Thursday, April 4, 2013

The signs.....




The signs…
Bagian 1

Cooper Coast, Australia Barat
Sebuah tempat yang subur, pohon-pohon tumbuh berdaun lebat dan rimbun dan sungai lebar dan jernih, udara terasa sejuk menerpa wajah ketika jendela kaca kubuka. Setelah menempuh perjalanan beberapa  waktu, akhirnya sampai juga ke kota ini. Udara sedikit lembab namun cukup nyaman.

Sepanjang jalan menuju Pert, views di kanan kiri sungguh membuat pandangan mata menyenangkan. Ladang sayur-mayur terhampar  dan wangi segar merasuk ke dalam rongga pernafasan. Jalan ring road yang tidak terlalu padat membuat fikiran melayang-layang bagai masuk ke sebuah dunia yang hilang.

Apa sebenarnya yang ku cari di sini? Peter berkata pada dirinya sendiri. setelah menerima surat-surat Jonah yang telah memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang merupakan pilihan orang tuanya, Peter belum pernah bertemu dengannya face-to-face tetapi orang itu mampu membuat Jonah memalingkan muka dan merubah seluruh hidupnya.
 
Peter berhenti di Pert menunggu beberapa jam di pelabuhan, kapal dijadwalkan akan  terlambat, dan ia bertanya-tanya seperti apa  rekan kerja barunya. Orang sering tidak seperti surat mereka.
Ia sudah membaca setiap e-mail beberapa minggu ini, lebih dari sekali. Namun tetap saja ia tidak bisa menebak seperti apa rekan kerjanya. Kontrak kerja selama dua tahun ini akan segera berjalan seiring waktu ia juga berharap bahwa kenangan bersama Jonah segera menghilang.

“Azale… nice to meet you..” ternyata dia adalah seorang wanita bertubuh tinggi besar. Wajahnya oval dan bermata biru tua. Tidak terlalu cantik tetapi senyumnya cukup ramah. Azale memang terlihat terlalu macho untuk ukuran seorang wanita lajang berusia 28 tahun.

“Hi, Mr. Haddy…” Ia tersenyum.

Mereka segera berkemas melanjutkan perjalanan ke Cooper Coast, sebuah lokasi terpencil di barat Australia. Sebuah tambang berlian menunggu tangan mereka mengolah kekayaan dari dalam bumi itu menjadi produk yang beromzet fantastic! atau sebuah tempat untuk sekedar mengusir kesedihan hati Peter?  bahkan sebuah tempat untuk membuang bayang-bayang Jonah dari hidupnya?

Peter mendesah, tidak ada pohon sama sekali dalam beberapa mil perjalanan mereka menuju Cooper Coast, bahkan semak-semakpun terlihat tidak bisa memberi keteduhan yang layak, . laki-laki berusia 30 tahun itu bergumam dalam hati..Ya Tuhan ini adalah negara yang besar, dan tandus… dan masa depan yang akan ia jalani adalah pelarian. Peter semakin tenggelam dalam lamunan sampai ia tak menghiraukan Azale yang terlihat gelisah di sampingnya karena mereka  nyaris tidak berbicara sepatah katapun sejak beberapa jam yang lalu.

“Azale…. Kamu berasal dari mana?” Peter berusaha mencairkan suasana.

“Ayahku berasal dari Kupang dan ibuku asli Torres vedras Portugal. Kami telah tinggal di Dili selama 10 tahun. Dan cukup panggil nama saya Zale… ” Azale ternyata seorang wanita yang cukup terbuka.

“Ok, Zale… sebuah tantangan bagi seorang wanita bekerja di tempat terpencil, bukan?”

“No… aku sudah terbiasa bekerja di pertambangan di Wamena  Papua.. medannya lebih berat di sana, kok”

“Great!... kalau begitu kita akan bekerja sama dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana dengan keluargamu?”

