Suara bising bus bus antar kota mewarnai terminal siang ini.. udara
panas oleh terik matahari seakan menambah kesemrawutan terminal kecil di
pinggiran kota. Murni menggandeng tangan Sha kecil menembus keramaian
mencari bus jurusan yang ingin mereka tuju.. setelah beberapa saat
mencari akhirnya Murni memasuki sebuah bus ekonomi, matanya mencari cari
bangku kosong dalam bus yang hampir penuh penumpang.. dilihatnya ada
bangku kosong.. walau agak di belakang lumayan ia tak perlu berdiri. Bus
segera beragkat setelah penumpag memadat. Baru beberapa saat suasana
panas dalam bus yang padat membuat Sha tidak nyaman. Anak perempuan
berusia lima tahun itu sebentar sebentar memandang ibunya dan menggoyang
goyangkan tangan ibunya. Murni hanya bisa menenangkan anaknya tanpa
bisa berbuat apa apa…
‘ Mak.. jik suwe..? mata Sha sudah berkaca kaca.
‘ Sediluk maneh, nduk.. wis meneng wae sik yo… gak pareng nangis.. cup..
cup..’ Murni membelai rambut Sha yang basah oleh keringat.
‘ Kok suwe yo mak gak tekan tekan… aku ngelak, mak’ Sha merengek minta minum.
Murni mengeluarkan botol air mineral dari dalam tas, begitu menerima
botol air mineral tersebut gadis kecil itu segera minum. Sejenak
kemudian ia tertidur di pangkuan ibunya.
Murni mengusap keringat di dahi anaknya dengan sapu tangan.. kasihan
kamu nduk… kalau tidak karna terpaksa pasti kamu pasti tidak akan
sengsara seperti ini. Pikirannya tertuju pada kejadian semalam.
‘ oooh.. ini rupanya simpenan suami saya… heh.. prempuan murahan.. nggak
tau malu.. nih saya kasih duit.. mulai besok kamu tidak usah kerja di
toko..’ wanita berbadan gemuk itu melemparkan uang selembar ratusan
ribu ke lantai dan segera meninggalkan rumah petak kontrakan Murni.
Murni hanya bisa mengelus dada.. malang benar nasib ini.. padahal
suaminya yang mengejar ngejar dan tergila gila padanya.. Murni sama
sekali tidak menyukai om Pandi pemilik toko pakaian tempat ia bekerja.
Tetapi laki laki tionghoa itu sering datang ke rumah dan membelikan Sha
anaknya makanan dan mainan. Ia selalu menolak tetapi om Pandi memang
sudah gelap mata. Tak peduli Murni suka atau tidak ia melamar murni dan
memberikan segala kebutuhan Murni.. Ia memang berencana untuk keluar
dari pekerjaannya tapi menunggu gajian dulu sehingga ia punya cukup uang
untuk pulang kampung. Namun belum sempat rencana itu terwujud istri om
Pandi melabraknya habis habisan di depan tetangga tetangganya.
‘Purwosari..Purwosari…’ kernet bus berteriak teriak
Marni segera berdiri sambil menggendong anaknya yang masih tidur.
Terseok seok ia melangkah menuruni bis.. walau akhirnya bisa juga… bus
segera berjalan meninggalkan kepulan asap hitam..
‘ ojek, mbak… tindak pundi? Seorang tukang ojek mendekati Murni yang
masih merasa pusing setelah perjalanan selama empat jam dalam bus yang
sangat tidak nyaman.
‘ Dukuh Tanggul, mas..’ Murni segera naik ojek menuju desa kelahirannya.
Malam itu Murni duduk di ruang tamu bersama ibunya.. Sha sudah tidur di kamar.
‘ Sha wis gede yo nduk.. ayu tenan putuku.. ‘ ibu sangat sayang dengan Shaina anakku satu satunya.
‘ Nggih bu.. ‘ memang tidak di pungkiri Shaina anaku itu berwajah
cantik. Tidak seperti anak anak lain, mata dan rambut Sha agak
coklat.. kulitnya putih bersih.. bibirnya merah.. dan yang paling indah
adalah hidungnya.. mancung..!!
Tujuh tahun yang lalu Murni bekerja di kota.. ibunya tidak tahu pasti
apa pekerjaannya, yang jelas setiap bulan ia mengirimkan sejumlah uang
untuk biaya berobat ayahnya , walau pada akhirnya beliau meninggal
dunia, dan kebutuhan rumah tangga. Orang tuanya hanya tahu Murni bekerja
di pabrik.. padahal saat itu murni menjalani kawin kontrak dengan orang
asing. Dengan modal paras yang ayu dan bodi yang aduhai Murni menjalai
profesi itu selama dua tahun sampai akhirnya tanpa diketahui ia hamil.
Karna menyalahi kontrak ia harus menggugurkan kandungannya dan
memutuskan kontrak secara sepihak. Dengan sejumlah uang ia menyimpan
janin dalam kandungannya. Surat keterangan bahwa ia sudah tidak bebadan
dua palsu yang ia berikan membuat ia harus menjalani masa kehamilan di
kampungnya dengan cibiran dan hinaan warga kampungnya.
Ya.. Shaina memang berdarah indo.. Brandon ayah biologisnya telah
kembali ke negaranya sejak dua tahun yang lalu.. Murni tak pernah
menyesali keputusannya.. ia sangat mencintai Shaina dan akan
mendidiknya sehingga kelak ia dewasa.
‘ Sha lulus maaaak……’ gadis itu berlari lari ke dapur menemui emaknya yang sedang memasak.
