Monday, June 4, 2012

The Novel : Selir [ Chapter 2 ]




 
Waktu berlalu seiring hembusan angin meluruh menembus tembok-tembok tinggi kerajaan dimana Bestari telah setahun berada di sana. Berita ayahnya akan pergi berniaga ke negeri yang sangat jauh bernama Persia telah ia dengar.

Di abad ini yaitu tahun 1082 masehi masyarakat sangat erat dengan kasta  yaitu sistim yang mengelompokkan golongan kelas manusia yang terbagi menjadi empat golongan yaitu golongan satu yaitu Brahmana, golongan kedua yaitu Ksatria, golongan ketiga yaitu Watsya dan golongan keempat yaitu Sudra.

Saat itu Kerajaan yang di pimpin oleh Maharaja Danendra mengalami puncak kemajuan yaitu dengan berdatangannya pedagang-pedagang dari berbagai negeri. Para pedagang tidak hanya berniaga namun mereka juga menyebarkan faham-faham baru di mulai dari pelabuhan-pelabuhan dagang dan pasar-pasar.

Hari itu seorang Penasehat Istana memanggil gusti Bestari atas titah sang Raja untuk datang ke ruang utama kerajaan. Bastari agak heran dengan perintah itu. Tak biasanya sang Raja memanggil selirnya ke ruangan utama kerajaan yang biasanya dipakai untuk mengatur pemerintahan. Sang Raja cenderung menyembunyikan para selir supaya hanya dialah yang memandang dan menikmati selir-selirnya. Hal tersebut memang sudah merupakan adat kerajaan turun temurun.

Bestari menghaturkan sembah hormat kepada Gusti Raja ketika memasuki ruangan megah di tengah-tengah kerajaan. Sebuah meja besar melingkar di tengah ruangan dan kursi-kursi berukir indah mengelilinginya. Gusti Raja yang duduk di sisi meja sebelah kanan menghadap ke pintu utama tersenyum menyambut kedatangan Bestari. Penasehat Kerajaan yang hari itu hadir adalah gusti Pramudya, gusti Amanik dan seorang pemuka agama kepercayaan kerajaan.

“ Selamat datang Diajeng… Saya memanggil diajeng kemari untuk sebuah perintah atas nama kerajaan … silahkan di jelaskan paman Pramudya…..”

“ Baiklah yang mulia Gusti  Maharaja Danendra…. Begini gusti Bestari…. Seperti yang sudah kita ketahui di kerajaan kita telah mengalami kemajuan ekonomi yang sangat pesat. Dan hal tersebut berakibat datangnya para pedagang dari berbagai negeri. Salah seorang adipati melaporkan bahwa di daerahnya telah tersebar sebuah faham yang tidak membeda-bedakan keempat golongan. Mareka memuja sesuatu yang tidak jelas wujudnya dan tidak mau mematuhi perintah adipati untuk memberi persembahan kepada dewa pada saa mereka panen.

Untuk itu kami atas kesepakatan kerajaan memerintahkan kepada gusti Bestari  menemui adipati Haditha di Kadipaten Kubaro untuk menyelesaikan masalah ini. Gusti Bestari akan diiringi oleh tigapuluh tentara terpilih kerajaan, seorang emban dan seorang wakil panglima perang berpengalaman…” gusti Pramudya menjabarkan perintah kerajaan itu dengan jelas.

Sekembali dari ruang utama Bestari tercenung di dalam kamarnya.. apa maksud sang Raja memerintahkannya menyelesaikan masalah yang ia sendiri tidak mengetahuinya. Mengapa Gusti Raja memilihnya untuk mengemban tugas tersebut? Mengapa bukan para pembesar kerajaan yang jelas-jelas mengetahui permasalahan pemerintahan? Mengapa harus dirinya?

Sebenarnya sebuah perjalanan jauh bukanlah sebuah beban berat bagi Bestari. Ia telah berpengalaman ikut ayahnya berniaga ke negeri-negeri nan jauh baik melalui jalan darat atau berlayar dengan kapal selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Jadi menempuh  perjalanan selama dua hari bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Hanya saja… sebenarnya hatinya berat meninggalkan Gusti Raja yang dicintainya.

“ Dinda Bestari…. Saya mendengar dinda akan pergi melaksanakan tugas kerajaan…” Gusti Ajeng, Gusti Mayangsari, Gusti Kartika dan  Gusti Roseha,  memasuki kamarnya memberi dukungan kepada saudara termuda mereka.

“ Terima kasih yunda… saya mohon do’anya saja, semoga tidak terjadi apa-apa terhadap saya..”

