Memasuki
kota kereta mereka di sambut oleh pasukan penjaga pintu gerbang dan mengiringi rombongan kecil itu ke
Kadipaten. Adipati Hadhita adalah seorang yang sangat ramah dan bijaksana.
Tempat peristirahatan yang mereka sediakan sagatlah nyaman.. setidaknya bagi
Bestari karena ia segera memejamkan matanya setelah perjalanan panjang dan
melelahkan.
Keesokan
harinya Bestari sudah merasa segar dan terlihat ia sudah berada di pendopo
utama kadipaten bersama Adipati Hadhita.
“ Awalnya perkembangan kelompok
yang diketuai oleh syeih Abdollah.. sebuah kelompok yang sangat keras anti
kemusyrikan.. mereka tidak mempercayai adanya dewa dan sesembahan kita.. yang
mereka sembah hanya sebuah nama tanpa wujud nyata dengan melakukan ritual yang
dilakukan lima kali dalam sehari.”
“ Apakah ada kemungkinan kelompok mereka ingin menguasai kadipaten ini, tuan….”
“ Saya rasa tidak. Kelompok mereka sangat cinta damai . Mereka menyamakan semua golongan.. mereka menolong orang yang tertimpa kesusahan tanpa meminta imbalan, namun mengajak mereka menyembah sesembahan mereka..”
“ Bagaimana dengan pemimpinnya? Bisakah saya dipertemukan dengan beliau?”
“ Baiklah gusti… saya akan memanggil pemimpin mereka saat ini juga… Dulunya beliau adalah pedagang yang sangat kaya dan sering bepergian ke negeri-negeri nan jauh… setelah kepulangannya dari negeri Syria dan Yordania beliau tidak berdagang lagi, namun mendirikan sebuah kelompok yang diberi nama Muslim dan membuat bagunan yang sangat unik dengan kubah seperti mahkota raja di atasnya..“
Tak berapa lama tibalah sang pemimpin kelompok .. dengan jubah putih dan sorban putih ia mengucapkan sebuah salam yang asing di telinga Bestari… Syeih Abdollah duduk tepat di hadapan Bestari.. sejenak mata mereka beradu dan betapa terkejutnya Bestari ketika mengetahui siapa yang berada di hadapanya…
“ Paman Panji!!!…” yang di sebut namanya segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda hormat.
“ Benar Gusti… saya adalah Panji paman Gusti Bestari… tetapi setelah memeluk agama Islam dan melaksanakan naik haji saya berganti nama menjadi Abdollah… Assalamualaikum…. Saya bertemu ayah Gusti di Damaskus dan alhamdulillah ayah Gusti juga telah memeluk agama Islam dan telah berhaji…”
“ Oh ternyata Gusti sudah mengenal syeih Abdollah…” Adipati Hadhita sedikit terkejut. Ia tidak menyangka ternyata Gusti Bestari utusan kerajaan yang juga merupakan selir Sang Raja berasal dari keluarga pedagang yang kaya raya yang menjadi anggota kelompok yang akhir-akhir ini sangat meresahkannya.
Dengan menunggang kuda Bestari berjalan-jalan menuju sebuah tempat
yang terkenal indah di Kadipaten tersebut. Ada sedikit kegalauan dalam hatinya.
Tiba-tiba ia merindukan ayah bundanya yang tengah berniaga di negeri nun jauh
entah dimana. Ayahnya adalah seorang yang cerdas selain sangat arif dan
bijaksana.. betulkah beliau telah memilih masuk kelompok yang di resahkan oleh
Adipati Hadhita dimana ajaran mereka tidak menyembah dewa? Ayah tidak mungkin
menentukan pilihan jika itu akan membawa kesulitan di hari kemudian. Sejenak
ada kebimbangan dalam relung jiwanya. Sebenarnya seperti apakah ajaran itu? Tak
terasa langkah kaki kuda yang di tungganginya sampai di sebuah desa yang dituju.
Dharya terletak di bagian barat kota kadipaten. Tempat itu adalah sebuah taman bunga dan kebun yang amat besar. Matahari akan segera terbenam, di bawah naungan pohon, di dalam pondok-pondok dan penginapan, menyala sejumlah lentera yang terang seperti bintang. Bersama hembusan angin sore, tercium harum bunga. Bulan sudah tampak bundar seperti sebuah cermin yang bergelantungan di salah satu pohon. Dua batang pohon kapas berwarna hijau pucat terlihat saling bertautan dengan akar yang saling mengait, dan berdiri miring satu sama lain, seperti dua orang kekasih yang saling berpelukan dengan lembutnya.
Di bawah sinar senja, lereng bukit yang hijau itu menampilkan warna ungu yang ganjil dan tak nyata. Sekarang hari telah senja, dan lereng gunung itu tertutup oleh beraneka jenis bunga mawar yang sedang berbunga. Dua orang gadis muda dengan kerudung di kepalanya tampak sedang memetik bunga. Dari mulut mereka mengalun irama lagu pujian yang asing di telinga namun terasa lembut dan manis.
