Baru beberapa
menit Hall memasuki sel yang berupa sebuah kamar berukuran 3 x 4 dan dihuni
oleh empat orang dengan sebuah kamar mandi kecil dan dua buah tempat tidur
bertingkat di sisi kanan dan kiri. Di sebelah tempat tidur beralas matras keras
itu terdapat dua buah almari kecil.
Seorang wanita menyambut kedatangannya. Salah seorang wanita yang berambut
pirang memperkenalkan dirinya bernama May.. kasus hutang piutang mengirimnya ke
penjara..matanya indah, bibirnya sensual dan suaranya yang serak-serak itu
mencoba bersikap ramah kepadanya. Melia wanita berusia setengah baya yang juga kelihatan bersikap baik kepadanya.
Wanita yang dihukum karena kasus korupsi itu memintanya memanggil bunda… karena
memang anaknya seusia dengan Hall. Masih ada seorang lagi namun May dan Bunda
seperti menyembunyikan sesuatu. Dan Hall segera melupakan rentetan sidang yang
melelahkan selama beberapa bulan. Mulai hari ini ia akan menghuni sel sempit
ini selama hampir tiga tahun ke depan.
“Hall….” Wanita
itu mengejutkan Hall dari mimpi buruknya.
“Ya… “ Hall
melihat seorang wanita dengan rahang keras tanpa senyum di wajahnya. Hmm..
terlihat sedikit garang.. inikah yang dimaksud May dan bunda?
“Anak baru jangan
manja lu…. Molor melulu… bersihkan kamar
dulu!!”
“Des… jangan
terlalu keras kenapa?... :Bunda menepuk bahu wanita yang di sebut Des itu.
“Tapi anak baru
memang tugasnya begitu khan Bund?”
“Iya, Bunda sudah
beritahu dia tadi… sudahlah… “Bunda segera memperkenalkan Des kepada Hall.
Dengan wajah masam Des mengulurkan tangan dan menjabat tangan Hall.
“Saya sudah tahu…
akan saya bersihkan kamar ini..” Hall segera turun dari tempat tidurnya.
Sekilas ia melihat mata Des memancarkan kilatan yang sulit dipahami. Hall
merasa sedikit jangah dengan tatapan mata itu. Ia segera melupakan Des dan
sibuk dengan pekerjaannya. Dalam setengah jam saja ruangan mereka sudah bersih
dan wangi. Untung Hall selalu menyimpan pengharum ruangan di dalam boxnya sejak
di tahan selama persidangan yang melelahkan.
Beberapa minggu
Hall harus menghadapi sikap Des yang seolah mengintimidasinya. Untung Bunda
selalu menjadi penengah. Namun hal itu tak berlangsung lama. Dua hari yang lalu
mereka kehilangan sosok ibu yang penuh kasih sayang itu. Bunda mendapatkan
remisi sehingga ia bisa bebas lebih cepat.
Tanpa kehadiran
bunda Melia ruangan kecil itu menjadi sangat suram. Tidak ada canda tawa dan
cerita yang terdengar dari wanita cerdas berusia 40 tahun itu. May terlihat
lebih banyak diam dan membaca di perpustakaan LP sementara Des lebih banyak
menghilang entah kemana. Ia hanya muncul pada sore hari saat semua penghuni LP
memasuki ruangannya masing-masing.
Siang itu Hall
tak menemukan siapa-siapa di kamar. Kesepian dan kejenuhan melanda dirinya. Ia
mencoba membaca buku yang sudah berkali-kali ia baca.. bosan. Sementara
sebagian besar warga LP tengah berbahagia menemui tamu yang mengunjungi mereka,
Hall hanya mampu memandang iri ketika mereka memperlihatkan barang-barang baru
pemberian tamu mereka.
Hall berbaring
dan berusaha memejamkan matanya. Baru saja ia merasakan mengantuk, tiba-tiba ia
dikejutkan oleh suara tangis dari tempat tidur di bawahnya… Des…
“Bajingan!.. “
Des mengumpat beberapa kalimat yang membuat telinga Hall gatal. Ia berusaha untuk
tidak mendengarkan dan berusaha memejamkan matanya, namun tidak bisa. Hall
hanya membolak-balikkan badannya.
“Apa hukuman yang
paling tepat untuk seorang pengkhianat, Hall?” Sial…. Hall menggerutu dalam
hati. Des tahu kalau ia tidak tidur.
“Pengkhianatan
memang perbuatan tidak benar, namun sakit atau tidaknya tergantung sebesar apa kita
mencintai orang tersebut”
“Apa yang akan
kamu lakukan jika kamu sangat mencintai orang tersebut?”
“Hmm… kamu sedang
di khianati ya…”
“ Apa yang akan
kamu lakukan, Hall?” suara Des terlihat agak meninggi.
“Biarkan cinta
yang akan memilih, bukankah cinta tidak bisa dipaksakan?.....yang akan aku
lakukan adalah meneruskan hidupku dan menemukan cinta yang baru..”
“Lalu bagaimana
dengan sakit hati ini?”
