Friday, June 8, 2012

The Novel : Selir [ Chapter 3 ]

 
Memasuki kota kereta mereka di sambut oleh pasukan penjaga pintu gerbang  dan mengiringi rombongan kecil itu ke Kadipaten. Adipati Hadhita adalah seorang yang sangat ramah dan bijaksana. Tempat peristirahatan yang mereka sediakan sagatlah nyaman.. setidaknya bagi Bestari karena ia segera memejamkan matanya setelah perjalanan panjang dan melelahkan.
Keesokan harinya Bestari sudah merasa segar dan terlihat ia sudah berada di pendopo utama kadipaten bersama Adipati Hadhita.
“ Awalnya  perkembangan kelompok yang diketuai oleh syeih Abdollah.. sebuah kelompok yang sangat keras anti kemusyrikan.. mereka tidak mempercayai adanya dewa dan sesembahan kita.. yang mereka sembah hanya sebuah nama tanpa wujud nyata dengan melakukan ritual yang dilakukan lima kali dalam sehari.”

“ Apakah ada kemungkinan  kelompok mereka ingin menguasai kadipaten ini, tuan….”

“ Saya rasa tidak. Kelompok mereka sangat cinta damai . Mereka menyamakan semua golongan.. mereka menolong orang yang tertimpa kesusahan tanpa meminta imbalan, namun mengajak mereka menyembah sesembahan mereka..”

“  Bagaimana dengan pemimpinnya? Bisakah saya dipertemukan dengan beliau?”

“ Baiklah gusti… saya akan memanggil pemimpin mereka saat ini juga…  Dulunya beliau adalah pedagang  yang sangat kaya dan sering bepergian ke negeri-negeri nan jauh… setelah kepulangannya dari negeri Syria dan Yordania beliau tidak berdagang lagi, namun mendirikan sebuah kelompok yang diberi nama Muslim dan membuat  bagunan yang sangat unik dengan kubah seperti mahkota raja di atasnya..“

Tak berapa lama tibalah sang pemimpin kelompok .. dengan jubah putih dan sorban putih ia mengucapkan sebuah salam yang asing di telinga Bestari…  Syeih Abdollah duduk tepat di hadapan Bestari.. sejenak mata mereka beradu dan betapa terkejutnya Bestari ketika mengetahui siapa yang berada di hadapanya…

“ Paman Panji!!!…” yang di sebut namanya segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda hormat.

“ Benar Gusti… saya adalah Panji paman Gusti Bestari… tetapi setelah memeluk agama Islam dan melaksanakan naik haji saya berganti nama menjadi Abdollah… Assalamualaikum…. Saya bertemu ayah Gusti di Damaskus dan alhamdulillah ayah Gusti juga telah memeluk agama Islam dan telah berhaji…”

“ Oh ternyata Gusti sudah mengenal syeih Abdollah…” Adipati Hadhita sedikit terkejut. Ia tidak menyangka ternyata Gusti Bestari utusan kerajaan yang juga merupakan selir Sang Raja berasal dari keluarga pedagang yang kaya raya yang menjadi anggota  kelompok yang akhir-akhir ini sangat meresahkannya.

Dengan menunggang kuda Bestari berjalan-jalan menuju sebuah tempat yang terkenal indah di Kadipaten tersebut. Ada sedikit kegalauan dalam hatinya. Tiba-tiba ia merindukan ayah bundanya yang tengah berniaga di negeri nun jauh entah dimana. Ayahnya adalah seorang yang cerdas selain sangat arif dan bijaksana.. betulkah beliau telah memilih masuk kelompok yang di resahkan oleh Adipati Hadhita dimana ajaran mereka tidak menyembah dewa? Ayah tidak mungkin menentukan pilihan jika itu akan membawa kesulitan di hari kemudian. Sejenak ada kebimbangan dalam relung jiwanya. Sebenarnya seperti apakah ajaran itu? Tak terasa langkah kaki kuda yang di tungganginya sampai di sebuah desa yang dituju.

Dharya terletak di bagian barat kota kadipaten. Tempat itu adalah sebuah taman bunga dan kebun yang amat besar. Matahari akan segera terbenam, di bawah naungan pohon, di dalam pondok-pondok dan penginapan, menyala sejumlah lentera yang terang seperti bintang. Bersama hembusan angin sore, tercium harum bunga. Bulan sudah  tampak bundar seperti sebuah cermin yang bergelantungan di salah satu pohon. Dua batang pohon kapas berwarna hijau pucat terlihat saling bertautan dengan akar yang saling mengait, dan berdiri miring satu sama lain, seperti dua orang kekasih yang saling berpelukan dengan lembutnya.

