan kekar Elang tak mampu ia tepiskan…. Dengan sekali gerakan tersingkaplah jaket gadis itu…. Elang terbelalak ketika ia mengusap pundak Sha yang sedikit terbuka…..

“ Kamu…. Ah..  Apa maksud semua ini..??? “ Elang mencengkram kedua lengan Sha… gadis itu hanya mampu merintih….. sedetik kemudian Elang sadar dan segera melepaskan cengkramannya.

“ Itulah yang saya herankan sampai saat ini... sejak saya melihat lukisan itu…. Lukisan itu adalah lukisan saya… Rha tidak memiliki luka di pundaknya… luka itu milik saya… Tapi saya bersumpah tidak pernah menemuimu sebelum kita bertemu di pameran… maafkan saya….”  Sha segera berlalu meninggalkan Elang yang tetap diam memandang danau.

Sha berjalan menyusuri hutan pinus... sore itu udara sangat cerah.. angin bertiup semilir memainkan rambut lebatnya yang tergerai sebatas bahu. Pikirannya kembali ke beberapa bulan yang lalu. Mengapa tiba-tiba ia menemukan dirinya terbangun dengan mengenakan lingerie putih milik Rha… mengapa mimpi-mimpinya bercinta dengan Elang tak mampu ia tepiskan…. Mimpi atau kenyataan..?? apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah sebagian jiwa Rha yang ada dalam dirinya telah menguasainya? Mungkinkah sebagian jiwanya sebenarnya mencintai pria itu? Aaahhhh….. Sha semakin bingung… kepalanya pusing.. pandangannya kabur… berputar-putar… dan gelap…………………………………………………

_____


Sha membuka matanya....dan genggaman tangan itu hangat ia rasakan…. Ia masih belum mampu berfikir.. Ah dimana ini?... sayub-sayub ia mendengar seseorang berbicara…

“ Biarkan ia beristirahat…. Ia hanya sedikit lelah….mungkin terlalu banyak beban pikiran.. berikan obatnya setelah makan ya….. tolong jaga kandungannya…jangan sampai kecapean….  saya pamit..”

“ Terima kasih, dok…..”

Sha baru menyadari bahwa sesuatu telah terjadi terhadap dirinya…  ia berada di rumah Elang…. Dinding kayu  dan lukisan-lukisan itu ia kenal……..

“ Sha…  ah sudah sadar rupanya…” Elang yang baru memasuki ruangan segera mendekati gadis itu dan menggenggam tangannya

“ Apa yang terjadi?....”

“ Kamu…  hamil… maaf kalau saya terlalu membuatmu tertekan… itu pasti anak saya….” wajah pria itu kelihatan merasa bersalah.

Hening sejenak… keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing…  ternyata benar… Sha yang datang mengunjungi Elang di malam-malam yang dingin tetapi jiwa Rha yang ada di dalamnya….

“ Apakah kita telah…….” Sha menggantung pertanyaannya menunggu reaksi Elang.

“ Ya… beberapa kali… “ Elang menghela nafas pajang seolah melepaskan beban dalam dadanya…

“ Benarkah?....” Sha seperti tidak percaya…

“ Jangan khawatir… saya akan mempertanggung jawabkannya….Elang tersenyum..

“ Jadi……”

“ Saya akan menikahimu segera……” Elang mempererat genggaman tangannya dan tanpa sadar gadis itu membalas genggaman tangannya. Ada kelegaan di mata itu…….. terima kasih Rha… telah engkau kirimkan cinta itu padaku… elang berbisik dalam hatinya………………………………………………………………..end…..






No comments:

Post a Comment