Friday, February 1, 2013

Hall.........[part 2]





Baru beberapa menit Hall memasuki sel yang berupa sebuah kamar berukuran 3 x 4 dan dihuni oleh empat orang dengan sebuah kamar mandi kecil dan dua buah tempat tidur bertingkat di sisi kanan dan kiri. Di sebelah tempat tidur beralas matras keras itu terdapat dua buah almari kecil.  Seorang wanita menyambut kedatangannya. Salah seorang wanita yang berambut pirang memperkenalkan dirinya bernama May.. kasus hutang piutang mengirimnya ke penjara..matanya indah, bibirnya sensual dan suaranya yang serak-serak itu mencoba bersikap ramah kepadanya. Melia wanita berusia setengah baya yang  juga kelihatan bersikap baik kepadanya. Wanita yang dihukum karena kasus korupsi itu memintanya memanggil bunda… karena memang anaknya seusia dengan Hall. Masih ada seorang lagi namun May dan Bunda seperti menyembunyikan sesuatu. Dan Hall segera melupakan rentetan sidang yang melelahkan selama beberapa bulan. Mulai hari ini ia akan menghuni sel sempit ini selama hampir tiga tahun ke depan.

“Hall….” Wanita itu mengejutkan Hall dari mimpi buruknya.

“Ya… “ Hall melihat seorang wanita dengan rahang keras tanpa senyum di wajahnya. Hmm.. terlihat sedikit garang.. inikah yang dimaksud May dan bunda?

“Anak baru jangan manja lu…. Molor melulu… bersihkan kamar  dulu!!”

“Des… jangan terlalu keras kenapa?... :Bunda menepuk bahu wanita yang di sebut Des itu.

“Tapi anak baru memang tugasnya begitu khan Bund?”

“Iya, Bunda sudah beritahu dia tadi… sudahlah… “Bunda segera memperkenalkan Des kepada Hall. Dengan wajah masam Des mengulurkan tangan dan menjabat tangan Hall.

“Saya sudah tahu… akan saya bersihkan kamar ini..” Hall segera turun dari tempat tidurnya. Sekilas ia melihat mata Des memancarkan kilatan yang sulit dipahami. Hall merasa sedikit jangah dengan tatapan mata itu. Ia segera melupakan Des dan sibuk dengan pekerjaannya. Dalam setengah jam saja ruangan mereka sudah bersih dan wangi. Untung Hall selalu menyimpan pengharum ruangan di dalam boxnya sejak di tahan selama persidangan yang melelahkan.

Beberapa minggu Hall harus menghadapi sikap Des yang seolah mengintimidasinya. Untung Bunda selalu menjadi penengah. Namun hal itu tak berlangsung lama. Dua hari yang lalu mereka kehilangan sosok ibu yang penuh kasih sayang itu. Bunda mendapatkan remisi sehingga ia bisa bebas lebih cepat.

Tanpa kehadiran bunda Melia ruangan kecil itu menjadi sangat suram. Tidak ada canda tawa dan cerita yang terdengar dari wanita cerdas berusia 40 tahun itu. May terlihat lebih banyak diam dan membaca di perpustakaan LP sementara Des lebih banyak menghilang entah kemana. Ia hanya muncul pada sore hari saat semua penghuni LP memasuki ruangannya masing-masing.

Siang itu Hall tak menemukan siapa-siapa di kamar. Kesepian dan kejenuhan melanda dirinya. Ia mencoba membaca buku yang sudah berkali-kali ia baca.. bosan. Sementara sebagian besar warga LP tengah berbahagia menemui tamu yang mengunjungi mereka, Hall hanya mampu memandang iri ketika mereka memperlihatkan barang-barang baru pemberian tamu mereka.

Hall berbaring dan berusaha memejamkan matanya. Baru saja ia merasakan mengantuk, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara tangis dari tempat tidur di bawahnya… Des…

“Bajingan!.. “ Des mengumpat beberapa kalimat yang membuat telinga Hall gatal. Ia berusaha untuk tidak mendengarkan dan berusaha memejamkan matanya, namun tidak bisa. Hall hanya membolak-balikkan badannya.

“Apa hukuman yang paling tepat untuk seorang pengkhianat, Hall?” Sial…. Hall menggerutu dalam hati. Des tahu kalau ia tidak tidur.

“Pengkhianatan memang perbuatan tidak benar, namun sakit atau tidaknya tergantung sebesar apa kita mencintai orang tersebut”

“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu sangat mencintai orang tersebut?”

“Hmm… kamu sedang di khianati ya…”

“ Apa yang akan kamu lakukan, Hall?” suara Des terlihat agak meninggi.

“Biarkan cinta yang akan memilih, bukankah cinta tidak bisa dipaksakan?.....yang akan aku lakukan adalah meneruskan hidupku dan menemukan cinta yang baru..”

“Lalu bagaimana dengan sakit hati ini?”

