Dalam Ruangan
utama kerajaan Maharaja Danendra dan kesepuluh penasehat istana berkumpul
mendengarkan laporan Bestari sekembali dari pertemuan dengan Adipati Haditha.
“ Sebuah kelompok yang tidak membeda-bedakan
kasta dan cinta damai.. mereka saling tolong-memolong dan mengingatkan untuk
selalu berbuat kebaikan. Kelompok ini bernama Islam.. masuk melalui kota-kota
pelabuhan di seluruh pulau Jawa ini.. salah satunya adalah kota pelabuhan di
Kadipaten Kubaro yang di pimpin oleh adipati Haditha…
Mereka tidak
menyembah Dewa seperti kita tetapi mereka mempercayai adanya Tuhan yang
menciptakan Alam semesta dan seluruh isinya tanpa harus memberikan sesembahan
namun wajib melaksanakan pemujaan yang di sebut Sholat dan dilaksanakannya
dalam waktu-waktu tertentu sebanyak lima kali dalam satu hari.
Penyebar agama
adalah pedagang-pedagang yang berasal dari negeri timur tengah atau
pedagang-pedagang dari negeri kita sendiri yang berniaga ke negeri Syria, Jordania
dan negara timur tengah lainnya.. jadi tidak benar mereka menentang perintah
Adipati untuk menyerahkan sesembahan kepada Dewa namun mereka telah mempunyai
kepercayaan sendiri dan mentaati ketentuan yang berlaku dalam agama mereka
salah satunya tidak mempercayai adanya pencipta alam semesta lain selain Tuhan
mereka…”
“ Lalu bagaimana
Adipati Hadita menghadapi sepak terjang kelompok mereka?..” Raja yang dari tadi
mendengarkan penjelasan Bestari tiba-tiba bertanya…
“ Baik, Gusti…
setelah mengadakan pertemuan dengan pemimpin kelompok mereka yang bernama syeih
Abdollah yang kebetulan paman saya sendiri, dan mendengarkan visi dan misi
mereka, Adipati Haditha menyadari bahwa kecurigaannya selama ini tidak
terbukti.
Kadipaten Kubaro
adalah kota pelabuhan terbesar di kerajaan ini… Penduduknya yang ramai
berdatangan dari berbagai daerah bahkan dari berbagai negeri dan berniaga di
sana. Jadi kehadiran bermacam-macam
ajaran baru jika tidak mengganggu jalannya roda pemerintahan tidak akan menjadi
masalah besar.
Saya sempat
berkeliling kota pelabuhan dan menemukan banyak sekali etnis-etnis dari negeri
seberang separti dari Canton, Hindustan dan Syiria… mereka hidup rukun saling
berdampingan padahal kepercayaan mereka berbeda-beda…”
“ Cukup diajeng
Bestari… silahkan kembali ke kaputren… saya mengucapkan selamat atas
keberhasilan mengemban tugas kerajaan kali ini…”
“ Salam
hormat Gusti Raja … saya mohon pamit…”
Sepeninggal
Bestari.. Raja dan para penasehat kerajaan terlihat mengadakan pembahasan
terhadap masuknya aliran baru di kerajaan mereka.
“ Gusti.. saya
mohon maaf.. apa yang akan saya sampaikan mungkin ada hubungannya dengan gusti
Bestari… menurut penjelasan beliau pemimpin aliran baru itu pamannya sendiri..
mungkin saja ada penilaian berdasarkan hubungan kekerabatan..”
“ Oh..
bersabarlah kakang Pramudya.. saya mengenal sekali keluarga diajeng Bestari…
keluarga saudagar kaya yang tidak hanya mahir berniaga namun juga pintar dan
bijaksana… saya sering bertemu dan berdiskusi dengan ayah dan paman beliau sejak Tuanku Raja
Danendra berumur enam tahun.. “ Paman
Samodra seorang penasehat Istana khusus ilmu pengetahuan memberikan penjelasan.
