Wednesday, April 17, 2013

The signs... [2]



The signs….
Bagian 2


Lembang, Bandung Indonesia  
Green… Aku rindu warna hijau. Hijau pohon, semak-semak putri malu, cemara jari yang daunnya berguguran menerpa wajahku dan dengan air hujan yang berkilau dengan ciuman pagi. Ah… tidak ada ciuman hangat di pagi hari atau embun itu lagi di sini karena di tempat ini, dingin dan beku,
“Seperti bulan tak bernyawa, setelah kecelakaan itu”, kami tidak pernah memiliki bulan madu lagi,  " Dia seperti bukan dirinya,  dan dia bukan orang yang mengirimkan surat-surat yang membawa kamu ke sini, tapi ... tapi, aku….." Keiva berjalan ke sebuah ruangan bernuansa ungu dan putih… ada beberapa rangkaian anggrek ungu menghiasi sudut-sudut ruangan.. indah dan bersih.. namun Peter yang mengikuti langkah Keiva tak merasakan keindahan itu.
“Lalu apa maksud mengundangku kemari?” Peter hampir tidak percaya bahwa kepulangannya ke Indonesia di sambut dengan berita kehancuran hidup Jonas yang mengalami kecelakaan setahun yang lalu. Maka ketika Keiva, istri Jonas menghubunginya dan memintanya untuk segera datang, Peter tak bisa menolak meski hidupnya telah berubah sejak bertemu Zale. Ah… baru dua hari ia begitu merindukan wanita itu.
“Aku hanya minta sedikit waktumu, kalian dulu bersahabat erat, bukan?” Keiva berhenti sejenak dan membiarkan Peter melihat di taman yang menghadap kolam. Seorang pria duduk di kursi roda membawa gitar, namun tangan dan pandangan matanya tidak berada pada gitar yang dipegangnya.. bahkan tak sedetikpun ia memainkannya. Mata itu menerawang jauh….
“Jonas..” Peter berbisik resah..
“Ia sangat menderita dengan keadaannya.. saya sudah berusaha kemana-mana untuk mengembalikan Jonas seperti dulu.. namun sepertinya ia sudah tidak memiliki semangat hidup lagi…” Keiva berkata seolah merenungi nasibnya.
Dan dua minggu ini Keiva bisa sedikit lega, Jonas sudah mulai memetik gitarnya.. tersenyum dan berbicara. Keiva tak menampik bahwa Jonas dan Peter sangat dekat bahkan ia merasa mereka seperti sepasang kekasih..ah.. ada sedikit tanya di hatinya melihat keakraban mereka berdua.
“Sore itu Keiva sengaja tidak ikut menemani mereka di teras, namun ia sempat mendengar percakapan mereka…..
“Aku akan segera kembali, Joe…. Kamu harus tetap baik-baik saja… Keiva sangat mencintaimu” Peter memegang pundak Jonas.
“Thank’s Pete… aku akan baik-baik sampai kamu kembali lagi…” dari balik jendela Keiva melihat senyum Jonas begitu sulit diartikan.
“Maksudku…. Aku mungkin agak lama di sana.. mungkin aku memutuskan untuk tidak kembali…” Peter berkata pelan dan menekan suaranya. Ia khawatir Jonas akan bereaksi…
“Ah… kamu sudah mempunyai kehidupan sendiri, bukan?... maaf aku lupa..” Jonas tersenyum, tetapi sekali lagi Keiva melihat senyum itu mengandung kekecewaan.
“Kamu akan bahagia bersama Kei….” Peter masih berusaha untuk tidak membuat Jonas down.
“Aku akan baik-baik saja… percayalah… ehmm.. kalau boleh aku tahu, siapa dia, Pete?” Peter benar-benar terkejut dengan pertanyaan Jonas kali ini. Sungguh… ia tidak ingin Jonas mengetahui tentang hidupnya dan tentang Zale....
“Aku tidak dengan siapa-siapa, Joe… percayalah… aku akan selalu mendo’akan kamu bahagia…” Peter terpaksa berbohong.
“Ah… aku bahagia jika kamu berada di sini..” Jonas berguman namun cukup jelas di telinga Keiva yang membuat badannya gemetar.. apakah mereka itu seperti yang ia fikirkan?... mereka bukan saja bersahabat… lebih dari itu mereka adalah sepasang kekasih?...oh Tuhan…  Keiva segera meninggalkan jendela dan masuk ke dalam kamarnya.

