Gemericik
air mengalir di sungai di tepi hutan itu seakan menjadi saksi galau
hati Alia.. ia duduk dengan kaki ditekuk di atas batu besar dan
meletakkan kepala di lututnya… matanya menerawang jauh memandang awan
biru yang berarak dan burung burung hutan yang terbang mengitari sungai
mencari mangsa ikan ikan kecil. Seekor burung yang sejak tadi ia
perhatikan berputar putar di sekitar sungai tiba tiba meluncur tajam ke
dalam sungai.. beberapa detik kemudian muncul lagi dengan seekor ikan
yang cukup besar di paruhnya lalu menghilang di balik pepohonan.
Sudah
hampir satu jam gadis itu duduk di atas batu. Memikirkan nasibnya… ia
masih bingung bagaimana menyampaikan berita ini kepada orang tuanya…
bahwa ia tengah berbadan dua dan sialnya ayah biologis anak dalam
kandungannya ini meninggalkanya. Dengan pemberian sejumlah uang laki
laki bejat itu memintanya untuk menggugurkan kandungannya. Huft… Alia
terlalu lugu untuk menyadari pesona Randu yang telah mempermainkan
perasaannya. Ia yang hanya pegawai sebuah toserba begitu takut
menggugurkan kandungan yang berarti ia membunuh anaknya sendiri… dan itu
adalah dosa besar. Hhhhh……….. gadis itu menghela nafas panjang… seolah ingin melepaskan beban berat yang menghimpit dadanya.
Sejenak kemudian ia beranjak dan berjalan meninggalkan sungai. Kaki yang beralaskan sandal jepit itu terus melangkah menyusuri jalan setapak menuju hamparan persawahan terluas di desanya. Ia terus berjalan menyusuri pematang sawah dan berhenti di sebuah dangau sederhana terbuat dari bambu. Di bereskannya rantang rantang dan bakul bekas makanan untuk Bapaknya tadi siang. Hmm… sudah sore, persawahan sudah mulai sepi. Bapaknya pun pasti sudah pulang dari tadi. Dengan langkah gontai gadis itu kembali melalui pematang dan menyusuri jalan setapak menuju desa tempat tinggalnya.
Di tengah jalan ia bertemu Heru.. teman sepermainannya sejak kecil. Namun saat ini Heru tidak meneruskan sekolah, ia hanya membantu orang tuanya bercocok tanam dan memelihara hewan ternak. Kasihan Heru.. padahal ia tergolong anak yang pintar. Ah.. tapi nasibnya tak seburuk nasibku… bathinnya….
“ Alia…. Emak tadi mencarimu.. kemana saja kamu sesore ini baru pulang..” Heru berjalan di sebelah Alia sambil memanggul sebongkah rumput untuk makanan ternak.
“ Aku jalan jalan, Her… sudah lama nggak ke sungai di tepi hutan…“
Di perempatan jalan Heri berbelok menuju rumahnya sementara Alia tetap meneruskan perjalanan. Rumahnya masih cukup jauh.. ia harus melewati balai desa dan mesjid. Di dekat balai desa ia dikejutkan oleh wak Dullah, guru ngajinya sejak kecil…
“ Alia… nanti malam ikut pengajian di mesjid ya… ada siraman rohani dari keponakan saya yang baru lulus dari Institut Agama Islam dari Malaysia…”
“ Oh, iya.. wak insyaallah… saya pasti datang…” Alia memang tidak pernah menolak setiap kali di undang pengajian dan acara keagamaan lainnya.
—–
“ Astaqfirullah alazhim…… kelakuanmu ternyata memalukan bapak Al….. kamu ini bapak didik dengan landasan agama yang baik di rumah.. mengapa kamu malah berzina.. apa kamu ndak takut sama azab.. ”
“ Maafkan saya, pak… saya khilaf….” Alia bersimpuh di kaki ayahnya sambil berurai air mata.
“ Sudahlah, pak… bagaimanapun Alia anak kita satu satunya… lebih baik kita carikan jalan keluarnya supaya anak dalam kandungannya tidak lahir sebagai anak haram…” Ibu seperti biasa selalu menjadi malaikat penyelamat keluarga kami
“ Bagaimanapun anak itu tetap anak haram, bu… kalaupun dia punya ayah itu hanya untuk menutupi aib saja… di hadapan Allah tetap dianggap anak haram..” Laki laki yang walau belum begitu tua namun wajahnya terlihat berkerut kerut karna menghadapi hidup yang keras dan sengatan sinar mata hari di sawah.
“ Assalamu’alaikum……. “ Seseorang mengetuk pintu rumah kami.
“ Waalaikumsallam..” Ibu menjawab dan membukakan pintu.