“Akan berlalu seiring waktu, dan menguap setelah kamu menemukan cinta yang baru” Hall tersenyum… ia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan barusan. Ia tidak pernah jatuh cinta apalagi dikhianati. Cinta memang tidak pernah bersahabat dengan hatinya.

Sejak kecil ia tumbuh dan berkembang di sebuah panti asuhan. Sampai detik ini ia tidak pernah tahu siapa kedua orang tuanya.  Bekerja untuk membiayai sekolahnya sudah ia lakukan sejak ia berusia 12 tahun.

Berkenalan dengaan barang-barang haram sudah ia lakukan sejak usia belia dan dari pekerjaan gelapnya menjadi pengedar ia mampu membiayai hidupnya hingga tamat kuliah, membeli rumah, mobil dan membiayai sekolah adik-adiknya di panti asuhan.

Hall tidak pernah berfikir untuk jatuh cinta. Baginya semua manusia hanya membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Pelukan, ciuman dan kemesraannya terhadap beberapa orang pria hanya sebatas menarik mereka sebagai upaya menjaring pelanggan tetapnya.

“Kamu melamun ya….” Des duduk di hadapanya..  matanya sembab… ia menangis..!!!

“Ceritakan, Des….” Tanpa sadar tangan Hall meraih Des… mereka berpelukan.

“Kami sudah setahun menjalin hubungan, Dia pegawai LP wanita ini dan dia  selalu memberiku kemudahan dan fasilitas sehingga aku bisa pergi kemana-mana dengannya… termasuk menemaninya ke hotel. Namun tadi pagi tiba-tiba ia memutuskan hubungan kami dengan alasan keluarganya tidak setuju dengan hubungan kami… “ Des semakin terisak…

“Kalian sering ke hotel?” Hall bingung… hukum macam apa ini? Bagaimana mungkin seorang narapidana bisa bebas berkeliaran bahkan bercinta di hotel hanya karena menjalin hubungan dengan seorang karyawan LP???

“Pantas saja beberapa waktu yang lalu ia memaksaku menggugurkan kandungan yang berusia dua minggu… huh…. Ternyata ia tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya… dan yang lebih menyakitkan ia akan menikah dengan wanita lain dalam waktu dekat… sial.. ternyata selama ini dibelakangku dia juga menjalin hubungan dengan orang lain…”

“Ya Tuhan…. Des.. kamu pernah hamil?.... hmmmm….. bersabarlah… mungkin kalian tidak berjodoh…”

Sejak saat itu Des terlihat lebih kalem dan agak pendiam. Hubungannya dengan Hall juga semakin dekat. Bukannya tidak mendengar gossip bahwa keakraban mereka disalah artikan oleh teman-teman sebagai hubungan sesama jenis…. Hall seorang jiwa tanpa cinta tentu saja tidak memperdulikan gossip murahan tersebut.

Sampai ia benar-benar terkejut, sore itu hanya mereka berdua di dalam kamar, Des menarik tubuhnya ke dinding dan melingkarkan tangannya dengan erat di pinggang Hall yang merasa aneh dan sedikit bingung dengan tingkah Des.

“Aku mencintaimu, Hall… “ sejenak kemudian Des hendak mencium bibirnya… namun Hall segera berontak….

“Des…. Kamu gila!!!..... kita cuma bersahabat bukan…..” Hall sedikit panik karena rengkuhan tangan Des yang berbadan lebih tinggi itu semakin erat dan Hall tak mampu melepaskan dirinya.

“Aku memang mencintaimu, Hall…..” perlahan Des mencium  lehernya lalu melumat bibirnya…….. Hall tak mampu mengindar…..

“Maaf, Des… Aku nggak bisa….” Hall merintih di sela-sela serangan Des….

“Bukankah kamu sendiri yang mengatakan untuk membiarkan hati kita memilih?.... dan aku memilih mencintaimu…” Sekali lagi Des mencumbu Hall dengan nafas yang menderu…..

“Des… hentikaaaaannn…..!!!!” Hall meronta namun Des seperti sudah hilang kendali… Hall hanya pasrah dan memejamkan matanya……………….

Sampai detik-detik berikutnya ia merasa Des menjauh dari tubuhnya…. Huhhh….

“Jangan gila, Des…… dulu kamu memaksaku… sekarang kamu melakukannya lagi dengan Hall…..dasar kamu gilaaa…..” May menarik tangan Hall yang masih terengah-engah karena himpitan tubuh Des….

“Sial…… kalian memang tidak pernah bisa mengerti….” Des segera keluar kamar dengan membanting pintu. Des…. Ternyata memang sering mendekati wanita-wanita di LP ini dengan berbagai cara……..

*****

“Ada tamu mbak Hall….. ayo segera keluar…. Waktunya hampir habis…” seorang petugas memberitahu ketika sore itu Hall sedang sendiri di dalam kamar membaca buku... tamu???.... sudah hampir dua tahun Hall berada di sini baru sekali ini ia mendapat tamu….

“Selamat sore….” Kris tersenyum  menyapanya.