*****
Setelah kepergian Peter kembali ke Australia, Keiva melihat suaminya Jonas berubah.  Jonas terlihat mulai bersemangat dengan terapi hingga akhirnya setelah enam bulan berlalu Jonas benar-benar pulih meski kakinya masih perlu pengobatan dan mulai melakukan kegiatan seperti semula.
Keiva sebenarnya merasa gembira dengan kemajuan Jonas, namun dalam hatinya ia selalu bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat Jonas berubah drastis dan bersemangat? Peterkah penyebabnya? Keiva masih menyimpan di dalam otaknya percakapan suaminya dan Peter di teras dan kesimpulannya dengan kedekatan mereka. Ia sama sekali tidak ingin membahas hal tersebut dengan Jonas. Ia harus tetap fokus terhadap impiannya semenjak menikah dengan Jonas.
Keiva bukan wanita yang lemah.. ia adalah jiwa yang kuat dan memiliki impian dan akan bekerja keras untuk meraih keinginannya. Ia telah sukses berusaha sekuat tenaga membuat Jonas bertekuk lutut dan mengemis cinta kepadanya saat pertama berjumpa tiga tahun yang lalu. Namun sekarang ia harus berusaha lebih keras untuk mengikat hati Jonas agar tidak berpaling kepada orang lain, terutama Peter…
“Sudah di coba… hasilnya gimana?” Sandy tersenyum
“Hahaha…. okeee…tunggu aja dalam waktu dekat” Keiva mengedipkan sebelah matanya.
“Maksudmu?”
“Hummm…. Apa lagi, sayang… setelah semua harta keluarga Pramudya menjadi milik Jonas, anak satu-satunya otomatis menjadi milik aku juga. Tetapi aku masih belum bisa menyingkirkan Jonas sebelum kepemilikan semua kekayaan menjadi atas nama Keiva Amara Prasetya…. “
“Hmmm… kecelakaan yang kamu rekayasa dua tahun yang lalu bukan?.... kamu memang cerdas, Kei..”
“ Perusahaan  dan aset kekayaan yang jumlahnya puluhan milyar  itu sebentar lagi menjadi milikku.. aku lelah menemani pesakitan itu selama ini.. kini setelah ia melihat sendiri kesetiaanku menemaninya saat ia sakit… akhirnya Jonas si bodoh itu akan menyerahkan kekayaannya padaku…” Keiva merebahkan tubuhnya di ranjang dan matanya menerawang membayangkan sesuatu…
“Ahhh…. aku dapat apa?” Sandy menjatuhkan tubuhnya di sebelah Keiva.
“Kamu dapat hatiku, sayang….”
“Benarkah… bagaimana kalau sekarang saja kuambil hatimu?” Sandi sudah berbalik memeluk Keiva… menciumi rambut wangi wanita di sampingnya.
“Ah..  bersabarlah sayang… sampai aku menendang Jonas keluar dari kehidupanku… dan kita akan bersama selamanya….” Mereka tertawa dan tentu saja setelah bercinta wanita cantik itu segera berkemas kembali ke rumah… menjalani kehidupannya dengan Jonas.

