Waktu berlalu
seiring hembusan angin meluruh menembus tembok-tembok tinggi kerajaan dimana
Bestari telah setahun berada di sana. Berita ayahnya akan pergi berniaga ke
negeri yang sangat jauh bernama Persia telah ia dengar.
Di abad ini yaitu
tahun 1082 masehi masyarakat sangat erat dengan kasta yaitu sistim yang mengelompokkan golongan
kelas manusia yang terbagi menjadi empat golongan yaitu golongan satu yaitu
Brahmana, golongan kedua yaitu Ksatria, golongan ketiga yaitu Watsya dan
golongan keempat yaitu Sudra.
Saat itu Kerajaan
yang di pimpin oleh Maharaja Danendra mengalami puncak kemajuan yaitu dengan
berdatangannya pedagang-pedagang dari berbagai negeri. Para pedagang tidak
hanya berniaga namun mereka juga menyebarkan faham-faham baru di mulai dari
pelabuhan-pelabuhan dagang dan pasar-pasar.
Hari itu seorang
Penasehat Istana memanggil gusti Bestari atas titah sang Raja untuk datang ke
ruang utama kerajaan. Bastari agak heran dengan perintah itu. Tak biasanya sang
Raja memanggil selirnya ke ruangan utama kerajaan yang biasanya dipakai untuk
mengatur pemerintahan. Sang Raja cenderung menyembunyikan para selir supaya
hanya dialah yang memandang dan menikmati selir-selirnya. Hal tersebut memang
sudah merupakan adat kerajaan turun temurun.
Bestari
menghaturkan sembah hormat kepada Gusti Raja ketika memasuki ruangan megah di
tengah-tengah kerajaan. Sebuah meja besar melingkar di tengah ruangan dan
kursi-kursi berukir indah mengelilinginya. Gusti Raja yang duduk di sisi meja
sebelah kanan menghadap ke pintu utama tersenyum menyambut kedatangan Bestari.
Penasehat Kerajaan yang hari itu hadir adalah gusti Pramudya, gusti Amanik dan
seorang pemuka agama kepercayaan kerajaan.
“ Selamat datang
Diajeng… Saya memanggil diajeng kemari untuk sebuah perintah atas nama kerajaan
… silahkan di jelaskan paman Pramudya…..”
“ Baiklah yang
mulia Gusti Maharaja Danendra…. Begini
gusti Bestari…. Seperti yang sudah kita ketahui di kerajaan kita telah
mengalami kemajuan ekonomi yang sangat pesat. Dan hal tersebut berakibat
datangnya para pedagang dari berbagai negeri. Salah seorang adipati melaporkan
bahwa di daerahnya telah tersebar sebuah faham yang tidak membeda-bedakan
keempat golongan. Mareka memuja sesuatu yang tidak jelas wujudnya dan tidak mau
mematuhi perintah adipati untuk memberi persembahan kepada dewa pada saa mereka
panen.
Untuk itu kami
atas kesepakatan kerajaan memerintahkan kepada gusti Bestari menemui adipati Haditha di Kadipaten Kubaro
untuk menyelesaikan masalah ini. Gusti Bestari akan diiringi oleh tigapuluh
tentara terpilih kerajaan, seorang emban dan seorang wakil panglima perang
berpengalaman…” gusti Pramudya menjabarkan perintah kerajaan itu dengan jelas.
Sekembali dari
ruang utama Bestari tercenung di dalam kamarnya.. apa maksud sang Raja
memerintahkannya menyelesaikan masalah yang ia sendiri tidak mengetahuinya.
Mengapa Gusti Raja memilihnya untuk mengemban tugas tersebut? Mengapa bukan
para pembesar kerajaan yang jelas-jelas mengetahui permasalahan pemerintahan?
Mengapa harus dirinya?
Sebenarnya sebuah
perjalanan jauh bukanlah sebuah beban berat bagi Bestari. Ia telah
berpengalaman ikut ayahnya berniaga ke negeri-negeri nan jauh baik melalui
jalan darat atau berlayar dengan kapal selama berhari-hari bahkan
berbulan-bulan. Jadi menempuh perjalanan
selama dua hari bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Hanya saja… sebenarnya
hatinya berat meninggalkan Gusti Raja yang dicintainya.
“ Dinda Bestari….
Saya mendengar dinda akan pergi melaksanakan tugas kerajaan…” Gusti Ajeng, Gusti Mayangsari, Gusti Kartika
dan Gusti Roseha, memasuki kamarnya memberi dukungan kepada
saudara termuda mereka.
“ Terima kasih
yunda… saya mohon do’anya saja, semoga tidak terjadi apa-apa terhadap saya..”