“ Oh, wak Dullah…. Silahka masuk wak….” Bapak mempersilahkan Wak Dullah masuk, Wak Dullah ternyata bersama keponakannya.
“ Terimakasih pak, di teras saja…. Saya hanya mampir… tadi Alia saya undang pengajian tapi kok tidak datang…. Apa Alia sudah balik ke kota?……..”
“ Eh… anaknya ada wak.. Cuma…….” Ibu terlihat bingung.
“ Ada apa dengan Alia? …” Wak Dullah melihat gelagat yang aneh dari ibu dan bapak
“ Silahkan masuk wak… nanti saya ceritakan di dalam……”
Dari dalam kamarnya Alia mendengar bapak menceritakan semua tentang dirinya kepada Wak Dullah. Ia hanya mampu mengusap air mata ketika Wak Dullah mengucap Istighfar berulang ulang… Alia semakin merasa berdosa.. air matanya semakin deras mengalir sehingga ia tak mampu mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya dengan Wak Dullah dan keponakannya.
“ Jadi kita tanyakan dulu ke Alia… karna bagaimanapun keputusan tetap berada di tangannya..” Suara wak Dullah terdengar lagi.
Suara langkah kaki ibu memasuki kamarnya dan meminta ia keluar menemui Wak Dullah. Ibu mengungkapkan keinginan Wak Dullah untuk membantu menyelamatkan anak yang ada di rahimnya. Keponakan Wak Dullah yang bernama Rahman itu mau menikahinya paling tidak sampai anaknya lahir. Alia sudah tidak punya pilihan selain menyerahkan nasibnya kepada kedua orang tuanya.
-----
Prosesi
ijab Khobul secara sederhana telah terlaksana dengan hikmad. Tidak ada
satu kecurigaan atas pernikahan tersebut. Alia tampak anggun dengan
kebaya putih milik ibunya dan Rahman juga tampak gagah dengan jas hitam
serta peci. Dari mulai awal sampai akhir acara Alia tidak mengeluarkan
sepatah katapun. Ia bahkan menyimpan dalam dalam senyum manisnya, Sejak
pertama kali bertemu sampai detik ini ia memang tak pernah berbicara
sepatah katapun kepada Rahman yang sudah sah menjadi suaminya.
Sore itu Alia duduk di teras rumahnya sambil makan mangga muda. Hari ini hari ketiga ia resmi menjadi istri Rahman, Alia masih juga enggan membuka percakapan dengan Rahman, hanya kalimat kalimat pendek yang terpaksa ia ucapkan. Rahman pun kelihatannya tidak mau memaksa istrinya. Sampai hari inipun Rahman tetap tidur di ruang tamu. Kebetulan di depan TV ada tempat tidur yang memang sering dipakai bapak tidur, sekarang Rahmanlah yang menghuni tempat tidur tanpa kasur itu. Bila malam malam Alia sering mendengar suaminya itu mengaji.
“ Al, besok saya harus ke kota… ada undangan pengajian akbar, kalau kamu saya ajak mau atau tidak…?” Itulah ajakan pertama Rahman sejak ia menjadi suami Alia.
Alia memandang Rahman sekilas dan menganggukan kepala. Biarlah ia ikut sambil menghilangkan kejenuhan berada di rumah saja.
Keesokan harinya dengan mengendarai sepeda motor mereka berangkat ke kota yang jaraknya sekitar 15 km dari desa mereka. Pengajian akbar itu sendiri sangat mengagumkan Alia. Banyak sekali yang ia dapatkan sebagai bahan renungan. Setelah selesai Alia diperkenalkan dengan teman teman Rahman. Mereka tidak ada yang menyangka Rahman telah menikah… ada yang menggoda bahwa dulunya Rahman pacarnya banyak.. hahaha… Alia bisa tertawa sejenak menghapus gundah hatinya. Diakuinya bahwa bayang bayang Randu masih belum mau beranjak di pelupuk matanya. Antara cinta dan benci bercampur dalam hatinya.
Dalam perjalanan pulang mereka berhenti di sebuah rumah makan, namun Alia malah merasa mual mual dan akhirnya muntah muntah, namun dengan sabar Rahman membantu istrinya yang tengah hamil muda itu dengan memijit mijit pundaknya supaya pusing dan mual segara hilang.
—–
Kehamilan Alia memasuki bulan ke sembilan, sejak dua bulan lalu Alia sudah tidak pernah ikut Rahman ke pengajian Akbar yang diadakan sebulan sekali. Ia hanya dirumah mempersiapkan persalinan yang tinggal menunggu hari. Rahman terlihat antusias menyambut kehadiran anak pertama mereka. Setiap kali pulang dari kota ada saja yang dibelinya untuk sang calon bayi. Setiap selesai sholat ia selalu mengumandangkan do’a dan ayat ayat Al Qur’an di depan perut istrinya yang membuncit, setelah itu ia mengelus elus dan menciumnya.