“Akan berlalu
seiring waktu, dan menguap setelah kamu menemukan cinta yang baru” Hall
tersenyum… ia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan
barusan. Ia tidak pernah jatuh cinta apalagi dikhianati. Cinta memang tidak
pernah bersahabat dengan hatinya.
Sejak kecil ia
tumbuh dan berkembang di sebuah panti asuhan. Sampai detik ini ia tidak pernah
tahu siapa kedua orang tuanya. Bekerja
untuk membiayai sekolahnya sudah ia lakukan sejak ia berusia 12 tahun.
Berkenalan
dengaan barang-barang haram sudah ia lakukan sejak usia belia dan dari
pekerjaan gelapnya menjadi pengedar ia mampu membiayai hidupnya hingga tamat
kuliah, membeli rumah, mobil dan membiayai sekolah adik-adiknya di panti
asuhan.
Hall tidak pernah
berfikir untuk jatuh cinta. Baginya semua manusia hanya membutuhkan uang untuk
bertahan hidup. Pelukan, ciuman dan kemesraannya terhadap beberapa orang pria
hanya sebatas menarik mereka sebagai upaya menjaring pelanggan tetapnya.
“Kamu melamun
ya….” Des duduk di hadapanya.. matanya
sembab… ia menangis..!!!
“Ceritakan,
Des….” Tanpa sadar tangan Hall meraih Des… mereka berpelukan.
“Kami sudah
setahun menjalin hubungan, Dia pegawai LP wanita ini dan dia selalu memberiku kemudahan dan fasilitas
sehingga aku bisa pergi kemana-mana dengannya… termasuk menemaninya ke hotel.
Namun tadi pagi tiba-tiba ia memutuskan hubungan kami dengan alasan keluarganya
tidak setuju dengan hubungan kami… “ Des semakin terisak…
“Kalian sering ke
hotel?” Hall bingung… hukum macam apa ini? Bagaimana mungkin seorang narapidana
bisa bebas berkeliaran bahkan bercinta di hotel hanya karena menjalin hubungan
dengan seorang karyawan LP???
“Pantas saja
beberapa waktu yang lalu ia memaksaku menggugurkan kandungan yang berusia dua
minggu… huh…. Ternyata ia tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya… dan
yang lebih menyakitkan ia akan menikah dengan wanita lain dalam waktu dekat…
sial.. ternyata selama ini dibelakangku dia juga menjalin hubungan dengan orang
lain…”
“Ya Tuhan…. Des..
kamu pernah hamil?.... hmmmm….. bersabarlah… mungkin kalian tidak berjodoh…”
Sejak saat itu
Des terlihat lebih kalem dan agak pendiam. Hubungannya dengan Hall juga semakin
dekat. Bukannya tidak mendengar gossip bahwa keakraban mereka disalah artikan
oleh teman-teman sebagai hubungan sesama jenis…. Hall seorang jiwa tanpa cinta
tentu saja tidak memperdulikan gossip murahan tersebut.
Sampai ia
benar-benar terkejut, sore itu hanya mereka berdua di dalam kamar, Des menarik
tubuhnya ke dinding dan melingkarkan tangannya dengan erat di pinggang Hall
yang merasa aneh dan sedikit bingung dengan tingkah Des.
“Aku mencintaimu,
Hall… “ sejenak kemudian Des hendak mencium bibirnya… namun Hall segera
berontak….
“Des…. Kamu
gila!!!..... kita cuma bersahabat bukan…..” Hall sedikit panik karena rengkuhan
tangan Des yang berbadan lebih tinggi itu semakin erat dan Hall tak mampu
melepaskan dirinya.
“Aku memang
mencintaimu, Hall…..” perlahan Des mencium
lehernya lalu melumat bibirnya…….. Hall tak mampu mengindar…..
“Maaf, Des… Aku
nggak bisa….” Hall merintih di sela-sela serangan Des….
“Bukankah kamu
sendiri yang mengatakan untuk membiarkan hati kita memilih?.... dan aku memilih
mencintaimu…” Sekali lagi Des mencumbu Hall dengan nafas yang menderu…..
“Des…
hentikaaaaannn…..!!!!” Hall meronta namun Des seperti sudah hilang kendali…
Hall hanya pasrah dan memejamkan matanya……………….
Sampai
detik-detik berikutnya ia merasa Des menjauh dari tubuhnya…. Huhhh….
“Jangan gila, Des……
dulu kamu memaksaku… sekarang kamu melakukannya lagi dengan Hall…..dasar kamu
gilaaa…..” May menarik tangan Hall yang masih terengah-engah karena himpitan
tubuh Des….
“Sial…… kalian
memang tidak pernah bisa mengerti….” Des segera keluar kamar dengan membanting
pintu. Des…. Ternyata memang sering mendekati wanita-wanita di LP ini dengan
berbagai cara……..
*****
“Ada tamu mbak
Hall….. ayo segera keluar…. Waktunya hampir habis…” seorang petugas memberitahu
ketika sore itu Hall sedang sendiri di dalam kamar membaca buku... tamu???....
sudah hampir dua tahun Hall berada di sini baru sekali ini ia mendapat tamu….