“ Pasti dinda… do’a kami selalu bersamamu…”
Malam itu Gusti
Raja berkenan memasuki kamar Bestari. Entah megapa Bestari merasa malam itu
Gusti Raja tak banyak bicara seperti biasanya. Ia hanya mengajak bercinta…
selebihnya ia tak melepaskan pelukannya terhadap Bestari…
Ingin sekali
Bestari menanyakan hal itu.. namun kelihatannya Gusti Raja tidak ingin
menjelaskannya. Ia hanya menyerahkan sebuah kotak berisi senjata pedang pusaka
kerajaan kepada Bestari dan berpesan agar Bestari berhati-hati.
Tidak sampai terdengar
ayam jantan berkokok Raja sudah meninggalkan kamar sang selir setelah dengan
berat hati melepaskan pelukannya terhadap wanita yang masih tertidur pulas di
sampingnya. Ia segera menuju tempat persemedian dan melakukan ritual di ruangan
yang di sucikan itu. Hening dan tenang
menyertai semedi sang Raja namun sebenarnya hatinya tak setenang ruangan
itu. Ia hanya berharap keputusan yang diambil membuahkan hasil demi tujuan yang
ingin di capainya.
Tidak ada
siapa-siapa yang mengantarkan Bestari berangkat pagi itu. Para saudara selirnya
hanya mengucapkan selamat jalan di keputren dan dimana Gusti Raja?.... Bestari
tak melihatnya sejak terakhir ia berada di kamarnya.. bahkan ketika ia membuka
matanya Raja sudah tidak berada di sampingnya. Dan sampai kereta yang
membawanya keluar istana meninggalkan pintu gerbang, Bestari tak melihat Gusti
Raja….sebenarnya hatinya sedikit kecewa namun ia harus segera berkonsentrasi
dengan perjalanannya.
-----
Perjalanan
ini panjang dan melelahkan.. meninggalkan debu dari jejak-jejak kaki kuda para
pasukan sementara kuda-kuda mereka sendiri mendengus-dengus kelelahan.
Menjelang senja di sebuah lembah di tepi sebuah danau Panglima kerajaan
memerintahkan pasukan kecil itu untuk beristirahat dan mendirikan tenda karena
mereka harus menginap di sana. Perjalanan mereka masih satu hari lagi, dan yang
akan mereka lewati adalah daerah hutan dan perbukitan yang sangat lebat
sehingga mereka harus bersiap dengan segala kemungkinan.
Bestari
merebahkan badannya di sebuah permadani tebal yang empuk.. walau badannya lelah
namun matanya tak jua mau terpejam. Malam itu udara sangat dingin menusuk
tulang… lembah yang berada di dataran tinggi tersebut tertutup kabut tebal
membuat tubuh lelah merapat mendekati
api unggun yang ada di depan tenda. Beberapa orang prajurit yang berjaga di
setiap sudut lokasi tempat mereka menginap tampak siaga walau tubuh mereka
menggigil kedinginan.
Tiba-tiba
dari beberapa prajurit pilihan tergeletak mendadak membuat panik prajurit
lainnya. Panglima Praja keluar tenda dan memerintahkan para prajurit siaga. Tak
berapa lama beberapa prajurit kembali tergeletak tak berdaya… di sekitar lembah
memang di kelilingi oleh hutan kecil yang sangat gelap saat tertutup kabut pada
malam hari, sehingga sangat sulit mencari pergerakan yang mencurigakan dari
tempat mereka berdiri.
Tak
memakan waktu lama puluhan prajurit
telah tergeletak… Paglima Praja dan beberapa prajurit pilihan langsung
berkelebat mencari sumber malapetaka tersebut. Tak berapa lama terdengar suara
seseorang berkelahi dan berteriak kesakitan… ternyata Panglima Praja dan para
prajurit pilihan sedang berkelahi dengan gerombolan perampok yang bersembunyi
di hutan di sekitar lembah.
Namun
gerombolan perampok itu terlalu kuat dan sangat menguasai kegelapan di hutan
itu. Panglima menyadari jika di biarkan pasukan kecilnya akan porak poranda. Ia
segera menemui Bestari yang dari tadi sebenarnya terjaga.
“
Maaf.. gusti Bestari…. Sepertinya kita harus segera pergi dari tempat ini..”
“
Baiklah panglima…” Bestari segera membawa pedang pusaka pemberian Sang Raja…
Terlambat…
sebelum mereka menaiki kereta beberapa perampok telah berdiri di atas kereta
sambil tertawa-tawa penuh kemenangan…
“
Hahahahaha…. Jika melihat kereta yang indah ini saya yakin pasti ada putri
cantik di dalamnya… hahahaha…ternyata aku benar… kemarilah putri cantik… aku
ingin kau menghangatkanku malam ini… hahahaha…”
Rombongan
kecil yang terdiri dari beberapa orang saja itu berhenti.. di depan mereka ada
gerombolan perampok yang terkenal ganas yang dipimpin olah ketuanya yang
bernama Jamprong dan sangat ditakuti di seluruh negeri ini, jumlahnya kira-kira
dua puluh lima orang. Sementara rombongan kerajaan hanya menyisakan sekitar
lima belas orang saja termasuk Bestari.