“ Kalau begitu
keputusan paman Gusti Bestari memeluk aliran agama baru tersebut merupakan
keputusan yang sudah difikirkan matang-matang.. tidak asal ikut tanpa
pertimbangan… bukan begitu kakang Samodra..” Paman Setra penasehat istana
khusus bidang Pertanian unjuk bicara.
-----
Dalam kamarnya
Bestari berbaring namun tak mampu memejamkan matanya.. berita dari Paman Panji
yang mengatakan ayah ibunya telah menjadi seorang muslim sangat mengganggu
benaknya.
Benarkah apa yang
mereka katakan bahwa ajaran ini membawa kebaikan?... Bestari berjalan kearah
cermin… dilihatnya pantulan dirinya dalam cermin besar.. seorang wanita
cantik.. dengan rambut panjang lebat
terurai.. pakaian sutra nan indah melekat erat di tubuhnya.. mengikuti lekukan
bodinya yang aduhay… belahan dada yang rendah seakan menonjolkan keindahan buah
dadanya yag penuh dan menantang… wahai Bestari… pantaskah tubuh indahmu dinikmati oleh pria-pria itu?
Pagi itu para
selir terlihat berada di taman kaputren, hanya Bestari yang tidak tampak di
sana… Gusti Ajeng menjemput Bestari di kamarnya…. Ia merasa heran hari ini
Bestari tidak seperti biasanya..
“ Dinda Bestari
sedang sakit?..” tampak kekhawatiran di mata wanita cantik itu.
“ Tidak yunda…
saya baik-baik saja…”
“ Tetapi mengapa
mengenakan pakaian yang tertutup begitu?..”
“ Ah.. saya
baik-baik saja yunda.. “
Sejak saat itu
Bestari menjadi bahan pembicaraan di kalangan wanita istana karena selalu
menutup rambutnya dengan selendang dimana saja ia berada. Selain itu tidak
pernah tampak pakaian sutra yang melekat di tubuh indahnya.. ia selalu
mengenakan kain dan kebaya sederhana yang menutupi seluruh bagian tubuhnya.
Sang Raja
Mahardhika telah mendengar berita itu. Ketika malam itu ia berkenan ke kamar
Bestari sekaligus menanyakan kepada Bestari. Benar saja.. dalam ruangan itu
Sang Raja Mahardhika menemukan Bestari yang sedang asyik membaca itu hanya mengenakan kain dan kebaya.. layaknya para
selir di istana berlomba-lomba menampilkan keindahan tubuhnya dengan mengenakan
pakaian terbuat dari bahan sutra yang sangat halus dan mahal. Namun Bestari seperti tidak memperdulikan hal
tersebut.
Karena asyik
membaca sehingga kedatangan Raja Mahardhika tidak di sadarinya. Raja hanya
tersenyum.. ia sudah memahami kebiasaan Bestari yang tidak memperdulikan
sekitarnya bila sedang asyik membaca. Raja mendekap Bestari dari belakang sehingga
membuat wanita cantik itu terkejut. Ah… ia sebenarnya sangat rindu kepada pria
itu, namun sebagai selir ia tidak berhak menemui raja apapun alasannya, kecuali
Raja sendiri yang menginginkan pertemuan itu. Bestari merasa hidup sebagai
selir tidaklah adil…
“ Mengapa diajeng
menutup rambut dengan selendang?..” perlahan Raja Mahardhika melepaskan
kerudung bestari. Entah mengapa ia menikmati sensasi ini… ia merasa biasa saja
ketika melihat para selirnya mengenakan pakaian yang indah dan sedikit terbuka,
namun kepada Bestari ia benar-benar melihat keindahan itu meski tubuh indah itu
terbalut kain dan tertutup.
“ Maaf Gusti…
saya menutup tubuh saya dari pandangan pria-pria selain Gusti seorang…” Ah.. Bestari memang selalu membuat sesuatu
yang membuat Sang Raja takjub… mulai dari kepandaiannya menulis syair,
kepiawaiannya bermain pedang dan ilmu kanuragan, kepandaiannya menyelesaikan
masalah pemerintahan kerajaan dengan damai.. terakhir ia pintar membuat hatinya
berbunga-bunga dengan pernyataannya barusan…
benarkah tubuhnya hanya untuknya?.......