“Selamat sore….”
Kris tersenyum menyapanya.
“Kris!!...... “
Hall tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Kris tidak sendiri, disebelahnya
seorang wanita yang ia kenal… Asih…
“Jangan kaget
Hall…. Saya sudah tahu semua dari kang Hans, kakak saya....” Hall mengetahui akhirnya Kris dan asih akan
menikah.. hmm.. syukurlah….
Sore itu Hall
merasa sedikit lega, ternyata ia tidak sendiri di dunia ini, masih ada seorang
sahabat yang mau mengunjunginya….
“Hall…..” sebuah
suara memanggilnya ketika gadis itu hendak beranjak dari ruangan….
“Hans….. “
“Maaf… tadi
sebenarnya saya ikut bersama Kris, tetapi ada keperluan di kantor sebentar….”
Hall merasa agak
bingung menghadapi Hans yang juga kakak Kris… ia adalah polisi yang
menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara ini… Hall tak memungkiri
memang ia bersalah dan memang tugas Hans sebagai aparat menyeret semua orang
yang melanggar hukum di Negara ini ke penjara untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya.
Dan ini bukanlah
kunjungan yang pertama…. Setelah sore itu hampir setiap minggu Hans
mengunjunginya dengan berbagai alasan. Mulai dari membawakan buku-buku kesukaannya
sampai pernyataan seputar perkembangan kasus yang telah membawanya ke penjara.
Hans banyak memberi masukan kepada Hall untuk tidak lagi menyentuh
barang-barang haram tersebut.
Dan hari itu
tiba…. Hans adalah orang pertama yang menemui Hall sebelum ia keluar dari pintu
gerbang kebebasan. Hall sendiri bingung harus kemana… ketika Hans yang akan
mengantarnya bertanya….
“Kamu akan pulang
kemana?” Hans memasukkan box milik Hall ke bagasi.
“Entahlah…..”
Hall hanya duduk terdiam di dalam mobil.
Hans tidak
mengatakan apa-apa namun ia tersenyum setelah seperempat jam mereka berada di
jalan dan Hall menyadari bahwa mereka tidak menuju ke rumahnya dan berkata…
“Hans… kita
kemana?”
“Saya akan
membawamu ke suatu tempat yang mungkin bisa membuatmu tenang dan memikirkan
langkah apa yang akan kamu lakukan….”
Satu jam kemudian
mereka memasuki sebuah kawasan pedesaan dan berhenti di depan sebuah rumah
sederhana namun terlihat bersih dan terawat. Hans menitipkan gadis itu kepada
seorang wanita yang dipanggil Ummi. Seorang janda yang tinggal sendirian karena
kedua anaknya telah menikah dan tinggal di luar jawa. Ummi terlihat ramah dan
sangat sabar. Dari bahasanya Hall bisa menangkap kelembutan dari seorang wanita
di hadapannya.
Selama seminggu
Hall masih belum menentukan langkah apa yang akan ia pilih untuk meneruskan
hidupnya. Ummi dengan sabar memberi motivasi kepada gadis itu untuk segera
bangkit dan menentukan jalan hidupnya kembali.
Hans beberapa
kali mengunjunginya dan berbicara tentang pekerjaannya dan sedikit menyinggung
rencana Hall melanjutkan hidupnya.
“Bagaimana Hall….
Apakah kamu senang tinggal di rumah Ummi?”
“Ah… Ummi sangat
baik padaku..”
“Anggaplah ia
sebagai ibumu sendiri… hmm…. Bolehkah saya menanyakan sesuatu?” Hans terlihat
sangat hati-hati.
“Ada apa?”
“Dimana orang
tuamu?..”
“Aku tidak punya
orang tua….” Hall sedikit ketus
“Maaf kalau tidak
berkenan menjawab tidak apa-apa…”
“Mereka
meninggalkanku di panti asuhan sejak aku masih bayi… jadi artinya aku ini tidak
punya orang tua…”Mata Hall menerawang seakan membayangkan sesuatu.
“Jadi kamu
tinggal seorang diri saja selama ini?”
“Tidak juga…
banyak saudara-saudaraku di panti asuhan yang menjadi bagian dalam hidupku…”
Mata Hall berkaca-kaca… tiba-tiba ia sangat merindukan mereka… entah bagaimana
kabar saudara-saudaraya di panti sejak ia masuk penjara…
“Hall…. “ Hans
menyerahkan sehelai saputangan.
“Besok saya akan
mengantarmu ke tempat mereka… bagaimana?”
“Terima kasih,
Hans….” Hall melihat ketulusan di mata laki-laki yang duduk di hadapannya itu.
Entah apa yang harus dia lakukan untuk membalas perhatian dan kesabaran Hans
terhadap dirinya yang bukan siapa-siapa. Hans tersenyum dan menepuk pundaknya..
hmm… ada kedamaian di dalamnya...... (bersambung)

nulis sepanjang ini gak rmepong tuh jempol??
ReplyDeletewek wek wek
jemfol sih baik2 aja.... cuma korban dikit buat meni pedi... kuku pada brodoooll..hehehe
ReplyDelete