Di bawah sinar senja, lereng bukit yang hijau itu menampilkan warna ungu yang ganjil dan tak nyata. Sekarang hari telah senja, dan lereng gunung itu tertutup oleh beraneka jenis bunga mawar yang sedang berbunga. Dua orang gadis muda dengan kerudung di kepalanya tampak sedang memetik bunga. Dari mulut mereka mengalun irama lagu pujian yang asing di telinga namun terasa lembut dan manis.

Lagu mereka lebih lembut dan halus daripada angin malam yang dingin, mereka sendiri lebih cantik daripada bunga-bunga. Waktu  Bestari berjalan mendaki lereng bukit itu, lagu mereka tiba-tiba berhenti dan mereka berdua menatap  Bestari dengan mata mereka yang besar dan terang. Untunglah yang berdiri di depan mereka adalah seorang  wanita cantik dengan pakaian yang indah, sehingga tanpa ragu-ragu mereka tersenyum.

“ Menggunakan kerudung untuk menahan udara dingin di bukit ini sungguh sebuah keputusan yang cerdas…. Maaf mengejutkan kalian..”

“ Tidak sama sekali, nyai…. Kami menggunakan kerudung bukan hanya untuk menahan udara dingin saja, namun menutup aurat kami supaya terhindar dari pandangan orang lain yang bukan muhkrim…”

“ Muhkrim?... apa itu?..”

“ Muhkrim itu orang lain yang tidak mempunyai hubungan sedarah dengan kita..” salah seorang gadis menjelaskan.

Bestari memandang pakaian yang ia kenakan memang tertutup dan indah namun agak rendah di bagian dadanya sehingga terlihat dengan jelas belahan dadanya yang montok dan leher jenjang putih mulus miliknya… pantas saja perampok yang menghadangnya di perjalanan kemarin mengincarnya.. ingin menyentuh tubuhnya.. huft.. untung saja ia mempunyai ilmu bela diri yang bisa melindungi dirinya dari gangguan manusia-manusia jahat seperti mereka. Membayangkan jika ia tidak bisa ilmu bela diri… entah apa yang akan terjadi.. ia pasti sudah di gilir kawanan perampok itu… huh…

“ Kami permisi nyai… sudah saatnya sholat magrib….” Kedua gadis yang membawa sekeranjang bunga mawar tampak terburu-buru meninggalkan Bestari yang memendam rasa penasaran. Ia seperti pernah membaca sebuah kitab berbahasa  Hindustan tentang sebuah aliran agama yang sangat sempurna dan melindungi segenap umatnya. Namun apakah ajaran ini yang di maksud?

Tanpa sadar langkah kaki kuda yang di tungganginya memasuki sebuah bangunan yang mirip dengan kebanyakan bangunan di negeri Hindustan. Sebuah kubah di atas bangunan kayu yang lebar dan bersih… dari luar bangunan itu terdengar seseorang menyanyikan lagu puji-pujian yang asing di telinganya, dan melakukan gerakan-gerakan yang aneh. Bestari hanya memperhatikan sekilas mereka bersalaman lalu mengangkat kedua tangannya sambil menyanyi lagu pujian lagi. Walau tidak memahami apapun Bestari merasakan damai mendengar lagu pujian yang dilantunkan para pengikut aliran ini bersama-sama.

“ Assalamu’alaikum..” Baru beberapa langkah Bestari hendak meninggalkan tempat itu.. namun  ia segera memutar kudanya…

“ Paman Panji…..”

Perbincangan dengan paman Panji membuka mata Bestari tentang ajaran baru itu. Jelas baginya mengetahui mengapa ayahnya mau menjadi seorang muslim..dan paman Panji berbicara dengan seorang wanita yang cerdas.. Bestari sudah mendapatkan apa yang akan ia sampaikan kepada Sang Raja.

Perjalanan pulang kali ini tidaklah seberat pada saat berangkat. Paglima Praja yang berada di depan kereta segera menghentikan rombongan kecil mereka di sebuah kota kecil yang cukup ramai yang berada di balik pegunungan  tempat mereka bertarung menaklukkan perampok. Memasuki kota tersebut hari telah menjelang sore.  Mereka akan menginap di sebuah penginapan terbaik di kota itu.

Malam menjelang dengan mempersembahkan bulan sabit meremang.. Bestari tengah membaca kitab pemberian paman Panji…tiba-tiba ia merasa ada langkah-langkah halus di atas atap kamarnya. Naluri Bestari mampu merasakan meski langkah kaki itu menggunakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi sekalipun. Bestari merasa pemilik langkah kaki itu memperhatikannya. Ia segera keluar kamar menuju sebuah taman tak jauh dari penginapan memancing pemilik langkah kaki itu menampakkan diri.