Dan hari yang dinanti nantipun tiba. Seorang bayi laki laki mungil yang lucu menambah kebahagiaan keluarga kecil itu. Rahman semakin giat bekerja membuka toko bangunan sehingga sedikit demi sedikit mereka bisa mengumpulkan uang dan membangun sebuah rumah mungil tak jauh dari rumah bapak dan ibu.
Sejak kehadiran cucu mereka bapak dan ibu sangat senang. Setiap hari ibu mengambil Daffa.. digendongnya bayi mungil itu pulang… katanya untuk hiburan… ah Daffa memang membawa kebahagiaan di keluarga kami.
—–
Suatu hari Rahman minta izin Alia akan pergi ke Surabaya… ia akan berada di sana selama tiga hari untuk urusan dagang. Sebelum ia berangkat ia mengecup kening istrinya dan mencium anaknya.
Dan itulah kecupan terakhir kepada Alia karna sejak saat itu Rahman tidak pernah pulang. Entah apa yang telah terjadi terhadap Rahman yang telah selama tiga tahun ini menjadi suaminya. Alia sudah menanyakan kepada teman teman Rahman pada saat pengajian akbar. Semua teman teman Rahman hadir hanya suaminya itu yang tidak ada. Mereka hanya menjawab tidak tahu. Selebihnya Alia hanya menemukan mereka saliang memandang dengan seribu pertanyaan.
Wak Dullah pun sebagai paman Rahman tak mengerti mengapa keponakannya itu pergi begitu saja meninggalkan keluarganya. Sambil berjalan Alia memikirkan nasibnya saat ini… apakah ini akhir dari dari keberadaan Rahman di tengah tengah kehidupannya?… apakah ia memang sudah merencanakan akan meninggalkannya?.. Alia mengakui bahwa ia telah menyimpan benih benih cintanya kepada Rahman … Ia telah memutuskan akan berusaha melupakan masa lalunya dan menerima Rahman dengan tulus, namun belum sempat semua itu diungkapkan Rahman justru meninggalkannya.
-----
“ Nama lengkap suami mbak…..”
“ Rahman Hidayat….”
“ Alamat…. “
“ Desa Sumber Agung..”
“ Ada foto yang bisa kami lihat….”
Alia menyerahkan selembar foto Rahman kepada petugas kepolisian. Sejenak Polisi wanita yang menuliskan laporan kehilangan mengamati foto yang diserahkan Alia. Tiba tiba ia berdiri dan berjalan menuju sebuah ruangan. Beberapa saat Alia menunggu sambil menenangkan Daffa, anaknya yang berusia dua tahun itu mendadak agak rewel, sampai polisi wanita tadi mempersilahkan Alia bertemu dengan Komadannya.
“ Silahkan duduk……”
Alia berdiri terpaku di depan pintu…. Randu…. Suaranya pelan namun karna ruangan itu sangat hening
Komisaris Polisi itu mendengar suara Alia. Ia mengangkat wajahnya…. Sejenak ia terpana…. Alia…. Ia
segera berdiri dan mempersilahkan Alia duduk lalu menutup pintu.
“ Jadi kamu tidak pernah mengugurkan kandungan itu?.. Dan Daffa itu anakku, Alia….” Mata Randu tajam memandang Daffa… Alia tidak mampu mengartikan tatapan mata Randu.. entahlah..
“ Bukan.. ini anakku… “ Tentu saja Randu tidak mempercayai kalimat Alia. Karna begitu melihat anak laki laki berusia dua tahun dalam gendongan Alia dada Randu bergetar, seperti ada suatu ikatan bathin yang tak mampu ia terjemahkan. Alia pun belum bisa menenangkan perasaannya. Sebagai gadis desa yang lugu ia belum biasa menghadapi situasi seperti ini. Apalagi hatinya masih saja berkata bahwa ia masih mencintai Randu meski Randu telah mencampakkannya tiga tahun yang lalu.
“ Ehm….. Rahman Hidayat adalah tersangka otak pelaku bom bunuh diri di Surabaya seminggu yang lalu. Dari ciri ciri fisik sepertinya suamimu itu termasuk dalam DPO yang telah kami curigai sejak dua tahun yang lalu. Namun Rahman Hidayat atau Darman atau beberapa nama lain yang ia gunakan akhirnya kami temukan di daerah Madiun dan ehm… maaf ia telah meninggal karna tertembak saat terjadi baku tembak dengan aparat lima hari yang lalu.. dan mayatnya di kuburkan di……..”