Lagu mereka lebih lembut dan halus daripada angin malam yang dingin, mereka sendiri lebih cantik daripada bunga-bunga. Waktu Bestari berjalan mendaki lereng bukit itu, lagu mereka tiba-tiba berhenti dan mereka berdua menatap Bestari dengan mata mereka yang besar dan terang. Untunglah yang berdiri di depan mereka adalah seorang wanita cantik dengan pakaian yang indah, sehingga tanpa ragu-ragu mereka tersenyum.
“ Menggunakan kerudung untuk menahan udara dingin di bukit ini sungguh sebuah keputusan yang cerdas…. Maaf mengejutkan kalian..”
“ Tidak
sama sekali, nyai…. Kami menggunakan kerudung bukan hanya untuk menahan udara
dingin saja, namun menutup aurat kami supaya terhindar dari pandangan orang
lain yang bukan muhkrim…”
“
Muhkrim?... apa itu?..”
“ Muhkrim
itu orang lain yang tidak mempunyai hubungan sedarah dengan kita..” salah
seorang gadis menjelaskan.
Bestari
memandang pakaian yang ia kenakan memang tertutup dan indah namun agak rendah
di bagian dadanya sehingga terlihat dengan jelas belahan dadanya yang montok
dan leher jenjang putih mulus miliknya… pantas saja perampok yang menghadangnya
di perjalanan kemarin mengincarnya.. ingin menyentuh tubuhnya.. huft.. untung
saja ia mempunyai ilmu bela diri yang bisa melindungi dirinya dari gangguan
manusia-manusia jahat seperti mereka. Membayangkan jika ia tidak bisa ilmu bela
diri… entah apa yang akan terjadi.. ia pasti sudah di gilir kawanan perampok
itu… huh…
“ Kami permisi
nyai… sudah saatnya sholat magrib….” Kedua gadis yang membawa sekeranjang bunga
mawar tampak terburu-buru meninggalkan Bestari yang memendam rasa penasaran. Ia
seperti pernah membaca sebuah kitab berbahasa
Hindustan tentang sebuah aliran agama yang sangat sempurna dan
melindungi segenap umatnya. Namun apakah ajaran ini yang di maksud?
Tanpa sadar langkah
kaki kuda yang di tungganginya memasuki sebuah bangunan yang mirip dengan
kebanyakan bangunan di negeri Hindustan. Sebuah kubah di atas bangunan kayu
yang lebar dan bersih… dari luar bangunan itu terdengar seseorang menyanyikan
lagu puji-pujian yang asing di telinganya, dan melakukan gerakan-gerakan yang
aneh. Bestari hanya memperhatikan sekilas mereka bersalaman lalu mengangkat
kedua tangannya sambil menyanyi lagu pujian lagi. Walau tidak memahami apapun
Bestari merasakan damai mendengar lagu pujian yang dilantunkan para pengikut
aliran ini bersama-sama.
“
Assalamu’alaikum..” Baru beberapa langkah Bestari hendak meninggalkan tempat
itu.. namun ia segera memutar kudanya…
“ Paman Panji…..”
Perbincangan
dengan paman Panji membuka mata Bestari tentang ajaran baru itu. Jelas baginya
mengetahui mengapa ayahnya mau menjadi seorang muslim..dan paman Panji
berbicara dengan seorang wanita yang cerdas.. Bestari sudah mendapatkan apa
yang akan ia sampaikan kepada Sang Raja.
Perjalanan pulang
kali ini tidaklah seberat pada saat berangkat. Paglima Praja yang berada di
depan kereta segera menghentikan rombongan kecil mereka di sebuah kota kecil
yang cukup ramai yang berada di balik pegunungan tempat mereka bertarung menaklukkan perampok.
Memasuki kota tersebut hari telah menjelang sore. Mereka akan menginap di sebuah penginapan
terbaik di kota itu.
Malam menjelang
dengan mempersembahkan bulan sabit meremang.. Bestari tengah membaca kitab
pemberian paman Panji…tiba-tiba ia merasa ada langkah-langkah halus di atas
atap kamarnya. Naluri Bestari mampu merasakan meski langkah kaki itu
menggunakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi sekalipun. Bestari merasa pemilik
langkah kaki itu memperhatikannya. Ia segera keluar kamar menuju sebuah taman
tak jauh dari penginapan memancing pemilik langkah kaki itu menampakkan diri.