‘ Maaaaak… Sha lulus… ‘ ia segara menghambur ke pelukan ibunya… Murni begitu bahagia.. pengorbanannya selama ini tak sia sia…
‘ Sha lulus maaaak……’ gadis itu berlari lari ke dapur menemui emaknya yang sedang memasak.
‘ Maaaaak… Sha lulus… ‘ ia segara menghambur ke pelukan ibunya… Murni begitu bahagia.. pengorbanannya selama ini tak sia sia…
‘ Trus kamu mau kerja di mana setelah ini, nduk?
‘ Sha nggak mau kerja, mak… Sha mau kuliah..’
‘ waah.. kuliah khan mahal to nduk… darimana dapet duit untuk biaya kuliah…?
‘ Jangan Khawatir, mak… Murni dapet beasiswa program Bidik Misi… biaya
kuliah, asrama dan uang saku bulanan sudah di tanggung pemerintah, mak…
jadi Mak nggak usah bingung…’
‘ Trus.. kamu ketrima di mana?..’
‘ Kedokteran, mak…. ‘
Kehidupan Murni seakan roda pedati.. Kehidupannya yang dulu sulit kini
tak lagi ia jalani.. sejak Shaina menjadi dokter dan bekerja di sebuah
rumah sakit Internasional, mereka tak lagi tinggal di desa.. menemani
putri semata wayangnya yang cerdas itu Murni merasakan kebahagiaan yang
belum pernah ia dapatkan..
‘ Mak.. Sha berangkat ya…’ Gadis itu mencium tangan ibunya
‘ Lho.. malam malam juga kerja?…’ Murni bertanya heran..
‘ Sha sekarang kuliah lagi mak… jadi residen di rumah sakit…’
‘ Jadi presiden?…’ Murni tambah bingung..
‘ Hahahahaha… residen mak, sekolah lagi supaya jadi dokter spesialis..
biar tambah pinter, mak..’ Sha menjelaskan dengan tertawa geli…
‘ Ohh.. dokter spesialis apa, nduk..?’
‘ Neurologi, mak..’
‘ waahh.. apalagi itu nduk..?..
‘ Dokter yang mengobati penyakit syaraf.. Sha pergi ya, Mak…’
Shaina memang menuruni darah ayahnya yang dulu juga seorang dokter yang
melakukan penelitian di Indonesia. Dr.Jimmy Brandon yang ia sendiri
tidak tau berada di mana itu terlihat di sinar mata Shaina..
kecerdasannya dan kemandiriannya…
Sudah dua hari ini Shaina uring uringan… Jurnal yang sudah ia persiapkan
sekuat tenaga selalu di reject (di tolak) dengan berbagai alasan.. ia
sudah merelakan waktu tidurnya di malam hari demi membuat project ini..
namun hari ini kembali ia bersungut sungut.. Murni jadi tak tega melihat
kondisi anaknya.. tadi pagi ia berangkat kerja dengan keluhan sakit
kepala dan sakit perut… karna Sha sendiri dokter Murni tidak begitu
khawatir.. pasti Sha tahu bagaimana cara menyembuhkannya, namun telpon
dari UGD sangat membuat dirinya khawatir dengan anaknya..
‘ Sha… kamu sudah sadar, sayang… ‘ Murni menyapa lembut anaknya ketika di lihatnya gadis itu membuka matanya
Shaina tersenyum.. ia masih belum mampu berkata kata… Murni menunggu
anaknya setelah menjalani oprasi usus buntu.. ia menyesali diri sendiri
mengapa ia terlalu percaya kepada Sha.. padahal meski dokter sekalipun
ia juga manusia biasa.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.. beberapa dokter teman teman
Sha datang menjenguk.. Gadis itu sudah kembali kesadarannya.. setelah
mereka pergi Dokter yang mengoprasi anaknya melakukan visite.. beberapa
pertanyaan Sha sampaikan dan setahu Murni semua berjalan lancar dan baik
baik saja.. dua hari kedepan Sha sudah boleh pulang.
Sore itu setelah Murni kembali dari musholla, di lihatnya seseorang
berada di kamar Sha.. sepertinya suara sorang pria.. namun Murni tak
bisa menangkap pembicaraannya.. mereka tidak berbahasa Indonesia….
‘ Oh.. this is my mom,… mak sini Sha kenalkan sama dosen pembimbing Sha… mr. Brandon.. ‘
Pria itu membalikan badannya menghadap Murni… pria bule yang sudah tua itu tercekat..
‘ Murni????………………….
Dr. Jimmy Brandon setelah dua puluh tahun kembali ke Indonesia dan
menjadi guru basar di Fakultas Kedokteran itu masih mengenali wajah
murni yang telah tua di makan usia… ia memandang Sha yang bengong tidak
mengerti mengapa Dr. Brandon mengenali ibunya… kemudian ia memandang
murni seolah meminta sebuah jawaban… dan Sha melihat ibunya mengangguk…
ada apa ini??? Sha tiba tiba bingung…
‘ Mak… ada apa?…’
‘ well, are you sure?… sekali lagi Dr. Brandon bertanya kepada Murni
‘ ya…’ Murni mengangguk pasti
Seketika pria yang telah beberapa hari membuat Sha kesal karna selalu
meriject jurnalnya itu berlari ke arahnya dan memeluknya… Sha bingung…
ia memandang ibunya….
‘ ya Shaina sayang…. Dia ayahmu…..’ Murni menjawab sambil menitikan air mata..
Sha hanya mampu memejamkan matanya……………………………………………

yang ini aku suka sekali. Kisahnya happy ending
ReplyDeletesiiip
salut dan keep posting ya
hehehe... thanx aa Roni.....
Delete