Alia hampir terjatuh kalau Randu tidak sigap menangkap dan menyelamatkan Daffa yang lepas dari gendongannya, dan Aliapun pingsan dalam dekapan Randu. Dengan bantuan beberapa polwan Alia di biarkan beristirahat di asrama polwan, tak jauh dari kantor polisi tersebut. Saat telinganya menangkap seseorang sedang bercanda dengan Daffa ia segera bangkit dan berjalan menuju ruang tamu.
“ Oh.. kamu sudah baikan Alia…” Randu terlihat sangat luwes menggendong Daffa…ya Tuhan.. mata mereka sama… Alia segera meraih Daffa dan berniat akan pergi dari asrama itu. Namun seorang Polwan yang juga berada di tempat itu mencegahnya.
“ Ibu kami mohon tinggal sebentar untuk dimintai keterangan…” dengan sebuah kode Randu mengisyaratkan Polwan tersebut untuk meninggalkan ruangan.
“ Alia… saya minta maaf jika saya pernah bersalah menyakitimu… namun saat ini saya mohon kerjasamamu untuk menguak kasus terroris yang diketuai oleh suamimu karna sebagian anggota jaringan masih berkeliaran..” Randu mengamati wajah polos yang dulu sangat dekat dengannya. Sayang waktu itu ia masih terlalu muda dan karriernya baru saja dimulai.
“ Baik, tapi hari ini saya harus pulang.. karna saya tidak mungkin membawa Daffa seharian di kator polisi, kasihan anak saya terlalu capek.. besok saya akan kembali lagi..” Randu mendengar jawaban Alia sedikit ketus. Ia memaklumi pasti Alia sangat membencinya saat ini.
“ Baiklah… perlu saya antar?…” Randu menawarkan untuk mengantar namun ia yakin Alia pasti menolaknya.
“ Terima kasih… saya naik bus saja….” Alia segera beranjak dari ruangan dan tanpa sepatah katapun meninggalkan Randu dengan berbagai pikiran berkecambuk di kepalanya.
—–
Walau hatinya hancur berkeping keeping Alia tetap berusaha kuat. Di rumah ia mengadakan pengajian yang ditujukan kepada suaminya agar arwahnya tenang di alam sana.
Keterangan Alia sangat membantu pihak kepolisian dan menghasilkan tertangkapnya jaringan terroris yang sebagian adalah teman teman Rahman yang dulu ketika ia tanyai keberadaan suaminya menjawab tidak tahu.
Sampai
saat inipun Alia masih bingung dengan keadaan .. ia sangat menghormati
Rahman dengan kesholehannya, kesahajaan dan kesabarannya menghadapi
dirinya selama tinggal bersama. Tak pernah sedetikpun Rahman
menyakitinya justru ia selalu berusaha membahagiakannya. Namun sungguh
riskan akhir hidupnya, tertembak ketika akan melarikan diri karna
terlibat jaringan terroris…..
Dan Randu.. seorang perwira polisi yang disegani karna mampu membongkar salah satu kasus terrorisme di negri ini, namun lihatlah perilakunya yang menyakitkan hatinya.. merayunya dengan sejuta kata kata cinta dan setelah mendapatkan yang ia inginkan dengan entengnya menyerahkan sejumlah uang untuk menggugurkan kandungan…. Apakah itu bukan kejahatan……
—–
Enam bulan berlalu…. Kembali Alia merenung diri… Sungai di tepi hutan kembali menjadi saksi hidupnya. Burung burung kembali ia amati ketika mencari ikan ikan dari sungai… hidup ini memang harus terus dihadapi.. seperti burung burung itu tetap berkeliaran di sekitar sungai… semilir angin sore menerbangkan daun daun dari hutan yang menerpa wajahnya.
Alia tak mau terlena dengan kejadian yang baru saja menimpanya.. ia berjanji tetap menyayangi Daffa sepenuh hati, ia akan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, biarlah untuk sementara Daffa dititipkan ibunya. Ia berjanji akan tetap menghormati Rahman mantan suaminya sebagai apapun dia, bahkan terroris sekalipun, selama tinggal bersama, Rahman sangat menyayanginya. Ia selalu mengajarkan kebaikan dan prilaku yang sangat terpuji. Dan Randu….
“ Alia……….” Randu berjalan mendekatinya. Dengan gerakan sigap laki laki itu duduk di sebelahnya.
“ Darimana kamu tau…………..” Randu menutup mulut Alia dengan jarinya.
“ Sekali lagi kuulangi permintaan maafku……. Maukah kamu menerima maafku Alia??”
Suara kepakan sayap burung burung hutan semakin menambah galau hati Alia…. Ia hanya mampu terpana……. Memandang mata elang bercahaya… Angin sore kembali berhembus lembut menyentuh kalbu dan membiarkan dua insan yang duduk di atas batu di tepi sungai itu saling memandang…………..…………………………….. (end)

No comments:
Post a Comment