Wednesday, June 13, 2012

The Novel : Selir [ chapter 4 ]


Dalam Ruangan utama kerajaan Maharaja Danendra dan kesepuluh penasehat istana berkumpul mendengarkan laporan Bestari sekembali dari pertemuan dengan Adipati Haditha.

“  Sebuah kelompok yang tidak membeda-bedakan kasta dan cinta damai.. mereka saling tolong-memolong dan mengingatkan untuk selalu berbuat kebaikan. Kelompok ini bernama Islam.. masuk melalui kota-kota pelabuhan di seluruh pulau Jawa ini.. salah satunya adalah kota pelabuhan di Kadipaten Kubaro yang di pimpin oleh adipati Haditha…

Mereka tidak menyembah Dewa seperti kita tetapi mereka mempercayai adanya Tuhan yang menciptakan Alam semesta dan seluruh isinya tanpa harus memberikan sesembahan namun wajib melaksanakan pemujaan yang di sebut Sholat dan dilaksanakannya dalam waktu-waktu tertentu sebanyak lima kali dalam satu hari.

Penyebar agama adalah pedagang-pedagang yang berasal dari negeri timur tengah atau pedagang-pedagang dari negeri kita sendiri yang berniaga ke negeri Syria, Jordania dan negara timur tengah lainnya.. jadi tidak benar mereka menentang perintah Adipati untuk menyerahkan sesembahan kepada Dewa namun mereka telah mempunyai kepercayaan sendiri dan mentaati ketentuan yang berlaku dalam agama mereka salah satunya tidak mempercayai adanya pencipta alam semesta lain selain Tuhan mereka…”

“ Lalu bagaimana Adipati Hadita menghadapi sepak terjang kelompok mereka?..” Raja yang dari tadi mendengarkan penjelasan Bestari tiba-tiba bertanya…

“ Baik, Gusti… setelah mengadakan pertemuan dengan pemimpin kelompok mereka yang bernama syeih Abdollah yang kebetulan paman saya sendiri, dan mendengarkan visi dan misi mereka, Adipati Haditha menyadari bahwa kecurigaannya selama ini tidak terbukti.

Kadipaten Kubaro adalah kota pelabuhan terbesar di kerajaan ini… Penduduknya yang ramai berdatangan dari berbagai daerah bahkan dari berbagai negeri dan berniaga di sana.  Jadi kehadiran bermacam-macam ajaran baru jika tidak mengganggu jalannya roda pemerintahan tidak akan menjadi masalah besar.

Saya sempat berkeliling kota pelabuhan dan menemukan banyak sekali etnis-etnis dari negeri seberang separti dari Canton, Hindustan dan Syiria… mereka hidup rukun saling berdampingan padahal kepercayaan mereka berbeda-beda…”

“ Cukup diajeng Bestari… silahkan kembali ke kaputren… saya mengucapkan selamat atas keberhasilan mengemban tugas kerajaan kali ini…”

“ Salam hormat  Gusti Raja … saya mohon pamit…”

Sepeninggal Bestari.. Raja dan para penasehat kerajaan terlihat mengadakan pembahasan terhadap masuknya aliran baru di kerajaan mereka.

“ Gusti.. saya mohon maaf.. apa yang akan saya sampaikan mungkin ada hubungannya dengan gusti Bestari… menurut penjelasan beliau pemimpin aliran baru itu pamannya sendiri.. mungkin saja ada penilaian berdasarkan hubungan kekerabatan..”

“ Oh.. bersabarlah kakang Pramudya.. saya mengenal sekali keluarga diajeng Bestari… keluarga saudagar kaya yang tidak hanya mahir berniaga namun juga pintar dan bijaksana… saya sering bertemu dan berdiskusi dengan ayah dan paman beliau sejak Tuanku Raja Danendra berumur enam tahun.. “   Paman Samodra seorang penasehat Istana khusus ilmu pengetahuan memberikan penjelasan.

