Yesss…dua
hari lagi aku bebaaasss…cihuyyyy….ia segera membereskan barang barangnya…. ia
tak sabar ingin ke dunia manusia lagi… setelah duapuluh tahun tinggal bersama
teman temannya di pusat rehabilitasi Tuyul ini ia merasa berat juga
meninggalkan mereka.. bagaimana tidak Yulia yang tadinya membenci tempat ini
sekarang malah mendapatkan banyak ilmu dan teman senasib.. Misye, si kuntilanak
yang pernah menikah dengan manusia.. Tiara, suster ngesot yang juga jatuh cinta
sama seorang dokter.. Erika, tuyul yang (bahkan) sampe sekarang masih menjalin
hubungan dengan majikannya.
Ternyata walau berbeda dunia, walau sering dianggap
tidak berguna, mereka juga punya hati.. mereka juga punya cinta.. Mereka semua
teman teman yang menyenangkan…di setiap pembelajaran pasti kelompok mereka yang
paling unggul…maklumlah.. mereka para demit berpengalaman..
Dan..
hari itupun tiba… Yulia berpamitan dengan teman temannya… dari pusat
rehabilitasi sendiri Yulia dinobatkan sebagai peserta rehabilitasi tercepat..
waahh…ia mendapatkan penghargaan sebuah ilmu yang bisa merubah tampilan dirinya
seperti manusia.. plus perangkat audio canggih untuk menyadap suara dari radius
tak terhitung sekalipun….. yay… Yulia selamat bekerja…
Di
dunia hantu ini memang semua sudah diatur sesuai prosedur. Tidak ada yang
berani melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintahan hantu yang
dikepalai oleh Dewan Hantu. Siapa saja yang melanggar harus dihukum. Siapa saja
yang tidak mematuhi peraturan harus di denda. Semua itu dilaksanakan dengan
kesadaran penuh dan sukarela, padahal Hantu itu tidak lebih mulia dari manusia
namun kebesaran jiwa mereka lebih dari manusia. Aneh ya…, tidak seperti di
Dunia Manusia, jika ada yang melanggar bisa melarikan diri, sembunyi, dan
membela diri sampai akhirnya membebaskan diri……
Kakinya
melangkah perlahan di jalanan yang tak begitu ramai, matanya menyapu ke seluruh
penjuru…dimana orang itu… Yulia mencari cari di sepanjang jalanan, di sudut
sudut bagian sampai di pembuangan sampah tapi tak diketemukan orang yang ia
cari. Padahal dari sinyal audio yang dimilikinya suara itu datangnya dari
daerah ini…
Gadis
berkerudung biru itu bertanya kepada para pemilik toko yang kebetulan berada di
luar, namun tak satupun dari mereka mengetahui dimana keberadaan orang yang ia
cari.. tiba tiba matanya menangkap bayangan seseorang di dekat jembatan…
benarkah apa yang ia lihat???…..
Laki
laki berperawakan tinggi itu berjalan terseok seok mendorong gerobak melalui
jembatan kecil yang menghubungkan pertokoan dengan perkampungan. Gerobak dorong
itu memuat makanan dan minuman. Langkah kaki Yulia di percepat, ia ingin
meyakinkan apa yang dilihatnya…setelah cukup dekat barulah Yulia menghela nafas
lega..benar…laki laki itu Paijo…Yulia terus saja mengikuti paijo yang berteriak
teriak menjajakan dagangannya… sesekali ia berhenti melayani pembeli. hmm..
Yulia tidak menyangka Paijo mau bekerja.. baguslah.. akhirnya ia sadar juga..
kalau dari dulu Paijo rajin bekerja pasti hidupnya tidak akan sengsara.. tanpa sadar
ia mengusap airmatanya…
“
Neng…mau beli gorengan neng….” Tiba tiba seseorang menyapanya.. menyadarkan
lamunannya…
“
Eh.. ya kang… jual apa saja?..”
“ Macam macam neng….. ada pisang goreng, tempe
goreng, tape goreng… neng bukan orang sini ya?…” Tanya si akang penjual
gorengan…
Tentu
aja si akang penjual makanan tidak mengenali Yulia, karna saat ini Yulia tidak
dalam wujud aslinya, ia berwujud manusia.. seorang gadis cantik berkerudung
biru…
“
Bukan kang… saya bukan asli sini… sudah lama jualan makanan, kang ?”
“
Ya.. lumayan neng, sudah tiga tahun dagang.. daripada nganggur…”
“
Oow.. hasilnya lumayan ya kang… “
“
Alhamdulillah, neng.. bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga.. apalagi istri
saya hamil tua… “ laki laki itu duduk di sebelah gerobaknya.
“
Wah… sebentar lagi punya anak ya kang… “
“
Mudah-mudahan lancar neng, doakan saja…”
“
Jadi berapa semua, kang ??…”
“
Enam ribu rupiah, neng..”
“
Nih, sisanya ambil untuk istri abang di rumah…” Yulia mengulurkan uang kertas
seratus ribuan.
“
Maaf neng,… saya bukan pengemis… saya memberi makan keluarga saya dengan uang
halal…. Terima kasih, ini kembaliannya…. Permisi neng, saya mau keliling lagi “
Yulia hanya bisa tersenyum dan memandang kepergian Paijo.
Yulia hanya bisa tersenyum dan memandang kepergian Paijo.
Di
jalan Paijo merasa bersalah telah mengecewakan gadis berkerudung biru itu,
namun ia sudah bertekat untuk hidup di jalan yang lurus. Sebenarnya ia melihat
sinar tulus dari mata gadis itu, maaf neng, saya mengecewakan niat tulusmu. Ia
tak ingin mengulangi kesalahan kesalahan di masa lalu yang membuat hidupnya
sengsara. Dengan harta berlimpah ternyata bukan jaminan hidup bahagia, justru
hidup sederhanalah yang membuat ia bahagia. Sejak ia memutuskan berubah dan
menikah ia merasa mememukan kebahagiaan yang selama ini ia sangka ada dalam
limpahan materi dan menumpuknya harta. Ia sadar bahwa selama ini ia selalu
melihat ke atas, silau dengan gemerlap harta dan kekayaan tetapi tidak mau
berusaha. Setelah menikahi Marni, wanita pilihan emaknya, ia sadar bahwa dalam
hidup ini kita harus bekerja dan berusaha. Apalagi sang istri, Marni begitu
memperhatikan dan mencintai dirinya apa adanya walau kehidupan mereka serba
sederhana.
Ah,
kalau saja ia diberi kesempatan tentunya hanya satu yang ia inginkan… ia ingin
bertemu Yulia..mantan tuyul peliharaannya. Yulialah yang telah membuka
hatinya.. Tuyul cantik itulah yang membuatnya berubah, dan belajar menghargai
sebuah usaha…
Yulia
memandang pasangan yang berbahagia itu… Bayi mungil berjenis kelamin perempuan
itu sangat lucu…. Sebuah karangan bunga telah ia kirimkan tanpa nama
pengirimnya, pasangan suami istri itu mengagumi rangkaian bunga nan indah untuk
mereka. Mereka saling memandang penuh cinta sambil membelai bayi mereka…di
kakinya ada label bertuliskan nama bayi tersebut, YULIA ………
Note
: Cerita ini hanya fiktif.. apabila ada kesamaan nama dan tempat bukan merupakan
unsur kesengajaan. Semoga ada hikmah yang dapat di ambil meskipun hanya setitik
kebaikan yang dapat kita petik. Best warm regards,

No comments:
Post a Comment