Taman sangat sepi
malam ini. Meski ada beberapa lentera menerangi taman namun tetap saja sinarnya
remang-remang. Benar saja langkah kaki itu mengikutinya.. tiba-tiba sebuah
senjata berupa belati terbuat dari perak berkilau meluncur ke arahnya.. ah
bukan… tanpa menghindarpun belati itu tidak mengenainya namun menancap di pohon
cemara di sebelahnya… apa maksudnya orang ini? Mengarahkan belati perak
berkilau yang tampak jelas dari kejauhan dan menancapkan di pohon cemara?
Mengapa tidak menuju ke arahnya?
Tiba-tiba
sekelebat bayangan meluncur ke arahnya.. seseorang dengan jubah hitam dan
menutupi mukanya dengan kain menyerangnya dari arah belakang… Bestari
menghindar saja serangan itu.. ia tidak ingin terlibat perkelahian di tempat
yang asing. Sekali lagi jubah itu berkelebat kali ini ia menebas pedang di
tangan.. Bestari tetap tidak melawan.. namun ketika jubah itu benar-benar
menyerangnya mau tidak mau Bestari mempertahankan dirinya. Kembali ia
menunjukkan gerakan-gerakan indah dengan kecepatan tinggi meraih jubah dan
menarik tangan pemegang pedang dengan posisi memutar sehingga pemilik pedang
itu tak bisa berkutik.. berdiri tepat di depan tubuh Bestari yang berada di
belakangnya.. ia sedikit berontak
melepaskan cengkeraman tangan Bestari yang sangat kuat karena dialiri dengan
tenaga dalam tingkat tinggi. Bestari sengaja menggunakan tenaga dalam karena
menyadari pemilik pedang itu bertubuh lebih tinggi darinya… dan ia yakin
berhadapan dengan seorang pria.
“ Apa maksud
kisanak menyerang saya?...” tiba-tiba Bestari merasa pemilik pedang itu
melemaskan tenaganya… perlahan bestaripun meregangkan cengkramannya..
“ Ini saya
diajeng…” Bestari spontan membuka kain
yang menutupi muka si pemilik pedang….
“ Gusti
Raja????............... maafkan saya….” Segera Bestari melepaskan
cengkramannya.. dan memberi hormat kepada Sang Raja…
“ Diajeng tidak
perlu minta maaf… saya sengaja menyusul
diajeng kemari karena sudah rindu sekali..“ sang Raja memeluk Bestari erat
seakan tidak mau melepaskan…
“ Tetapi mengapa
dengan cara seperti ini?... bukankah Gusti bisa….”
“ Ssssttt….. saya
ini seorang Raja.. tidak bisa
sembarangan bepergian… jadi terpaksa menyamar…” telunjuk sang Raja menutup
bibir Bestari yang akhirnya tenggelam dalam pelukan hangat pria yang sangat
dirindukannya itu.
“ Tapi gusti….”
Bestari tak mampu meneruskan kalimatnya ketika bibir sang Raja menyentuh
bibirnya dengan lembut.. kerinduannya membuat Bestari membalas ciuman hangat
tersebut.. sejenak mereka terhanyut dalam buaian asmara di bawah keremangan
bulan sabit yang tersenyum di atas sana..
“ Cengkraman
diajeng sakit juga.. hahahaha…”
“ Haahh…
benarkah??... dimana yang sakit? Sekali lagi maafkan saya Gusti…” Bestari
benar-benar merasa tidak enak.
“ Tapi saya mau
di cengkeram lagi kapan-kapan… hahaha…”
“ Duhhh.. Gusti
ah… “ Bestari semakin mempererat pelukannya.
“ Tapi diajeng
benar-benar hebat… kalau tidak membuktikan sendiri rasanya saya tidak percaya
diajeng mampu menghabisi Jamprong pemimpin perampok yang paling berbahaya… saya
sangat bangga…”
Ssrrreeekkkkkkkkkkkk……..
terdengar gesekan dedaunan dari kejauhan…
“ Ada yang
datang..!! kita harus pergi dari sini…..” Sang Raja meraih tubuh Bestari dan
dengan sekali melompat, bayangan hitam itu menghilang di telan kegelapan.
“ Saya harus
segera pergi diajeng.. saya menunggu diajeng di Istana…” Sang Raja sekali lagi
mempererat pelukannya terhadap Bestari setelah malam itu di kamar penginapan
mereka bercinta dengan penuh gairah.
-----

keren Al, teh nya habisss nihh
ReplyDeleteHehe.. thanx Siswoyo...
DeleteStok teh yg bnyk ya.. msh 2 chapter lg.. buat Al sekalian... hahaha..
yeaaaaaahhh
ReplyDeleteUhuiyy.. tx
DeleteWah di sini to blognya mbak @rha salia.
ReplyDeleteNice story mbak
enak ya Bestari bisa bebas keluar2 istana tanpa raja. Biasanya selir atau permaisuri di pingit di istana, supaya ga selingkuh :D
ReplyDeleterajanya juga enak bener tinggal nyuruh selirnya sendiri yg ngurusin urusan negara ke tempat jauh