“ Kalau begitu keputusan paman Gusti Bestari memeluk aliran agama baru tersebut merupakan keputusan yang sudah difikirkan matang-matang.. tidak asal ikut tanpa pertimbangan… bukan begitu kakang Samodra..” Paman Setra penasehat istana khusus bidang Pertanian unjuk bicara.

-----

Dalam kamarnya Bestari berbaring namun tak mampu memejamkan matanya.. berita dari Paman Panji yang mengatakan ayah ibunya telah menjadi seorang muslim sangat mengganggu benaknya.

Benarkah apa yang mereka katakan bahwa ajaran ini membawa kebaikan?... Bestari berjalan kearah cermin… dilihatnya pantulan dirinya dalam cermin besar.. seorang wanita cantik.. dengan rambut panjang  lebat terurai.. pakaian sutra nan indah melekat erat di tubuhnya.. mengikuti lekukan bodinya yang aduhay… belahan dada yang rendah seakan menonjolkan keindahan buah dadanya yag penuh dan menantang… wahai Bestari… pantaskah  tubuh indahmu dinikmati oleh pria-pria itu?

Pagi itu para selir terlihat berada di taman kaputren, hanya Bestari yang tidak tampak di sana… Gusti Ajeng menjemput Bestari di kamarnya…. Ia merasa heran hari ini Bestari tidak seperti biasanya..

“ Dinda Bestari sedang sakit?..” tampak kekhawatiran di mata wanita cantik itu.

“ Tidak yunda… saya baik-baik saja…”

“ Tetapi mengapa mengenakan pakaian yang tertutup begitu?..”

“ Ah.. saya baik-baik saja yunda.. “

Sejak saat itu Bestari menjadi bahan pembicaraan di kalangan wanita istana karena selalu menutup rambutnya dengan selendang dimana saja ia berada. Selain itu tidak pernah tampak pakaian sutra yang melekat di tubuh indahnya.. ia selalu mengenakan kain dan kebaya sederhana yang menutupi seluruh bagian tubuhnya.

Sang Raja Mahardhika telah mendengar berita itu. Ketika malam itu ia berkenan ke kamar Bestari sekaligus menanyakan kepada Bestari. Benar saja.. dalam ruangan itu Sang Raja Mahardhika menemukan Bestari yang sedang asyik membaca itu hanya  mengenakan kain dan kebaya.. layaknya para selir di istana berlomba-lomba menampilkan keindahan tubuhnya dengan mengenakan pakaian terbuat dari bahan sutra yang sangat halus dan mahal.  Namun Bestari seperti tidak memperdulikan hal tersebut.

Karena asyik membaca sehingga kedatangan Raja Mahardhika tidak di sadarinya. Raja hanya tersenyum.. ia sudah memahami kebiasaan Bestari yang tidak memperdulikan sekitarnya bila sedang asyik membaca.  Raja mendekap Bestari dari belakang sehingga membuat wanita cantik itu terkejut. Ah… ia sebenarnya sangat rindu kepada pria itu, namun sebagai selir ia tidak berhak menemui raja apapun alasannya, kecuali Raja sendiri yang menginginkan pertemuan itu. Bestari merasa hidup sebagai selir  tidaklah adil…

“ Mengapa diajeng menutup rambut dengan selendang?..” perlahan Raja Mahardhika melepaskan kerudung bestari. Entah mengapa ia menikmati sensasi ini… ia merasa biasa saja ketika melihat para selirnya mengenakan pakaian yang indah dan sedikit terbuka, namun kepada Bestari ia benar-benar melihat keindahan itu meski tubuh indah itu terbalut kain dan tertutup.

“ Maaf Gusti… saya menutup tubuh saya dari pandangan pria-pria selain Gusti seorang…”  Ah.. Bestari memang selalu membuat sesuatu yang membuat Sang Raja takjub… mulai dari kepandaiannya menulis syair, kepiawaiannya bermain pedang dan ilmu kanuragan, kepandaiannya menyelesaikan masalah pemerintahan kerajaan dengan damai.. terakhir ia pintar membuat hatinya berbunga-bunga dengan pernyataannya  barusan… benarkah tubuhnya hanya untuknya?.......