“Kris!!...... “ Hall tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Kris tidak sendiri, disebelahnya seorang wanita yang ia kenal… Asih…

“Jangan kaget Hall…. Saya sudah tahu semua dari kang Hans, kakak saya....”  Hall mengetahui akhirnya Kris dan asih akan menikah.. hmm.. syukurlah….

Sore itu Hall merasa sedikit lega, ternyata ia tidak sendiri di dunia ini, masih ada seorang sahabat yang mau mengunjunginya….

“Hall…..” sebuah suara memanggilnya ketika gadis itu hendak beranjak dari ruangan….

“Hans….. “

“Maaf… tadi sebenarnya saya ikut bersama Kris, tetapi ada keperluan di kantor sebentar….”

Hall merasa agak bingung menghadapi Hans yang juga kakak Kris… ia adalah polisi yang menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara ini… Hall tak memungkiri memang ia bersalah dan memang tugas Hans sebagai aparat menyeret semua orang yang melanggar hukum di Negara ini ke penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dan ini bukanlah kunjungan yang pertama…. Setelah sore itu hampir setiap minggu Hans mengunjunginya dengan berbagai alasan. Mulai dari membawakan buku-buku kesukaannya sampai pernyataan seputar perkembangan kasus yang telah membawanya ke penjara. Hans banyak memberi masukan kepada Hall untuk tidak lagi menyentuh barang-barang haram tersebut.

Dan hari itu tiba…. Hans adalah orang pertama yang menemui Hall sebelum ia keluar dari pintu gerbang kebebasan. Hall sendiri bingung harus kemana… ketika Hans yang akan mengantarnya bertanya….

“Kamu akan pulang kemana?” Hans memasukkan box milik Hall ke bagasi.

“Entahlah…..” Hall hanya duduk terdiam di dalam mobil.

Hans tidak mengatakan apa-apa namun ia tersenyum setelah seperempat jam mereka berada di jalan dan Hall menyadari bahwa mereka tidak menuju ke rumahnya dan berkata…

“Hans… kita kemana?”

“Saya akan membawamu ke suatu tempat yang mungkin bisa membuatmu tenang dan memikirkan langkah apa yang akan kamu lakukan….”

Satu jam kemudian mereka memasuki sebuah kawasan pedesaan dan berhenti di depan sebuah rumah sederhana namun terlihat bersih dan terawat. Hans menitipkan gadis itu kepada seorang wanita yang dipanggil Ummi. Seorang janda yang tinggal sendirian karena kedua anaknya telah menikah dan tinggal di luar jawa. Ummi terlihat ramah dan sangat sabar. Dari bahasanya Hall bisa menangkap kelembutan dari seorang wanita di hadapannya.

Selama seminggu Hall masih belum menentukan langkah apa yang akan ia pilih untuk meneruskan hidupnya. Ummi dengan sabar memberi motivasi kepada gadis itu untuk segera bangkit dan menentukan jalan hidupnya kembali.

Hans beberapa kali mengunjunginya dan berbicara tentang pekerjaannya dan sedikit menyinggung rencana Hall melanjutkan hidupnya.

“Bagaimana Hall…. Apakah kamu senang tinggal di rumah Ummi?”

“Ah… Ummi sangat baik padaku..”

“Anggaplah ia sebagai ibumu sendiri… hmm…. Bolehkah saya menanyakan sesuatu?” Hans terlihat sangat hati-hati.

“Ada apa?”

“Dimana orang tuamu?..”

“Aku tidak punya orang tua….” Hall sedikit ketus

“Maaf kalau tidak berkenan menjawab tidak apa-apa…”

“Mereka meninggalkanku di panti asuhan sejak aku masih bayi… jadi artinya aku ini tidak punya orang tua…”Mata Hall menerawang seakan membayangkan sesuatu.

“Jadi kamu tinggal seorang diri saja selama ini?”

“Tidak juga… banyak saudara-saudaraku di panti asuhan yang menjadi bagian dalam hidupku…” Mata Hall berkaca-kaca… tiba-tiba ia sangat merindukan mereka… entah bagaimana kabar saudara-saudaraya di panti sejak ia masuk penjara…

“Hall…. “ Hans menyerahkan sehelai saputangan.

“Besok saya akan mengantarmu ke tempat mereka… bagaimana?”

“Terima kasih, Hans….” Hall melihat ketulusan di mata laki-laki yang duduk di hadapannya itu. Entah apa yang harus dia lakukan untuk membalas perhatian dan kesabaran Hans terhadap dirinya yang bukan siapa-siapa. Hans tersenyum dan menepuk pundaknya.. hmm… ada kedamaian di dalamnya...... (bersambung)

2 comments:

  1. nulis sepanjang ini gak rmepong tuh jempol??

    wek wek wek

    ReplyDelete
  2. jemfol sih baik2 aja.... cuma korban dikit buat meni pedi... kuku pada brodoooll..hehehe

    ReplyDelete