Taman sangat sepi malam ini. Meski ada beberapa lentera menerangi taman namun tetap saja sinarnya remang-remang. Benar saja langkah kaki itu mengikutinya.. tiba-tiba sebuah senjata berupa belati terbuat dari perak berkilau meluncur ke arahnya.. ah bukan… tanpa menghindarpun belati itu tidak mengenainya namun menancap di pohon cemara di sebelahnya… apa maksudnya orang ini? Mengarahkan belati perak berkilau yang tampak jelas dari kejauhan dan menancapkan di pohon cemara? Mengapa tidak menuju ke arahnya?

Tiba-tiba sekelebat bayangan meluncur ke arahnya.. seseorang dengan jubah hitam dan menutupi mukanya dengan kain menyerangnya dari arah belakang… Bestari menghindar saja serangan itu.. ia tidak ingin terlibat perkelahian di tempat yang asing. Sekali lagi jubah itu berkelebat kali ini ia menebas pedang di tangan.. Bestari tetap tidak melawan.. namun ketika jubah itu benar-benar menyerangnya mau tidak mau Bestari mempertahankan dirinya. Kembali ia menunjukkan gerakan-gerakan indah dengan kecepatan tinggi meraih jubah dan menarik tangan pemegang pedang dengan posisi memutar sehingga pemilik pedang itu tak bisa berkutik.. berdiri tepat di depan tubuh Bestari yang berada di belakangnya..  ia sedikit berontak melepaskan cengkeraman tangan Bestari yang sangat kuat karena dialiri dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Bestari sengaja menggunakan tenaga dalam karena menyadari pemilik pedang itu bertubuh lebih tinggi darinya… dan ia yakin berhadapan dengan seorang pria.

“ Apa maksud kisanak menyerang saya?...” tiba-tiba Bestari merasa pemilik pedang itu melemaskan tenaganya… perlahan bestaripun meregangkan cengkramannya..

“ Ini saya diajeng…”  Bestari spontan membuka kain yang menutupi muka si pemilik pedang….

“ Gusti Raja????............... maafkan saya….” Segera Bestari melepaskan cengkramannya.. dan memberi hormat kepada Sang Raja…

“ Diajeng tidak perlu minta maaf…  saya sengaja menyusul diajeng kemari karena sudah rindu sekali..“ sang Raja memeluk Bestari erat seakan tidak mau melepaskan…

“ Tetapi mengapa dengan cara seperti ini?... bukankah Gusti bisa….”

“ Ssssttt….. saya ini seorang Raja..  tidak bisa sembarangan bepergian… jadi terpaksa menyamar…” telunjuk sang Raja menutup bibir Bestari yang akhirnya tenggelam dalam pelukan hangat pria yang sangat dirindukannya itu.

“ Tapi gusti….” Bestari tak mampu meneruskan kalimatnya ketika bibir sang Raja menyentuh bibirnya dengan lembut.. kerinduannya membuat Bestari membalas ciuman hangat tersebut.. sejenak mereka terhanyut dalam buaian asmara di bawah keremangan bulan sabit yang tersenyum di atas sana..

“ Cengkraman diajeng sakit juga.. hahahaha…”

“ Haahh… benarkah??... dimana yang sakit? Sekali lagi maafkan saya Gusti…” Bestari benar-benar merasa tidak enak.

“ Tapi saya mau di cengkeram lagi kapan-kapan… hahaha…”

“ Duhhh.. Gusti ah… “ Bestari semakin mempererat pelukannya.

“ Tapi diajeng benar-benar hebat… kalau tidak membuktikan sendiri rasanya saya tidak percaya diajeng mampu menghabisi Jamprong pemimpin perampok yang paling berbahaya… saya sangat bangga…”

Ssrrreeekkkkkkkkkkkk…….. terdengar gesekan dedaunan dari kejauhan…

“ Ada yang datang..!! kita harus pergi dari sini…..” Sang Raja meraih tubuh Bestari dan dengan sekali melompat, bayangan hitam itu menghilang di telan kegelapan.

“ Saya harus segera pergi diajeng.. saya menunggu diajeng di Istana…” Sang Raja sekali lagi mempererat pelukannya terhadap Bestari setelah malam itu di kamar penginapan mereka bercinta dengan penuh gairah.

 -----

6 comments:

  1. keren Al, teh nya habisss nihh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. thanx Siswoyo...

      Stok teh yg bnyk ya.. msh 2 chapter lg.. buat Al sekalian... hahaha..

      Delete
  2. Wah di sini to blognya mbak @rha salia.
    Nice story mbak

    ReplyDelete
  3. enak ya Bestari bisa bebas keluar2 istana tanpa raja. Biasanya selir atau permaisuri di pingit di istana, supaya ga selingkuh :D
    rajanya juga enak bener tinggal nyuruh selirnya sendiri yg ngurusin urusan negara ke tempat jauh

    ReplyDelete