“ Benarkah yang
diajeng ucapkan?..” Raja semakin mempererat pelukannya.. namun Bestari
melepaskan pelukan Raja dan berdiri.
“ Saya akan
membuktikannya Gusti..” Bestari tersenyum tipis namun Raja merasa senyum itu sangat
menggodanya.
Perlahan-lahan
Bestari membuka kebaya warna biru yang di kenakannya.. sehingga tampaklah
pakaian dalam berwarna putih tipis yang berhias renda-renda menutup sebagian
dada Bestari yang padat berisi. Terakhir Bestari membuka kainnya.. Raja kembali
takjub dengan pemandangan di depannya. Pakaian tipis dan lembut berwarna putih yang dikenakan Bestari sungguh
indah.. ia belum pernah melihat pakaian seperti itu sebelumnya. Bestari memang
membelinya ketika ia di ajak berlayar ke negeri seberang oleh ayahnya beberapa
tahun yang lalu. Pakaian seperti ini hanya di kenakan putri-putri raja pada
saat mereka hendak tidur, di belahan bumi sebelah barat. Meski panjangnya
hampir menutupi kaki Bestari namun Raja masih bisa melihat kaki jenjang nan
putih milik Bestari dari belahan yang tersibak..
Desiran angin
malam itu menemani Raja Mahardhika dan sang selir Bestari memadu kasih..
seperti biasanya Bestari mampu membuat Raja tersenyum memandang rembulan yang
menerangi malam indah mereka.
“ Maafkan saya
Gusti.. bolehkah saya mengunjungi orang tua saya untuk beberapa hari saja?...”
beberapa saat setelah permainan indah mereka selesai Bestari mengungkapkan
keinginanya.
“ Hmm.. bukannya
saya tidak mengijinkan, diajeng…. Tetapi keadaan saat ini sedang gawat… setelah
masuknya aliran baru yang bernama Agama Islam, banyak terjadi keributan oleh
penduduk yang tidak menginginkan Agama atau aliran lain masuk ke daerah
mereka..”
“ Saya mengerti
Gusti… saya bisa menjaga diri..”
“ Hmmm…. Saya
percaya itu…. Begini saja, saya akan antarkan diajeng pulang tetapi kita tidak
usah menggunakan kereta kerajaan… “ Raja Mahardhika menyampaikan maksudnya
kepada Bestari dan wanita cantik itupun
menyetujui.
------
Hamparan hutan di
sekitar perbukitan nan hijau dan nyanyian burung-burung hutan menambah
kedamaian pagi itu. Langkah-langkah kaki kuda berlari menembus pekatnya pagi
tak menghiraukan hewan-hewan kecil berlarian dan burung-burung berterbangan
mendengar derap kaki kuda berlari
kencang. Di tengah-tengah hutan lebat tiba-tiba kuda-kuda itu meringkik karena
tali kekang mereka di tarik mengejak mereka berhenti berlari. Beberapa waktu
kedua penunggang kuda diam dan memeriksa keadaan sekitar.
“ Sepertinya ada
yang mengikuti kita..” salah seorang penunggang kuda berbisik kepada temannya.
“ Ya.. saya juga
merasakannya… “ kedua penunggang kuda itu tetap berjalan mennembus hutan yang
pekat namu mata dan telinga mereka tetap waspada.
Tiba-tiba jarak
sepuluh depa di depan mereka.. samar-samar telah berdiri sesosok manusia… dua..
tiga.. empat.. lima… enam… dari berbagai sudut muncul mengepung kedua
penunggang kuda…..................................................

wah ceritanya keren.....Lanjut terus ya heheheeee di tunggu Novelnya rampung heheheeh
ReplyDeleteterus semangat nulis ;)
thanx Alf.... Al jg suka fiksi lw.. hehehe...
Delete