Panglima
Praja terlihat tenang namun sebenarnya ia sangat khawatir dengan keselamatan
gusti Bestari.. selir Sang Raja yang menjadi tanggung jawabnya. Dan saat
beberapa anggota perampok mendekati mereka langsung saja Panglima Praja
menyambut mereka dengan pedang terhunus.. perkelahian tak dapat dihindarkan..
menyusul beberapa perampok juga menyerang rombongan mereka. Dan akhirnya
pemimpin mereka melompat mendekati Bestari yang dari tadi masih berdiri dalam
diam.
“
Putri cantik…. Kau adalah bagianku… kemarilah sayang…” ketua perampok bernama
Jamprong yag bertubuh tinggi besar
hendak meraih tubuh bestari.. namun Panglima Praja tiba-tiba telah berdiri di
depannya.
“
Bangsaaatttt…. Ingin mati rupanya… hiaattttt..” Jamprong mengangkat pedangnya
disambut oleh Panglima Praja dengan gesit.
“
Gusti sebaiknya segera menjauh dari sini… Pandu!! Antarkan Gusti Bestari menjauhi
tempat ini…” Paglima memerintahkan seorang prajurit menemani Bestari untuk
menjauhi tempat ini.
“
Tidak usah Panglima… biarkan saya menghadapi mereka..” setelah berkata Bestari
langsung melompat dan mengangkat pedangnya… tidak hanya Panglima Praja yang
terkejut.. Jamprong dan anggota perampok juga terbelalak matanya ketika sinar
memancar dari pedang yang di ayunkan Bestari.. gerakan wanita cantik itu begitu
asing di mata mereka… kecepatan bergerak di padu dengan gerakan yang tidak bisa
di duga oleh lawan.. kilatan pedang
semakin lincah menari-nari menerjang siapa saja yang mendekat.
Panglima
Praja tersenyum menyadari bahwa gusti Bestari bukan wanita sembarangan. Hilang
sudah kecemasan yang sedari tadi menggelayut di benaknya. Dari gerakan-gerakan
tangan dan kaki Bestari ia mengetahui bahwa sang selir menggunakan gerakan kung
fu sebuah ilmu bela diri berasal dari negeri Canton yang pernah ia baca dalam
sebuah kitab ilmu bela diri…
Kecepatan
gerakan tubuh dan tangan Bestari yang mengayunkan pedang tidak hanya membuat
gerombolan perampok porak-poranda. Jamprong saja sangat kesulitan
mempertahankan keseimbangannya… dan akhirnya setelah beberapa gerakan melompat,
berputar dan permainan pedang berkilat menyilaukan mata yang menakjubkan sang
pemimpin perampok terhuyung jatuh ketanah bersimbah darah…
Sisa
anggota perampok bersujud di depan Bestari dan meminta ampunan…
dengan satu
gertakan saja mereka segera lari pontang-panting memasuki hutan setelah
berjanji tidak akan merampok lagi. Bestari segera memerintahkan sisa
pasukannya mengumpulkan mayat-mayat yang
berserakan dan segera membakarnya.
-----
Kini
perjalanan menuju kadipaten Kubaro untuk menemui Adipati Hadhita dilanjutkan.
Setelah seharian menempuh perjalanan sampailah mereka di kadipaten yang berada
di pinggir laut dan dekat dengan
pegunungan. Pemandangan di sepanjang jalan yang indah sangat memanjakan mata
Bestari. Dari dalam kereta tak henti-hentinya mata memandang hamparan kebun
bunga dari kejauhan.. dan ketika kepalanya melihat di sisi lainnya tampaklah
hamparan lautan biru yang menyejukkan sanubari. Tiba-tiba Bestari bergumam
menyenandungkan keindahan dalam sebuah bait puisi
Angin
menyapa dengan damai..
Lembut,
berhembus dari balik bukit yang berdiri bak pengawal mahadewi..
Membelai
ombak memetik dawai para penari..
Sejuk,
mencagari istana bumi..
Kendati
nyali tercabik tangan-tangan srigala dengki..
Bersama
dayu ribuan kenari..
Melodi
kebahagiaan seketika hadir gemilangkan rohani..
Bangkitkan
pesona di tiap hasta inderawi..
Mentari..
Bermahkota
jingga di ujung hari..
Berkuasa
di atas desir putih permadani..
Memandu
riak asmara para muda-mudi..
Mayapada
kami kembali bersemi..
Menampakkan
diri berselempang pelangi..
Meredam
gerimis sandi rintihan hati..
Aku
dan semua makhluk berkawankan sepi..

thank you dedek.. puisinya asik... hehehe
ReplyDelete