“No problem, Mr. Haddy… aku meninggalkan perkawinnku yang porak-poranda dua tahun yang lalu… dan saat itu dimulai petualanganku.. menyendiri… menikmati kebebasanku.. dan menyusun kembali rencana buat masa depanku.. itu curhat yang panjang ya…hahaha”

“Hahaha… It’s ok. Aku juga sedang berusaha meyakinkan bahwa kebebasan itu indah… ini adalah sebuah permulaan… dan paggil saya Peter saja”

“Oh.. maaf… kamu sedang patah hati rupanya… “

“Hmmmm…. Tidak hanya patah tetapi hancur lebur, aku berharap Cooper Coast mampu mengubur kenangan itu”

“Percayalah, Peter… kamu akan menemukan dirimu bertahan dalam kesendirian.. aku sudah merasakannya…”

“Benarkah?.... semoga saja”

Pertambangan berlian ini berkembang, booming, dan banyak orang-orang baru berdatangan. Mereka datang tepat pada waktunya. Dalam tempo beberapa bulan saja Peter merasakan hidupnya semakin menyenangkan. Sebuah kemajuan cukup cerdas untuk membawa duka ke dalam kesibukan bekerja.

Sebuah apartemen dekat pantai yang ia tempati menyajikan pemandangan laut setiap kali Peter pulang dari kantor dengan badan lelah. Laut yang terpajang di depan mata membuat badannya seolah menjadi segar kembali. Hidup ini, sejak Jonah meninggalkannya ternyata tak seburuk yang ia sangka. Zale benar… kebebasan saat ini sedang ia nikmati.

Akhir minggu ini Peter berjanji kepada Zale untuk menghabiskan malam di Log Café. Setelah bekerja selama empat bulan ternyata mereka tidak sering bertemu di perusahaan yang sangat besar ini. Hanya beberapa kali berhubungan via telepon dan sore tadi sebelum keluar dari shelter Peter bertemu wanita berkulit coklat mengkilat itu bersama Mr. Robert Taylor General manager sekaligus pemilik pertambangan ini. Zale terlihat lebih cantik dengan blazer biru dan rambut hitamnya yang terurai. Wanita itu tidak seperti  yang terlihat saat pertama kali mereka bertemu , Zale hanya bercelana sebatas lutut, T-sirt dan sepatu boot dengan rambut di ikat seadanya.

“Hai Zale... maaf menunggu” Peter segera duduk tepat di hadapan Zale. Suasana Café agak ramai tetapi mereka tidak benar-benar terganggu dengan suasana itu. 

“Kamu terlihat semakin baik, Peter…” Zale tersenyum sambil menyodorkan kaleng minuman.

“Begitulah… aku menikmati kebebasan yang pernah kamu katakan”

“Oh ya…. Aku siap mendengarnya”

“Sejak Jonas memilih menikah dengan pilihan orang tuanya di Jakarta, aku berusaha tetap tegar. Namun hidup setelah pernikahannya ternyata membuat hatiku semakin hancur saja, apalagi kami bekerja di perusahaan yang sama. Maka setelah mendengar ada  lowongan di Kalgoorlie Coast Diamond and Co, aku segera menentukan pilihan.”

“Mungkin Jonas punya pertimbangan tertentu, sehingga ia memutuskan menikah dengan orang lain.. emm.. kalian berbeda keyakinan barangkali?”

“Bukan.. kami justru memiliki kesamaan yang signifikan..kami saling mencintai dan pada akhirnya kami memang di takdirkan harus bersanding dengan orang lain.. itu takdir kami” mata Peter menerawang jauh. Zale melihat kepedihan itu..

“Maafkan aku.. tidak bermaksud membuatmu bersedih”

“Aku tidak bersedih Zale.. aku justru ingin segera melepaskan ikatan rasa itu dan mencoba keberuntunganku dengan orang lain, seperti Jonas juga telah memilih orang lain menjadi pendamping hidupnya”

“Maksudnya?” mata Zale menatap Peter lebih tajam. Ia benar-benar bingung dengan ucapan Peter. Bagaimana mungkin mencintai seseorang tetapi membiarkannya bersanding dengan orang lain?

“Jonas adalah cinta pertamaku.. ia seorang pria… kami adalah pasangan gay” Peter menghela nafas setelah mengucapkan kalimat tersebut. Ia melihat Zale diam  tak bereaksi.