“ Benarkah yang diajeng ucapkan?..” Raja semakin mempererat pelukannya.. namun Bestari melepaskan pelukan Raja dan berdiri.

“ Saya akan membuktikannya Gusti..” Bestari tersenyum tipis namun Raja merasa senyum itu sangat menggodanya.

Perlahan-lahan Bestari membuka kebaya warna biru yang di kenakannya.. sehingga tampaklah pakaian dalam berwarna putih tipis yang berhias renda-renda menutup sebagian dada Bestari yang padat berisi. Terakhir Bestari membuka kainnya.. Raja kembali takjub dengan pemandangan di depannya. Pakaian tipis dan lembut  berwarna putih yang dikenakan Bestari sungguh indah.. ia belum pernah melihat pakaian seperti itu sebelumnya. Bestari memang membelinya ketika ia di ajak berlayar ke negeri seberang oleh ayahnya beberapa tahun yang lalu. Pakaian seperti ini hanya di kenakan putri-putri raja pada saat mereka hendak tidur, di belahan bumi sebelah barat. Meski panjangnya hampir menutupi kaki Bestari namun Raja masih bisa melihat kaki jenjang nan putih milik Bestari dari belahan yang tersibak.. 

Desiran angin malam itu menemani Raja Mahardhika dan sang selir Bestari memadu kasih.. seperti biasanya Bestari mampu membuat Raja tersenyum memandang rembulan yang menerangi malam indah mereka.

“ Maafkan saya Gusti.. bolehkah saya mengunjungi orang tua saya untuk beberapa hari saja?...” beberapa saat setelah permainan indah mereka selesai Bestari mengungkapkan keinginanya.

“ Hmm.. bukannya saya tidak mengijinkan, diajeng…. Tetapi keadaan saat ini sedang gawat… setelah masuknya aliran baru yang bernama Agama Islam, banyak terjadi keributan oleh penduduk yang tidak menginginkan Agama atau aliran lain masuk ke daerah mereka..”

“ Saya mengerti Gusti… saya bisa menjaga diri..”

“ Hmmm…. Saya percaya itu…. Begini saja, saya akan antarkan diajeng pulang tetapi kita tidak usah menggunakan kereta kerajaan… “ Raja Mahardhika menyampaikan maksudnya kepada Bestari dan  wanita cantik itupun menyetujui.

------

Hamparan hutan di sekitar perbukitan nan hijau dan nyanyian burung-burung hutan menambah kedamaian pagi itu. Langkah-langkah kaki kuda berlari menembus pekatnya pagi tak menghiraukan hewan-hewan kecil berlarian dan burung-burung berterbangan mendengar  derap kaki kuda berlari kencang. Di tengah-tengah hutan lebat tiba-tiba kuda-kuda itu meringkik karena tali kekang mereka di tarik mengejak mereka berhenti berlari. Beberapa waktu kedua penunggang kuda diam dan memeriksa keadaan sekitar.

“ Sepertinya ada yang mengikuti kita..” salah seorang penunggang kuda berbisik kepada temannya.

“ Ya.. saya juga merasakannya… “ kedua penunggang kuda itu tetap berjalan mennembus hutan yang pekat namu mata dan telinga mereka tetap waspada.

Tiba-tiba jarak sepuluh depa di depan mereka.. samar-samar telah berdiri sesosok manusia… dua.. tiga.. empat.. lima… enam… dari berbagai sudut muncul mengepung kedua penunggang kuda…..................................................

2 comments:

  1. wah ceritanya keren.....Lanjut terus ya heheheeee di tunggu Novelnya rampung heheheeh

    terus semangat nulis ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanx Alf.... Al jg suka fiksi lw.. hehehe...

      Delete