“ Pasti dinda…  do’a kami selalu bersamamu…”

Malam itu Gusti Raja berkenan memasuki kamar Bestari. Entah megapa Bestari merasa malam itu Gusti Raja tak banyak bicara seperti biasanya. Ia hanya mengajak bercinta… selebihnya ia tak melepaskan pelukannya terhadap Bestari…

Ingin sekali Bestari menanyakan hal itu.. namun kelihatannya Gusti Raja tidak ingin menjelaskannya. Ia hanya menyerahkan sebuah kotak berisi senjata pedang pusaka kerajaan kepada Bestari dan berpesan agar Bestari berhati-hati.

Tidak sampai terdengar ayam jantan berkokok Raja sudah meninggalkan kamar sang selir setelah dengan berat hati melepaskan pelukannya terhadap wanita yang masih tertidur pulas di sampingnya. Ia segera menuju tempat persemedian dan melakukan ritual di ruangan yang di sucikan itu. Hening dan tenang  menyertai semedi sang Raja namun sebenarnya hatinya tak setenang ruangan itu. Ia hanya berharap keputusan yang diambil membuahkan hasil demi tujuan yang ingin di capainya.

Tidak ada siapa-siapa yang mengantarkan Bestari berangkat pagi itu. Para saudara selirnya hanya mengucapkan selamat jalan di keputren dan dimana Gusti Raja?.... Bestari tak melihatnya sejak terakhir ia berada di kamarnya.. bahkan ketika ia membuka matanya Raja sudah tidak berada di sampingnya. Dan sampai kereta yang membawanya keluar istana meninggalkan pintu gerbang, Bestari tak melihat Gusti Raja….sebenarnya hatinya sedikit kecewa namun ia harus segera berkonsentrasi dengan perjalanannya.

-----

Perjalanan ini panjang dan melelahkan.. meninggalkan debu dari jejak-jejak kaki kuda para pasukan sementara kuda-kuda mereka sendiri mendengus-dengus kelelahan. Menjelang senja di sebuah lembah di tepi sebuah danau Panglima kerajaan memerintahkan pasukan kecil itu untuk beristirahat dan mendirikan tenda karena mereka harus menginap di sana. Perjalanan mereka masih satu hari lagi, dan yang akan mereka lewati adalah daerah hutan dan perbukitan yang sangat lebat sehingga mereka harus bersiap dengan segala kemungkinan.

Bestari merebahkan badannya di sebuah permadani tebal yang empuk.. walau badannya lelah namun matanya tak jua mau terpejam. Malam itu udara sangat dingin menusuk tulang… lembah yang berada di dataran tinggi tersebut tertutup kabut tebal membuat tubuh lelah merapat  mendekati api unggun yang ada di depan tenda. Beberapa orang prajurit yang berjaga di setiap sudut lokasi tempat mereka menginap tampak siaga walau tubuh mereka menggigil kedinginan.

Tiba-tiba dari beberapa prajurit pilihan tergeletak mendadak membuat panik prajurit lainnya. Panglima Praja keluar tenda dan memerintahkan para prajurit siaga. Tak berapa lama beberapa prajurit kembali tergeletak tak berdaya… di sekitar lembah memang di kelilingi oleh hutan kecil yang sangat gelap saat tertutup kabut pada malam hari, sehingga sangat sulit mencari pergerakan yang mencurigakan dari tempat mereka berdiri.

Tak memakan waktu lama  puluhan prajurit telah tergeletak… Paglima Praja dan beberapa prajurit pilihan langsung berkelebat mencari sumber malapetaka tersebut. Tak berapa lama terdengar suara seseorang berkelahi dan berteriak kesakitan… ternyata Panglima Praja dan para prajurit pilihan sedang berkelahi dengan gerombolan perampok yang bersembunyi di hutan di sekitar lembah.

Namun gerombolan perampok itu terlalu kuat dan sangat menguasai kegelapan di hutan itu. Panglima menyadari jika di biarkan pasukan kecilnya akan porak poranda. Ia segera menemui Bestari yang dari tadi sebenarnya terjaga.

“ Maaf.. gusti Bestari…. Sepertinya kita harus segera pergi dari tempat ini..”

“ Baiklah panglima…” Bestari segera membawa pedang pusaka pemberian Sang Raja…

Terlambat… sebelum mereka menaiki kereta beberapa perampok telah berdiri di atas kereta sambil tertawa-tawa penuh kemenangan…

“ Hahahahaha…. Jika melihat kereta yang indah ini saya yakin pasti ada putri cantik di dalamnya… hahahaha…ternyata aku benar… kemarilah putri cantik… aku ingin kau menghangatkanku malam ini… hahahaha…”

Rombongan kecil yang terdiri dari beberapa orang saja itu berhenti.. di depan mereka ada gerombolan perampok yang terkenal ganas yang dipimpin olah ketuanya yang bernama Jamprong dan sangat ditakuti di seluruh negeri ini, jumlahnya kira-kira dua puluh lima orang. Sementara rombongan kerajaan hanya menyisakan sekitar lima belas orang saja termasuk Bestari.