*****

“Ah… kamu bisa memegang kata-kataku, Jo… semua pasti akan beres” Keiva tersenyum sambil mengangkat rambutnya. Ia terlihat sexy malam itu di mata Jonas. Lingerie biru yang sangat tipis menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah membuat dada Jonas berdebar-debar.
“Sungguh?... bagaimana jika besok kita ke kantor pak Sandy.. kita konsultasikan alih nama atas nama ayahku kepadamu..” Jo berkata sambil meraih tubuh Keiva dalam pelukannya.
“Hmmm…. Bagaimana jika malam ini…” Keiva sengaja menggantung kalimatnya dan tersenyum menggoda suaminya.
“Malam ini? Ini sudah jam 10:00, apa nggak lebih baik besok saja.. kamu kelihatannya sudah tidak sabar, Kei…” Jonas benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam otak Keiva.
“Hahaha….. iya sayang… memang aku sudah tidak sabar… dan malam ini aku tidak ingin pergi menemui pengacara itu… tapi kita akan pergi ke surgaaa…”
“Ahh.. bodohnya aku… tentu saja sayang….” Mereka segera melupakan dunia tempat berpijak.
Keiva begitu bahagia… penantiannya tidak sia-sia selama ini. Harta dan kekayaan Jonas yang menjadi incarannya selama ini telah menjadi miliknya. Maka ia tersenyum penuh arti kepada Pengacara Sandy yang juga kekasih gelapnya ketika mereka berjabat tangan setelah selesai pertemuan.
Jonas tidak menyadari bahwa hidupnya benar-benar berada di ujung tanduk. Ia telah masuk ke dalam jebakan Keiva yang beberapa minggu kemudian menerima akta kepemilikan semua aset dan kekayaan keluarga Jonas yang menjadi pewaris tunggal setelah kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil dua tahun yang lalu.  
Seharian ini Jonas melakukan terapi dengan kedua kakinya. Masih ada sedikit nyeri saat ia melangkah kaki menaiki tangga menuju ruangan utama di kantornya. Dokter menyarankan istirahat total selama beberapa minggu dan melakukan latihan ringan  untuk penyembuhan.
Jonas tidak merasa khawatir karena ada Keiva. Ia yakin istrinya itu mampu menjalankan roda perusahaan dengan baik. Tentu saja Keiva adalah lulusan Master of Business Administration dari universitas di Amerika. Tidaklah sulit baginya untuk melakukan pekerjaan ini.
Jonas baru saja meletakkan tubuhnya setelah melakukan latihan siang itu, ketika tiba-tiba telepon bordering……
“What!!!..... apa-apaan ini”
“Ok… kamu tenang dulu… nanti saya akan berbicara dengan istri saya”
Tiba-tiba saja kepala Jonas terasa pusing… Ia tidak mengerti mengapa Keiva memecat dua orang akuntan handal di perusahaannya tanpa di dasari alasan yang tepat. Bahkan sejak ayahnya masih hidup pak Jaya dan bu Melia sangat dipercaya karena selain mereka sangat pintar juga sangat loyal dan jujur.
“Sayang… aku tidak bodoh… aku punya alasan sendiri mengapa mengeluarkan mereka” Keiva tersenyum sambil menyisir rambutnya ketika malamnya Jonas menanyakan perihal pemecatan itu.
“Kalau boleh tahu, apa alasanmu?”
“Mereka terlalu tahu seluk beluk keuangan kita.. kamu tahu.. mereka mengumbar berapa dana pembelian mobil baru untukku, berapa uang yang aku pakai untuk membeli baju bahkan mereka menanyakan dana pengobatan untukmu… seharusnya itu semua bukan urusan mereka.. jangan-jangan mereka juga mencatat berapa uang yang aku keluarkan untuk membeli pembalut, lipstick dan bedak…”
Keiva benar juga… selama ini keluarga Jonas memang terlalu percaya kepada mereka namun karena keduanya adalah orang jujur jadi selama ini tidak ada masalah… wajar saja karena jika Keiva sebagai orang dari luar keluarga mereka merasa tidak nyaman.
Dan dari sinilah mulai awal malapetaka itu. Keiva semakin sibuk dan sering meninggalkan Jonas sendirian. Ia begitu berkuasa terhadap apa saja dalam kehidupan Jonas. Sedikit demi sedikit Keiva membuat hidup Jonas bagai di neraka. Jonas semakin tidak punya arah… ia tidak mampu bergerak karena Keiva dengan kekuasaannya mampu membuat Jonas tak berkutik
“Keterlaluan… apa sebenarnya yang terjadi, Kei?”
“Aku sangat sibuk sayang….”
“Tetapi tidak adakah waktu untuk aku?”
“Pergilah Jo… kemanapun kamu suka.. asal jangan menggagguku…”
“Kamu berubah, Kei… dimana kesetiaanmu dulu? Dimana Keiva yang penuh perhatian kepadaku?”
“Terserah apa saja yang ingin kamu katakan… “
Jonas memang menutuskan untuk pergi ketika akhirnya ia memergoki istrinya sedang bermesraan dengan pengacara keluarganya Sandy di sebuah villa. Jonas sangat kecewa dan menyadari kebodohannya. Ternyata Keiva adalah ular berbisa.
Keiva dengan senyum kemenangannya membiarkan laki-laki itu melangkah menuju bandara dengan kaki kanan yang terseok-seok karena belum sembuh benar. Ya… hanya dalam tempo beberapa bulan saja Keiva berhasil menyingkirkan Jonas dari hidupnya. Jonas pergi atas keinginannya sendiri.. namun itu semua memang sengaja dilakukan Keiva agar ia tidak terlihat terlalu jahat… hahahaha…. Keiva tertawa dalam hatinya.. selamat tinggal Jo…

No comments:

Post a Comment