“ Oh… pilihan hidup yang cukup berat dan sulit ya…” Zale seperti bergumam kepada dirinya sendiri, lalu menghabiskan minumannya dan berdiri memandang cahaya bulan  terpantul di lautan yang tenang dari beranda Café tepat  di samping meja mereka.

*****

…..Peter… kamu mau makan malam di apartemenku? Hari ini aku membuat roasted chicken…. sms dari Zale baru ia baca beberapa jam kemudian. Peter begitu sibuk di lapangan akhir-akhir ini sehingga ia sering tidak membawa selular karena selain signal yang sering terganggu ia sudah memiliki walkie talkie untuk berkomunikasi di sekitar pertambangan yang terpasang langsung di helmet di kepalanya.

Peter memasuki aparteman Zale. Terus terang setelah satu tahun berada di Negara ini baru pertama kali ini ia berkunjung ke tempat tinggal wanita keturunan portugis ini. Ruangan yang sangat rapi dan minimalis menandakan Zale adalah pribadi yang simple dan cerdas. Jendela yang dibiarkan terbuka lebar itu artinya pemiliknya juga memiliki hati yang terbuka. Hmmm… bau wangi panggangan menusuk hidung Peter  dan lambungnya berbunyi dan  memang belum di isi sejak tadi siang.

“Zale….” Peter mencari-cari sang pemilik aparteman.

“Aku di dapur… tunggu sebentar ya” suara Zale terdengar di antara berisik suara sesuatu di masak.

Peter melangkah ke arah suara itu. Zale terlihat sedang sibuk dengan masakannya.

“Butuh bantuan?”

“Oh, Peter… tolong ambilkan telur di lemari es, do you mind?

“Ok… berapa butir?”

“Tiga…”

Mereka segera asik menyelesaikan masakan untuk makan malam ini. Zale ternyata sangat cekatan dengan kegiatan di dapur. Peter yang sebelumnya tidak pernah menyukai memasak terlihat kaku dan beberapa kali hampir membuat kesalahan tetapi Zale hanya tertawa dan dengan sigap ia segera membereskannya. Beberapa saat kemudian mereka sudah berhadapan dengan sebuah ayam panggang , sepiring omelette, semangkuk soup jamur dan sayur dan sebotol besar orang juice.

Sejak saat itu Peter sering menghabiskan makan malam berdua dengan Zale. Zale mengajarkan berbagai hal dan cara memasak dengan sangat menyenangkan. Peter merasa amazing dengan cara Zale memasak.

“Nah, kali ini kamu masak sendiri ya,aku akan ke salon Nancy, ada appointment untuk hair spa sore ini. Sayurannya ada di meja, dan ikan tuna ada di frezzer, masak yang enak ya Peter..  good luck!” Zale terlihat terburu-buru meninggalkan apartemennya. Sementara Peter hanya bisa pasrah memasak sendiri.

Tepat jam 08:00 malam, Peter sudah merapikan dapur dan meletakkan makanan di atas meja. Ting tong…. Zale kembali dari salon dan Peter melihat mata Zale berbinar memandang dapur yang bersih dan makanan sudah siap di meja.

“Good job,Peter..  aku sudah tidak sabar ingin mencicipi masakanmu” Zale terlihat excited… ia segera menuju ke kamar melepaskan jaket dan segera kembali duduk di hadapan Peter.

“Bagaimana?” Peter terlihat agak tegang.. namun Zale tidak segera berbicara. Ia masih mengunyah makanannya. Ia memejamkan mata…….  Lalu membukanya kembali…

“Enak…. Banget!!!!” senyum manis Zale membuat Peter lega. Huft…

Mereka segera menghabiskan makan malam istimewa lalu mencuci piring dan meletakkan kembali ke dalam almari. Malam itu Zale memutar Twilight saga… Peter tidak terlalu suka film tersebut, jujur saja ia justru lebih asik memperhatikan Zale yang dengan santainya hanya mengenakan celana pendek dan tank top ketat sehingga terlihat sangat sexy.. ah.. Peter menggelengkan kepalanya. Bahkan Zale terlihat tidak sungkan saat melepas jaket, blouse dan  mengganti pakaiannya di dalam kamar dengan pintu terbuka. Peter dapat dengan jelas melihat tubuh indah wanita yang hanya mengenakan underwear saja.. 

Zale sepertinya memang asik melihat film di televisi, namun sebenarnya ia menyadari bahwa Peter sedang memperhatikan dirinya, namun ia merasa Peter hanya sekedar memandangnya. Bukannkah ia seorang gay? Jadi Zale merasa ia tidak perlu khawatir akan terjadi apa-apa antara Peter dan dirinya. Meski sebenarnya secara fisik ia tidak menampik, bahwa Peter sangat menarik di matanya.

Zale mengambil bantal dan merebahkan tubuhnya di samping Peter. Peter hanya membisu, dan tak berapa lama Zale pun tertidur.  Peter memandang wajah Zale lebih dalam.. ia menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajah Zale.. ah.. mengapa semakin hari ia semakin menyukai wanita ini? Apa arti semua ini? Bukankah ia seorang gay? Mengapa setelah lebih dari satu tahun tiba-tiba ia mempunyai ketertarikan secara fisik terhadap Zale? Melihat tubuh setengah telanjang wanita ini membuat dadanya berdebar kencang. Ia ingin memeluk.. meraba dan mencium Zale saat itu… aaaaggghhhhh…..

“Peter!!!” Zale terbangun dari tudurnya… matanya menatap Peter dengan tajam.

“Maafkan aku, Zale…”

“Ada apa, Peter?... kamu terlihat gugup?”

“Aku…. Ah… maaf… tidak sengaja mencium bibirmu.. sumpah.. aku tidak sengaja..”

“Peter… apa yang kamu rasakan? Kamu merasa bergairah denganku?” tangan Zale meraih wajah Peter… mata mereka saling memandang… tubuh mereka saling merapat dan bersentuhan…

“Ya, Zale… aku merasakan sesuatu di dalam dadaku saat menyentuh tubuhmu” Peter semakin merapatkan pelukan dan berbisik di telinga Zale. Dalam beberpa detik bibir mereka bertemu dan memainkan sentuhan dengan sejuta sensasi rasa… ahh.. Zale memejamkan mata menikmati permainan ciuman…

Buuukkk….. sesuatu menimpa wajah Peter.. ia membuka mata… Zale!!!!

“Aduh.. maaf  Peter…  tidak sengaja..” Zale duduk di sofa menyadari tangannya menimpa wajah Peter yang juga terlelap di sampingnya…uuuhhh….. Peter menghela nafas.. ternyata ciuman tadi hanya mimpi.

“Jam berapa ini, aku harus pulang…” Peter melihat jam di pergelangan tanganya. Ternyata sudah jam 12:00 malam.

“Sudah midnight… kamu tidur di sini saja… besok pagi baru pulang, ok!”

Ah.. tentu saja Zale merasa nyaman dengan status gay itu. Peter sebenarnya juga sangat mengantuk, namun hatinya merasa tidak tenang dengan situasi ini. Ia sangat bergairah dengan Zale… sementara wanita itu menanggap dirinya adalah seorang gay yang tidak akan pernah tertarik dengannya. Oh my God!!!

“Peter… ini bantal dan selimut… kamu bisa tidur di sofa ini” Zale meletakkan bantal dan selimut tebal di sofa. Saat itulah Peter melihat dengan jelas dua bukit kembar milik Zale sangat menggairahkan. Wanita itu segera berlalu…..

“Zale…” Peter meraih tangan wanita itu. Sekarang atau tidak sama sekali!… bathin Peter.

“Ada apa, Peter?” Zale terlihat agak gugup dan itu merupakan kesempatan bagi Peter. Ia segera berdiri dan meraih tubuh Zale mendekat. Meski terkejut namun Zale seperti sudah memahami arti gerakan Peter.. ia tersenyum dan…

“Peter… ada sesuatu yang ingin kamu katakan?” tangan Zale melingkar di leher Peter.. membelai.. meremas rambutnya dan…. Mereka benar-benar berciuman malam itu…..

No comments:

Post a Comment