Panglima Praja terlihat tenang namun sebenarnya ia sangat khawatir dengan keselamatan gusti Bestari.. selir Sang Raja yang menjadi tanggung jawabnya. Dan saat beberapa anggota perampok mendekati mereka langsung saja Panglima Praja menyambut mereka dengan pedang terhunus.. perkelahian tak dapat dihindarkan.. menyusul beberapa perampok juga menyerang rombongan mereka. Dan akhirnya pemimpin mereka melompat mendekati Bestari yang dari tadi masih berdiri dalam diam.

“ Putri cantik…. Kau adalah bagianku… kemarilah sayang…” ketua perampok bernama Jamprong  yag bertubuh tinggi besar hendak meraih tubuh bestari.. namun Panglima Praja tiba-tiba telah berdiri di depannya.

“ Bangsaaatttt…. Ingin mati rupanya… hiaattttt..” Jamprong mengangkat pedangnya disambut oleh Panglima Praja dengan gesit.

“ Gusti sebaiknya segera menjauh dari sini… Pandu!! Antarkan Gusti Bestari menjauhi tempat ini…” Paglima memerintahkan seorang prajurit menemani Bestari untuk menjauhi tempat ini.

“ Tidak usah Panglima… biarkan saya menghadapi mereka..” setelah berkata Bestari langsung melompat dan mengangkat pedangnya… tidak hanya Panglima Praja yang terkejut.. Jamprong dan anggota perampok juga terbelalak matanya ketika sinar memancar dari pedang yang di ayunkan Bestari.. gerakan wanita cantik itu begitu asing di mata mereka… kecepatan bergerak di padu dengan gerakan yang tidak bisa di duga oleh lawan.. kilatan pedang semakin lincah menari-nari menerjang siapa saja yang mendekat.

Panglima Praja tersenyum menyadari bahwa gusti Bestari bukan wanita sembarangan. Hilang sudah kecemasan yang sedari tadi menggelayut di benaknya. Dari gerakan-gerakan tangan dan kaki Bestari ia mengetahui bahwa sang selir menggunakan gerakan kung fu sebuah ilmu bela diri berasal dari negeri Canton yang pernah ia baca dalam sebuah kitab ilmu bela diri…

Kecepatan gerakan tubuh dan tangan Bestari yang mengayunkan pedang tidak hanya membuat gerombolan perampok porak-poranda. Jamprong saja sangat kesulitan mempertahankan keseimbangannya… dan akhirnya setelah beberapa gerakan melompat, berputar dan permainan pedang berkilat menyilaukan mata yang menakjubkan sang pemimpin perampok terhuyung jatuh ketanah bersimbah darah…

Sisa anggota perampok bersujud di depan Bestari dan meminta ampunan… 
dengan satu gertakan saja mereka segera lari pontang-panting memasuki hutan setelah berjanji tidak akan merampok lagi. Bestari segera memerintahkan sisa pasukannya  mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan dan segera membakarnya.

-----

Kini perjalanan menuju kadipaten Kubaro untuk menemui Adipati Hadhita dilanjutkan. Setelah seharian menempuh perjalanan sampailah mereka di kadipaten yang berada di pinggir laut  dan dekat dengan pegunungan. Pemandangan di sepanjang jalan yang indah sangat memanjakan mata Bestari. Dari dalam kereta tak henti-hentinya mata memandang hamparan kebun bunga dari kejauhan.. dan ketika kepalanya melihat di sisi lainnya tampaklah hamparan lautan biru yang menyejukkan sanubari. Tiba-tiba Bestari bergumam menyenandungkan keindahan dalam sebuah bait puisi

Angin menyapa dengan damai..
Lembut, berhembus dari balik bukit yang berdiri bak pengawal mahadewi..
Membelai ombak memetik dawai para penari..
Sejuk, mencagari istana bumi..

Kendati nyali tercabik tangan-tangan srigala dengki..
Bersama dayu ribuan kenari..
Melodi kebahagiaan seketika hadir gemilangkan rohani..
Bangkitkan pesona di tiap hasta inderawi..

Mentari..
Bermahkota jingga di ujung hari..
Berkuasa di atas desir putih permadani..
Memandu riak asmara para muda-mudi..

Mayapada kami kembali bersemi..
Menampakkan diri berselempang pelangi..
Meredam gerimis sandi rintihan hati..
Aku dan semua makhluk berkawankan sepi..





1 comment: